Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 33


__ADS_3

Aku telah berada di depan rumah Brigitta untuk mengantarnya ke makam Yossy. Telah kupersiapkan pula bebagai macam bunga untuknya. Saat Brigitta keluar dari rumahnya, tampak sebuah hijab dan gamis yang membalut tubuh serta kepalanya. Terlihat cantik!


“Loe nggak salah pakai baju?” tanyaku heran.


“Enggak. Kenapa? Nggak cocok ya?” tanyanya.


“Aneh aja.” jawabku karena baru kali ini aku melihatnya berpakaian syar’i.


Mahasiswa permodelan ternyata nggak selamanya berbaju sexy!


Mobil pun melaju sedang menuju pemakaman. Tak jauh dari pusat kota jasad Yossy disemayamkan. Taburan bunga masih terlihat segar. Kerabatnya banyak yang mendo’akan.


Brigitta bersimpuh sambil memegang batu nisan yang terukir nama Yossy Pranatta Nasution. Kulihat ia menitikkan air mata. Aku yang terbawa suasana juga ikut sedih melihatnya.


Kami mendo’akan yang terbaik untuknya di alam sana. Terakhir, kami taburkan bunga sebagai rasa cinta.


Ia bangkit dan menarik lenganku. Mengajak pulang ke rumah. Kuturuti keinginannya. Raut wajah kesedihan masih terlihat jelas di matanya. Dengan keadaan seperti itu manamungkin aku berdiam diri. Kuhibur Brigitta semampuku. Dengan gitar yang selalu kuletakkan di mobil, aku memainkannya sambil bernyanyi.


“Kau cantik hari ini...


Dan aku suka...” aku melantunkan lagu tersebut untuknya.


“Ikut nyanyi donk!” protesku memecah keheningan.


Ia tersenyum dan menyeka peluh di matanya. Tak lama, ia pun ikut bernyanyi bersama. Satu jam menemani ia dalam kesedihan, akhirnya aku pun pamit.


Sengaja kutinggalkan gitarku disana jika sewaktu-waktu ia ingin memainkannya.


Sampai dalam mobil, aku menerima telpon dari mama.


“Kamu dimana, Ndra?” tanya Mama.


“Di jalan, Ma. Mama udah pulang?” tanyaku.


“Mama baru aja sampai. Kamu cepat pulang ya. Papa nungguin kamu.” ucapnya.


Setelah telpon terputus, aku langsung tancap gas menuju rumah. Sialnya, sampai di tengah jalan aku terjebak macet!


***


Kutemui kedua orang tuaku yang tengah makan malam.


“Hai Ma, Pa.” kataku.


“Kemana aja kamu jam segini baru sampai rumah?” tanya Papa.


“Tadi Andra ke makamnya Yossy. Pas mau pulang malah kejebak macet.” ceritaku.


“Yaudahh, cuci tangan dulu terus makan. Papa bawain lobster sama kepiting kesukaan kamu.” Uacap Papa sambil menunjukkan oleh-oleh yang ia bawa.

__ADS_1


Saat kami tengah menikmati makanan tersebut, tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa Priska baru saja meninggal.


“Innalillahi Wainnailaihi roji’un.” kataku lirih.


“Siapa yang meninggal, Ndra?” tanya Mama.


“Priska, Ma.” jawabku.


“Apa? Yang bener kamu!” ucap Papa.


“Andra juga belum tahu pastinya, Pa. Ini juga dikasih tahu sama Fransiska.” kataku .


Aku masih tak menyangka jika ia telah tiada. Secepat inikah? Otakku seakan berhenti dari peredarannya.


“Ma, Pa, Andra kesana dulu ya.” pamitku buru-buru.


Setelah kupastikan dimana Priska berada, aku langsung menuju rumah sakit. Tak selang berapa lama mataku disuguhkan pemandangan yang sangat menyedihkan.


Keranda mayat itu telah di dorong menuju sebuah ruangan. Tak kulihat lagi jasad Priska. Hanya terlihat kedua orang tua dan laki-laki yang akhir-akhir ini bersamanya.


Panji dan lainnya ternyata telah duluan berada di lokasi.


“Apa yang terjadi?” tanyaku.


“Priska mengalami dekompresi.” jawab Panji.


“Astaga!” sahutku.


Jasad itu akan segera dikuburkan mengingat sebentar lagi akan turun hujan. Pihak rumah sakit akan membantu proses pemandian serta pemakaman.


Sedangkan laki-laki yang belakangan kerap bersamanya sudah tak terlihat lagi. Entah kemana ia bersembunyi. Adik-adik Priska terlihat sangat kehilangan. Iringan tangis terus mengalir selama  tubuh tak bernyawa itu masuk ke liang lahat.


Aku tidak terlalu kehilangan karena sudah sering perasaan ini dipermainkan.


Andira yang merupakan sahabat Priska juga datang di pemakaman tersebut. Ia memberikan sesuatu untukku berupa kotak musik yang terselip surat didalamnya. Aku mulai menyingkir dari kerumunan orang. Mencari tempat untuk membaca pesan tersebut.


“Perlakuan loe akhir-akhir ini terkadang membuat gue tersanjung dan merasa disayangi. Tapi gue tahu, loe masih suka sama Brigitta. Sejak mulai sakit gue berharap gue cepet mati.” isi tulisan tersebut.


Aku menghela napas. Nggak habis pikir dengan kelakuan Priska.


Angin mulai datang disertai mendung yang kian menghitam. Proses pemakaman telah usai dan beberapa diantaranya sudah bubar. Hanya aku, Andira dan teman-teman lainnya yang masih bertahan di kuburan.


Hujan gerimis mulai membasahi bumi. Air hujan turut mengantarkan kepergianmu, Priska!


“Kita pulang ya?” ajak Panji.


Ia menarik tanganku dan menyelamatkan tubuhku dari air hujan. Mobil hitam membawa kami pulang ke rumah.


“Gue tahu loe sedih dan kehilangan. Tapi jangan terus-terusan bengong seperti itu.” kata Panji menasehati.

__ADS_1


Aku menatap matanya sebentar dan mengalihkan pandangan.


“Gue pengen sendiri dulu.” kataku.


Kurasa Panji mengerti situasi hatiku saat ini. Ia pun segera pamit pulang. Kepergian Priska membuat pikiranku sedikit kacau. Nafsu makanku jadi berkurang hingga membuat tubuhku sedikit kurus. Melihat anaknya nggak seperti biasa, mama dan papa mulai menegurku.


“Hanya karena perempuan kamu jadi begini?” ucap Papa.


“Kamu harus bangkit dari keterpurukan, Andra! Jangan berlarut-larut dalam kesedihan.” timpal Mama.


Aku yang masih terbaring di ranjang tidak menggubris ucapan kedua orang tuaku.


“Gimana kalau lusa kita berangkat ke Belitung? Bukankah kamu ingin diving disana?” tanya Papa.


“Telat, Pa. Yossy udah nggak ada.” jawabku.


Aku memang ingin sekali pergi kesana, tapi dulu. Saat Yossy masih hidup dan sering menyelam bersamaku.


“Lhoh, kan kamu masih bisa ngajak yang lainnya. Biar Papa yang beliin tiket buat mereka.” ucap Papa.


“Yang bener, Pa?” tanyaku.


Aku yang tadinya tak bersemangat mendadak bangkit mendengar tawaran papa. Aku tahu ia ingin menghiburku.


“Nanti biar Mama yang pesan penginapan untuk kalian. Gimana?” Mama menawarkan.


“Yes! Andra mau.” jawabku kegirangan.


Senyumku kembali merekah, mereka pun turut senang.


“Yaudah, kamu hubungin teman-teman kamu siapa aja yang mau ikut.” kata Papa.


Aku langsung mengirimkan pesan di grup whatsapp yang beranggotakan teman dekatku. Belum ada lima menit, pesan pun di balas.


“Gue ikut.” balas Panji.


“Kalau diajak gue juga mau.” balas Brigitta.


“Ikut donk!” kata Reno.


“Ajak gue juga donk.” timpal Rebecca.


Empat orang! Oke.


Aku langsung memberi tahu papa untuk segera dibelikan tiket dan dipesankan penginapan. Hmmm, akan kupersiapkan peralatan divingku. Papa dan mama emang paling top deh!


Keindahan pantai Belitung yang nggak nanggung-nanggung membuatku ingin segera sampai disana. Bayanganku sudah hampir menyentuh langit.


“Besok Papa kasih tiketnya. Sekarang kamu siapin apa aja yang mau kamu bawa kesana.” kata Papa.

__ADS_1


“Oke, Pa. Makasih ya Pa.” ucapku.


Pantai yang katanya sangat indah itu tak kan kukotori dengan perasaan sedihku. Aku harus bahagia sebelum menginjakkan kaki disana.


__ADS_2