Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 19


__ADS_3

Priska yang semakin lama semakin pulih membuatku semakin senang. Akhir-akhir ini aku sering mengajaknya ke pantai untuk menikmati keindahan panorama yang ada disana. Berlari-lari di sekitar bibir pantai sambil menariknya hingga terjerumus ke air hingga membuat ia basah kuyup. Tawanya kian merekah membuat wajahnya kian manis dan cantik.


“Lain kali  ajari aku diving ya, sayang.” pintanya.


“Oke. Dengan senang hati. Yang penting kamu harus fit dulu sebelum diving.” kataku.


“Siap.” sahutnya.


Hari ini kita menghabiskan waktu bersama dari pagi hingga sore. Banana boat yang dari tadi nangkring dipermukaan laut menjadi sasaran kami. Kini saatnya seru-seruan mengarungi ombak. Kuajak Priska naik permainan tersebut. Semakin sering kegiatan yang kita lakukan akan membuatnya semakin mudah melupakan


penyakitnya.


Entah berapa lama kami bermain disana, ada seseorang yang memanggil Priska.


“Priska!” seru seorang cowok.


Sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu. Tapi dimana?


Oh Tuhan.


Bukankah laki-laki brengsek itu selingkuhan Priska dulu? Mau apa lagi dia?


“Ngapain loe manggil gue?” tanya Priska padanya.


Ia yang kini tengah menggandeng perempuan sexy sedang berlagak sombong.


“Penyakit kanker loe udah sembuh?” tanyanya tiba-tiba.


“Tau darimana loe dia sakit?” tanyaku nyolot.


“Hahahah. Kayaknya loe perlu tahu kenapa gue ninggalin dia? Ya karena dia penyakitan.” jawabnya sambil ketawa.


“Keterlaluan loe ya!” ucapku.


“Kok loe mau sih balikan sama dia yang penyakitan ini?” tanyanya lagi.


“Heh! Jaga ya omongan loe. Apa pun keadaan dia, gue tetap sayang sama dia!” kataku.


“Alah, omong kosong. Palingan loe nerima dia karena kasian.” katanya lagi.


Plak!!!


Kutampar wajahnya tanpa permisi.


“Pergi loe dari sini!” usirku kasar.


Ia pun pergi.


Priska yang kemudian sedih, kuajak duduk di pinggir pantai sambil kurangkul pundaknya. Aku berusaha menenangkan keadaan yang masih belum padam.


“Jangan mikirin omongan dia. Kamu beruntung ditinggalin cowok macam itu. Karena Tuhan tahu dia bukan yang terbaik buat kamu.” kataku.


“Dengan penyakit ini, aku tahu siapa yang benar-benar mencintaiku. Makasih ya sayang.” Ucapnya sambil menggenggam tanganku.


Matahari terbenam menjadi saksi kesedihan dan ketenangannya kali ini. Sebelum sinarnya menghilang kuajak ia pergi. Menyelamatkan tubuhnya dari dinginnya malam. Meminimkan rasa khawatir  mamanya karena seharian kuajak keluar.


“Udah sampai nih.” kataku saat tiba di depan rumahnya.

__ADS_1


Ternyata ia tertidur sambil memeluk tubuhku. Hmmm, motor paling bersejarah membonceng seorang perempuan sampai tertidur. Mungkin ia kecapekan.


Saat ia terbangun, ia langsung turun dan masuk rumah. Lambaian tangannya mengiringi kepergianku.


Selamat malam sayang, I Love You.


***


Ketika aku sampai rumah, ternyata Yossy dan kawanku yang lain ada disana.


“Ada apa nih rame-rame?” tanyaku.


“Wah, kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih.” celetuk Panji.


“Iya donk. Gue lagi kasmaran sama Priska. Gue pengen buat dia bahagia terus.” ucapku.


“Ya emang harus gitu donk sebagai pacar.” timpal Reno.


“Ngomong-ngomong kalian ngapain kesini?” tanyaku.


“Gini, Ndra. Kemarin kan kita ikut pentas nih. Gara-gara kegiatan itu kita dapat undangan ngisi acara di kampus lain. Loe mau nggak?” tanya Yossy.


“Yang bener? Mau lah.” jawabku.


“Tapi masalahnya Brigitta nggak bisa.” kata Yossy.


“Gimana kalau kita ajak Priska?” usulku.


“Boleh aja kalau dia nggak keberatan.” kata Panji.


“Oke. Coba gue ngomong sama dia ya.” Kataku sambil mengeluarkan hp dari saku untuk menghubunginya.


“Sayang, kamu mau nggak gabung di band kita buat jadi vokalis?” tanyaku.


“Aku? Emang Brigitta kemana?” tanyanya balik.


“Dia ada acara lain, jadi nggak bisa ikutan. Kamu mau kan?” tanyaku lagi.


“Kamu yakin ngajak aku? Suaraku nggak begitu bagus sayang.” jawabnya.


“Aku yakin suara kamu bagus. Makanya aku ajak kamu.” kataku.


“Gimana ya?” ucapnya masih ragu.


“Ayolah.” desakku.


“Iya deh, aku mau.” jawabnya.


“Oke. Acaranya lusa. Besok aku jemput kamu buat latihan bareng ya.” kataku.


“Siap.” pungkasnya.


“Beres Bro!” Kataku sambil tos dengan mereka.


Malam ini kita begadang sambil bermain gitar. Menentukan lagu apa yang akan kami bawakan.


“Kini ku menemukanmu, diujung waktuku patah hati...” Tiba-tiba Reno menyanyikan sepenggal lagu dari Seventeen Band.

__ADS_1


“Apa tuh judulnya? Lupa gue.” sahut Panji.


“Menemukanmu.” jawab Yossy.


“Gimana kalau lagu itu aja?” tanya Reno.


“Ndra! Gimana?” tanya mereka bersamaan.


“Nanya gue? gue mah terserah kalian aja. Yang penting lancar.” kataku.


Aku selalu oke-oke aja apa pun keputusan mereka. Aku yakin pilihan mereka nggak salah karena Panji dan Reno punya banyak pengalaman manggung di suatu acara.


“Yaudah, sepakat ya kita cover lagu itu.” ucap Yossy.


“Oke.” jawab kami sepakat.


Kini tinggal nyari cord lagu yang pas dengan suara Priska.


Sampai tak sadar bahwa jam telah menunjukkan pukul sebelas malam.


“Udah malam nih cuy!” celetuk Panji.


“Pulang yuk. Besok ada jadwal kuliah.” ajak Reno.


Oh iya ya, gue juga lupa kalau besok harus masuk kuliah pagi. Akhirnya kami bergegas mengakhiri latihan ini. setelah mereka bubar, aku bergegas mandi, makan lalu tidur. Sebelum tidur, aku harus meneliti tugas kuliahku. Jangan sampai ada yang tertinggal. Bisa-bisa aku dipermalukan sama dosen. Hari ini terasa sangat capek sekali.


Aku menyalakan mp3 yang berisikan albumnya Seventeen Band. “Sumpah Ku Mencintaimu” membuatku baper berkepanjangan. Liriknya sama seperti perasaan Priska denganku.


“*Sumpah kumencintaimu, sungguh ku gila karenamu ...


Sumpah mati hatiku untukmu...


Tak ada yang lain...


Mati rasa ku tanpamu ...


Henti nafasku tanpamu sumpah mati aku cinta*...” Sambil mata terpejam, bibirku melafalkan lirik bagian reff.


Semakin lama pikiranku ikut tenggelam dengan lagu tersebut. Mataku juga semakin lengket dan  akhirnya aku tertidur.


Entah berapa lama mata ini terpejam, tiba-tiba tubuhku seperti diseret seseorang dan dibantai. Sebuah gudang tua menjadi tempat persembunyian penyiksaan itu. Kepalaku dipukul menggunakan kayu hingga berdarah. Sosoknya tak terlihat dengan sempurna. Tak ada cahaya terang disana. Remang-remang mataku berusaha mengenalinya. Tapi naas. Saat mataku terbuka, aku melihat papa dan mama sedang menatapku heran.


“Kamu mimpi?” tanya mereka bersamaan.


“Ha? Mimpi?” Aku bergegas bangun dan menyadarkan diri bahwa aku masih berada di kamar  dengan suara musik yang masih menyala.


“Makanya sebelum tidur berdo’a dulu. Matikan musiknya.” pungkas Papa.


Mama hanya geleng-geleng kepala.


Kulihat jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Masih sangat pagi untuk mandi. Mending aku tidur lagi. Kuharap mimpi buruk tak menghampiri.


Aku mencoba memejamkan mata tapi masih saja teringat bayangan hitam yang menghunus tubuhku. Sampai akhirnya aku tidak bisa tidur lagi.


Kusibakkan korden cendela kamarku dan melihat diluar sana yang masih terlihat sangat gelap. Lampu jalan yang bersinar terang menyinari beberapa pohon disampingnya.


“Hmmm, Priska lagi ngapain ya? Apa dia masih tertidur pulas dengan mimpi indahnya? Atau sudah terbangun karena memikirkanku? Entahlah. Aku berdo’a agar Tuhan selalu melindunginya.” ucapku dalam hati.

__ADS_1


Sepertinya aku harus turun ke bawah. Nonton tv sambil menunggu pagi. Benar-benar kesepian jadi anak tunggal. Andai aku punya adik, pasti bisa kuajak nongkrong bareng sambil ngopi di depan tv.


__ADS_2