Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 8


__ADS_3

Priska sembuh dan sudah keluar dari rumah sakit.


Kembalinya ia ke kampus membuatku tak tenang. Ia terus saja menggangguku.


“Andra, maafin aku ya. Kemarin cowok itu nipu aku. Ternyata dia udah punya cewe. Gimana kalau kita balikan aja?” ucapnya tanpa bersalah.


“Sorry, aku nggak bisa. Tolong jangan ganggu aku lagi.” kataku.


“Tapi, Ndra! Aku masih sayang sama kamu. Jujur, kemarin aku emang sengaja ngetes kamu. Aku pengen tau kamu cemburu apa enggak.” ucapnya.


“Terus udah berhasil dengan cara kamu seperti itu?” pungkasku dan ninggalin dia.


“Andra! Aku masih sayang sama kamu.” Serunya sambil berlari menarik lenganku.


“Sorry, aku udah nggak punya perasaan sama kamu. Tolong lepasin tanganku.” ucapku.


Apapun alasannya, yang namanya selingkuh tetap aja selingkuh.


“Gue mau ngomong sama loe!” Tiba-tiba Yossy datang dan menyeretku ke taman kampus.


Plakkk!!!


Tangannya yang kekar mendarat di pipiku.


“Apaan sih!” ucapku.


“Semalem pas gue nganterin Brigitta pulang, dia cerita kalau loe maksa dia buat pakai baju sexy.” kata Yossy.


“Emang iya, trus masalahnya sama loe apa?” tanyaku blagu.


“Ngapain loe nyuruh dia pakai pakaian kayak gitu? Mata kranjang banget sih loe! Gue peringatin sama loe, jangan sentuh cewek gue!” ucap Yossy dengan tatapan tajam.


“Yaelah, gitu aja dipermasalahin. Namanya juga model, wajarlah gue suruh pakai baju sexy. Lagian dia kerja sama nyokap gue. Kalau promosinya oke kan lumayan juga bayaran dia.” ucapku.


Plakkk!!


Kali ini ia menampar mulutku.


“Mulut loe perlu di sekolahin!” pungkasnya dan mendorongku.


Ia berlalu.


Tak kuhiraukan perkataan dan tamparannya, aku menuju kantin untuk menyejukkan hati dan pikiran. Kupilih bangku paling depan dan segera memesan jus jeruk dan bakso bakar. Hari ini suasana kantin sangat panas. Tumben kipas anginnya nggak dinyalakan.


“Buk, kipas anginnya kok nggak dinyalain sih. Panas nih,” kataku pada penjaga kantin.


“Iya nih, Den. Sejak kemarin rusak.” jawabnya.


Hmmmm, apa boleh buat.


Tak berapa lama, Priska dan teman-temannya datang. Dengan centil ia menggodaku.

__ADS_1


Daguku dibelai!


“Dih! Apaan sih! Jangan ganggu gue lagi!” ucapku ketus.


“Galak banget sih, Ndra.” jawabnya dengan nada manja.


Aku segera bangkit dari kursiku dan membayar makanan yang kupesan meski belum habis kumakan. Melarikan diri dari gangguan Priska dan menyelamatkan diri ke tempat yang mungkin terdapat bidadari lainnya.


Benar saja!


Aku melihat bidadari itu berjalan menuju kelas. Aku mengikutinya. Entah kenapa ia seperti magnet yang siap menarik siapa saja.


“Mau kemana loe!” tiba-tiba Yossy menghadang.


“Mau masuk kelas lah.” ucapku beralasan.


“Kelas loe bukan disini. Balik sana!” perintahnya.


Sial!


Bidadari itu dijaga malaikat tak bersayap. Sepertinya Yossy sangat mencintai Brigitta.


***


Pulang dari kampus, aku menuju pantai terdekat untuk menikmati udara segar. Hari ini banyak nelayan membawa ikan segar. Tak sungkan-sungkan, aku menawar ikan tersebut yang nantinya akan kubakar di tepi pantai. Ombak di pantai ini tidak terlalu besar. Bisa dikatakan cukup aman. Maka dari itu, ingin sekali rasanya mendirikan tenda dan bermalam disini.


“Pak, ikannya berapa satu ekor?” tanyaku pada nelayan.


“Beli dua ya, Pak.” kataku sambil memberikan uang.


“Makasih, Mas.” pungkasnya.


Sebelum ia pergi, aku bertanya sesuatu padanya.


“Maaf Pak, saya mau nanya. Disini boleh mendirikan tenda nggak?” tanyaku.


“Boleh Mas. Disana ada penyewaan tenda, Mas bisa nyewa disana.” jawabnya.


Yes!


Akhirnya aku bisa menikmati kebebasan hari ini. Besok nggak ada jadwal kuliah pula!


“Oke, makasih Pak.” pungkasku.


Aku langsung ke tempat penyewaan tenda sekaligus membeli keperluanku. Usai bertransaksi aku langsung disibukkan dengan pemasangan tenda. Ukurannya yang memang khusus untuk satu orang tidak memakan waktu lama untuk ia bisa berdiri. Di depan tenda, aku menaruh beberapa kayu bakar untuk membakar ikan yang tadi


kubeli.


Sinar mentari semakin tak terlihat! Langit berubah menjadi gelap. Aku mulai menyalakan api untuk membakar ikan sekaligus untuk menghangatkan tubuhku yang mulai terasa dingin. Angin malam telah datang. Silir semilir membuat merinding!


Baru kali ini aku akan tidur di tenda yang berhadapan langsung dengan pantai.

__ADS_1


“Sorry, Ma. Andra hari ini nggak pulang.”Aku menulis pesan singkat dan kukirim ke Mama supaya ia tak khawatir.


Tak berapa lama ia pun membalas.


“Kamu dimana? Kenapa nggak pulang? Kamu lupa kalau hari ini ulang tahun kamu? Mama udah nyiapin semuanya dan kamu bilang nggak bisa pulang???” balas Mama dengan sederet pertanyaan.


“Emang hari ini aku ulang tahun?” ucapku lirih.


Apalah arti ulang tahun? Bagiku nggak ada yang spesial dan nggak ada yang perlu dirayakan. Semua hari adalah sama. Dan aku nggak ingin seperti anak kecil yang setiap hari kelahirannya harus disiapkan kue tart, kado, dan nyanyian Happy Birthday To You. Please, aku ingin menikmati kesendirianku.


“Untuk kali ini, Andra ingin bersantai Ma. Menikmati kesendirian dan kebebasan. Mama tenang aja. Andra akan baik-baik aja kok.” aku mengirim pesan lagi.


“Yaudah, nggak apa-apa. Hati-hati kamu disana.” balas Mama.


Huft! Lega.


Akhirnya hari ini aku bebas. Sambil membakar ikan, aku melihat sekelompok anak kecil sedang bermain di pinggir pantai. Padahal hari semakin gelap dan dingin.


“Dek, udah malam kok masih main?” tanyaku pada bocah tersebut.


“Mau lihat kembang api, Kak.” jawabnya.


“Dimana ada kembang api?” tanyaku penasaran.


“Disana.” Jawabnya sambil menunjuk ke suatu tempat yang terdapat kursi dan meja.


Tumben ada yang nyalain kembang api? Atau jangan-jangan, ada yang mau mengatakan cinta pada pasangannya disini?


Wah, romantis sekali.


Setelah ikan yang kubakar matang, aku langsung menyantapnya dengan lahap. Setelah kenyang, aku berjalan menyisir pantai sambil mendengarkan musik. Tempat ini dilengkapi dengan jembatan yang menghubungkan ke sebuah goa.


Aku belum pernah kesana. Gimana kalau kesana sekarang? Mumpung aku lagi bawa senter.


Oke, aku akan kesana.


Melewati jembatan yang terbuat dari kayu dengan ketinggian kira-kira dua meter diatas permukaan air laut, aku berjalan dengan hati-hati dan waspada. Ada coretan nama pada jembatan itu beserta gambar tengkorak.


Sampai di mulut goa, aku mencium bau anyir. Deburan ombak yang menghantam karang menggema hingga membuatku kian bergidik. Bebatuan disana terlihat sangat licin. Ada air yang mengalir dari pohon besar yang berada di samping goa.


Dengan hati-hati aku masuk ke dalam.


"Ssstttttttt! ssssstttt!" terdengar suara sesuatu.


Sial!


Aku bertemu ular yang berukuran cukup besar. Kulitnya berwarna hitam dan merah mengerikan. Kuhentikan perjalananku. Ular tersebut telah menandakan bahwa goa itu tidak aman. Sebelum dimangsa, aku kabur dengan jurus kaki seribu.


Aku kembali ke tenda dan mencari garam. Kutaburi sekelilingku dengan garam tersebut agar dijauhi ular dan hewan lainnya.


Hari semakin gelap! Aku masuk ke dalam tenda dan tidur. Api unggun yang kubuat masih saja menyala. Memberi kehangatan dalam jiwa.

__ADS_1


__ADS_2