
“Kemarin gue nganterin Priska latihan renang. Emang loe nggak tahu?” tanya Andira yang merupakan sahabat Priska.
“Masa sih?” tanyaku penasaran.
“Iya. Katanya pengen belajar diving sama loe. Makanya dia belajar renang.” ucapnya lagi.
Pertemuanku bersama Andira di kampus menjadi jawaban kenapa ia kemarin tak membalas pesanku.
“Sekarang dia dimana?” tanyaku pada Andira.
“Di kelas. Yaudah, gue cabut dulu.” ucapnya dan pergi ninggalin aku.
Baiklah, aku akan menemuinya sambil membawakan bunga yang kupetik langsung dari taman kampus. Mawar merah yang katanya sebagai tanda cinta menjadi bunga pilihanku.
Kulihat dia sedang membaca materi. Aku mendekatinya dan menyodorkan bunga itu.
“Ngapain kamu kesini?” tanyanya cuek.
“Kangen lah. Masa kesini nyamperin tukang jamu.” jawabku sambil bercanda.
“Aku lagi sibuk.” ucapnya lagi.
“Kamu masih marah? Denger ya, Silvia itu bukan siapa-siapa. Dia cuma disuruh Mama buat ngikutin aku. Karena aku sendiri juga nggak mau, makanya aku terpaksa nganterin dia pulang dulu sebelum jemput kamu. Gitu ceritanya.” jelasku.
“Terserah. Aku nggak peduli dia siapa. Aku Cuma kecewa sama kamu kenapa kamu nggak jujur. Kalau emang sama orang lain ya ngomong lah. Ngapain pakek bohong lagi dijalan sendirian.” ucapnya ketus.
“Oke, aku salah. Aku ngomong kayak gitu biar kamu nggak marah.” jawabku.
“Jawaban macam apa itu! Udah, keluar sana. Bentar lagi dosen datang.” usirnya.
“Aku tahu kamu kemarin belajar renang. Nanti sore aku ajak kamu ke pantai.” Ujarku sambil meletakkan bunga mawar ke bangkunya.
Kutinggalkan kelas itu dan kembali ke ruanganku.
Tapi naas. Kulihat dosen sudah masuk kelas.
Kampret! Aku keduluan.
Mau tak mau aku harus masuk dengan wajah tebal.
“Telat lagi!” celetuk Dosen.
“Maaf, Pak.” ucapku.
“Yaudah, duduk sana.”perintahnya.
“Makasih, Pak.” jawabku dan duduk di kursi paling belakang.
Lagi-lagi aku harus bersebelahan dengan si cewek tomboy itu lagi. Ia melirik dan menertawaiku.
“Loe kira lucu!” Ucapku kesal sambil mengeluarkan buku dari dalam tas.
“Jangan banyak ngomong loe. Dilihatin Dosen tuh.” ucap Fransiska.
Aku langsung terdiam dan melanjutkan kagiatan matkul hari ini.
Tiga jam berlalu. Kutinggalkan kelasku menuju ruangan Priska. Banyak bangku yang sudah kosong. Priska sudah tak terlihat lagi.
Kemana dia?
Kusisir lorong kampus untuk menemukan sosoknya.
“Andira! Loe lihat Priska nggak?” tanyaku pada cewek itu.
“Udah pulang dia.” jawabnya.
__ADS_1
“Ha! Yang bener?” tanyaku.
“Iya. Barusan dijemput seseorang.” katanya lagi.
Aku langsung ke parkiran untuk mengambil motorku dan langsung menyusul Priska. Meskipun aku nggak tahu dia dijemput siapa, setidaknya aku berusaha menyisir jalan menuju rumahnya.
Sepanjang aspal telah kulewati sampai di rumah Priska pun aku tak menemukan sosoknya. Kuputuskan untuk mapir sebentar. Siapa tahu ada orang di rumah.
“Permisi, Asssalamu’alaikum.” ucapku memberi salam.
“Wa’alaikumsalam.” jawab seseorang dari dalam rumah.
“Eh, Tante.” sapaku.
“Kamu nyari Priska?” tanya beliau.
“Iya Tante. Priska pulang kuliah apa ada acara lain ya? Tadi saya nyari dia katanya udah pulang.” ucapku.
“Tadi pagi bilangnya sih mau ngerjain tugas sama temen-temennya.” jawab Mama Priska.
“Oh, gitu ya Tante. Yaudah kalau gitu, Andra pamit pulang dulu.”pungkasku.
Kalaupun ia ngerjain tugas, kenapa Andira nggak ikutan. Mereka kan satu genk, harusnya kan punya tugas yang sama. Tapi entahlah.
Mau pulang juga nanggung! Mending aku ke pantai aja sendirian!
Kulajukan kendaraanku menuju tempat favorit. Pantai ini memiliki banyak fasilitas seperti restoran dan hotel didekatnya. Andai kata aku tak mau pulang atau belum makan, aku bisa menikmati fasilitas tersebut untuk memanjakan diriku. Harganya juga sangat terjangkau bagi mahasiswa sepertiku.
Sampai lokasi kuparkirkan motorku dan ganti baju. Hari ini aku ingin menikmati sepeda santai yang disewakan. Beberapa anak juga ada yang bermain layangan. Panas-panas kayak gini sebetulnya nggak cocok bersepeda.
Tapi layaknya ibu hamil yang sedang ngidam, akhirnya kuturuti keinginanku itu. Dengan membawa topi dan minuman, kulajukan sepedaku mengitari pantai dan sekitarnya.
Kulihat beberapa nelayan sedang menarik jaring! Mereka bergotong royong untuk memanen hasil. Kompak sekali mereka. Selain itu juga ada ibu-ibu sedang berjualan bunga. Aku langsung tertarik menghampirinya. Berbagai warna dan jenis bunga ada disana.
“Banyak, Mas. Berbagai jenis mawar, matahari, celoslia juga ada.” terangnya.
“Saya beli seikat mawar deh, Bu. Tolong bungkus yang rapi ya.” pintaku.
“Buat pacarnya ya , Mas?” canda si Ibu.
“Iya.” jawabku.
Setelah membayar bunga tersebut, aku kembali bersepeda santai hingga sore. Kuletakkan bunga itu di keranjang depan bersama air mineral. Banyak orang yang datang kesini tapi tak satupun yang kukenali. Hmmmm, andai Priska mau kuajak kemari akan kubonceng ia menikmati keindahan pantai ini.
Eh, bodoh juga ya aku. Kenapa nggak dari tadi aku telpon Priska! Tapi kalau telpon sekarang...juga udah telat. Yaudahlah, aku pulang aja.
***
Sampai rumah kulihat mama sedang sibuk dengan kerjaannya. Sedangkan papa masih saja belum pulang. Mereka bekerja keras untuk membiayaiku kuliah dan keperluan lainnya. Terkadang aku ngerasa bersalah jika kemauan mereka nggak kuturuti. Sedangkan mereka mati-matian bekerja siang dan malam untukku.
“Mama udah makan?” tanyaku.
“Kamu baru pulang? Darimana aja kamu?” tanya Mama balik.
“Dari pantai, Ma.” Jawabku sambil duduk di sampingnya.
“Sama siapa?” tanyanya.
“Sendiri, Ma. Mama udah makan belum? Kalau belum gimana kalau Andra masakin nasi goreng?” tanyaku.
“Emang kamu bisa masak? Hahahha,” tanya Mama sambil terkekeh.
“Kalau cuma nasi goreng aja, Andra bisa Ma.” jawabku.
“Yaudah, bikin sana. Yang enak loh ya.” ucap Mama senang.
__ADS_1
Ya, sekali-kali nggak ada salahnya bikin mereka senang meski dengan hal-hal kecil. Nasi goreng memang masakan paling simple. Tapi kubuat dengan cinta dan kasih sayang untuk papa dan mama.
Aku menuju dapur dan mencari cabai, bawang putih, bawang merah, garam, dan penyedap makanan. Setelah bumbu tersebut terkumpul, kini saatnya aku mengambil telur, daging ayam, sisiran jagung, sedikit wotel, dan daun bawang. Semoga rasanya enak.
Selera papa dan mama sama. Menyukai rasa pedas. Sambil menunggu minyak panas, kublender semua bumbu-bumbu tersebut kemudian kumasukkan pada wajan yang telah terisi minyak panas tadi.
“Sreeeeeng!” Bunyinya nyaring saat bumbu itu telah masuk.
Kepulan asap keluar bak merapi sedang meletus. Setelah bumbu setengah matang, kumasukkan irisan daging
kecil-kecil, disusul dengan telur, sisiran jagung dan wortel. Selanjutnya, kumasukkan nasi dua porsi makan dan kuaduk bersama bumbu dan lainnya. Campur hingga merata. Tak lupa, aku mengambil sendok untuk mencicipinya.
Rasanya sudah pedas. Garam juga terasa. Tapi ada yang kurang yaitu penyedap rasa. Kutambahkan sedikit demi sedikit hingga rasanya mantab jiwa. Terakhir, kumasukkan bawang goreng untuk menambah keharuman.
Setelah siap, kutaruh pada piring yang telah kusiapkan. Satu untuk papa dan satu lagi untuk mama.
“Ma, udah jadi nih nasi gorengnya,” seruku dari ruang makan.
“Iya.” Jawab mama sambil berjalan menuju arahku.
“Tapi Papa kok belum dateng sih Ma.” ucapku sambil menanti Papa.
“Bentar lagi pasti pulang.” ucapnya.
“Yaudah, Mama makan dulu aja.” kataku.
" Coba, sini. Mama penasaran sama rasanya. “ kata Mama.
Ia pun duduk sambil menyendok sesuap nasi goreng masakanku. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. Duh, kayaknya masakanku nggak enak nih. Tak lama mama menatapku.
“Gimana , Ma?” tanyaku.
“Kok enak sih. Kamu belajar bikin nasi goreng sama siapa?” tanya Mama.
“Masa sih enak? Mama bohong nih. Pasti bilang enak biar Andra senang.” kataku.
“Hahahaah. Beneran enak. Coba kamu telpon Papa suruh cepat pulang. Nanti keburu dingin nasinya.” perintah Mama.
Belum sempat menghubungi papa, ia pun telah datang.
“Pa, cepet sini.” seruku.
“Ada apa, Ndra?” tanya Papa.
“Pa, ayo sini makan bareng. Andra masak nasi goreng buat kita.” timpal Mama.
“Andra masak? Hahaha, emang dia bisa.”Celetuk Papa sambil menghampiri meja makan.
Ia pun duduk dan mencoba hasil masakanku.
“Kok gini sih rasanya?” ucap Papa.
Sepertinya nasi itu telah dingin jadi terasa nggak enak.
“Nggak enak ya, Pa?” tanyaku khawatir.
“Coba sini Andra rasain.” Ucapku sambil menyendok nasi goreng milik Papa.
“Gimana?” tanya Papa.
“Enak kok.” jawabku.
“Hahahahah, ya memang enak. Sini sendoknya.” Pungkas Papa sambil meminta sendok yang kupegang.
Kubiarkan mereka makan bersama. Lantas aku pun ke kamar untuk istirahat.
__ADS_1