
Untuk kelima kalinya aku naik pesawat. Kali ini aku pergi bersama keempat kawanku. Papa dan mama yang awalnya ingin pergi bersama membatalkan rencananya. Ada meeting di kantor yang tak bisa mereka tinggalkan. Baiklah, memang sepertinya liburan kali ini khusus untuk muda-mudi.
Aku yang duduk bersebelahan dengan Reno dan sesekali menceritakan impianku. Menyelam di pantai Belitung bersama Yossy. Tapi sayang, ia telah pergi duluan.
“Gue yakin, Yossy juga ikut bahagia melihat kita bisa menyelam disana.” ujar Reno.
“Tapi nggak lengkap kalau nggak ada dia.” kataku mulai sedih.
“Udahlah, Ndra! Loe tuh cowok. Masa sedih terus. Malu dink sama Brigitta!” ucapnya.
Oh My God!
Aku baru ingat kalau cewek itu sedang duduk dibelakang kursiku. Bersama Rebecca ia berbincang. Sedangkan Panji yang duduk agak belakang, entah bersama siapa ia akan tebar pesona! Hahahaa.
Berjam-jam kami berada di dalam pesawat, kini tiba saatnya burung besi itu mendaratkan tubuhnya. Aku dan yang lainnya keluar dan melanjutkan perjalanan ke penginapan yang telah dipesan oleh mama. Lokasinya tak jauh dari pantai!
Brigitta satu kamar dengan Rebecca, sedangkan aku satu kamar dengan Panji dan Reno. Kita mendapat kamar di lantai tiga. Dengan balkon yang menghadap pantai membuat kami betah menikmati keindahan dari atas.
Setelah makan, kami istirahat sebentar di kamar masing-masing. Kedua temanku tiba-tiba mulai berpikiran aneh.
“Ndra, loe tahu kan apa yang harus loe lakuin di pantai nanti?” tanya Panji.
“Diving lah!” jawabku sambil nonton tv.
“Dih, nih anak nggak peka-peka!.” timpal Reno.
“Emang dia bisa peka? Hahahaha!” ledek Panji.
“Apaan sih kalian.” gerutuku.
“Gimana kalau pas diving nanti loe ngasih surprise buat Brigitta? Kan seru!” ucap Panji.
“Surprise apa?” tanyaku tak mengerti.
“Nanti gue kasih tahu. Sekarang loe istirahat aja dulu.” katanya.
Kok jadi dia yang ngatur!
Entah apa yang ada dibenak Panji yang jelas remot tv yang kupegang langsung diambil dan aku diminta untuk segera tidur. Udara siang yang cukup panas membuat keringatku sedikit bercucuran. Akhirnya, aku tidur di kursi santai dekat balkon sambil memandang hamparan laut luas. Aku lebih suka hembusan angin sepoi daripada AC.
Sekitar pukul tiga sore, Reno membangunkanku dan mengajakk ke pantai. Peralatan yang telah mereka siapkan tak perlu kubawa keluar lagi.
“Gue mau ambil alat dulu.” kataku.
“Nggak perlu. Udah gue siapin semua. Sekalian kasih bunga ini untuk Brigitta” kata Reno.
Kami pun beranjak pergi!
Tak sampai sepuluh menit, kami tiba di pinggir pantai yang sangat menakjubkan. Airnya jernih! Terlihat pula sosok Brigitta dengan kostum renangnya. Rebecca yang telah siap menceburkan diri juga berteriak memanggil namaku untuk segera gabung dengannya.
__ADS_1
“Woi! Buruan!” serunya.
Perahu sudah dipesan serta tabung udara juga telah diisi. Tak lupa, kamera juga telah Reno siapkan. Kami pun berangkat dan berhenti ke spot penyelaman. Pemilik perahu juga memberi arahan kepada kami. Sesekali aku memandangi permukaan laut yang bergelombang dengan warna biru akibat pantulan awan dari langit. Sungguh, hari ini cuacanya sangat mendukung untuk diving. Setelah mendengar arahan, kami mulai menceburkan diri satu per satu.
Byur! Byur! Byur!
Kutarik tangan Brigitta untuk menyelam bersamaku. Aku merasakan air yang sangat hangat dan berarus tenang. Kuajak ia terus turun menyusuri bukit karang hingga kedalaman kurang lebih 17 meter. Tak sampai disitu kami
meneruskan penyelaman hingga kedalaman 20 meter. Disana kami melihat sebuah bangkai kapal yang telah menjelma menjadi taman koral. Disitu pula kuserahkan bunga cantik itu pada Brigitta.
Mungkin yang dimaksud Panji kemarin adalah kesempatan ini. Sebuah situasi yang sangat mendukung untuk perasaanku. Baiklah, nanti malam akan kubuat sebuah rencana.
Lama di dalam air, kami pun akhirnya kembali ke permukaan sambil berenang kesana kemari layaknya seekor ikan. Kamera yang telah merekam keadaan dibawah sana terus kugenggam.
“Foto dulu yuk!” ajak Rebecca.
“Nah gitu donk, ada kemajuan.” Reno menyindirku entah apa maksudnya.
“Kalau kayak gitu kan kita senang lihatnya.” timpal Panji.
Sial!
Aku baru sadar kalau tangan Brigitta dari tadi tetap kupegang. Cepat-cepat kulepaskan ia dan kubiarkan bergabung dengan teman wanitanya.
Usai berfoto, kami kembali ke tepi pantai sambil menikmati matahari terbenam. Mulai detik itu juga, aku berpikir keras untuk melancarkan aksiku nanti.
“Punya rencana apa loe?” tanya Panji.
“Baru loading sekarang loe!” ledek Reno.
Tanpa memperdulikan mereka, aku kembali ke penginapan untuk mandi. Tak lama kemudian, mereka ternyata menyusulku.
“Mau kemana loe udah rapi kayak gitu?” tanya Panji padaku.
“Mau keluar sebentar.” jawabku.
“Wah, kayaknya mau ngajak Brigitta kencan nih.” ledek Reno.
“Sok tahu loe!” ucapku dan berlalu meninggalkan mereka.
Dengan google map yang kupunya, aku berjalan ke suatu tempat untuk membeli sesuatu. Tak jauh dari penginapan aku telah menemukan sesutu yang kumau.
Baiklah, kupilih satu sesuai seleraku.
Setelah bertransaksi, aku segera kembali dan menyembunyikan barang yang telah kubeli. Jangan sampai mereka tahu!
“Darimana loe?” tanya Brigitta.
“Cari angin.” jawabku dan buru-buru pergi.
__ADS_1
Sampai kamar, kedua temanku ternyata telah tidur pulas. Sedangkan tv masih menyala dengan suara keras.
“Dasar!” Gerutuku sambil menimpuk tubuh mereka dengan bantal.
***
Hari telah berganti! Kuajak semua kawanku untuk berenang di pantai. Beberapa orang telah kusuruh untuk menyiapkan sesuatu. Saat kami telah kembali kupastikan orang-orang itu sudah menyelesaikan tugasnya tepat waktu.
Biar tambah seru, kuajak mereka bermain voli air. Mulai dari matahari masih bersahabat hingga ia mulai terik!
“Panas nih. Udahan yuk!” pinta Rebecca.
Akhirnya, kami pun menyudahi permainan ini.
Aku sengaja berjalan paling belakang. Biarkan mereka merasa heran terlebih dulu.
Salah satu orang suruhanku telah datang menghampiri Brigitta dan diajaknya duduk di sebuah kursi dengan dekorasi yang sangat romantis. Berbagai macam bunga terangkai disana dengan keharuman tiada tara. Sebuah kotak musik dan satu kotak lainnya telah tertata rapi disana. Ia bingung dengan perlakuan orang suruhanku itu.
“Ada apa ini?” tanyanya kebingungan.
Tanpa menjawab pertanyaan Brigitta, orang suruhanku itu langsung pergi dan mempersilahkan aku untuk meneruskan rencana yang telah kususun.
“Brigitta, aku ingin melamar kamu. Cincin dan bunga ini sebagai bukti keseriusanku.” ucapku tanpa basa-basi.
Ia melongo nggak tahu harus ngomong apa. Terlihat raut wajah heran dan nggak nyangka.
“Oh My God! Gue nggak nyangka Andra bisa kayak gitu.” seru Panji takjub.
Aku masih berdiri di depan Brigitta sambil bersimpuh. Kutunggu jawabannya hingga beberapa menit. Cukup lama!
Kutatap matanya, kuraih tangannya.
“Nggak ada kesempatan dua kali. Kuharap loe bisa memberi jawaban sesuai isi hati loe saat ini.” kataku.
Tiba-tiba tangannya dilepaskan. Menjauh dari hadapanku.
“Aku tahu mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku nggak bisa jagain dia tanpa ikatan.” batinku.
Kotak cincin yang mulanya terbuka, kututup kembali! Sepertinya ia menolakku.
Saat aku berjalan menjauh dari tempat yang telah dihias cantik, ia berlari dan memelukku dari belakang.
“Gue mau nerima loe.” katanya.
Ya Tuhan...
Aku sangat bahagia mendengar kalimat yang baru saja ia ucapkan. Sampai aku nggak bisa berkata apa-apa lagi. Kubalikkan badanku dan kupeluk tubuhnya.
Semalam aku sudah menghubungi kedua orang tuaku untuk menjalankan rencana ini. Mereka setuju.
__ADS_1
Memang! Restu orang tua sangat berpengaruh besar.