Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 35


__ADS_3

Hari ini merupakan hari terakhir kita di Belitung. Aku akan mengajak tunanganku dinner di sebuah restoran dekat pantai. Sedangkan temanku yang lainnya telah pergi ke pusat perbelanjaan yang menyediakan beragam oleh-oleh. Pukul 19.00 aku dan Brigitta telah siap menyantap menu andalan restoran tersebut. Ia terlihat sangat cantik dengan wajah naturalnya.


Aku telah melaksanakan amanat Yossy untuk menjaga pacarnya dengan cara melamar. Dalam waktu dekat aku dan kedua orang tuaku akan menemui orang tua Brigitta untuk membicarakan kelanjutan hubungan ini.


Selesai makan malam, aku dan Brigitta langsung kembali ke penginapan mengingat besok pagi harus berangkat ke bandara. Kita berpisah di depan pintu kamar masing-masing.


“Baru pulang loe?” tanya Panji yang sedang menata baju kedalam kopernya.


“Iya. Sampai rumah nanti gue punya niat untuk menemui keluarga Brigitta. Gimana menurut kalian?” tanyaku pada Panji dan Reno.


“Bagus lah! Gue setuju-setuju aja.” jawab Panji.


“Gue rasa, cewek jaman sekarang lebih suka diberi kepastian daripada digantung tanpa kejelasan.” timpal Reno.


Baiklah. Semoga aku tak salah langkah.


***


Keesokan harinya!


Pesawat telah mengantarkan kami kembali ke kota asal. Aku langsung mengantarkan Brigitta pulang ke rumahnya sekalian berkenalan dengan orang tuanya. Tanpa memiliki prasangka buruk, aku terkejud saat melihat papa dan mama ada disana.


“Lhoh, kok Mama sama Papa ada disini?” tanyaku heran.

__ADS_1


Mereka tersenyum melihatku datang bersama Brigitta.


“Kalau jodoh emang nggak kemana ya, Jeng.” Ucap wanita yang telah melahirkan Brigitta pada Mama.


“Mereka memang cocok.” timpal Papa.


Aku yang masih heran langsung mendekati mereka.


“Mama disini ngapain?” tanyaku.


“Kamu ini gimana sih! Ya melamar Brigitta buat kamu donk.” jawab Mama.


“Maksud Andra, kok Mama bisa tahu alamat rumah ini?” tanyaku heran.


Sedangkan Brigitta telah duduk bersandar dipundak mamanya sambil melihat tingkahku yang semakin kebingungan.


“Alhamdulillah gimana Pa? “ tanyaku penasaran.


“Kita setuju dengan hubungan kalian.” ucap Mama Brigitta.


“Yang benar Tante? Alhamdulillah.” ucapku senang.


Hari ini memang hari yang paling bahagia buatku. Ingin sekali kuceritakan pada Reno dan Panji. Aku nggak nyangka jika kedua orang tuaku punya pikiran jauh lebih indah dari yang kurencanakan sebelumnya.

__ADS_1


Di depan kedua orang tua Brigitta dan kedua orang tuaku, kuutarakan lagi niat baik itu.


“Brigitta, untuk kedua kalinya gue mengutarakan niat baik ini. Di depan kedua orang kita, jawablah dengan jujur dan tegas. Apa loe mau nerima lamaran gue?” tanyaku lagi.


“Tanpa ragu, gue mau.” jawabnya cepat dan tegas.


Lengkap sudah kebahagian ini. Aku mendapat restu sesuai kemauanku.


Setelah rencanaku berjalan mulus, kami pamit pulang.


Mama dan papa sangat senang. Raut wajahnya berseri-seri.


“Kita mampir ke makam Yossy dulu ya Pa, Ma.” ucapku.


“Oke.” jawab Mama.


Mobil melaju dengan cepat hingga sampailah kami di pemakaman. Aku menceritakan semuanya. Kejadian kemarin dan rencanaku yang akan datang. Mendadak hatiku dihampiri kesedihan.


“Gue janji bakal jagain dia seperti yang loe mau. Gue udah ngelamar dia demi loe. Gue emang cinta sama dia, tapi bukan berarti harus kayak gini, Yoss! Ini semua gue lakuin buat loe. Makasih, loe udah ngasih kepercayaan buat gue. Loe yang tenang disana.” ucapku sambil menitikkan air mata.


Malamnya!


Aku pergi ke pantai dengan  membawa sebuah kotak yang terbuat dari besi. Di dalamnya berisi cincin dan secarik surat yang berisi pesan terakhir Yossy. Kulempar ke tengah laut. Kupastikan benda itu tenggelam pada kedalaman 50 meter. Suatu hari nanti saat aku menyelam bersama Brigitta, kan kutunjukkan betapa besar cinta Yossy untuknya. Benda itu akan tetap abadi.

__ADS_1


Aku sangat berharap bahwa ini bukan sebuah pengkhianatan.


Minggu depan akan digelar pesta pertunangan. Aku akan memesan gaun tercantik untuk perempuanku, Brigitta.


__ADS_2