
Belum sempat kembali ke rumah sakit untuk menjenguk kekasihku, aku mendapat kabar bahwa ia telah kembali ke rumah. Mendengar warta baik tersebut, aku langsung menghampiri di kediamannya.
Wajahnya kembali sumringah saat melihat kedatanganku sambil membawa seikat bunga untuknya.
“Maafin aku ya sayang. Aku emang salah paham saat itu.” ucap Priska padaku.
“Makanya kamu tuh jangan terlalu mikir yang aneh-aneh. Trus kemarin ngapain kamu ke perpus malam-malam?” tanyaku penasaran.
“Aku juga nggak tahu. Rasanya pengen jalan-jalan aja ke kampus. Nggak tahunya aku udah sampai di dalam perpus. Setelah itu nggak tahu deh.” jawabnya.
“Tapi sekarang kamu udah mendingan kan?” tanyaku.
“Udah kok. Badanku juga terasa enteng. Oh iya sayang, gimana kalau besok kamu ajarin aku diving?” tanyanya.
“Emang kamu boleh diving?” tanyaku ragu.
“Boleh lah. Kata siapa nggak boleh?” tanyanya sambil cemberut.
“Emmmm, yaudah besok kita diving. Mumpung nggak ada jadwal kuliah.” kataku.
Tak berapa lama mamanya menghampiri kami. Ikut mengobrol kesana-kemari. Semakin lama hubungan kami semakin akrab layaknya teman lama tengah bertemu kembali. Adik-adiknya juga ikut bercerita tentang mainan barunya.
Sesekali aku melirik cuaca diluar yang semakin lama semakin petang. Kulihat jam tanganku juga hampir menunjukkan pukul enam. Terpaksa aku harus pamit dan menyudahi pertemuan kali ini.
“Tante, Andra pamit dulu ya. Udah sore nih.” kataku.
“Iya, ntar dicariin sama Mama kamu.” timpal Priska.
“Hahahaha, kamu udah sebesar ini masih dicariin sama Mama kamu?” ledek Mama Priska.
“Iya Tante! Mama emang kayak gitu.” jawabku malu-malu.
“Yasudah, nggak apa-apa.” pungkasnya.
Akhirnya aku pun pulang. Sialnya, sampai ditengah jalan hujan turun begitu deras. Aku nggak bawa jas hujan pula! Sial.
Terpaksa aku harus berteduh di sebuah bangunan lawas yang tak berpenghuni. Tak lama, ada orang lain yang ikut gabung bersamaku.
Perempuan itu...
Ia basah kuyup! Sepertinya orang SPG. Dandanannya yang terlihat menor serta pakaiannya yang kurang bahan sangat jelas bahwa ia adalah seorang karyawan di salah satu pusat perbelanjaan. Kurasa aku salah memilih tempat berteduh, akhirnya aku meninggalkan tempat itu.
“Mau kemana, Mas? tanya perempuan tadi.
“Sok kenal banget sih!” gerutuku dalam hati.
Bodo amat lah!
Tanpa menjawab, aku langsung pergi dan pulang ke rumah. Sudah terlanjur basah, percuma juga berteduh. Itung-itung nostalgia masa kecil dengan main hujan-hujanan.
Sampai rumah!
Mobil papa dan mama sudah parkir rapi pada tempatnya. Wah, tumben mereka sudah pulang. Aku langsung masuk rumah dan menemui mereka.
“Ya ampun Andra! Kenapa sampai basah gini?” tanya Mama heran.
“Hujan-hujanan, Ma.” jawabku sambil bercanda.
“Kayak anak kecil aja kamu ini. Nanti kalau flu gimana coba.” timpal Papa.
“Mandi sana!” perintah Mama.
Aku langsung ke kamar dan mandi.
Sambil mengguyurkan air pada tubuhku, aku teringat bahwa malam ini aku harus ikut mama bertemu klien nya.
Aduh! Aku harus berpenampilan keren nih!
__ADS_1
“Andra, buruan!” seru Mama.
"Iya.” jawabku di kamar mandi.
Mendengar panggilan ibu presiden rumah tangga, aku segera siap-siap. Kemeja abu-abu, celana panjang lengkap dengan sabuknya, beserta dasi sebagai penyempurna penampilan kali ini telah melekat pada tubuhku. Tak lupa, sepatu kulit juga telah membungkus kakiku.
“Udah siap nih, Ma. Ngapain sih Andra harus ikut?” tanyaku.
“Masa kamu nggak ngerti-ngerti juga! Kamu kan pewaris tunggal perusahaan Mama. Makanya kamu harus ikut biar tambah pengetahuan.” terangnya.
Usai makan, aku dan Mama berangkat menuju sebuah lokasi yang belum pernah ku kunjungi. Semacam restoran elit khusus bertemunya orang-orang penting. Sampai sana sudah datang seorang ibu dan entah siapa. Yang jelas, ia bersama dua orang wanita muda.
“Hallo, apa kabar? Sudah lama menunggu?” sapa Mama dengan senyum manisnya.
“Belum. Kita juga baru sampai kok.” jawabnya.
Aku yang nggak tahu apa-apa hanya terdiam dan duduk di sebelah Mama. Mereka membicarakan bisnis baru yang tak perlu kusebutkan disini. Ada kesepakatan bersama di dalamnya. Kurang lebih dua jam berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk bekerja sama.
“Ok, deal!” ucap mereka bersamaan sambil bersalaman.
“Oh iya, jangan lupa sambil diminum kopi hangatnya. ” ucapnya pada kami.
Sepuluh menit kemudian, mama mengajakku pulang. Sampai di tempat pakir, aku minta ijin untuk langsung menemui Priska. Sebenarnya kita udah janjian. Aku meminta dia untuk menungguku di kafe yang tak jauh dari restoran elit tadi.
“Ma, Mama pulang duluan ya. Andra mau ketemu Priska dulu.” ucapku.
“Kamu ini! Ya sudah, jangan pulang malam-malam.” katanya.
“Iya, Ma.” kataku.
Kubiarkan mama membawa mobil sendiri. Aku yang merupakan pejantan tangguh masih bisa mencari kendaraan lain untuk mengantarkanku bertemu dengan Priska. Setelah memastikan keberadaannya, aku pun mencari taxi.
Tak sampai lima belas menit, aku telah sampai di tempat tersebut. Priska telah menungguku sambil meneguk minuman yang telah ia pesan.
“Hai, sayang. Udah lama nunggu?” tanyaku.
“Beres donk. ” jawabku.
“Mama kamu hebat ya.” ucapnya.
“Yaaaa, gitu deh. Oh iya, aku pesenin makanan ya. kamu mau apa?” tanyaku.
“Terserah kamu, yang penting enak.” jawabnya.
Akhirnya aku memesan makanan paling spesial di tempat itu. Setelah pesanan datang, suasana mendadak romantis. Lampu ruangan menjadi redup ditambah nyanyian-nyanyian merdu dari artis lokal kota tersebut. Hmmmm, sepertinya hidupku tak jauh dari musik dan air.
“Boleh nggak aku nanya?” tanyaku pada Priska.
“Apa?” tanyanya.
“Beberapa waktu lalu, katanya kamu dijemput seseorang. Siapa?” tanyaku.
“Oh, itu. Dia... dia anaknya temen Papa.” jawabnya dengan nada ragu.
Mendadak ia memegang tanganku.
“Jangan marah ya. Aku terpaksa saat itu.” ucapnya.
“Enggak. Aku nggak marah. Trus kenapa dia jemput kamu? Dia suka sama kamu?” tanyaku.
“Nggak tahu. Udah lah jangan dibahas lagi.” jawabnya.
Oke, aku bisa mengerti!
Aku nggak bakal cemburu. Kalau kulihat, memang papanya kurang suka denganku.
Sama! Sama seperti mama yang tak begitu menyukai Priska.
__ADS_1
Sambil makan, sesekali ia membuka layar hp nya. Seperti sedang menunggu telpon atau pesan dari seseorang. Priska yang kukenal berubah jadi aneh.
“Kamu nungguin telpon siapa?” Tanyaku sambil meneguk jus yang kupesan.
“Enggak ada.” jawabnya.
“Terus ngapain dari tadi main hp mulu.” kataku.
Nggak apa-apa. Cuma lihat jam aja.” jawabnya.
Kurasa dia memaang sedikit berubah. Bosan kali ya!
Tak berapa lama, seseorang datang menghampiri kami. Seorang cowok yang bisa dikatakan cukup tampan, tinggi, dan rapi. Menyapa ramah layaknya telah berteman lama.
“Hai, Pris. Udah lama kamu disini?” tanya pria itu pada pacarku.
Hatiku mulai panas!
Sejak kapan ia berkenalan dengan cowok itu? ada hubungan apa pula mereka.
“Udah kok.” jawab Priska.
Ia menatapku.
“Berangkat yuk!” ajak laki-laki itu.
Mau kemana pula mereka? Sungguh, aku sudah tak dianggap. Laki-laki itu juga tak peduli dengan keberadaanku.
“Kamu siapa? Ngapain tiba-tiba ngajak pacar gue pergi? Loe nggak lihat ada gue disini?” tanyaku pada cowok itu.
“Sorry, gue kesini buat jemput Priska.” jawabnya sombong.
“Dia siapa?” tanyaku sambil menatap Priska.
“Temen.” jawabnya singkat.
“Temen?” tanyaku sambil tersenyum kecut.
Priska nunduk. Tanpa memperdulikanku, ia mengikuti langkah cowok brengsek itu. Aku bangkit dan menarik lengannya.
“Tunggu!” kataku pada Priska.
Langkahnya terhenti dan menatapku.
“Ada hubungan apa kalian?” tanyaku.
“Nggak ada hubungan apa-apa. Kita cuman temen aja kok." jawab sang cowok.
“Ternyata loe nggak berubah ya!” ucapku pada Priska.
Aku memang bodoh. Ngapain juga percaya sama omongan Priska. Udah ketahuan selingkuh masih aja mau diajak balikan dengan janji-janji palsunya itu. Nyatanya, sekarang ia bersama cowok lain secara terang-terangan. Parahnya, ia sakitpun masih aja doyan selingkuh!
Kutinggalkan tempat itu! Hatiku terasa kesal dengan sikap pacarku.
Akhirnya aku pun pulang. Kujumpai mama yang tengah duduk santai sambil nonton tv.
“Kamu udah pulang?” tanya Mama.
“Udah, Ma.” jawabku.
“Mama heran, kok bisa ya anak Mama suka sama Priska.” gumamnya.
“Apaan sih, Ma. Andra tahu Mama nggak suka sama dia. Tapi jangan terus-terusan bahas itu lagi donk, Ma.” kataku.
“Yaudah, tidur sana!" perintahnya.
Huft!
__ADS_1
Bener juga sih kata mama. Mending aku tidur aja!