Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 18


__ADS_3

Dokter telah memutuskan untuk memberi perawatan paliatif kepada Priska. Perawatan yang dilakukan di rumah dengan tujuan untuk membantu Priska bersemangat dan berani menjalani kehidupannya sehari-hari. Meski di rumah ia kesepian tanpa asuhan orang tua, tapi baginya dengan berada di rumah akan membuatnya merasa tenang dan nyaman. Teman-temannya juga bisa berkunjung kapan pun ia mau.


Sore ini Priska diijinkan untuk pulang. Aku dan Fransiska akan menjemputnya setelah pulang kuliah. Dengan ijin orang tuaku, aku bergegas menyelesaikan urusan ini.


Sekitar pukul 16.00 aku dan cewek tomboy itu berangkat menuju rumah sakit.


“Loe yakin orang tuanya nggak datang buat jemput dia?” tanyaku pada Fransiska.


“Kurang yakin sih. Tapi kalau mereka datang ya...syukur deh. Dengan begitu Priska juga senang.” jawab Fransiska.


“Harusnya mereka tetap peduli dengan anak meski udah punya keluarga baru.” kataku.


Sampai di ruangan Priska, aku terharu melihat kejadian itu. Seorang wanita dan pria yang kukira adalah orang tuanya tengah memeluk Priska. Betapa bahagianya perasaan pacarku saat itu. Kasih sayang yang lama ia rindukan kini terbayar.


Fransiska tersenyum melihat mereka yang tengah berpelukan. Ego telah terkalahkan.


“Sore Om, Tante.” sapaku kepada orang tua Priska.


“Andra ya?” tanya Mama Priska.


“Iya, Tante.” jawabku.


“Makasih ya udah jagain Priska.” ucapnya.


Aku hanya tersenyum. Andai beliau tahu bahwa aku adalah orang yang selalu nyakitin perasaan Priska, mana mungkin ia berterimakasih padaku. Segala umpatan dan cacian pasti mendarat di wajah gantengku ini.


Tak menunggu lama, kami beres-beres dan mengajak Priska pulang. Kubiarkan ia naik mobil bersama orang tuanya sambil melepas rindu. Sedangkan Fransiska tetap satu mobil denganku. Beberapa menit kemudian, tibalah kami di sebuah rumah yang baru kali ini aku menginjakkan kaki disini. Priska pulang di rumah yang lain. Lokasinya tak jauh dari rumah sakit.


“Rumah siapa ini?” tanyaku pada Fransiska.


“Nyokapnya. Dia tinggal disini bersama keluarga barunya.” jawabnya.


“Hah? Yakin dia bisa nyaman tinggal disini?” tanyaku.


“Nyaman lah. Papa tirinya nggak ada. Dia kerja di luar kota untuk beberapa waktu. Kalaupun dia pulang, kelakuannya nggak sekejam kata orang. Adik tirinya juga masih kecil. Priska pasti terhibur dengan adanya mereka.” tutur Fransiska.


Mereka turun dari mobil!


Aku tak melihat papanya keluar. Beliau langsung belok arah dan meninggalkan rumah itu. Aku dan Fransiska segera membantu membawa barang-barang untuk dibawa masuk ke rumah.


“Kamu sering-sering main kesini ya, Ndra.” ucap Mama Priska.


“Iya Tante.” kataku sambil tersenyum.


Kulihat wajah Priska berseri. Suasana baru ini akan memberikan ketenangan untuknya. Tak lama dua bocah cilik berlari menyerbu kedatangan kami.


“Yeyeye, Kak Priska datang! Asyikkk....” serunya.


Anak itu kembar dan terlihat sangat menggemaskan.

__ADS_1


“Kenalan dulu sama Kak Andra.” ucap Mamanya.


Dengan malu-malu, ia datang menghampiriku.


“Hallo... namanya siapa?” Tanyaku sambil mengulurkan tangan.


“Azahra, Kak.” Ucapnya sambil meringis menunjukkan gigi tengahnya yang ompong.


“Yang ini siapa?” tanyaku.


“Zahira, Kak.” jawabnya sambil malu-malu.


Usai kenalan, Priska di bawa ke kamarnya untuk istirahat. Sedangkan aku masih menemaninya bersama Fransiska.


“Kalian temenin Priska dulu ya. Tante mau bikinin bubur yang enak buat kalian.” ucap Mama Priska.


“Asyiiikkkk.” Seru kedua bocah kembar itu.


Sambil menunggu masakan jadi, kami bersenda gurau sambil bercerita. Seru juga punya adik kecil. Ah, aku tak pernah merasakan suasana ini di rumah.


“Makasih ya sayang. Kamu udah nemenin aku.” ucap Priska padaku.


“Iya, sama-sama.” kataku.


“Kayaknya gue harus cabut dulu deh. Udah ditungguin cowok gue di rumah.” ucap Fransiska.


“Biasalah anak muda.” jawab Fransiska.


“Yaudah, loe cepet sembuh ya. Bilangin nyokap loe gue pulang duluan.” pamitnya.


“Thank’s ya udah bantuin gue.” pungkas Priska.


“Loe pernah cemburu sama Fransiska?” tanyaku.


“Iya.” jawabnya.


“Kenapa? Bukannya dia sepupu loe dan udah punya cowok?” tanyaku lagi.


Belum sempat ia menjawab, mamanya datang sambil membawakan bubur.


“Makan dulu yuk.” ajaknya.


Beliau menuangkan bubur ke mangkok yang telah disiapkan. Bubur ayam kesukaan Priska telah siap disantap.


“Kak Priska, ayo dimakan buburnya.” ucap adik tirinya.


“Iya sayang.” Jawabnya sambil menyendok makanan itu.


“Andra, kamu kuliahnya gimana?” tanya Mama Priska.

__ADS_1


“Lancar Tante.” jawabku.


“Oh iya, Priska sering cerita tentang kamu loh sama Tante. Meski kita jarang bertemu, tapi komunikasi tetep lancar.” tutur beliau.


“Nyeritain apa aja, Tante?” tanyaku.


“Banyak. Katanya kamu cowok yang paling populer di kampus. Banyak yang suka sama kamu. Beruntungnya Priska yang kamu pilih jadi pacar. Katanya kamu sayang banget sama dia.” jelas beliau.


Oh Tuhan, aku jauh dari apa yang diucapkan Priska pada mamanya. Rasa sayang yang kuberikan selama ini hanya kepalsuan. Tapi untuk sekarang aku telah berjanji akan memberikan kasih sayang yang tulus untuknya. Aku nggak tahu apakah ini karena penyakit yang ia derita atau memang aku telah jatuh cinta.


Lama berbincang, aku menengok jam dinding yang telah menunjukkan pukul tujuh malam. Mungkin sudah waktunya aku pamit. Aku tak boleh pulang terlalu larut.


“Priska, gue pulang dulu ya. Udah malem.” kataku.


“Iya. Hati-hati ya di jalan.” ucapnya.


“Tante, Andra pamit pulang dulu. Semoga Priska segera pulih kembali.” Kataku dan meninggalkan rumah besar tersebut.


Hari ini aku mendapat banyak pelajaran hidup. Seseorang yang telah bercerai akan mengalahkan egonya masing-masing demi kebahagiaan anak. Tapi bukan berarti harus kembali rujuk. Disisi lain aku yang tak punya saudara kandung bisa merasakan keseruan bersama orang lain seperti adik tirinya Priska.


Mereka yang terlahir di rahim yang sama namun beda ayah, masih bisa akrab layaknya saudara kandung dan tak membenci satu sama lain.


Saat aku kembali ke rumah terasa sangat sepi nggak ada teman untuk diajak bermain.


Ah, gimana kalau aku godain papa dan mama ?


Aku melihat mereka berdua sedang menikmati secangkir kopi dan tengah asyik ngobrol masa muda mereka. Terlihat sangat bahagia sekali raut wajahnya. Aku mulai menghampiri mereka.


“Pa, Ma. Boleh nggak kalau Andra minta sesuatu?” tanyaku pada mereka.


“Kamu mau minta apa?” tanya Papa.


“Adek, Pa.” ucapku tanpa basa basi.


“Hahahah.” Mama tertawa lepas.


“Kamu udah sebesar ini mau punya adek?” tanya Papa sambil terkekeh.


“Andra kesepian, Pa. Nggak ada temen buat main, ngobrol, bertengkar.” kataku.


“Gampang lah. Nanti kamu bikin sendiri aja kalau udah nikah. Selesaikan dulu kuliah kamu. Kalau pengen main, sana ke rumah Yossy.” tuturnya.


Duh, papa gimana sih. Emang nggak pengen punya anak lagi apa!


“Emang Mama nggak pengen punya anak lagi? Ntar kalau Andra udah nikah kan udah nggak satu rumah lagi sama Mama dan Papa.” ucapku.


“Kamu kan anak tunggal. Jadi nggak mungkin kita biarin kamu keluar dari rumah setelah nikah. Dan kamu yang akan nerusin bisnis Papa dan Mama.” jelasnya.


Aduh! Rasanya aku tak berhasil membujuk mereka untuk mengabulkan keinginanku.

__ADS_1


__ADS_2