
Sebentar lagi ada acara ulang tahun kampus. Para mahasiswi diharapkan untuk menyumbangkan sebuah karya yang bisa disuguhkan. Seperti musik, olahraga, seni tari dan lain-lain. Aku punya rencana untuk membuat sebuah band dengan personil lima orang. Aku,Yossy, Panji, Reno dan Brigitta.
Panji dan Reno udah sepakat untuk membentuk band ini. Tinggal Yossy dan Brigitta
“Gimana Yoss kalau cewek loe jadi vokalis?” tanyaku.
Ia yang tadinya duduk di bangku kelas langsung berdiri menghampiriku.
“Emang dia bisa nyanyi?” tanyanya balik.
“Ya mana gue tahu. Makanya gue nanya loe sebagai pacarnya.” jawabku.
“Dia sih jarang nyanyi. Tapi suka musik.” katanya.
“Loe pastiin dulu dia bisa nyanyi apa nggak. Kan loe juga bisa main gitar.” kataku.
Tanpa menjawab ucapanku, ia bergegas pergi untuk menghampiri Brigitta. Aku pernah melihat video cewek itu di media sosial sedang bernyanyi. Suaranya nggak jelek-jelek amat.
Kalau misal Brigitta nggak bisa, aku akan mencoba mengajak Keisha. Ia udah sering manggung di acara kampus.
Pulang dari kampus, aku Reno dan Panji menuju studio musik untuk memikirkan rencana selanjutnya.
“Loe drummer, Panji keyboard, dan gue melodi. Oh iya, Yossy gitar. Vokalisnya ntar aja kita pikirin. Gimana?” tanya Reno.
“Gue sih oke-oke aja.” jawabku.
“Trus band kita dikasih nama apa?” tanya Panji.
“Gimana kalau Sunrise?” usulku.
Matahari terbit menggambarkan band baru kita yang baru muncul. Sinarnya yang terang menyinari kehidupan. Aku berharap dengan adanya Sunrise Band bisa memberi warna kepada siapa saja.
“Boleh juga. Tapi kita harus menunggu pendapat Yossy dan calon vokalis band kita.” ucap Panji.
“Yaudah kalau gitu, kita latihan dulu di dalem.” ajakku.
Kami pun masuk ke studio untuk sekedar bermain sambil mencari inspirasi untuk membuat sebuah lagu. Tapi untuk saat ini kami masih mencoba untuk meng-cover lagu orang lain.
“Kita cover lagu Armada yang Harusnya Aku gimana?” tanyaku.
“Boleh juga tuh. Lagi naik daun tuh lagu.” jawab Panji.
“Gue setuju. Lagu yang paling bikin baper Andra! Hahhaha.” ledek Reno.
“Siapa juga yang baper.” ucapku.
“Gue nggak apa-apa asal dia bahagia.” ledek Panji.
“Apaan sih kalian. Udah yuk latihan. Loe main gitar sambil nyanyi.” ucapku pada Reno.
Tak berapa lama Yossy datang sebelum kita mulai latihan.
“Bro! Brigitta nggak bisa.” ucapnya pada kami.
“Nggak bisa nyanyi?” tanyaku.
“Nggak bisa nolak. Wkwkwk.” jawabnya sambil ketawa.
“Sialan loe. Trus mana orangnya?” tanya Reno.
__ADS_1
“Hari ini belum bisa ikut soalnya ada acara di butik.” jawab Yossy.
“Yaudah kita lanjutin aja.” ajakku.
Kami pun mulai latihan dengan meng cover lagu Armada yang berjudul "Harusnya Aku".
“*Ku tak bahagia...
Melihat kau bahagia dengannya...
Aku terluka, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya...
Aku terluka...
Melihat kau bermesraan dengannya ...
Ku tak bahagia, melihat kau bahagia...
Harusnya aku yang disana...
Dampingimu dan bukan dia...
Harusnya aku yang kau cinta dan
bukan dia...
Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya...
Harusnya yang kau pilih bukan dia*...”
Dua jam lebih kita latihan di studio. Aku merasa sangat plong ikut menyanyikan lagu tersebut. Usai latihan kami bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan besok aku harus ke pantai untuk latihan diving.
Aku mempersiapkan keperluanku besok.
“Iya, Pa. Kenapa?” tanyaku balik.
“Papa beliin wetsuit dan drysuit baru buat kamu.” ucap Papa.
“Wah, jadi tambah semangat nih latihannya.” kataku.
“Jadilah pelaut yang hebat.” ucap Papa.
“Siap Komandan.” ucapku sambil hormat.
Usai mempersiapkan semua, aku lantas istirahat di ruang keluarga sambil nonton tv. Menjadi anak satu-satunya terkadang membuatku kesepian.
Ting! Tong!
Terdengar bel pintu berbunyi.
Aku berjalan ke arah pintu dan mengintip dari jendela siapa yang datang.
“Perempuan?” ucapku dalam hati.
Wajahnya tak terlihat karena memakai helm.
Aku langsung membukakan pintu untuk mengetahui apa maksud kedatangannya.
“Cari siapa?” tanyaku.
__ADS_1
Ia terdiam dan langsung membuka helm nya.
Taraaaaa!!
“Fransiska? Ngapain kamu kesini? Tahu darimana gue tinggal disini?” tanyaku heran.
“Gue denger, loe suka diving ya? Gimana kalau besok kita latihan bareng. Gue juga mau ikut festival diving yang sebentar lagi akan dibuka.” ucapnya.
“Loe tahu dari mana gue suka nyelam?” tanyaku semakin penasaran.
Bocah baru kemarin masuk kampus udah tahu banyak tentang aku? Gila!
“Siapa sih yang nggak tahu rumah loe dan hobi loe. Cowok paling populer di kampus mana mungkin orang nggak tahu.” ucapnya.
“Trus, ngapain loe kesini pakai helm tanpa motor?” tanyaku.
“Hahahah, biar nggak ketahuan cewek loe. Ntar cemburu lagi!” katanya.
“Cewek yang mana? Orang gue jomblo!” jawabku.
“Alaah, lagak loe jomblo! Itu si Priska kan cewek loe.” ucapnya lagi.
Busset nih anak. Dia tahu banyak tentang aku.
“Gue udah putus sama Priska.” jelasku.
“Jangan ngaco kalau ngomong. Kemarin dia bilang sama gue supaya jauhin loe. Dih, siapa juga yang mau deketin loe. Orang gue juga udah punya cowo.” katanya.
“Loe nggak usah dengerin omongan dia. Kita udah putus.” jawabku.
“Kayaknya dia masih sayang sama loe.” kata Fransiska lagi.
“Gue nggak peduli.” jawabku.
“Yaudah kalau gitu, gue mau pulang. Jangan lupa besok kita ketemu di pantai.” Pungkasnya dan pamit pulang.
Dasar cewek tomboy!
Setelah kepulangannya, hp ku berdering. Sebuah telpon masuk dari Priska.
“Baru aja diomongin udah telpon. Panjang umur nih anak!” ucapku.
“Ada apa?” tanyaku setelah menjawab telpon darinya.
“Ndra, kenapa sih loe nggak pernah hargai gue? Loe tahu kan gue masih sayang sama loe. Tapi loe udah nggak peduli lagi.” katanya.
“Trus mau loe apa? Udah ketahun selingkuh malah nyalahin gue. Giliran selingkuhan loe ketahuan udah punya cewek, loe nyari gue? Iya?” tanyaku kesal.
“Bukan gitu Ndra.” katanya.
“Udahlah, jangan ganggu gue lagi. Gue mau fokus kuliah dan diving. Kalau loe emang masih sayang sama gue, biarin gue fokus kesitu dulu.” Ucapku dan mematikan telpon darinya.
“I love u.” Priska mengirimkan pesan untukku sambil memberikan stiker love.
Kuabaikan pesan tersebut. Hp ku langsung kumatikan.
Hmmmmm, mending aku tidur lebih awal supaya besok nggak kesiangan. Bisa-bisa kena tonjokan maut dari cewek tomboy kalau sampai telat. Semakin hari semakin banyak kegiatan hingga membuatku harus pandai-pandai membagi waktu.
Aku akan menikmati masa mudaku dengan penuh warna. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu hanya karena perempuan. Mungkin perempuan bisa dijadikan sebagai penyemangat. Lebih baik nggak punya pacar tapi banyak gebetan. Nggak ada aturan dan bebas mau dekat dengan siapa aja.
__ADS_1
Oh iya, aku lupa bercerita. Waktu aku ulang tahun kemarin, sebenarnya mama membawa seorang cewek untuk dikenalkan denganku tanpa sepengetahuan temanku yang lain. Yaaa, intinya semacam perjodohan. Cantik, tinggi, seksi, dan sangat cocok untuk diperistri. Eh!
Kalau nggak salah namanya Puri.