Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 20


__ADS_3

Usai kuliah, aku dan teman-teman berangkat ke studio musik untuk latihan. Aku juga telah menjemput Priska untuk melengkapi personil band kami.


Kali ini ia tampil beda dari yang biasanya. Polesan tipis bedak dan sentuhan manis lipstik pada bibirnya membuat Priska bak putri raja. Sambil kubonceng, ia mengatakan sedikit grogi untuk mengisi acara kali ini.


“Sayang, aku agak nervous nih.” ucapnya.


“Hahaha. Nggak usah nervous, kan ada aku.” jawabku sambil bercanda..


“Hmmmmm. Ngomong-ngomong nanti kita bawain lagu apa?” tanya Priska padaku.


“Lagunya Seventeen. Tapi kalau kamu pengen nyanyi lagu lain juga boleh.” ucapku.


“Seventeen Band? Aku sering dengerin Sumpah Ku Mencintaimu. Gimana kalau itu aja?” tanyanya. Priska


“Boleh aja. Nanti kita rundingan sama yang lainnya.” kataku.


Sampai di studio, kami langsung latihan dan tes vokal. Apa yang ia inginkan kami kabulkan. Ternyata suaranya cukup bagus dan bernada. Mantab lah. Emang gue nggak salah pilih.


“Sesungguhnya ...


Dan akulah pemilik hatimu...


Kau kan rasa cinta yang terdalam...


Bersamaku kamu bisa bahagia...


Selamanya...


Sepantasnya dirimu seutuhnya untukku...


Sempurnamu bila bersamaku...


Dan denganku kita kan bahagia...


Selamanya...


Sumpah kumencintaimu...


Sungguh ku gila karenamu...


Sumpah mati hatiku untukmu...


Tak ada yang lain ...


Mati rasaku tanpamu...


Henti nafasku karenamu...


Sumpah mati aku cinta..."


Berulang kali kita mengulang lagu tersebut hingga hapal. Dua jam adalah waktu yang cukup banyak untuk latihan. Dibalik ruangan ternyata ada band lain yang juga sedang berlatih. Saat aku keluar untuk memesan minuman, aku melihat Fransiska disana.


“Ngapain loe disini?” tanyaku.


“Nge band lah. Masa beli roti.” jawabnya ngeselin.


“Kampret loe!” sahutku.


“Loe sama Priska?” tanyanya.


“Iya. Emang kenapa?” tanyaku balik.


“Nanya aja. Oh iya, jaga dia baik-baik ya.” ucapnya lagi.


“Pasti.” jawabku.


Setelah pesan minuman aku kembali ke dalam studio. Tak lama Fransiska ikut masuk.


“Wah, seru nih band kalian.” ucapnya.


“Loe nge band juga?” tanya Reno padanya.


“Iya. Gue jadi personil band pacar gue di kampus sebelah.” jawabnya.


“Wih, keren.” pujinya.


“Yaudah, gue balik ke sebelah ya.” Pamitnya dan kembali keluar.


Mungkin band yang diikuti Fransiska juga akan mengisi acara seperti Sunrise Band. Bakalan seru nih. Tipe cewek tomboy kayak gitu pasti bawain lagu rock. Genre nya mampu memberikan kobaran semangat.

__ADS_1


Dua jam berlalu.


Waktu latihan telah habis. Kami pun bubar. Kuajak Priska mampir ke taman untuk menikmati hawa segar. Disana banyak pohon dan bunga-bunga. Wahana permainan serta kolam ikan menjadi tempat berkumpulnya anak-anak. Mereka berlarian saling kejar-kejaran. Tingkahnya yang lucu membuat Priska sesekali melebarkan senyuman.


“Mau gado-gao nggak?” tanyaku menawarkan.


Aku tahu dia paling suka dengan gado-gado.


“Kamu tahu aja kalau aku lapar. Hahaha,” jawabnya sambil terkekeh.


“Aku beliin dulu ya.” ucapku.


“Yang pedes ya sayang.” serunya.


Aku mengedipkan mata dan menuju tukang gado-gado langgananku.


“Bang, dua porsi ya. Yang pedes.” kataku pada Tukang gado-gado.


Sambil menunggu pesanan, aku mengambil hp untuk ngerjain Priska. Aku sengaja memotretnya dari kejauhan dengan berbagai macam gaya.Kelakuannya yang sedang nguap, garuk-garuk kepala, sikap bete dan masih banyak lagi.


Perutku tergelitik saat melihat hasil jepretanku.


“Ini Mas, pesanannya.” Kata Tukang gado-gado sambil memberikan pesananku.


Setelah membayar, aku kembali ke tempat Priska berada.


“Makan yuk.” Ajakku sambil menyuapinya.


Kulihat matanya berbinar, terpancar raut kebahagiaan.


“Enak nggak?” tanyaku.


“Enak. Oh iya sayang, kapan-kapan ajakin aku beli nasi pecel donk.” pintanya.


“Nasi pecel pinggir jalan dulu itu?” tanyaku.


“Iya.” jawabnya semangat.


“Oke. Oh iya, besok kamu udah masuk kuliah lagi kan?” tanyaku.


“Udah kok.” jawabnya.


“Aku seneng banget akhirnya kamu bisa perhatian sama aku.” ucapnya tiba-tiba.


Uhuk!


Aku pun tersedak. Ternyata benar, selama ini ia memang merasakan ketidak pedulianku.


“Tenang aja, aku bakal sayang dan perhatian sama kamu sampai kapanpun.” kataku.


“Kita jalan kesana yuk.” ajaknya.


Setelah menghabiskan satu porsi gado-gado, kupegang erat tangannya. Kuajak gadis cantik itu berkeliling menikmati bunga di taman.


“Dulu waktu kecil, Mama dan Papa sering ngajak ke taman. Kita berlibur bersama, menikmati keindahan di luar sana. Tapi sejak kejadian itu, kebahagiaan yang pernah kurasakan seakan sirna.” ceritanya.


“Udahlah sayang, kamu jangan mikirin itu terus. Yang penting sekarang Mama dan Papa kamu masih diberi kesahatan untuk merawat kamu. Meski mereka berpisah, tapi cinta dan kasihnya masih ada buat kamu.” ucapku.


“Kata siapa mereka sayang? Cinta dan sayangnya udah berlalu.” timpalnya.


Wajahnya kembali muram!


“Udah lah, jangan bahas itu lagi. Aku anterin kamu pulang aja ya. Udah hampir malam nih.” Ucapku mengalihkan pembahasan supaya ia tak sedih.


“Yaudah, kita pulang aja.” pungkasnya.


Kutinggalkan taman indah itu. Membawa pacarku menuju istananya yang megah. Aku tak ingin ia terlalu capek. Besok dia juga udah mulai kuliah lagi.


Mamanya yang selalu berharap kesembuhannya, selalu minta tolong padaku untuk terus menyemangati putrinya.


Sampai pintu gerbang aku berhenti. Kuturunkan pacarku dan kuamati ia sampai masuk rumah.


“Bye....” pungkasnya dan menutup pintu.


Tak buang-buang waktu, aku pun juga harus segera pulang. Malam ini aku rindu masakan mama. Kuharap beliau hari ini pulang lebih awal untuk menyajikan makanan kesukaanku.


Dipertigaan jalan menuju rumah, tak kulihat sinar menyala terang. Suasana hening dan petang membuat siapa saja yang lewat jadi ketakutan. Lampu di rumah belum ada yang menyala. Menandakan mama dan papa masih di kantor. Hmmmmm, kayaknya aku harus makan di luar lagi.


Kuparkirkan kendaraanku dan langsung membasuh seluruh badan ini. Bau asam keringat kukibas hingga ia sekarat. Lunturlah wahai kuman dan bau tak segar!

__ADS_1


Kupilih kaos oblong dan celana santai untuk membalut tubuhku. Sebelum aku keluar rumah lagi, kuambil hp ku dan iseng mengirimkan foto hasil jepretanku di taman tadi pada Priska. Gayanya yang unik mungkin bisa membuat dirinya merasa ilfeel. Wkwkwkwk.


Ada tujuh foto yang kukirim. Selang beberapa menit, ia membalas dengan stiker ketawa.


“Bikin geli ngelihatnya.” balasnya.


Aku tertawa tanpa membalas pesannya lagi.


Tanpa merepotkan diri, aku pergi menuju restoran dekat kampus. Katanya ada menu baru yang bikin ketagihan. Karena penasaran, kuajak Yossy untuk menikmati menu baru itu.


“Hallo, loe di rumah kan?” tanyaku melalui telpon.


“Iya, kenapa?” tanya Yossy.


“Keluar sekarang. Gue udah ada di depan rumah loe.” kataku.


Ia pun muncul!


“Ngapain loe tiba-tiba kesini?” tanya Yossy.


“Loe belum makan kan? Yuk ikut gue.” ajakku.


“Gue udah makan bareng Brigitta.” jawabnya.


“Jadi loe nggak mau nih?” tanyaku.


“Mau lah. Makan sama loe mana mungkin gue tolak.” Ujarnya dan langsung nangkring di motorku.


Kami pun berangkat menuju restoran yang kukatakan tadi. Sesampainya disana, kami langsung memesan menu baru dari rumah makan itu. Namanya Kepiting Cabai Gledek. Wah, bisa bayangin gimana pedasnya.


Dengan sepiring nasi dan makanan pembuka, kami menyantap hidangan itu penuh kenikmatan. Perut yang telah kempes mendadak sedikit berkembang. Aku yakin cacing-cacing juga sedang bergoyangan.


“Loe lapar apa doyan?” celetuk Yossy.


“Gue lapar. Nyokap belum pulang jadi di rumah nggak ada makanan.” jawabku.


“Makanya buruan nikah biar ada yang masakin.” katanya.


“Nikah kepala loe!” ketusku.


“Bercanda gue!” pungkasnya.


Restoran tersebut menyediakan berbagai macam es krim dan kita bisa mengambil sepuasnya. Pengunjung juga lumayan ramai karena harganya cukup terjangkau. Selain itu, dibawah tempat dimana kita makan ada kolam ikannya juga. Yang membuat unik restoran itu adalah semua peralatan makan terbuat dari kayu.


Sambil menikmati kepiting yang rasanya cukup membakar mulut, sesekali aku melihat beberapa orang yang datang.


“Ndra, itu bukannya Fransiska?” Tanya Yossy sambil menunjuk ke arah cewek tomboy tersebut.


“Mana?” tanyaku yang masih belum menemukan sosoknya.


“Itu, sama cowok yang pakai jaket hitam.” ucapnya.


“Oh iya tuh. Biarin ajalah, orang sama pacarnya.” jawabku santai.


“Ngaco! Pacar dia bukan itu!” terang Yossy.


Aku langsung kembali menatap mereka yang belum sadar keberadaan kami. Langkah kakinya mantap menuju meja tengah yang memiliki dekorasi bunga dan berbagai macam boneka yang tertata disana.


Tuling!


Terdengar hp Yossy berbunyi.


“Wah ****** tuh anak!” kata Yossy.


“Ngomong apa sih loe.” tanyaku tak mengerti.


“Nih, pacarnya bilang lagi di rumah gue. barusan ke rumah Fransiska tapi nggak ada.” tuturnya.


“Pacar dia temen loe?” tanyaku masih tak paham.


“Iya. Gerry temen SMP gue. Kemarin pas kita nge band gue baru tahu kalau pacar Fransiska itu Gerry.” ucapnya lagi.


“Terus loe mau ngasih tahu Gerry kalau pacarnya disini sama cowok lain?” tanyaku.


“Aduh, pusing gue.” jawab Yossy.


“Yaudah, kita samperin aja mereka. Pura-pura nggak tahu.” ajakku.


Kami pun berjalan menuju pasangan mencurigakan itu.

__ADS_1


__ADS_2