
“Ayoooo, Ndra! Loe pasti bisa!” seru teman-temanku menyemangati.
Mereka bersorak ria sambil bertepuk tangan. Aku yang sudah ancang-ancang untuk menceburkan diri melirik Priska yang terlihat fokus ke dalam air.
Setelah hitungan ke tiga, kami pun mulai adu kecepatan!
“Hitungan satu dimulai ya! Satu...dua...tiga! Mulai!” Seru Rebecca yang ikut serta dalam acara itu.
Byur!!!
Dengan segala kemampuanku, Kuarungi ganasnya ombak lautan. Kecepatan yang kumiliki akan kutunjukkan pada perempuan yang telah menantangku. Sehebat apa dia sampai-sampai ia ingin beradu denganku.
Tak peduli dengan keberadaannya sekarang, yang jelas aku jauh berada dibawahnya. Semakin dalam kujelajahi lautan, membuatku semakin penasaran. Tujuan Priska apa?
Ia pun tahu bahwa semakin dalam kita menyelam semakin besar pula tantangan yang kita hadapi. Di bawah sana, aku sudah tak melihat sinar mentari. Sesekali aku melihat keadaan sekitar tapi belum juga kujumpai sosok perempuan tadi.
Di dalam hati yang paling dalam, timbul rasa khawatir yang kuciptakan. Ia yang bisa dibilang masih baru bisa menyelam, apakah mungkin bisa menyelam pada kedalaman yang tak biasa? Apakah dia tak takut bertemu dengan penghuni laut yang mengerikan?
Gigi-gigi tajam itu kerap kali membayangi pikiranku. Tak jarang aku dikejutkan dengan ikan-ikan yang belum pernah kutemui sebelumnya. Entah apa yang ada di pikiran Priska hingga ia memutuskan untuk membuat tantangan gila!
Seperti tak punya tujuan, aku terus menyelam di area tersebut. Aku tak ingin membunuh diriku sendiri dengan menyelam pada kedalaman yang tak ditentukan. Sosok Priska yang sampai sekarang tak kutemui membuatku curiga. Barangkali ia telah menipuku dan tak jadi menyelam denganku!
Lama sekali aku disana.
Ingin rasanya aku naik ke permukaan dan melihat apa yang telah terjadi. Tapi mana mungkin!
Tanpa sepengetahuanku, tiba-tiba seseorang menarik kakiku. Aku berontak tapi cengkraman tangannya sungguh kuat. Semakin dalam kami mengarungi lautan hingga akhirnya sosok asing itu melepaskan kakiku.
Aku segera melihat siapa tersangkanya!
Sosok laki-laki dan juga Priska telah berada di hadapanku. Aku tak mengerti maksud mereka apa. Mengetahui hal tersebut, aku enggan meladeni! Dengan gesit, aku langsung naik dan meninggalkan mereka. Selama penyelaman itu, aku berpikir sudah tak ada gunanya lagi aku mempertahankan Priska. Ngapain juga ia nantang kalau ternyata ada lelakinya disitu!
Sampai atas, sorak gembira kawanku mulai terdengar.
“Andra...Andra...Andra!” seru mereka.
Setelah kuhampiri, kuceritakan apa yang telah terjadi dibawah sana. Tak selang sepuluh menit, dua insan itu telah terlihat batang hidungnya. Aku langsung menghampiri Priska!
“Gue rasa hubungan kita udah cukup jelas. Kita putus!” kataku tanpa basa-basi.
“Nggak! Aku nggak mau!” jawabnya.
“Gue nggak habis pikir sama loe. Udah ketahuan sama cowok lain, masih aja nggak mau putus dari gue.” timpalku.
“Gue bukan seperti yang loe kira. Gue cuma ngajarin dia diving. Itu aja.” ucap laki-laki itu.
“Terus, ngapain kalian nantangin gue? Udah ngerasa paling jago?” tanyaku.
__ADS_1
“Loe emang bodoh! Terlalu terburu-buru buat ninggalin kita. Pada kedalaman 50 Meter ada sesuatu yang ingin Priska sampaikan.” jawab laki-laki itu.
“Gue nggak peduli. Yang jelas mulai detik ini gue minta putus!” kataku dan meninggalkan mereka.
Kusambar tangan Brigitta dan kuajak ia ke jembatan cinta yang ada di pantai tersebut. Terang-terangan kunyatakan cinta disana sambil dilihat banyak orang.
Melihat kami berjalan menuju jembatan, Priska berlari dan mendorong Brigitta hingga ia tercebur ke laut.
Byur!!!!
“Mampus loe!” ucap Priska.
“Apa yang loe lakuin? Loe udah tahu kan gue nggak bisa diving lebih dalam dari loe! Itu udah jadi bukti kalau gue udah nggak sayang sama loe lagi.” kataku emosi.
“Gue nggak rela loe deket sama cewek lain.” jawabnya.
Tanpa memperdulikan dia, aku langsung terjun mencari Brigitta disusul kawanku lainnya. Menemukan sosoknya tak sesulit mencari jarum dalam jerami. Kurang lengkap jika seorang model tak bisa berenang!
“Gue nggak akan mati loe ceburin disini!” seru Brigitta.
Byur!
Siapa sangka ucapan Brigitta memancing emosi Priska hingga ia ikut terjun ke dalam pantai. Dengan tenaga yang lumayan, ia berenang mendekati Brigitta dan dijambaknya rambut cewek cantik itu. Terjadi perkelahian disana.
“Sok cantik banget sih loe! Nih, rasain!” ucap Priska sambil menampar Brigitta.
Plak!!!
“Kalian apa-apaan sih! Apa nggak malu dilihatin banyak orang?” tanya Rebecca.
Suasana sekitar memang sudah dikerumuni banyak pengunjung. Tak ingin menjadi tontonan gratis, kutarik tubuh Brigitta dan keluar dari tempat itu.
Hari semain sore. Aku mengantar Brigitta pulang dan melupakan kejadian hari ini. Sungguh, aku sangat kecewa dengan perlakuan Priska.
“Loe beneran udah nggak sayang sama dia?” tanya Brigitta.
“Enggak.” jawabku singkat.
“Tapi dia sayang banget sama loe sampai-sampai ngelakuin hal kayak gini.” ucapnya lagi.
“Hal bodoh yang ia lakuin nggak berarti apa-apa bagi gue. Malah bikin gue tahu gimana sifat aslinya.” jawabku.
“Makasih ya udah nganterin gue pulang.” pungkasnya,
“Sama-sama.” jawabku.
Setelah ia masuk rumah, aku langsung cabut dan pergi kesuatu tempat yang bikin nyaman. Ya, kemana lagi kalau bukan ke istanaku.
__ADS_1
Aku akan tidur pulas tanpa ada gangguan dari siapapun. Kumatikan pula hp ku!
***
Pagi menyingsing! Sebelum terik mentari menyengat, aku berangkat ke kampus seperti biasa.
Tittt! Tiiittt!
Terdengar suara klakson dari luar rumah. Setelah kulihat ternyata Panji dan Reno. Mereka bermaksud menjemputku. Tumben-tumbenan dua manusia itu datang.
“Buruan!” seru Panji.
Ngapain harus buru-buru orang masih pagi juga!
Kusambar tasku dan masuk mobil bersama mereka.
“Loe tahu nggak, Ndra. Kemarin kan loe pulang duluan sama Brigitta. Eh, si Priska tiba-tiba pingsan.” ucap Reno.
“Pingsan kenapa?” tanyaku.
“Gue juga nggak tahu. Trus ambulan dateng.” katanya lagi.
“Separah itu, sampai ambulan dateng?” tanyaku.
“Kecapekan kali dia!” timpal Panji.
Sampai kampus!
Kami bergegas ke kantin untuk menjamu perut yang telah meronta-ronta. Mie pangsit sebagai pilihan kami untuk sarapan pagi. Tak lama, Brigitta datang bersama Rebecca. Mereka juga memesan sarapan.
“Ntar sore loe ada acara nggak, Ndra?” tanya Brigitta padaku.
“Enggak. Kenapa emang?” tanyaku.
“Gue pengen ke makam Yossy. Loe temenin ya.” pintanya.
Pas banget. Gue juga lagi kangen sama tuh anak.
“Oke,” jawabku menyaguhi.
Usai sarapan kami menuju ruangan masing-masing untuk mengikuti mata kuliahan. Saat aku masuk kelas, banyak mahasiswa membicarakan Priska. Kalau tak salah dengar, keadaannya sedang kritis.
“Ndra? Priska gimana?” tanya salah satu mahasiwa.
“Mana gue tahu.” jawabku.
“Gimana sih loe! Loe kan pacarnya.” ujar mereka.
__ADS_1
“Kita udah putus.” ucapku.
Kegaduhan itu mendadak berakhir saat dosen telah masuk kelas.