
“Hai, Bro!” sapaku pada Fransiska dengan gaya santai.
Ia yang tadinya berbunga-bunga mendadak panik bingung mau ngapain.
“Eh, Ka..kamu disini juga?” tanyanya dengan terbata-bata.
“Iya.” jawabku.
“Ini ya pacar loe?” tanyaku.
Aku sampai saat ini memang belum pernah melihat dengan jelas wajah laki-laki yang katanya telah berhasil mengikat hatinya. Sedangkan Yossy yang masih bersembunyi, tetap berada di zona aman.
“Temen deket kok.” jawab laki-laki itu.
“Loe sama Priska?” tanya Fransiska padaku.
“Enggak.” jawabku.
Tak berapa lama Yossy muncul dan memergoki kedua insan tersebut.
“Yossy?” ucap Fransiska pelan.
“Sama siapa loe?” tanya Yossy.
“Temen.” jawabnya gelagapan.
“Pantes aja Gerry ke rumah gue. Loe nya disini ternyata. Yaudah, kalian lanjutin. Kita mau balik duluan.” Pamit Yossy tanpa panjang lebar.
“Eh tunggu! Gerry di rumah loe?” tanya cewek tomboy itu.
“Iya. Nih, barusan dia chat gue.” jawab Yossy.
“Jangan bilang kalau gue disini ya.” ucapnya.
Tanpa menjawab, kami pergi dari tempat itu. Nggak nyangka teryata cewek tomboy doyan selingkuh. Eh tapi, belum tentu juga dia selingkuh. Ah, entahlah.
Kuantar Yossy pulang dan ikut nimbrung bersama Gerry yang katanya pacar Fransiska. Dengar-dengar, hari ini mereka mau kencan. Tapi entah kenapa tiba-tiba cewek tomboy itu nggak ada di rumah. Padahal udah janjian.
“Aneh tuh anak. Padahal kita udah janji mau dinner hari ini.” kata Gerry.
“Emang dia nggak ngomong mau kemana?” tanya Yossy.
“Enggak.” jawabnya sambil menatapku.
“Loe pacarnya Priska?” tanyanya kemudian.
“Iya. Kok loe tahu?” tanyaku.
“Fransiska banyak cerita soal hubungan kalian.” jawabnya.
Ember juga tuh bocah.
“Minumannya, Den.” Tiba-tiba pembantu Yossy datang sambil membawakan minuman untuk kami.
“Makasih, Bik.” kataku.
“Sama-sama.” pungkasnya dan berlalu.
Aku yang tadinya duduk di ruang tamu beranjak bangkit menuju teras depan. Duduk di kursi sambil memainkan gitar. Disusul Gerry dan juga Yossy.
“Kemarin Fransiska latihan ngeband sama loe?” tanyaku pada Gerry.
“Iya. Dia jadi gitaris.” jawabnya.
“Widih! Ngeri juga tuh cewek. Kok loe suka sih sama dia? Penampilannya kayak cowok gitu,” kata Yossy.
“Justru gue nggak begitu suka sama cewek feminin. Tipe seperti itu mudah ditikung. Kalau tomboy kan udah pasti bisa jaga diri.” terangnya.
__ADS_1
“Loe yakin?” tanyaku ragu.
Ia terdiam. Yossy pun tak mau ikut komentar. Apa yang kita ketahui tentang pacarnya barusan, mana mungkin kita bocorkan. Siapa tahu Fransiska emang lagi ada perlu dengan teman dekatnya tadi. Dalam hening, hatiku dan hati Yossy saling beradu jawaban.
Jam 24.00!
Harusnya aku udah sampai rumah. Tapi kaki ini enggan beranjak pergi.
“Kalian mau nginep?” tanya Yossy.
“Enggak.” aku dan Gerry menjawab bersamaan.
“Yaudah, pulang sana. Udah malem. Emang besok kalian nggak kuliah?” tanyanya.
Huft!
“Yaudah, pulang yuk!” ajakku pada Gerry.
Cowok tampan itu segera pamit dan mengemudikan lamborgini miliknya.
“Ternyata orang kaya bisa juga dibodohi pacarnya sendiri.” pikirku.
Andai Fransiska berpenampilan layaknya perempuan seutuhnya, pasti kecantikannya melebihi Brigitta. Tinggi, putih, berhidung mancung, manis jika senyum. Kurang apalagi coba? Paket lengkap udah dimilikinya.
Tak berlarut dalam bayang-bayang, aku pun juga tancap gas. Melajukan motor kesayanganku menuju rumah. Layaknya pemilik jalanan, aku ngebut dengan kecepatan tinggi. Kuprediksi tak sampai sepuluh menit aku akan sampai.
***
Pagi-pagi buta hp ku berdering keras sekali. Mataku yang masih terkantuk harus kupaksa untuk melihat siapa yang sedang telpon.
Kuraih hp ku.
“Ah, ngapain pagi-pagi telpon!” Gerutuku kesal saat nama Yossy muncul di layar handphone.
“Hallo, ada apa?” tanyaku setengah sadar.
“Pagi-pagi telpon cuma mau bilang loe penasaran sama hantu gila itu?” gerutuku.
“Udah jangan bawel. Buruan mandi sana! Jangan lupa jemput Priska.” tuturnya.
“Berisik loe!” pungkasku dan menutup telpon.
Jam dinding memang telah menunjukkan pukul tujuh. Harusnya aku udah mandi dan sarapan. Gara-gara begadang semalam jadi bangun kesiangan. Apalagi diluar cuaca sangat mendung. Kayaknya sebentar lagi turun hujan.
Aduh, gawat!
Mending aku langsung mandi dan jemput Priska. Jangan sampai kehujanan. Aku paling malas berangkat ngampus ditemani guyuran air dari langit. Kereta kencanaku bisa-bisa basah dan kotor.
Setengah jam kemudian, aku telah sampai di rumah Priska. Ia telah menanti di depan pintu. Kulihat penampilannya sedikit berubah. Entah kapan ia memotong rambutnya, kulihat ia terlihat lebih cantik dengan gayanya sekarang.
“Kamu potong rambut?” tanyaku sambil membelai rambutnya.
“Iya. Rontok soalnya. Tapi masih terlihat cantik kan?” tanyanya sambil tersenyum.
“Tambah cantik kok.” ucapku.
“Berangkat yuk.” ajaknya.
“Semangat banget hari ini.” kataku.
“Iya donk.” pungkasnya.
Sebelum badai hujan datang, kulajukan motorku menuju kampus. Kupastikan pacarku aman di belakang. Tangannya yang dari tadi memegang perutku semakin lama pegangannya semakin erat.
Sampai kampus, aku menemui Yossy yang telah berada di perpus. Anak itu benar-benar kurang kerjaan. Ngapain juga penasaran sama makhluk gila itu. Apalagi cuaca hari ini cukup menegangkan jika dipadukan dengan kedatangan setan.
“Nih!” kataku pada Yossy sambil memberikan kamera.
__ADS_1
“Temenin gue ya.” pintanya.
“Loe gila! Males gue.” kataku dan meninggalkan dia.
Mata kuliahan aja belum kelar udah mau nyari setan!
“Mau ngapain sih dia?” tanya Priska.
“Nyari hantu.” kataku.
“Gila tuh anak. Brigitta mana sih!” ucapnya.
Aku baru ingat semenjak ia pamit untuk tidak bisa ngeband bersama kami lagi, hingga kini batang hidungnya belum terlihat lagi.
“Pacar loe kemana sih?” tanyaku pada Yossy.
“Keluar kota.” jawabnya.
“Pantas aja loe jadi gila!” ledekku.
Malas menanggapi Yossy, aku dan Priska menuju kelas untuk mengikuti mata kuliahan. Meski belum mulai, mending aku berdiam diri disana daripada harus menemani Yossy.
Hari selasa yang katanya hari keramat di kampus membuat sebagian mahasiswa was-was. Harus pulang sebelum matahari tenggelam. Jika tidak, siapapun bisa diserang. Kutunggu Yossy selama satu jam, namun tak kunjung datang. Padahal mata kuliah hari ini akan segera dimulai.
Dengan terpaksa dan sedikit kekhawatiran, kususul bocah itu di perpus. Lorong kampus yang terasa sedikit dingin akibat gerimis yang mulai membasahi bumi, membuat bulu kudukku berdiri. Kucari ia disetiap sudut perpus. Rak buku yang berjajar rapi terlihat sedikit berantakan. Beberapa buku berjatuhan saat aku mulai masuk kedalam.
“Yossy!” panggilku.
Aneh, perpus terasa sangat dingin dan semakin hening!
“Yossy, loe dimana?” seruku.
Lagi-lagi tak ada jawaban. Sambil menghilangkan rasa ketakutan, kunyalakan murottal yang ada di hp ku agar setan-setan kepanasan.
Tapi sialnya, aku semakin dibuat bingung. Rak buku yang telah kulewati seperti muncul kembali. Aku terus berjalan tapi nyatanya aku masih tetap disitu.
“Yossy! Loe jangan kayak kampret deh!” seruku kesal.
Masih saja tak ada jawaban. Aku terus berusaha menyisir tempat itu semampuku hingga akhirnya aku mendengar suara dentuman.
Blerrrr!!!
Jantungku seperti mau copot. Suara itu keras sekali dan pintu perpus menutup sendiri.
Tersisa sepercik cahaya yang menerangi.
“Yossy! Loe dimana sih!” panggilku lagi.
Kali ini aku berjalan lebih ke belakang hingga melihat kaki yang terkapar. Aku berlari dan mendapati tubuh Yossy sedang limbung!
“Kampret nih anak! Udah dibilangin ngeyel!” gerutuku.
Ia pingsan sambil memegang kamera. Aku berusaha minta bantuan dengan menelpon Priska dan teman-temanku lainnya. Tak berapa lama pintu perpus di dobrak.
Brakkk!!!
Pintu itu terbuka dan mereka berlarian.
“Cepat keluar dari sini! Cepat!” seru Panji dan Reno.
Tubuh Yossy kami bopong menuju teras kampus. Tak lama Priska datang membawa minuman untuk Yossy.
Ia masih saja belum sadar dari pingsannya.
Melihat kegaduhan yang terjadi, satpam kampus menghampiri kami dan membawa Yossy ke ruang kesehatan untuk diberi pertolongan. Aku mengambil kamera yang ia pegang dan melihat apa yang telah ia rekam!
Saat kuputar video tersebut, keadaan perpus masih normal. Beberapa mahasiswa hilir mudik mencari buku yang mereka perlukan. Tapi semakin jauh ia melangkah, tiba-tiba terlihat sosok berambut panjang dibalik rak buku. Langah Yossy semakin cepat mengejar hingga terdengar suara jeritan hingga akhirnya Yossy pingsan.
__ADS_1
Benarkah di perpus ada setan berambut panjang?