Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 31


__ADS_3

Seminggu sudah aku tinggal bersama nenek. Sedangkan mama mulai resah akibat ulah teman-temanku yang terus mendesak untuk memberi tahu dimana keberadaanku.


“Kapan kamu akan pulang? Coba kamu bujuk Nenek biar ikut sekalian.” ucap Mama.


“Andra masih betah disini, Ma.” jawabku.


“Masalahnya teman-teman kamu nyariin kamu terus!” kata Mama.


“Mama bilang aja kalau Andra lagi liburan ke suatu tempat.” kataku.


“Sebenarnya kamu kenapa sih? Kok kayak menghindari sesuatu. Pasti gara-gara perempuan!” ucap Mama.


“Enggak lah! Yaudah lah, Ma. Andra mau jalan-jalan ke sawah nih.” kataku beralasan


Setelah mama menutup telpon, aku langung menyusul nenek di teras depan. Ia sedang membuat kipas dari anyaman bambu. Wah, keren nih.


“Nek, ajarin Andra ya.” pintaku.


“Gini caranya.” Katanya sambil perlahan menunjukkan cara mengenam kipas tersebut.


Aku mengikuti tangan nenek yang lemah gemulai. Ternyata susah juga. Sekali jadi hasilnya tak sebagus buatan nenek. Membuat kipas seperti itu memerlukan ketelatenan dan ketrampilan. Aku yang lebih suka mengedit video dan merekam sesuatu memutuskan untuk meletakkan anyaman itu dan keluar sebentar.


“Nek, Andra cari angin segar dulu ya.” pamitku.


“Iya. Hati-hati kamu dijalan. Jangan jauh-jauh. Nanti nyasar.” ledek Nenek.


Sambil membawa kamera, aku berjalan menuju air terjun. Anak-anak yang kutemui kemarin kembali menghampiri.


“Bang, mau ke air terjun itu ya?” tanyanya.


“Iya. Kamu mau kesana?” tanyaku.


“Iya. Yukk .” ajaknya.


Beruntung, aku masih punya teman baru meski mereka masih belia. Kehadiran anak itu membuatku seperti seorang kakak. Langkahnya cukup gesit. Aku sampai kelelahan mengikutinya. Jalan yang mulai menanjak membuatku ngos-ngosan.


“Ayo, Bang. Masa gitu aja udah capek.” ledeknya.


Aku terdiam sambil mengatur napas yang mulai tak beraturan. Kurang lebih sepuluh menit berjalan, tibalah kami di area air terjun itu. Wuih, airnya mengucur deras. Dengan ketinggian 20 meter membuat air terjun tersebut menjadi tepat wisata utama di desa ini. selain warga lokal, banyak pengunjung dari luar kota. Aku yang tak tahan ketika melihat jernihnya air tersebut langsung menceburkan diri disana.


Byur!!!


Disusul bocah belia yang datang bersamaku tadi. Aku balapan renang bersamanya.


“Ayo, Bang. Kalahin aku.” serunya.


“Anak ini nggak tahu siapa gue.” gumamku.


Dengan gesit, kutunjukkan kemampuanku yang sesungguhnya. Aku berenang dengan cepat hingga membuatnya tertinggal di belakang.


“Hahahaah, ayo sini kalahin Abang.” kataku sambil tertawa.


Kulihat ia kewalahan.


“Tungguin, Bang.” katanya.


“Ah, payah kamu.” ledekku.


Usai berenang, kami meniriskan tubuh ini di atas bebatuan. Setelah mengering, kuajak bocah itu ke warung yang tak jauh dari lokasi. Kupesankan soto dan teh hangat untuknya. Dengan lahap ia menyantap menu tersebut.


“Makasih ya, udah nemenin Abang selama liburan disini.” ucapku.


“Nggak perlu makasih, Bang. Kedatangan Abang kesini mengingatkan saya pada almarhum Kakak saya.” jawabnya.


Oh, rupanya dia memiliki seorang kakak yang telah meninggal.


Tak ingin mengingatkan pada hal sedih itu, aku berusaha menghiburnya dengan cara menjadi foto modelku. Setelah makan, kuperintahkan ia berpose dengan tema meng-explore keindahan alam desa.


***


Malam menjelang. Suara jangkrik terdengar riang. Pasukan katak bersama barisannya berlompatan melewati rumah nenek.


“Besok kamu jadi pulang, Nak?” tanya Nenek.


“Iya, Nek. Lusa udah mulai kuliah lagi. Oh iya Nek, gimana kalau Nenek ikut Andra sekalian?” ajakku.


“Hmmmmm, kamu pasti disuruh Mamamu kan? Bukannya Nenek nggak mau, tapi Nenek lebih suka disini. Kamu sering-sering jenguk Nenek.” ucapnya.


“Iya Nek.” jawabku.


Aku juga tak bisa memaksa. Sambil mengobrol, aku berkemas untuk kepulanganku besok. Tiket kereta juga telah kukantongi.


Sekitar pukul 22.00, aku segera tidur supaya besok tidak kesiangan. Sedangkan nenek masih sibuk di dapur membuat oleh-oleh yang akan diberikan kepada papa dan mama.


Esok paginya!

__ADS_1


Sebenarnya berat meninggalkan nenek sendirian di kampung. Tapi aku nggak punya pilihan lain. Usai sarapan, aku pamit pulang. Kupeluk tubuh nenek dengan perasaan sedih.


“Andra pulang ya, Nek.” Pamitku sambil mencium tangannya.


“Hati-hati di jalan. Sering-sering kesini. Ajak Papa dan Mama kamu.” pesan Nenek.


“Iya, Nek. Assalamu’alaikum.” kataku dan meninggalkannya.


Becak motor membawaku ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke kota. Tiba disana, ternyata kereta telah tiba. Aku langsung naik dan mencari tempat duduk.


Tak lama, kereta pun melaju dengan cepat. Perjalanan yang cukup panjang membuatku bosan. Akhirnya aku melihat hasil jepretan kameraku selama di kampung. Melihat foto bocah yang mengajakkku berenang kemarin membuatku ingin bertemu dengannya lagi. Semenjak kita kenal, aku bisa merasakan menjadi seorang kakak.


Entah sampai stasiun mana, tiba-tiba kereta berhenti untuk menurunkan dan mengangkut penumpang. Kursi sebelahku yang tadinya kosong kini telah terisi oleh seorang laki-laki bertopi hitam. Wajahnya ditutup dengan masker berwarna biru. Model rambut dan pakaiannya mengingatkanku pada sosok Yossy.


“Gue kangen sama loe, Yoss.” ucapku dalam hati.


Lagi-lagi aku belum bisa move on darinya! Rasanya ia masih ada disini. Bersamaku, dan bersama kawan-kawanku lainnya.


“Mau kemana, Mas?” tanya penumpang yang duduk disampingku.


“Ke rumah saudara.” jawabku sekenanya.


Aku tidak mengatakan bahwa aku mau pulang.


Kereta api terus melaju dengan cepat! Sampai di stasiun berikutnya, kereta pun terhenti. Aku yang tengah bosan berada di dalam, secepat kilat meluncur keluar mencari hawa segar. Sedangkan wajah langit semakin lama semakin menampakkan kegelapannya.


Tak lama, ada pemberitahuan bahwa kereta akan segera berangkat lagi. Aku bergegas masuk dan duduk di tempatku. Kulihat penumpang yang mirip Yossy tadi telah tiada. Ah, mungkin ia ke toilet atau mungkin ia turun di stasiun tadi.


Tanpa pikir panjang, aku mengambil selimut untuk melindungi diriku dari dinginnya AC. Kupejamkan mataku untuk menanti pagi.


Pukul 09.00!


Kereta telah berhenti. Aku buru-buru membereskan barang bawaanku dan keluar dari kerumunan penumpang. Sambil menghubungi mama, aku mampir ke salah satu restoran untuk sarapan pagi. Setelah perutku kenyang, aku mencari taxi untuk mengantarkanku pulang.


Dalam perjalanan, aku mendapat telpon masuk dari papa.


“Andra, sudah sampai mana kamu? Papa lagi di luar kota sama Mama. Kamu hati-hati ya.” ucapnya.


“Andra masih di jalan, Pa. Bentar lagi juga sampai.” kataku.


Lima menit kemudian, aku telah sampai tepat di depan pintu. Kulihat Panji dan Brigitta tengah berdiri di teras rumahku.


“Duh, ngapain mereka disini!” batinku.


“Oh, jadi selama ini loe ngehindar dari gue?” tanya Brigitta.


“Kemana aja loe selama ini?” timpal Panji.


“Emang penting buat ngasih tahu kalian kemana gue pergi?” tanyaku balik.


“Asal loe tahu ya, kita berhari-hari nyariin loe!” ucap Panji.


“Ngapain nyari gue?” tanyaku.


Bebas donk gue pergi kemana.


“Kita mau ngasih tahu kalau Priska nantangin loe buat diving. Besok!” ucap Brigitta.


“Apa? Nantangin diving? Hahahaah.” jawabku sambil terkekeh.


“Loe jangan ketawa dulu. Gue rasa ada sesuatu dibalik semua ini.” kata Panji.


“Gue nggak peduli.” pungkasku.


Kubuka pintu rumah dan mempersilahkan kedua temanku masuk. Tapi sialnya, mereka menolak dengan alasan mau piknik!


“Masuk gih!” kataku pada mereka.


“Sorry, Ndra. Kita mau berangkat piknik. Bye....” pungkas mereka dan meninggalkanku.


Wah, balas dendam nih kayaknya.


“Oke. Silahkan bersenang-senang.” jawabku dan menutup pintu.


Aku segera ke kamar mandi untuk mengguyur badanku agar tak terasa lengket lagi. Mumpung nggak ada orang yang mengganggu, aku berendam dalam air hangat selama setengah jam. Kunyalakan tv yang ada sambil minum segelas kopi kesukaanku.


Hmmmm, terasa dunia milikku sendiri.


Tuling!


Terdengar bunyi hp.


Aku segera meraihnya. Kulihat sebuah pesan dari Priska.


“Loe udah pulang? Besok kita ketemu di pantai. Jangan lupa bawa perlengkapan diving.” tulisnya.

__ADS_1


“Ya.” balasku dan kembali berendam.


Siangnya, aku merasa sangat bosan berada di dalam rumah.


“Pergi kemana ya enaknya?” tanyaku sambil memegang kuci mobil.


Seperti orang yang kebingungan, aku mondar-mandir di depan rumah.


“Ndra! Kemana aja loe?” Tiba-tiba Reno datang dengan suara lantang.


“Nyari suasana baru lah.” jawabku.


“Loe tahu nggak kabar Priska sekarang? Katanya dia udah nggak sama cowok itu lagi. Terus kata Panji, besok loe ditantang diving.” terangnya.


“Tuh cewek emang doyan gonta-ganti laki! Tadi dia juga chat gue mau nantang diving.” kataku.


“Aneh nggak sih menurut loe? Ngapain juga dia nantangin diving?” tanyanya penasaran.


“Gue juga nggak tahu. Eh, btw loe punya acara nggak hari ini?” tanyaku.


“Nggak ada. Kenapa emang?” tanyanya.


“Gimana kalau kita nongkrong di kafe biasa?” ajakku.


“Ayuk!” ia pun setuju.


Setelah sampai sana, aku dan Reno hanya memesan minuman sambil ngobrol tentang liburanku kemarin.


“Jadi loe ke kampung? Dasar kampret! Tahu gitu anak-anak pasti mau ikut. Ngapain sih loe nggak bilang-bilang?” tanya Reno.


“Nggak usah gue jawab loe pasti udah tahu jawabannya apa.” kataku.


Melihat ada yang aneh dari dirinya, aku mengulas tentang rokok yang selalu ia bawa.


“Tumben loe nggak ngerokok? Apa udah terasa pahit bibir loe?” ledekku.


“Sialan loe! Udah seminggu ini gue nggak ngerokok.” jawabnya ketus.


Acara kafe kali ini menyuguhkan seorang pemuda yang pandai bernyanyi dan memainkan gitar. Suaranya sangat merdu bak penyanyi terkenal. Sambil menikmati alunan lagu tiba-tiba datang seorang cewek!


“Hai, Ndra!” sapanya.


“Kok kamu ada disini?” tanyaku pada perempuan tersebut.


“Emang nggak boleh? Ini kan tempat umum.” jawabnya.


Ya emang bener. Ini memang tempat umum!


“Siapa, Ndra? Pacar baru loe?” tanya Reno.


“Bukan lah!” jawabku singkat.


“Mau jadi pacar gue juga boleh kok.”  sambar cewek itu.


Dih, aku langsung mengernyitkan dahi. Dari awal ketemu aja aku udah nggak mau.


“Buat gue aja ya, Ndra.” Kata Reno.


“Silahkan.” kataku tanpa peduli.


Kehadiran perempuan itu membuatku jadi bete hingga kuputuskan untuk pulang.


“Loe mau kemana Ndra?” tanya cewek tersebut.


“Gue mau pulang. Loe sama Reno aja ya. Bye...” pungkasku dan ninggalin mereka.


Silvia yang merupakan perempuan pandai dan cantik di mata mama, kuserahkan pada Reno yang kebelet pengen punya pacar. Kubiarkan mereka berkenalan, siapa tahu cocok. Ya nggak?


Tak berapa lama, aku pun telah sampai rumah. Kupastikan semua pintu telah terkuci. Kumatikan semua lampu yang ada kecuali lampu taman dan lampu tidur.


Selamat beristirahat!


***


Belum sampai matahari terbit, hp ku sudah ramai di telpon seseorang. Nama Priska terus muncul di layar! Aku tahu hari ini dia nantang diving. Tapi nggak harus ganggu ketenangan orang juga kali!


“Hallo,” jawabku.


“Aku tunggu di pantai pukul 06.00. Tantangannya adalah siapa yang menyelam paling dalam dialah pemenangnya. Kamu harus bisa ngalahin aku kalau emang  masih sayang. Udah gitu aja, bye!” tutupnya.


Dih, ni anak bener-bener aneh. Apa dia masih yakin kalau aku masih sayang sama dia? Gue sendiri udah nggak tahu lagi gimana perasaan ini.


Kuladeni keinginannya. Masa aku kalah sama cewek! Oh, tidak bisa.


Setelah mempersiapkan perlengkapanku, aku pun mandi, sarapan, dan berangkat ke pantai. Acara ini tak diketahui kedua orang tuaku. Takutnya mereka kurang setuju apalagi ada  Priska disana.

__ADS_1


__ADS_2