Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 30


__ADS_3

“Mama senang melihat kamu udah nggak sama perempuan itu.” Ucap Mama saat kita lagi berkumpul di ruang keluarga.


“Perempuan yang mana, Ma?” tanyaku.


“Ya siapa lagi kalau bukan Priska.” jawab Mama.


Aku diam tanpa berkomentar.


“Gimana kalau kamu ajak Silvia makan malam hari ini?” tanya Mama.


“Nggak! Andra nggak mau. Ma, Mama gimana sih. Dia kan lebih tua dari Andra, Ma. Masa disuruh makan malam sama dia sih.” gerutuku.


“Tapi kan dia cantik, pintar lagi.” jawab Mama.


“Sorry, Ma. Andra nggak bisa.” jawabku.


Daripada terus-terusan dijodohin sama siapa tadi namanya? Ah, mending aku main aja ke rumah Panji. Kayaknya anak-anak lagi pada ngumpul disana.


Sampai lokasi, terlihat sekerumunan manusia memenuhi teras rumahnya. Mereka bermain gitar dengan serunya. Wah, pas banget nih.


“Ndra, sini!” teriak Panji.


Aku pun bergabung dengan mereka sambil bernyanyi dan bermain gitar. Beberapa diantaranya sedang menggosip soal perempuan. Duh, lagi-lagi perempuan yang dibahas!


“Katanya loe jadi satpam nya Brigitta ya, Ndra?” tanya Beni.


“Kata siapa? Enggak lah.” jawabku.


“Iya juga nggak apa-apa. Bukannya dulu loe suka sama tuh cewek? Lagian ngapain juga loe masih bertahan demi Priska?” tanyanya lagi.


“Alah, males gue ngomongin itu. Yaudah lah, gue cabut dulu.” kataku pamit.


“Ya elah! Payah loe.” ketus Beni.


Jujur! Aku paling nggak suka kalau kesana kemari yang dibahas soal cewek terus. Bikin pusing!


Tuling!


Hp ku berbunyi.


“Loe dimana? Please datang ke rumah gue sekarang.” isi pesan dari Brigitta.


Haduh, ******!


Lebih baik aku pulang dan tidur saja!


“Buruan! Ini menyangkut Yossy.” tulisnya lagi.


Sial! Aku heran dengan diriku sendiri. Kenapa sekarang aku seolah menghindar dari perempuan itu?


Berhubung ada sangkut pautnya dengan Yossy, aku langsung meluncur ke rumah Brigitta. Sampai sana, ia menunjukkan beberapa foto dan video hasil editan Yossy untukku. Video yang direkam dua hari sebelum ia kecelakaan terlihat jelas bahwa ia sangat senang mempunyai sahabat sepertiku. Juga saat kita diving bersama, ia juga mengabadikan dalam videonya. Yossy berkata ia sangat bahagia ketika Brigitta menerima cintanya dan menolak cintaku. Seakan memenangkan perlombaan, ia mendapatkan juara satu.


Yossy juga berterimakasih padaku. Meski Brigitta menerima cintanya, aku masih tetap menjadi sahabat terbaiknya. Dia tahu kalau sebenarnya aku kecewa ketika melihat mereka berpacaran.


Video berdurasi sepuluh menit itu telah selesai kutonton.


“Dia pernah bilang kalau loe nerima Priska karena terpaksa.” ucap Brigitta padaku.


Sontak aku kaget mendengarnya. Ngapain pula Yossy bicara seperti itu.


Tanpa menjawab, aku langsung pamit pulang. Kutinggalkan Brigitta yang masih duduk sambil membawa kamera milik Yossy.


Aku nggak tahu perasaanku harus kubawa kemana. Ingin sekali aku merenung dan menyendiri.


Sampai rumah, aku minta ijin sama papa untuk berlibur ke rumah nenek yang ada di kampung. Kurasa tempat itu sangat cocok untuk bersemedi.


“Boleh kan Pa?” tanyaku minta ijin.


“Terserah kamu. Tapi kamu harus janji jangan buat masalah disana.” ucap Papa.


“Iya, Pa. Andra janji.” kataku.


Malam itu, aku menyiapkan semua kebutuhanku selama di kampung. Nenek pasti senang kalau aku kesana. Aku juga berpesan pada kedua orang tuaku untuk tidak memberi tahu siapa-siapa.


Pukul 23.00!


Kereta api  membawaku menuju kampung halaman tempat dimana papa dibesarkan dulu. Hawa segar yang jarang kutemukan membuat hidungku kembang kempis.


Setelah sampai, aku berjalan menyisir sebuah pedesaan. Anak-anak berlarian bermain layang-layang. Terlihat beberapa petani yang baru saja pulang dari sawah. Aku menyeberang sungai kecil yang terdapat beberapa ikan disana. Airnya sangat jernih.


Tak lama, sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas telah terpampang di depanku. Nenek yang tak mengetahui kedatanganku masih sibuk dengan aktivitasnya. Ia sedang menyapu halaman.


“Assalamu’alaikum.” sapaku pelan.


“Wa’alaikumsalam. Astaga! Andra! Ya Alloh... Nenek kangen, Nak. Kamu kok nggak bilang kalau mau kesini?” ucap nenek senang.


“Gimana kabarnya Nek?” tanyaku.


“Nenek sehat. Papa dan Mama kamu sehat juga kan?” tanyanya.


“Iya Nek. Mereka sehat.” jawabku.


“Ayo masuk dulu. Biar Nenek bikinin teh hangat.” ajaknya.


Aku pun masuk ke rumah lawas yang masih terasa nyaman ditempati. Hampir lima tahun aku nggak kesini semenjak kakek meninggal.


“Kamu lagi liburan atau gimana?” tanya Nenek.


“Iya Nek. Akhir-akhir ini pengen kesini.” Jawabku sambil minum teh buatan Nenek.

__ADS_1


“Kamu istirahat sebentar disini dulu ya. Biar Nenek beresin kamar kamu.” ucap Nenek.


Tubuhnya yang masih sangat sehat membuat nenek dengan gesit menjalankan aktivitasnya. Sambil menunggu, aku jalan-jalan di sekitar rumah. Terdapat kolam ikan dan kebun sayuran!


Semakin ke belakang, aku melihat banyak pohon coklat yang ditanam nenek. Dulu waktu aku masih kecil, aku suka makan buah coklat hingga akhirnya nenek menanam sendiri.


Tak lama, nenek memanggilku untuk makan.


“Andra, sini makan dulu. Tadi Nenek masak opor ayam sama lontong. Ayo sini.” serunya.


“Iya Nek.” jawabku.


Lantas, kami makan bersama sambil bercerita kesana kemari. Sejak kepergian kakek, nenek disibukkan dengan berbagai aktivitas seperti memelihara ikan dan tanaman bunga kesukaannya. Ada beberapa sayur yang ditanam di samping rumah. Pernah beberapa kali papa mengajak nenek untuk pindah ke kota tapi ia nggak mau.


“Nenek lebih suka disini. Di rumah ini banyak kenangan bersama almarhum Kakek.” jawab Nenek saat itu.


“Oh iya Nek. Very anaknya Om Salman itu masih disini nggak?” aku menanyakan teman kecilku.


“Dia udah pindah. Udah lama nggak kesini.” jawab Nenek.


Hmmmmm, kalau gitu aku nggak punya teman disini. Kurasa teman kecilku juga sudah pindah semua.


Usai makan, aku mandi dan langsung tidur. Badanku terasa capek setelah beberapa jam duduk di kereta. Tempat tidur ini sudah terlihat kusam tapi masih layak ditempati. Dulu waktu aku kecil, aku paling suka tidur bersama kakek disini.


Keesokan harinya!


Aku tak melihat batang hidung nenek. Kemana perginya!


Setelah cuci muka, aku jalan-jalan sebentar mengelilingi kebun nenek yang ternyata memiliki banyak macam sayuran disana.


Ternyata nenek sedang ngobrol dengan seseorang.


“Nenek disini rupanya?” tanyaku.


“Iya, Nak. Setiap Pagi banyak tetangga yang beli sayur. Tuh lihat, Raya juga memborong bayam hasil tanaman Nenek.” Kata Nenek sambil memperkenalkan tetangga barunya itu.


“Kamu udah lapar?” tanya Nenek padaku.


“Udah, Nek. Hehehhe,” jawabku sambil terkekeh.


“Ya sudah, kamu bantu Nenek nangkap ikan ya. Nanti Nenek masakin sambal goreng ikan pedas.” ucap Nenek.


Dengan senang, aku langsung kembali ke pekarangan rumah dan mengambil alat untuk menangkap ikan. Lima gurameh telah berhasil kutangkap dan langsung kuberikan pada Nenek.


Lima belas menit kemudian, makanan pun siap disantap.


“Uft! Panas.” Ucapku saat memuluk nasi menggunakan tangan.


“Pelan-pelan Ndra.” ucap Nenek.


Sambal ulekan nenek rasanya masih sama. Sangat pedas dan memiliki aroma kencur di dalamnya.


“Oke, Nek.” kataku.


“Nenek mau ke pasar dulu. Kamu jaga rumah ya.” katanya lagi.


“Jangan lama-lama ya, Nek.” kataku.


Nenek pun berangkat dengan naik becak motor. Sedangkan aku yang mulai kesepian, teringat ponselku yang masih tergeletak di kamar.


Saat kubuka, ternyata banyak pesan yang belum kubaca. Beberapa panggilan telpon juga tak terjawab. Kebanyakan dari Panji dan Brigitta. Setelah ku scroll ke bawah, terdapat pesan dari Fransiska. Ia memberi tahu bahwa Priska sekarang hampir setiap hari diving bersama teman laki-lakinya itu.


Alah, bodo amat! Mau dia diving sama om-om pun, aku nggak peduli.


Satu per satu kubuka pesan tersebut. Panji menanyakan keberadaanku. Ia ingin mengajakku diving lagi mumpung cuacanya bagus. Brigitta juga! Ia mencariku hingga ke rumah dan kantor papa. Beruntungnya, tak satu pun yang tahu kemana pergiku.


Lantas, aku membuka akun media sosialku. Banyak postingan foto yang ditandai dengan akunku. Foto saat festival diving beberapa waktu lalu dan ngeband bersama. Ada Yossy disana. Postingan itu membuatku sedih kembali. Andai Yossy masih hidup, kuajak ia main ke rumah nenekku.


“Andra, kamu dimana?” terdengar suara Nenek memanggil.


“Di belakang, Nek.” sahutku.


“Ngapain kamu disini? Sana jalan-jalan ke sawah atau kemana gitu.” perintahnya.


“Nenek cepet banget sih ke pasarnya.” kataku.


“Lhoooo, kamu ini gimana to. Katanya nggak boleh lama-lama.” jawab Nenek.


“Heheheh, iya juga ya. Yaudah, Andra jalan-jalan dulu.” pamitku.


Bener juga kata nenek. Mumpung aku masih di kampung, aku bebas menikmati pemandangan yang tak ada di kota. Aku juga bisa mengambil gambar keelokan panorama disini dengan kamera yang kubawa.


Jalan-jalan menyisir persawahan dan parit disampingnya. Ternyata anak-anak sangat suka berenang di sungai. Aku mengabadikan momen tersebut! Satu dintara mereka ada yang memanggilku utuk bergabung.


“Bang, sini Bang! Ayo main bareng kita.” serunya.


Anak laki-laki itu mengajakku berenang. Berhubung aku belum mandi dan cuaca cukup panas, seru juga kalau aku nyebur sekalian. Pasti badanku langsung segar.


Byurrrr!!!


Aku pun gabung dengan bocah-bocah itu.


“Bang, Abang cucunya Nek Puri kan?” tanya bocah itu.


“Iya. Kok kamu tahu?” tanyaku.


“Wajahnya mirip sih. hahahaah.” ledeknya.


Kampret! Pintar juga tuh bocah.

__ADS_1


Setelah seru-seruan bersama mereka, aku bergegas pulang. Nenek pasti udah nunggu lama.


Sampai rumah, kulihat nenek sedang memarut kelapa. Aku langsung menghampiri beliau.


“Nenek mau bikin apa?” tanyaku.


“Bikin srondeng sama ketan, Ndra. Kesukaan kamu dulu. Apa kamu udah lupa sama makanan ini?” tanya Nenek.


“Ya ampun! Andra udah lama banget nggak makan srondeng ketan Nek.” kataku girang.


“Kamu habis berenang di sungai ya? Kok basah kayak gitu. Mandi sekalian sana.” perintahnya.


Aku menganggukkan kepala dan menuruti perintah nenek.


Kurendam tubuhku pada air segar yang ada di kamar mandi.


“Wah, air disini benar-benar segar.” gumamku.


Oh iya, bukannya di dekat sini ada air terjun juga! Gimana kalau nanti aku kesana?


Baiklah, kupercepat  ritual mandiku dan minta ijin sama nenek.


“Nek, air terjun di dekat sini masih mengalir kan airnya?” tanyaku karena sudah lama tak kesana.


“Masih. Kalau sore banyak yang main kesana.” jawab Nenek.


“Andra boleh kesana kan, Nek?” tanyaku.


“Boleh. Kamu bebas mau kemana aja. Asal kamu juga harus hati-hati.”  ucap Nenek.


“Siap Nek.” Kataku dengan memberinya hormat.


“Sambil menunggu ketannya matang, tolong bantuin nenek ambil daun pisang di kebun sebelah ya.” pinta Nenek.


Aku langsung berangkat ke kebun untuk mencari daun pisang. Nenek benar-benar hebat. Apapun yang menghasilkan, ia tanam.


Tak berapa lama ada telpon masuk.


Priska!


Ngapain lagi nih anak. Giliran butuh nyariin, giliran nggak butuh dicuekin. Ah, bodo amat.


Aku tak menghiraukannya.


Rupanya ia tak putus asa. Terus menghubungiku hingga enam kali.


“Gue matiin sekalian nih hp!” Ucapku kesal sambil mematikan handphone ku.


Setelah mendapat daun pisang yang kubutuhkan, aku kembali menemui nenek. Entah ada angin apa tiba-tiba ia bertanya tentang perempuan yang saat ini dekat denganku.


“Kamu kesini bukan karena menghindar dari perempuan kan Ndra?” tanya Nenek.


“Maksud Nenek?” aku pura-pura tak mengerti.


“Dulu Papa kamu sering dikejar-kejar cewek. Trus ngumpet di rumah pamannya.” jawab Nenek.


“Hahaahah, masa sih Nek?” tanyaku.


“Iya. Sepertinya kamu juga gitu.” sindir Nenek.


Kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaan nenek. Ia pun juga paham kayaknya.


Lama menunggu, akhirnya srondeng ketan pun jadi.


“Hmmmm, enak nih masih anget.” kataku.


Kucicipi satu piring kecil. Rasanya enak. Di kota mana mungkin ada makanan seperti ini.


“Nenek senang sekali kamu disini. Jadi Nenek nggak kesepian. Kamu jangan pulang dulu ya, Nak.” ucap Nenek.


“Beres Nek. Andra juga masih kangen sama Nenek.” Jawabku sambil memeluk tubuhnya.


Pukul 13.00 pun telah tiba.


Kami pun istirahat di kamar masing-masing. Melihat nenek tidur dengan lelap, aku mulai menghidupkan ponselku.


Gila! Berpuluh-puluh pesan masuk dengan nama yang sama!


“Panji lagi Panji lagi!” ucapku.


Aku mulai membaca satu per satu. Kebanyakan ia komplen karena pesannya tak kubalas.


Mengetahui aku sedang online, ia langsung menelpon.


“Ada apa sih nelpon mulu?” tanyaku.


“Kampret! Loe kemana sih? Hari ini gue ulang tahun.” ucapnya.


“Emang kenapa kalau loe ulang tahun?” tanyaku.


“Gimana sih loe! Ya loe harus datang lah. Di rumah gue lagi party nih.”ucapnya.


“Selamat ulang tahun deh.” kataku memberi selamat.


“Loe lagi dimana sih? Anak-anak pada nanyain tuh.” tanya Panji.


“Di suatu tempat yang bikin gue tenang. Udah dulu ya, gue ngantuk mau tidur.” jawabku.


Terlihat jahat sekali aku. Disaat ia ada acara aku nggak bisa hadir hanya karena egoku. Tapi nggak mungkin juga aku kembali ke kota dengan waktu sesingkat ini.

__ADS_1


__ADS_2