Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 6


__ADS_3

Minggu!


Aku berencana untuk olahraga hari ini. Jogging mengelilingi komplek sekitar rumah. Bersama papa dan mama kita menghabiskan waktu bersama.


“Andra, nanti siang Papa dan Mama akan mengajak kamu menghadiri undangan teman bisnis Papa.” ucap Papa.


“Emang ada acara apa?” tanyaku.


“Anak perempuannya ulang tahun.” jawab Papa.


“Andra di rumah aja deh, Pa.” tolakku.


“Kamu kan nggak ngapa-ngapain. Di rumah paling juga tidur!” ucap Mama.


“Andra kan nggak kenal sama mereka. Malu lah, Ma.” jawabku.


“Makanya kamu harus ikut biar kenal.” pungkas Papa.


Huft! Aku sangat kesal dengan paksaan. Aku ingin menikmati sedikit kebebasan.


“Sorry, Pa. Andra mau ke pantai aja.” Aku tetap menolak ajakan tersebut.


“Yasudah. Terserah kamu lah. Tapi jangan nyesel lho kalau nggak bisa kenal sama anaknya temen Papa. Dia cantik.” canda Papa.


“Ah, cewek cantik mah juga banyak, Pa. Nggak hanya anaknya temen Papa aja. Lagian Andra lagi males membahas perempuan.” ucapku.


“Hahahaha, anak Mama sepertinya lagi galau.” Ucap Mama sambil melirik Papa.


“Apaan sih, Ma.” Ketusku sambil fokus merenggangkan badan.


Setengah jam mencari keringat, aku beristirahat di halaman depan. Mama yang langsung masuk ke dalam berencana untuk membuat sarapan pagi untuk kami. Sambil menunggu makan pagi, aku membantu mama menyiram bunga di depan dan samping rumah.


“Kayak perawan aja loe!” seru Yossy yang tiba-tiba menghampiri.


“Kampret! Ngapain loe pagi-pagi udah kesini?” tanyaku kesal.


“Hari minggu bebas donk!” ucapnya.


Yossy yang sedang mengendarai motornya langsung masuk halaman dan duduk menghampiri papa.


“Pagi, Om.” Sapanya pada Papa.


“Eh, Yossy. Habis olahraga juga ya?” tanya Papa.


“Heheheh, enggak Om. Iseng aja main kesini.” jawab Yossy.


“Kamu mau ke pantai sama Andra?” tanya Papa.


“Enggak. Emang kenapa Om?” tanyanya.


“Nggak apa-apa.” pungkas Papa.

__ADS_1


Usai menyiram tanaman kesayangan mama, aku menghampiri keduanya. Tak lama, mama memanggil untuk mengajak sarapan bersama.


“Eh, ada Yossy. Yukk sekalian sarapan bareng kita.” ajak Mama.


“Nggak usah Tante, makasih. Yossy cuman mampir bentar kok. Tadi kebetulan lewat sini. Eh... ngeliat Andra nyiram kembang. Hahahah, pengen godain dia aja sih, Tante.” kata Yossy sambil terkekeh.


“Dasar kampret loe!” ucapku.


“Yaudah, gue cabut dulu. Om, Tante, Yossy pamit dulu.” ucapnya.


Setelah ia pamit, kami langsung sarapan dan membersihkan diri, aku bersiap untuk ke pantai sedangkan papa dan mama siap-siap untuk menghadiri acara teman bisnisnya.


Dari dulu aku paling malas ikut mereka ke acara yang tak ada hubungannya denganku. Pernah sekali ikut tapi ujung-ujungnya mau dijodohin.


Oh, tak semudah itu!


Aku masih muda dan aku bisa mencari cewek sesuai kriteriaku.


Jujur, andai Yossy bukan temanku akan kuserobot Brigitta dari dekapannya.


“Andra, kita berangkat dulu ya.” ucap Papa.


“Iya, Pa. Hati-hati di jalan. Sebentar lagi Andra juga mau berangkat.” jawabku.


Lima menit berlalu, rumah terlihat kosong. Kita pergi ke acara masing-masing!


Aku ke pantai yang katanya belum banyak dijamah orang.


Masih sangat perawan!


Lima belas menit berlalu jalanan berubah menjadi pinggiran hutan. Aspal yang awalnya terlihat mulus berubah jadi tanah yang becek dan licin. Jalan selebar tiga jengkal membuatku harus tetap fokus menjaga keseimbangan. Karena kalau tidak, aku bisa terjungkal ke jurang. Bebatuan yang tajam, terjal, menguras  ketegangan.


Jalannya lenggak lenggok bagaikan ular sedang berjalan!


Dari kejauhan, aku telah disuguhi keindahan yang sangat menakjubkan. Birunya air laut terpampang nyata. Semakin dekat terdengar gemuruh ombak yang menghantam tebing.


Byurrrr!


Aku merinding.


Sesekali aku melihat keadaan di sekitar yang memang masih dikelilingi gunung. Pantai ini bisa dikatakan masih asri. Putih pasirnya, bersih airnya, sejuk anginnya. Butuh keberanian untuk melewati jalan yang sangat terjal. Aku duduk di bawah pohon sambil istirahat sebentar.


Kuteguk air putih yang kubawa dari rumah, aku merasakan ketenangan disini.


Aku juga mengambil kamera untuk mengabadikan petualanganku ini. Tak sabar tubuhku ingin menjeburkan diri dan bercengkerama dengan air laut.


Tapi naas! Ada papan peringatan untuk tidak berenang dan bermain air telalu jauh. Bahaya!


Tak lama membaca papan peringatan tersebut, ada seorang bapak-bapak sedang lewat sambil membawa kayu bakar.


“Maaf, Dek. Kalau main kesini jangan sendirian. Dan kalau bisa, jangan hanyut pada keindahan alam.” ucap Bapak tersebut.

__ADS_1


“Memangnya kenapa, Pak?” tanyaku penasaran.


“Ada penunggunya.” jawabnya.


“Bapak warga sekitar sini?” tanyaku.


“Iya.” jawabnya.


“Bapak nyari kayu dimana?” tanyaku penasaran.


“Di ujung sana, Dek. Yasudah, Bapak pulang dulu. Mari,” pamitnya.


Masalah penunggu, dimanapun tempatnya pasti ada penunggunya. Yang penting kita harus hati-hati. Karena keras kepalaku, aku tak memperdulikan peringatan itu. Kususuri pantai tersebut dan mulai berenang sebentar. Aku merasa tidak ada yang aneh. Pantai ini sama dengan pantai lainnya. Semakin jauh jarak yang kutempuh, aku merasakan ada getaran di bawah tanah.


Sial!


Aku harus segera keluar dari tempat ini. Aku melihat beberapa ikan mati seperti dicabik-cabik.


“Wooooiiii! Siapa disana?” Teriak seseorang dari tepi pantai.


Aku melihat dia berlari menghampiriku dan menyeretku kembali.


“Kamu buta?” tanyanya setengah kesal.


“Enggak! Kamu siapa?” tanyaku pada laki-laki muda itu.


“Kamu nggak lihat papan peringatan disana? Aku warga sini.” ucapnya.


“Aku tahu. Tapi aku rasa disini aman dan nggak bahaya buat berenang.” kataku sok tau.


“Nekat banget kamu ya! Asal kamu tahu, disini banyak memakan korban! Mending kamu segera pulang.” ucapnya.


“Aku tak menaruh curiga pada tempat ini.” kataku.


“Tapi kamu melihat ikan mati kan?” tanyanya.


“Darimana kamu tahu?” tanyaku.


“Aku udah bilang kalau aku warga sini. Pasti tau semuanya soal itu.” jawabnya.


Tak mau berdebat, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Anehnya, aku melewati jalan yang berbeda. Jalan yang awalnya kulewati seperti tertutup. Aku masih ingat untuk menuju lokasi ini hanya ada satu jalan. Tapi aku tetap fokus dengan jalan aneh itu. Aku tidak melewati jalan terjal lagi. Yang kutemui hanya aspal yang lurus dan tidak berkelok.


Apa mungkin ada jalan lain yang tak kuketahui? Entahlah.


Sampai rumah aku baru sadar kalau kameraku tertinggal.


Sial!


Terpaksa aku kembali untuk mengambilnya. Kamera itu merupakan hadiah ulang tahunku dari Papa. Secepat kilat aku mengemudikan laju motorku.. Sampai sana, air lautnya pasang!


Keindahan pantai sudah tak terlihat lagi. Air yang tadinya jernih tiba-tiba keruh. Kulihat ada gelembung-gelembung kecil di tengah sana!

__ADS_1


“Kampret!” aku mengumpat kesal.


Kamera ku hilang!


__ADS_2