
“Andra, sini Nak.” Seru Papa dari ruang tamu.
Cepet banget mereka pulang!
Aku segera turun menemui mereka. Dengan keadaanku yang masih basah akibat berenang di pantai tadi, bentuk tubuhku terjiplak pada balutan kaos dan celana.
“Oh My God!” ucapku.
Ternyata papa datang bersama seseorang. Mana mungkin aku menemui mereka dengan keadaan seperti ini. Kan malu! Sebelum ketemu mereka, aku bergegas kabur.
“Pa, Andra mandi dulu ya.” Ucapku dan langsung meninggalkan mereka.
Lima belas menit kemudian, aku kembali dipanggil.
“Andra, sini bentar.” seru Mama.
Setelah menemui mereka, aku duduk disamping papa. Tak lama seorang gadis datang.
“Brigitta? Kok kamu ada disini?” tanyaku heran.
“Kamu kan?” ucapnya sambil menunju kearahku.
“Lhoh, kalian udah saling kenal?” tanya Papa.
“Dia pacarnya Yossy, Pa.” jawabku.
“Oh,” sahutnya.
Aku heran kenapa mereka ngajak Brigitta kesini!
“Kebetulan banget nih kalian sudah kenal. Jadi kamu nanti temenin dia buat promosiin produk baru Mama.” ucap Mama padaku.
Ya Tuhan!
Ini pasti gara-gara majalah kemarin mama bisa bertemu dengan Brigitta. Aku tahu mama sedang mencari model untuk mempromosikan produk kecantikannya. Aku nggak nyangka kalau ia tertarik dengan cewek itu. Wah, tarifnya bisa mahal nih kayaknya.
Mama juga aneh, ngapain juga nyuruh aku nemenin dia. Orang nggak ada urusannya denganku. Males ah!
“Sorry, Ma. Andra nggak bisa. Lagian Andra nggak ngerti tentang produk Mama. Mama aja deh yang ngurus.” tolakku.
“Yaudah, panggil aja Yossy ke sini buat nemenin gue.” ucap Brigitta padaku.
Kampret juga nih cewek!
Semakin lama berhadapan dengannya semakin membuatku kesal. Aku langsung menghubungi Yossy untuk segera kesini. Tapi sialnya, ia sedang sibuk. Mengetehui keadaan terebut terpaksa aku juga kabur! Hahahaah, bodo amat dah!
“Mau kemana kamu!” seru Papa.
******!
“Andra mau ngerjain tugas, Pa.” kataku beralasan.
“Kamu cuma nemenin dua jam aja nggak bisa? Lagipula ada fotograger disana! Jangan banyak alasan kamu, Andra!” ketus Papa.
“Mama masih ada kepentingan di kantor. Jadi nggak ada waktu buat nemenin Brigitta. Makanya kamu gantiin Mama.” timpal Mama.
Lagi-lagi aku berada dalam paksaan yang tak mengenakkan. Tapi boleh juga nih aku kerjain cewek sombong ini. Biar tahu rasa!
“Yaudah, sini ke studio dulu.” Aku mengajak pegawai Mama dan model cantik itu ke studio untuk pemotretan iklan kosmetik.
__ADS_1
Disana banyak model baju mulai dari yang paling sexy hingga paling tertutup. Dengan sengaja kusuruh ia pakai baju sexy dengan belahan dada agak terbuka. Aku ingin melihat seberapa mahal cewek itu.
“Ini baju yang harus kamu pakai setelah itu kamu duduk disana untuk di make up sama Mbak Tika. Abis itu, kamu ikuti aja arahan tukang fotonya.” kataku.
Setelah ia melihat model bajunya sangat terbuka, ia komplen.
“Kok pakai baju ini sih! Kan mau promosi kosmetik. Ngapain pakai ini!” gerutunya.
“Eh, loe tu disini kerja dibayar! Jadi loe harus nurut,” ucapku kasar.
Aku hanya berpura-pura supaya dia kesal.
“Gue nggak mau pakai baju kayak gini. Loe mau jual badan gue!” emosinya mulai terpancing.
“Namanya juga promosi. Kalau modelnya terlihat sexy kan banyak yang tertarik. Apalagi kalau yang lihat bapak-bapak. Pasti langsung borong tuh kosmetik buat istrinya.” Kataku semakin memancing amarahnya.
“Loe kira gue semurahan itu! Asal loe tahu, gue nggak pernah pakai baju terbuka kayak gitu.” ucapnya geram.
“Udah pakai aja. Ntar gue bayar mahal deh.” ucapku.
“Gila!” Jawabnya sambil melempar baju itu ke arahku.
Perdebatan semakin panas hingga membuat Mbak Tika turun tangan.
“Stop! Lebih baik saya telpon Ibu dulu untuk menanyakan Mbak pakai baju yang mana.” ucapnya.
Beberapa menit setelah telpon, akhirnya Mbak Tika membuka rak baju dan mengambil gaun panjang warna pink yang indah. Bercorak bunga sakura dan beberapa pita.
“Pakai ini dulu.” ucapnya pada Brigitta.
“Nah, dari tadi kek!” Sahutnya masih dengan nada kesal.
“Loe ngerjain gue?” tanya Brigitta padaku.
“Ngapain ngerjain loe? Emang loe cocoknya pakai baju itu. Kalau pakai gaun terlihat kayak emak-emak.” kataku.
“Gue heran, kok bisa ya loe jadi anaknya Tante Tiara? Dia baik, cantik. Tapi loe? Gila!” ucap Brigitta kesal.
“Loe mau nggak kencan sama gue malam ini? Ntar gue kasih bonus.” kataku menawari.
“Sorry gue nggak bisa.” ucapnya.
“Daripada loe disini nungguin Mama gue pulang, mending loe bersenang-senang sama gue." kataku.
"Nggak." ketusnya.
"Cantik banget sih loe!” kataku sambil mendekatinya.
Dia mundur ketakutan.
Aku ingin ketawa terbahak. Ngapain juga takut! Lagi pula aku nggak bakal ngapa-ngapain dia. Disitu juga masih ada fotografer dan Mbak Tika.
“Pede banget sih loe! Gue mau ambil ini!” kataku sambil mengambil produk kecantikan Mama.
“Mas Andra hati-hati lhoh. Nanti bisa jatuh cinta!” celetuk fotografer.
“Jatuh cinta sama dia? Dih!” Kataku dan berlalu meninggalkan mereka.
Ya mungkin saja jatuh cinta, tapi aku harus ingat bahwa dia sudah ada yang punya.
__ADS_1
Aku menemui papa yang sedang duduk di ruang tamu. Tak lama mama pulang dan langsung ke studio. Satu jam kemudian, mereka keluar dan mama menyuruhku untuk mengantarkan Brigitta.
“Andra, tolong Antar Brigitta pulang ya. Dia udah bantu kita lho hari ini.” Ucap Mama dengan senyum manisnya.
“Kok Andra sih! Kan yang ngajak kesini Mama sama Papa.” kataku.
“Kamu kan temen kampusnya. Ayolah. Kasihan udah malam.” ucap Mama.
“Andra panggilin taxi aja ya, Ma.” kataku.
“Nggak bisa. Kamu harus anterin dia pulang. Sekarang!” peritah Papa.
Dengan kesal, aku terpaksa mengantar model itu pulang dengan naik motor yang baru saja kupakai ke pantai tadi. Bannya yang sangat kotor akibat tanah yang becek masih melekat pada sela-sela besi.
“Motor loe nggak pernah dicuci ya?” celetuk Brigitta,
“Enggak.” jawabku sambil memakai helm.
“Jorok banget sih loe.” ketusnya.
Tanpa memperdulikan omongannya, aku menyuruh perempuan itu untuk segera naik dan kulajukan motorku dengan kecepatan tinggi.
“Woi, jangan ngebut!” teriaknya.
“Kalau nggak ngebut, ntar di begal!” jawabku.
Tok!
Terdengar ia menjitak helm ku dengan keras.
Tanpa peduli, aku menambah kecepatan laju motorku. Biar tahu rasa tuh anak.
“Loe budek ya! jangan ngebut, gue takut!” teriaknya.
Aku tak peduli. Semakin jauh kami melesat, tiba-tiba ia memegang perutku dengan kedua tangannya.
“Ngapain loe pegang-pegang! Lepas!” ucapku.
“Gue takut, loe ngebut.” jawabnya.
Akhirnya aku mengurangi kecepatanku.
Tiiitttt! Tiiittt!
Terdengar suara klakson. Mobil berwarna putih itu menyalip dan tiba-tiba berhenti menghadang kami.
Brak!!!
Kepalaku yang masih memakai helm dijotos pemuda berjaket Fendi.
“Ngapain loe berduaan sama cewek gue! Sialan loe!” ucapan laki-laki itu meledak-ledak.
“Yossy!” ucap Brigitta.
“Kenapa? Kalian kaget? Udah lama gue dibelakang kalian. Loe sengaja kan ngebut biar Brigitta meluk loe! Sahabat macam apa loe?” ucap Yossy.
“Gue cuma disuruh Mama buat nganterin dia. Lagian loe, gue suruh dateng nggak dateng. Giliran tahu gue bonceng dia, loe marah. Yaudah, berhubung kita ketemu disini. Anterin dia pulang.” ucapku pada Yossy.
“Loe pasti nyari kesampatan dalam kesempitan kan?” ketus Yossy.
__ADS_1
“Enggak lah! Gue nggak mau debat. Udah bawa pulang sana cewek loe itu.” kataku dan meninggalkan mereka.