Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 15


__ADS_3

Setelah mengantar Priska pulang, aku kembali ke rumah dan melanjutkan aktivitas berikutnya. Latihan Band. Aku mendengarkan beberapa lagu dari Armada Band. Dengan fokus telingaku mencerna mana bunyi symbal, pedal, bass drum maupun tom-tom. Di rumah aku punya banyak koleksi stik drum dengan merk Zildjian.


“Andra, dicari Yossy tuh.” teriak Mama dari lantai bawah.


Aku yang tadinya di kamar langsung menemui temanku itu. Kubawa jaket beserta stik drum kesayanganku untuk latihan malam ini.


“Udah dateng loe?” sapaku pada Yossy.


“Iyalah. Yang lain nunggu di studio.” katanya.


“Andra! Aku ikut ya.” Tiba-tiba Priska datang dan ingin ikut latihan.


Aku mengajaknya sekalian.


“Eh, tunggu dulu. Kalian udah balikan?” tanya Yossy penasaran.


“Udah donk.” jawab Priska senang.


“Nah, gitu donk.” sahut Yossy.


Aku tahu dia pasti senang mendengar kabar ini. Dengan kembalinya hubunganku dengan Priska, posisinya telah aman untuk tetap menjadi pacar Brigitta.


Aku membonceng Priska dan mengekor di belakang motor Yossy. Lima belas menit kemudian kami tiba di lokasi. Mataku langsung tertuju pada sosok wanita cantik dengan balutan kemeja panjang dan celanan panjang. Ya, siapa lagi kalau bukan Brigitta.


“Sorry Pris, hati ini emang nggak bisa bohong.” ucapku dalam hati.


“Ngapain loe ikut kesini?” tanya Brigitta pada Priska.


“Suka-suka gue donk.” Jawabnya ketus sambil memegang tanganku.


“Kayaknya ada yang udah balikan nih.” celetuk Reno.


“Syukur deh kalian udah balikan. Ikut seneng dengernya.” timpal Panji.


Lantas, kami berenam masuk studio dan mulai latihan. Priska menungguiku di dalam sambil mengamati gepukan tanganku pada bagian-bagian drum. Yossy dan lainnya terbawa alunan lagu yang kian syahdu. Suara lembut Brigitta menyempurnakan rasa baper yang menggebu.


Sedang asyiknya latihan, terlihat lampu depan kaca nyala. Warna merah menandakan bahwa waktu kami latihan telah usai. Kuhentikan permainanku dan keluar dari studio tersebut. Lusa kami akan tampil mengisi acara kampus.


“Dua jam terasa cepet banget sih.” ucap Yossy.


“Ya iyalah, loe di temenin pacar loe jadi terasa cepet.” celetuk Reno.


“Gimana suara gue? Nggak malu-maluin kan?” Tanya Brigitta yang masih belum PD bernyanyi.


“Suara loe lumayan. Nggak fals kok.” jawab Panji.


“Sayang, kita pulang yuk.” ajak Priska.


Aku mengangguk dan mengantarnya pulang lagi.


“Gue pulang dulu ya.” pamitku pada yang lain.


“Iya. Gue juga mau langsung cabut.” jawab Reno dan Panji.


Kami pun bubar.


***

__ADS_1


“*Waktu pertama kali kulihat dirimu hadir...


Rasa hati ini inginkan dirimu...


Hati tenang mendengar, suara indah menyapa...


Geloranya hati ini tak kusangka...


Rasa ini tak tertahan...


Hati ini slalu untukmu...


Terimalah lagu ini dari orang biasa...


Tapi cintaku padamu luar biasa...


Aku tak punya bunga, aku tak punya harta*...


Yang kupunya hanyalah hati yang setia, tulus padamu...”


Yossy bernyanyi sambil memainkan gitar disamping Brigitta yang tengah duduk bersamanya.


Alamak! Romatis sekali anak itu.


“Ndra! Ngapain loe disini?” Tanya Rebecca yang tiba-tiba muncul dibelakangku.


“Tadi gue mau ke kelas, eh ada yang lupa. Setelah gue inget-inget ternyata perut gue minta makan.” jawabku beralasan.


Hampir aja ketahuan Rebecca kalau gue sedang mengamati kedua sejoli itu. Dengan terpaksa aku pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak keroncongan. Kuajak Priska untuk menemaniku.


“Pris, ke kantin yuk.” ajakku.


Aku memesan dua porsi bakso dan minuman. Tak berapa lama Yossy dan Brigitta juga datang.


“Cieeee yang baru balikan udah suap-suapan.” ledek Yossy.


“Kalau ngomong jangan ngasal. Apa yang mau disuapin orang makanan aja belum dateng.” jawabku.


Lima menit kemudian makanan pun datang. Mau tak mau aku harus menyuapi Priska di depan mereka supaya terlihat romatis.


“Emang cuma dia aja yang bisa romantis? Gue juga bisa.” ucapku dalam hati.


“Oh iya, gimana kalau kita nambah satu lagu lagi? Cinta Luar Biasa dari Andmesh?” usul Yossy.


“Terserah. Gue ngikut aja.” jawabku.


“Gimana, Bri?” tanya Yossy pada Brigitta.


“Boleh.” jawabnya.


“Yaudah, kita cabut duluan ya.” Pamitnya sambil menggandeng tangan Brigitta.


Melihat mereka sudah pergi, aku langsung berhenti menyuapi Priska.


“Kok udah sih?” tanyanya.


“Kamu makan sendiri ya. Aku mau ke toilet bentar.” ucapku dan meninggalkannya.

__ADS_1


Aku telah lama memendam perasaan pada Brigitta. Tapi nyatanya dia lebih memilih Yossy. Dan entah sampai detik ini perasaan itu masih saja bersemi. Dalam lubuk hati yang paling dalam aku masih menunggu kesempatan darinya meski sangat sulit.


Entah gimana nanti perasaan Priska ketika tahu kalau aku masih menunggu Brigitta. Aku juga nggak tahu gimana perasaan Yossy kalau tahu bahwa aku masih menyukai pacarnya. Dan aku juga nggak tahu gimana reaksi papa dan mama saat tahu aku dan Priska balikan.


Mungkin aku telah menelan ludahku sendiri. Pernah berjanji untuk nggak pacaran lagi malah sekarang balikan sama mantan. Oh Tuhan... andai seseorang mengetahui  janjiku pasti mereka menertawaiku.


Tapi mau gimana lagi? Dia selalu nekad untuk melukai dirinya sendiri jika keinginannya untuk kembali denganku tidak terpenuhi. Tapi aku juga telah memberinya peringatan untuk tidak mengatur segala urusanku.


Perasaanku yang sama sekali nggak ada untuknya, entah sampai kapan akan berakhir. Kepura-puraan ini lambat laun akan terbongkar. Dan aku yakin Priska akan sangat terpukul dan sakit hati.


Usai dari toilet, aku kembali ke kantin menemui Priska.


“Udah selesai makannya?” tanyaku.


“Kamu lama banget sih sayang?” dia balik nanya.


“Mules.” jawabku ngasal.


“Oh iya, beberapa minggu lalu aku ke perpustakaan kayak ada sesuatu yang aneh disana.” Ucap Priska seolah merasakan hal yang tak wajar.


“Aneh gimana?” Tanyaku sambil duduk di dekatnya.


“Pas aku lagi milih buku, kayak ada perempuan dari balik rak buku sedang mengamati langkahku. Trus ada bekas kaki seseorang menuju rak paling belakang. Aku nggak berani ngikutin jejak itu.” terangnya.


“Masa sih?” tanyaku ragu.


“Iya sayang. Trus Andira juga  ngomong kalau dia pernah melihat sosok perempuan berambut panjang sedang berdiri di antara rak buku paling belakang.” ucapnya lagi.


“Mungkin kalian salah lihat kali.” kataku.


“Di perpus kan emang banyak kejadian aneh. Mungkin nggak sih sosok itu ngasih tau kita sesuatu melalui penampakannya?” tanya Priska lagi.


“Nggak tahu. Udah ah, ngapain sih bahas gituan.” jawabku.


“Kamu takut ya?” tanyanya.


“Enggak lah. Orang aku juga pernah dihantui sosok itu. Ia menjelma sebagai tukang kebun yang udah meninggal di sumur belakang sana.” terangku.


“Dih, jadi merinding. Yaudah yuk, kita ke kelas.” Ajak Priska yang mulai merasakan hawa tak enak.


Setelah membayar makanan, kami masuk kelas dan mengikuti jadwal mata kuliahan hari ini.


Sampai kelas, aku meliha Fransiska yang sudah mempersiapkan tugasnya. Ia yang tadinya duduk di sebelahku mendadak pindah maju ke depan.


“Loe pindah?” tanyaku.


“Iya lah. Ntar sebelahan sama loe ada yang marah.” celetuknya.


“Alah, lebay banget sih loe. Gitu aja dipikirin.” kataku.


“Pagi semua!” sapa Bu Dosen yang telah tiba di kelas.


“Pagi Bu.” jawab kami serentak.


Tiba-tiba Grace menjerit ketakutan.


“Aaaaaaaa!!!! Setan! Pergi...pergi!” teriaknya.

__ADS_1


Ia langsung pingsan hingga membuat kelas jadi ricuh. Kegiatan belajar ditunda untuk beberapa waktu sampai Grace sadar kembali. Ia dibawa ke ruang kesehatan untuk diberi pertolongan. Setelah sadar ia bercerita bahwa ia tadi melihat sosok perempuan berambut panjang sedang  mencekik lehernya.


“Matanya menghitam, wajahnya terlihat sangat jahat. Tangannya mulai mencekik leher saya.” ucapnya kepada Dosen.


__ADS_2