Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 23


__ADS_3

Suasana studio jadi tak bersahabat lagi. Mereka seakan menudingku selingkuh dengan karyawan baru mama. Lagian mama ngapain juga sih nyuruh Silvia balik ke rumah! Bikin masalah aja.


Priska yang saat itu masih kesal denganku memutuskan untuk tidak ikut latihan. Parahnya ia nggak mau bantuin band kita buat ngisi acara yang akan diselanggarakan keesokannya.


Sedangkan aku dan personil lainnya terpaksa minta bantuan Rebecca untuk menjadi vokalis. Suaranya serak-serak basah membuat kami harus mencari lagu baru sesuai karater suaranya.


Dengan waktu yang sangat singkat kita harus merubah semua. Kita memanfaatkan waktu yang tersisa. Setelah Priska nggak mau latihan, kupanggil Rebecca untuk datang ke studio buat latihan dan memberi tahu apa yang harus ia lakukan.


Kostum yang sudah ada tetap kita gunakan karena nggak ada waktu lagi buat beli. Meski nggak sesuai lagu yang kita bawakan tapi masih bisa kita akali dengan menambahkan jaket kulit berwarna hitam dengan dalaman berwana hitam.


Lagu "Tinggalkan Saja" dari Kota Band sudah menjadi keputusan kami. Denga kostum yang hampir menyerupai Band papan atas tersebut, kami siap untuk perform besok.


Untuk sementara, kubiarkan Priska dengan segala prasangkanya. Aku yakin kemarahannya tak berujung panjang.


Selesai latihan kami pun bubar!


Sampai rumah kutemui mama untuk menanyakan apa maksud beliau mengirim Silvia kembali kesini. Mama yang masih sibuk di ruang kerjanya terpaksa kuganggu sebentar.


“Belum tidur, Ma?” tanyaku basa-basi.


“Belum. Mama masih ada kerjaan. Ada apa? Kamu baru pulang?” tanyanya.


“Mama ngapain nyuruh Silvia ikut latihan ngeband?” tanyaku.


Ia menghela napas. Menatapku sambil tersenyum.


“Mama suka kalau kalian bisa dekat. Dia termasuk karyawan yang paling aktif di kantor. Cantik dan juga pandai. Mama rasa cocok sama kamu. Silvia juga nggak penyakitan.” Ucap Mama seolah menyindir pacarku.


“Maksud Mama apa ngomong kayak gitu?” tanyaku mulai kesal.


“Mama kurang setuju aja kalau kamu berhubungan dengan orang yang berlatar belakang nggak jelas.” ucap Mama lagi.


“Ma! Andra nggak suka Mama ngomong kayak gitu. Priska anak baik-baik. Meski sekarang ia sedang sakit, Andra yakin dia bakal sembuh!” jawabku.


“Mau sampai kapan kamu dibutakan sama cewek itu?” tanya Mama.


Ia yang tadinya duduk mulai berdiri sambil menatapku tajam. Aku tahu mama kurang suka dengan Priska. Tapi nggak harus ngomong kayak gitu juga di depanku.


“Mama keterlaluan!” pungkasku dan meninggakannya.


Blar!!!


Ku tutup pintu kamarku dengan keras.


Kuakhiri kegiatanku hari ini dan mulai istirahat. Kuharap acara besok berjalan sesuai harapan.


Kutenangkan pikiranku dan melupakan kejadian yang membuat emosiku naik. Perlahan, aku mulai terlelap


***


Pagi yang indah! Mentari bersinar terang menyinari bumi. Kusibakkan korden kamarku dan langsung mandi. Hari ini jangan sampai telat karena jarak rumah menuju lokasi cukup jauh. Belum lagi kita harus berkumpul di rumah Yossy terlebih dahulu.


Saat aku keluar dari kamar, tak kujumpai mama dan papa di ruang makan. Hanya terselip kertas bertuliskan ucapan selamat pagi dan selamat menikmati sarapan.


“Kebiasaan!” gerutuku.


Dua potong roti berlapis keju, telur, dan daging ayam serta saos menjadi pengisi perutku pagi ini. Segelas susu coklat menjadi teman pelengkap. Tak menyita waktu lama, aku pun telah selesai sarapan.


Tuling! Hp ku berbunyi.

__ADS_1


“Anak-anak udah pada ngumpul. Tinggal loe yang belum dateng.” pesan dari Yossy.


Lagi-lagi aku harus dikomando! Perasaan masih pagi. Mereka udah pada ngumpul aja! Emang pada nggak sarapan? Entahlah.


Tanpa membalas pesan dari temanku itu, aku langsung berangkat menuju rumahnya.


Terlihat beberaap manusia dengan gaya kece badai hari ini.


“Lambat banget sih loe!” celetuk Rebecca yang hari ini berpenampilan beda.


Rambutnya yang biasanya terurai panjang kini terikat rapi dan cantik.


“Loe apain tuh rambut?” tanyaku meledek.


“Diapain aja boleh asal bisa nyelametin band kalian yang kurang personil.” jawabnya ngeselin.


Kami tahu Rebecca merupakan sosok penyelamat. Karena acara yang diselenggarakan di kampus tersebut bersyaratkan harus memiliki satu cewek dalam personil band nya. Tanpanya pula kita juga kekurangan personil.


“Tanpa loe kita bisa apa? Hahahah,” ucap Yossy.


“Udah siap semua kan?” tanya Panji.


“Udah.” jawab kami serentak.


“Oke, kita berangkat.” Ajak Yossy sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Tak lama kami pun berangkat.


“Priska gimana kabaranya?” Tiba-tiba Rebeca menanyakan keadaan Priska padaku.


“Dia baik.” jawabku sambil mendengarkan lagu.


“Udah, jangan nanyain dia lagi. Ntar bad mood dia.” celetuk Yossy.


Memang dari semalam aku tidak menghubungi pacarku itu. Sengaja kubiarkan dia tenang dulu.


Setengah jam perjalanan, kami pun sampai. Kulihat Fransiska juga telah datang. Bergandengan tangan dengan Gerry di samping panggung yang telah berdiri megah. Layaknya menggelar konser, banyak peralatan musik disana. Sungguh lengkap!


“Ndra! Sini.” panggil Fransiska.


“Ada apa?” tanyaku.


“Kok loe nggak ngajak Priska sih?” tanyanya penasaran.


“Dia lagi bete sama gue.” jawabku.


Tak banyak waktu, aku dan kawan-kawanku mempersiapkan diri. Meninggalkan Fransiska dan teman-temannya untuk sementara waktu. Kami mengikuti arahan dari panitia dan menunggu acara dimulai. Kulihat di kampus ini banyak mahasiswa yang memiliki kemampuan bermusik. Ada 17 band yang hadir dalam acara ini.


Banyak kan!


Sambil ngobrol kesana-kemari, akhirnya acara pun dimulai dengan tarian tradisional. Band kami mendapat urutan ke lima untuk tampil. Sedangkan Band yang diikuti Fransiska mendapat urutan ke dua. Aku sangat penasaran dengan penampilannya nanti. Seorang cewek jadi gitaris dengan genre rock. Setiap hari dia pasti senam jari hingga keriting!


“Selanjutnya, kami tampilkan The Sky Band! Beri tepuk tangan yang meriah.” ucap Panitia.


Kulihat Fransiska bangkit dari kursi duduknya. Disusul Gerry dan tiga orang lainnya. Mereka memakai kostum kemeja hitam bercelana panjang disempurnakan dengan dasi yang melingkar di kerah bajunya. Cewek tomboy itu benar-benar terlihat sangat keren dengan gaya rambut yang menjambul.


Tak berapa lama musik pun terdengar. Lagu dari Muse yang berjudul Hysteria mereka bawakan dengan perform keren sekali. Layaknya band papan atas mereka sangat lincah menguasai panggung. Aku nggak nyangka dengan penampilan Fransiska yang seperti ini membuat dirinya terlihat seperti laki-laki. Para cewek yang tak mengenali bisa saja jatuh hati.


“Gila tuh Fransiska. Lihat deh gayanya.” ucap Rebecca.

__ADS_1


“Keren, gila!” timpal Yossy.


Enam menit telah berlalu, mereka pun telah selesai menunjukkan aksinya. Band selanjutnya membawakan lagu mellow yang bisa membuat hati siapa saja luluh. Lagu Dewa 19 yang berjudul "Kangen" telah berhasil menyita perhatian. Vokalisnya cowok dan personil lainnya cewek. Sungguh keren. Cewek main drum? Hmmmm, kuacungi jempol.


Lima belas menit kemudian, kami pun dipanggil.


“Gue yakin loe yang terbaik.” ucap Reno pada Rebecca.


Dengan pede ia menyapa para hadirin dan peserta lainnya. Hingga musik dimulai, ia sontak beraksi layaknya Tantri Kotak. Dengan suara khas ia menggemparkan jagad kampus.


“Aku tak bisa melihat kau bersamanya...


Tapi tak seharusnya dengan dia...


Kau bercinta...


Tinggalkan lah dia...


Lupakanlah saja...


Dia...”


Semua ikut bernyanyi sambil melambaikan tangan. Durasi tujuh menit kami sikat hingga tuntas. Akhirnya selesai juga perform kali ini. Kita cukup puas. Kehadiran Rebecca ternyata membuat beberapa mahasiswa meminta foto bersama.


“Udah kayak artis aja loe.” ledek Yossy.


“Biasalah, cewek cantik.” jawab Rebecca sambil terkekeh.


Sambil menikmati tampilan Band lainnya, aku berusaha menghubungi Priska dan menjelaskan kejadian semalam. Ia hanya salah paham!


“Kamu lagi ngapain?” aku mengirim pesan untuknya.


Tak ada balasan!


Kutunggu hingga sepuluh menit tetap saja nggak ada tanggapan. Sampai ketujuh belas band telah selesai tampil, tak kunjung ia membalasnya.


“Wah, beneran nih anak marah?” batinku.


Sebelum meninggalkan tempat itu, pihak kampus memberi hadiah untuk kami berupa piagam penghargaan. Kami juga foto bersama dengan band-band lainnya serta panitia kampus. Dengan acara ini kita bisa mendapatkan pengalaman baru, teman baru,semangat baru dan masih banyak hal positif yang kami dapatkan.


Setelah selesai, kami pun pulang. Sampai rumah Yossy sudah hampir pukul sepuluh malam.


Aku baru ingat tentang Fransiska dan Gerry. Hubungan mereka masih terlihat ayem tentrem. Padahal kemarin dia ketahuan pergi bareng dengan cowok yang katanya teman dekatnya itu. Syukurlah kalau mereka masih bersama.


“Kalian nggak nginep sini aja?” tanya Yossy pada kami.


“Nggak lah.” jawab Rebecca.


“Padahal gue udah nyiapain kamar buat kalian.” ucap Yossy lagi.


“Gue nginep sini aja lah Yos.” kataku.


“Gue juga.” ucap Reno dan Panji bersamaan.


“Yaudah, loe pulang hati-hati ya.” kata Yossy pada Rebecca.


“Oke."jawabnya.


“Thanks ya udah melengkapi kita.” ucap kami bersamaan pada vokalis itu.

__ADS_1


Ia mengacungkan jempol dan pamit pulang.


Setelah ia pergi, kami berempat langsung tidur. Aku sudah tak memikirkan besok ada jadwal kuliah apa enggak yang penting tidur dulu. Badanku terasa capek.


__ADS_2