Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 9


__ADS_3

“Barukusadari...


Cintaku bertepuk sebelah tangan...


Kau buat remuk, sluruh hatiku...”


Aku bernyanyi sambil menanti matahari. Semalam aku nggak bisa tidur.


“Woi, Ndra. Loe camping kok nggak ngajak-ngajak sih!” seru Yossy.


Ia datang bersama teman-temanku lainnya. Panji, Rebecca, Keisha, Reno, dan juga Brigitta.


“Kalian mau ngapain pagi-pagi udah sampai sini?” tanyaku heran.


“Nemenin  sang pujangga cinta lah!” sindir Rebecca calon Pengacara.


“Btw, happy birthday ya. Maafin gue belakangan ini sering ngamuk sama loe.” ucap Yossy padaku.


“Emang siapa yang ulang tahun?” tanyaku pura-pura tak mengerti.


“Alah, jangan sok **** loe. Semalem kita diundang sama nyokap loe buat ngerayain ultah loe! Tapi karena loe nya nggak mau, yaudah. Kita samperin aja disini.” terang Keisha yang terkenal jago silat.


“Nih, kado spesial buat loe!” Ucap Yossy sambil memberikan bingkisan kado.


“Apaan nih? Jangan-jangan kalian mau ngerjain gue ya? ngasih kado kayak anak kecil aja.” kataku.


“Udah, buka aja! Jangan bawel deh.” ketus Brigitta.


Baiklah, aku akan membuka kado tersebut. Semoga isinya bukan sesuatu yang membuat jantungku terkejut. Kado berwarna coklat dihiasi dengan pita warna emas.


Kulirik mereka satu per satu. Sepertinya aman! Aku terus membuka bungkus kado tersebut dan ternyata....


“Oh My God. Kamera baru?” ucapku tak percaya.


Beberapa hari lalu kameraku hilang saat kubawa di pantai yang sampai saat ini membuatku penasaran dengan keanehannya.


“Suka nggak?” tanya Panji.


“Kita patungan loh buat beliin itu.” timpal Rebecca.


“Ya ampun. Ngapain repot-repot beliin gue kamera? Kalian kesini aja udah bikin gue seneng kok.” kataku.


“Itu cuma barang kecil yang bisa kita berikan ke loe. Semoga dengan kamera baru, loe jadi tambah semangat mengexplore tempat-tempat yang loe kunjungi. Dan kita harap loe jadi semakin tambah semangat lagi diving.” ucap Yossy.


“Thank you guys.” ucapku kepada mereka.


Aku nggak nyangka mereka bisa kompak kayak gini.


“Kita foto bareng yuk.” Ajak Reno calon fotografer handal.


Dengan gesit kami langsung berpose dengan berbagai macam gaya. Aku juga mengajak mereka untuk berenang menikmati dinginnya air laut pagi hari.


“Andraa!” Saat kita sedang asyik bersenang-senang, tiba-tiba Priska memanggilku. Ia datang bersama kedua temannya. Andira dan Winy.


“Ada apa?” tanyaku.


“Selamat ulang tahun ya.” ucapnya sambil ingin memelukku.


Dengan cepat aku ambil langkah.

__ADS_1


“Stop! Jangan sentuh aku.” kataku padanya.


“Kok kamu gitu sih. Aku kan masih sayang sama kamu.” katanya.


“Makasih udah inget hari ulang tahunku.” Kataku dan kembali bersenang-senang bersama Yossy.


“Kamu mau kemana?” tanya Priska.


“Mau nyelam.” jawabku ngasal.


“Ajarin aku nyelam donk, Ndra!” pinta Priska sambil melemparkan senyuman nakal.


“Reno! Sini loe.” Panggilku pada Reno yang terkenal jago diving dan selancar.


“Ada apa, Ndra?” tanyanya.


“Tolong ajarin dia diving.” Pintaku sambil mengedipkan mata pada Reno.


“Oke, dengan senang hati.” jawabnya menyetujui.


“Kok sama dia sih! Aku maunya sama kamu.” protes Priska.


“Kalau nggak mau yaudah.” jawabku.


“Sombong banget sih kamu sekarang.” ucap Winny padaku.


Tanpa memperdulikan mereka, aku mengajak Rebecca dan lainnya makan di salah satu warung yang sudah buka pagi itu. Kubiarkan Reno bersama Priska dan kawannya bermain air.


Sedangkan Yossy dan Brigitta terlihat sangat mesra. Mereka suap-suapan layaknya sedang kelaparan!


Huft! Dadaku kenapa tiba-tiba jadi sesak begini?


“Oh Tuhan....


“Loe nggak makan, Ndra?” tanya Rebecca.


“Nggak tahu kenapa gue jadi nggak nafsu makan.” jawabku sambil membelai gitar.


“Kayaknya loe butuh kasih sayang nih, Ndra.” celetuk Keisha.


Mendengar ucapan tersebut, mereka menertawakanku dan terus saja meledek.


“Mau nggak gue cariin pacar buat loe biar semangat hidup lagi? Hahahah.” timpal Panji.


Daripada mereka terus meledek, aku bangkit menuju area flying fox dan bermain disana. Melihat pemandangan dari atas sungguh menakjubkan.


Aku memandang laut yang luas. Tapi ada yang aneh. Seperti ada orang tenggelam minta pertolongan! Aku segera turun dan berlari ke arah pantai.


Byurrr!


Aku berenang dan menyelamatkan orang tersebut. Semakin dekat posisiku dengannya, aku kenal dengan sosok perempuan itu.


“Priska?” ucapku.


Ia telah tak sadarkan diri. Aku segera membawanya ke daratan dan berusaha membantunya. Aku butuh seseorang untuk memberinya nafas buatan.


“Reno kemana? Bukannya dia tadi bersama Priska dan kedua temannya?” tanyaku dalam hati.


Melihatku sedang menggendong tubuh Priska, beberapa temanku menghampiri dan menanyakan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


“Loe apain Priska bisa sampai kayak gitu?” celetuk Yossy.


“Dia tenggelam. Gue berusaha nolongin dia. Loe bisa bantu gue buat ngasih nafas buatan dia kan Yoss?” tanyaku pada Yossy.


Dulu sebelum punya pacar, dia paling suka ngasih nafas buatan ke seseorang.


“Kok gue? Gue nggak bisa lah. Loe aja! Dulu kan kalian pernah pacaran.” jawabnya.


“Kampret! Kena lagi gue.” kataku dalam hati.


“Pernah pacaran bukan berarti bisa ngasih nafas buatan.” jawabku.


“Udah-udah! Biar gue kasih nafas buatan ke dia.” ucap Rebecca.


Tak boleh dianggap remeh. Gadis calon pengacara itu juga jago dalam olahraga air. Ia berusaha menyadarkan Priska hingga akhirnya ia sadar.


“Priska? Loe nggak apa-apa kan?” tanya Rebecca.


“Kepala gue pusing.” jawabnya lirih.


“Reno dan kedua temen loe mana?” tanyaku.


“Gue nggak tahu.” jawabnya.


Aku segera mencari ketiga kawanku dan juga minta tolong ke pusat informasi untuk memanggil melalui mikrofon nama ketiganya agar segera kembali ke lokasi.


Setengah jam tak ada hasil, aku kembali naik ke area flying fox. Berharap aku bisa melihat ketiganya dari ketinggian tersebut. Sambil menyipitkan mata, kusapu seluruh area pantai hingga goa.


Air laut terlihat sangat tenang. Ada segelintir orang di sekitar perahu nelayan, tapi mereka bukan kawanku. Kemana perginya?


Aku khawatir mereka pergi ke goa.


“Yoss, ikut gue sekarang!” Aku menarik tangan Yossy dan mengajaknya ke goa.


“Kemana sih?” tanyanya.


“Udah, diem aja. Ntar juga tahu.” kataku.


Ia pun menurut. Sampai di mulut goa, langkah kakinya terhenti.


“Ngapain kita kesini? Nyari mati?” tanyanya.


“Gue khawatir mereka masuk ke goa ini.” jawabku.


“Loe nggak tahu kalau goa ini merupakan tempat persembunyian ular mematikan?” tanya Yossy.


“Kemarin malem gue juga kesini dan ngelihat ular itu. Trus gue buru-buru cabut.” kataku.


Kita saling memandang. Menghela napas panjang sambil memikirkan dimana keberadaan ketiga kawanku itu.


“Renoooo! Winny! Andira!” panggilku dengan suara lantang.


“Woiiii, ada orang nggak di dalam?” Teriak Yossy tepat di mulut goa.


Lima belas menit menunggu masih tak ada jawaban. Aku mencoba menghubungi ponselnya.


Ah, ****! Manamungkin ia bawa hp. Tadinya kan mereka mau nyebur ke laut.


“Yaudah, kita minta tolong petugas pantai untuk bantuin nyari. Kita juga nggak mungkin masuk ke goa sendirian.” ucap Yossy.

__ADS_1


Akhirnya kami pun mengerahkan petugas pantai untuk mencari Reno, Winny dan Andira.


Reno sudah terbiasa dengan pantai ini. Ia sering menghabiskan waktu bersamaku sejak kami kuliah bareng. Nggak mungkin ia tersesat. Temanku itu juga sering berenang disini, nggak mungkin ia tenggelam bersama kedua putri. Lantas, kemana perginya?


__ADS_2