Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 12


__ADS_3

Aku berangkat ke kampus pagi-pagi buta. Memang sengaja! Aku ingin menikmati hawa segar selama di perjalanan. Jalan raya masih lengang. Nggak ada polusi sama sekali.


“Huuuuufffttttt..... haaaahhhh.” Aku menghirup dan membuang nafas.


Sangat segar.


Berhubung hari ini aku belum sarapan, aku mampir sebentar ke warung pinggir jalan. Disana aku melihat gadis sedang berjualan es dan nasi pecel yang dibungkus dengan daun pisang. Nggak tahu kenapa aku simpati dengan bocah itu.


“Pagi, Dek.” Sapaku pada gadis penjual es tersebut.


“Pagi, Kak. Mau beli apa?” tanyanya.


“Nasi pecel lima sama es nya juga lima.” kataku.


Merasa penasaran dengannya, aku memberanikan diri untuk bertanya.


“Orang tua kamu kemana?” tanyaku.


“Bapak sakit, Kak. Tangannya patah. Kalau Ibu, dia udah nggak ada sejak aku masih kecil.” jawabnya seperti tak ada beban.


“Jadi kamu jualan es dan nasi pecel bantuin Bapak?” tanyaku lagi.


“Iya, Kak.” jawabnya.


“Yang masak nasi pecel siapa?” tanyaku.


“Aku kak. Heheheeh...” jawabnya sambil terkekeh.


“Pasti enak.” Kataku memuji biar dia tambah semangat.


“Ini kak.” Katanya sambil menyerahkan pesananku.


“Berapa semuanya?” tanyaku.


“Sepuluh ribu, Kak.” jawabnya.


“Ha? Sepuluh ribu?” tanyaku heran.


“Iya, Kak.” jawabnya meyakinkan.


Aku nggak percaya makanan yang kupesan itu dibandrol harga sepuluh ribu. Aku langsung membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuknya.


“Ini buat kamu.” Kataku sambil memberikan uang lima puluh ribuan lima lembar.


“Lhoh Kak, kan cuma sepuluh ribu.” katanya.


“Nggak apa-apa, sisanya buat kamu.” ucapnya.


“Makasih ya, Kak.” jawabnya senang.


“Ya sudah, Kakak berangkat kuliah dulu. Semoga dagangan kamu cepat habis ya.” kataku pamit.


Kelima nasi pecel dan es tadi kubawa ke kampus. Lima belas menit perjalanan, aku telah tiba di gedung yang kini menjadi tempat dimana aku melanjutkan pendidikan. Setelah parkir motor, aku mencari teman-temanku. Kucari kesana kemari tapi belum juga kutemui.


“Dimana sih mereka?” tanyaku dalam hati.


Sambil menunggu batang hidung Yossy, aku duduk di taman kampus sambil mendengarkan musik dan membaca mata kuliahan hari ini.


“Pagi, Ndra!” sapa Priska.


“Kamu?” ucapku.


Tanpa dipersilahkan, ia duduk disampingku dan melihat satu plastik makanan yang kubeli tadi.


“Apa sih itu?” tanyanya.


“Kamu mau?” tanyaku balik.

__ADS_1


Oh, aku punya ide. Gimana kalau aku ngetes dia dengan makanan tersebut? Apakah dia menghargai makanan pinggiran atau tidak.


“Itu nasi pecel yang dibungkus daun pisang dan es. Kamu mau nyobain nggak?” tanyaku.


“Kamu beli dimana sih?” tanyanya lagi.


“Di pinggir jalan tadi.” jawabku.


“Oh My God.” sahutnya.


“Mau nggak?” tanyaku.


“Enggak deh.” tolaknya.


Oke, aku mengerti.


Tak berapa lama Yossy dan Brigitta datang menghampiri kami.


“Cieeee, ada yang balikan nih.” celetuk Yossy.


“Jangan asal ngomong loe.” kataku.


“Loe beli apa sih, Ndra?” Tanya Yossy saat melihat plastik berisi bungkusan makanan.


“Nasi pecel. Mau nggak loe?” tanyaku.


“Wah, kesukaan gue tuh. Loe tahu aja kalau gue suka nasi pecel.” jawabnya.


“Loe mau nggak?” tanyaku pada Brigitta.


“Boleh.” jawabnya.


Aku membagikan nasi pecel dan es kepada pasangan tersebut. Aku juga sekalian sarapan. Saat membuka bungkusan nasi itu, kulihat ada tempe, toge, sayur bayam, dan sambel pecel.


“Loe beli dimana sih Ndra?” tanya Brigitta.


“Apa? Masa sih beli di pinggir jalan?” tanyanya.


“Iya.” jawabku.


“Rasanya kok kayak pecel restoran sih? Enak.” ucap Yossy.


“Makanya jangan mandang sebelah mata penjual pinggiran.” ucapku.


“Gue juga mau donk, Ndra.” ucap Priska yang tadinya menolak.


“Katanya tadi nggak mau.” kataku.


“Sekarang mau.” jawabnya.


“Yakin? Ntar sakit perut loh.” kataku bercanda.


“Hehehe.” sahut Priska.


Aku mengambilkan satu untuknya. Perlahan ia membuka dan mulai melahap nasi pecel pinggir jalan itu.


“Gimana Pris?” tanya Yossy pada Priska.


“Ternyata enak ya.” jawab Priska.


“Iya lah. Andra yang beli pasti enak.” ucap Yossy.


“Tinggal satu. Siapa yang mau nambah?” tanyaku.


“Buat gue aja.” ucap Yossy.


Pandai sekali bocah itu memasak. Rasanya memang sangat enak. Pedasnya juga pas. Gorengan tempe dan rebusan toge tingkat kematangannya juga oke.

__ADS_1


Usai sarapan, kami masuk kelas masing-masing dan mengikuti mata kuliahan hari ini. Disaat sedang asyik mengerjakan tugas, dosen masuk dengan  seseorang. Perempuan berkulit putih, berhidung mancung, dan berambut pendek. Penampilannya keren dan sedikit tomboy.


“Minta waktunya sebentar. Hari ini kita kedatangan mahasiswi baru asal kota B. Mulai hari ini Fransiska menjadi teman sekelas kalian. Silahkan yang mau berkenalan.” kata Dosen.


Mendengar ucapan Dosen, para mahasiswa langsung membuka lebar kedua matanya.


“Udah punya pacar belum?” tanya Panji.


“Apa nggak ada pertanyaan lain selain pacar?” jawab Pak Dosen.


“Hahahaha,” Teman-temanku yang lain pun ikut tertawa.


“Fransiska, silahkan duduk di sebelah Andra.” pinta Dosen.


“Apa? Kok disebelahku sih.” Ucapku sambil celingukan melihat keadaan sekitar yang ternyata hanya tersisa bangku kosong disampingku.


Ia berjalan ke arahku sambil melempar senyuman. Ya ampun, ternyata tuh cewek manis juga.


“Hai...” sapanya sambil senyum


“Hai.” Jawabku sambil menganggukkan kepala.


Dia duduk disampingku. Bau harum semerbak bunga menyentuh indra penciuman.


“Parfum kamu apa?” Dengan spontan aku menanyakan parfumnya.


“Hahaahahhah.” Sekali lagi semua temanku yang ada di ruangan tertawa mendengar pertanyaanku pada Fransika.


Ia ikut tersenyum.


“Memangnya kenapa?” tanyanya.


“Wangi. Aku juga pengen beli.” kataku bercanda.


Ia tersenyum lagi.


Astaga, bibirnya yang tipis membuat senyumnya jadi semakin manis. Bisa gawat nih kalau dia sering melempar senyum padaku. Bisa-bisa aku kena diabetes gara-gara dia.


“Andra! Lanjutkan tugas kamu.” perintah Dosen.


“Iya, Pak.” jawabku.


Tahu aja beliau kalau aku sedang menggodai Fransiska.


***


Mata kuliahan telah berakhir. Aku menawari Fransiska untuk mengantarnya pulang.


“Siska, gue antar pulang yuk.” kataku pada cewek itu.


“Sorry, gue udah ada yang jemput. Tuh....” Ucapnya sambil menunjuk ke arah seseorang.


******!


Mobil lamborgini telah siap mengantarnya pulang. Apalah aku dengan sebuah motor bututku.


Malunya lagi, dia dijemput oleh pacarnya yang beda kampus.


“Hahahaha. Gagal lagi-gagal lagi.” celetuk Yossy.


“Apaan sih loe. Gue heran kemanapun gue pergi loe selalu ngikuti.” ucapku kesal.


“Tuhan itu adil. Untuk saat ini loe emang belum diijinkan buat pacaran. Hahaha.” ledeknya.


Yossy memang tahu keadaanku saat ini. Papa dan mama melarangku pacaran selama kuliah. Dan mereka menyarankan untuk fokus belajar dan diving. Tapi yang namanya anak muda jaman now, masa sih nggak boleh deket sama cewek.


Andai aku tak mampu menahan gejolak hati yang memburu, aku akan menceburkan diri ke laut yang dalam. Biar aku bisa merasakan bahwa hidup tidak untuk mengejar perempuan. Tapi juga harus berjuang mengarungi kehidupan lain.

__ADS_1


__ADS_2