
Byur!!!
“Banguuunnn wooiiii.” teriak Yossy.
Dengan kasar ia manarik selimutku dan sengaja mengguyur badanku dengan air. Merasa kedinginan, aku langsung bangun dan marah besar. Mulutku mengumpat berkali-kali. Yossy berlari keluar dari kamarku dengan terus meledek. Malam-malam kayak ini ngapain main ke rumah orang bikin onar!
Aku mengejarnya sampai teras rumah. Disana aku dibuat terkejut dengan suasana yang mencurigakan. Banyak lilin berjajar. Beberapa manusia tengah menyanyikan lagu beserta musiknya.
“Happy birthday to you... happy birtday to you... Happy Birthday...happy birthday...
happy birthday to you...” Lagu tersebut dinyanyikan dengan suara nyaring dan lantang.
“Apa-apaan nih? Kok kalian ada disini?” Tanyaku pada Rebecca, Reno, Winny, Andira, Yossy dan juga Brigitta.
“Bukannya kamu digigit ular berbisa?” Tanyaku pada Reno, Winny dan Andira.
“Hahahahaha. Loe mimpi kali! Makanya jangan kelamaan tidur.” ucap Yossy.
Aku yang dari tadi bingung dan nggak ngerti semakin terlihat sangat bodoh di depan mereka.
Apa yang terjadi kemarin seperti nyata, bukan mimpi. Ingatanku belum sepenuhnya normal. Guyuran air yang mengenai tubuhku membuat aliran darah membeku.
Byurrr!!!
Seseorang mengguyur tubuhku lagi dengan air yang sangat dingin. Setelah kutoleh, ternyata ulah Yossy lagi. Tuh anak bener-bener nyari ribut!
Awas loe ya!
Aku mengejar dan menyeretnya. Kuceburkan tubuh Yossy ke kolam renang tanpa peduli dengan hp yang ia pegang!
“Woooiii! Tolongin donk. Hp gue mati nih.” katanya panik.
“Rasain loe!” kataku sambil tertawa.
Byurrr!!!
Rebecca mendorongku menyusul Yossy.
“Enak aja loe nyeburin gue. Sini loe!” Kataku sambil menarik Rebecca hingga tercebur ke kolam.
Akhirnya kami pun basah-basahan. Biar tambah seru, kita main voli air. Beberapa jam kemudian, papa dan mama muncul dengan membawa kue ulang tahun. Mereka menyanyikan lagu "Happy Birthday" lagi!
“Kadonya mana nih?” candaku.
“Mau kado apa loe?” tanya Panji.
“Gue mau cewek cantik.” jawabku bercanda.
“Tuh, nyokap loe. Paket lengkap. Gratis buat loe.” jawab Yossy sambil tertawa.
Mendengar ucapan kami, mama dan papa hanya geleng-geleng kepala.
“Ayuk sini, kita makan bareng.” ajak mama.
Tidak hanya kue tart. Ternyata mama juga menyiapkan pizza kesukaanku dan beberapa makanan lainnya. Karena udara semakin dingin, aku ke kamar sebentar untuk ganti baju. Sampai di depan cermin aku dikejutkan oleh tetesan darah.
__ADS_1
“Apa-apaan nih?” ucapku.
Aku mendekati cermin.
“Kampret! Ternyata cat. Siapa sih yang ngerjain gue? Niat banget!” kataku kesal.
Setelah ganti baju, aku kembali menemui teman-temanku dan kedua orang tuaku. Kami makan bersama hingga larut malam.
Tuling!
Terdengar suara hp berbunyi.
“Andra, aku pengen kita balikan lagi. Aku janji bakal setia sama kamu.” Sebuah pesan dari Priska.
Cewek itu nggak ada kapoknya.
“Loe lagi ngapain? Main hp mulu.” celetuk Keisha.
“Lagi baca chat.” jawabku.
“Dari Priska ya? Kayaknya dia emang masih sayang sama loe.” katanya lagi.
“Sok tahu loe.” kataku.
“Gue tahu gimana rasanya diselingkuhin. Loe nggak salah mutusin dia. Tapi loe salah jika membenci dia. Dengan dia selingkuh, loe bakal mikir seribu kali saat loe pengen selingkuh dari pasangan loe. Loe akan tahu rasanya penyesalan. Seperti yang dia rasakan sekarang.” jelas Keisha.
“Kayaknya loe punya banyak pengalaman nih.” sindirku sambil bercanda.
“Gue nggak punya pengalaman. Tapi gue banyak belajar dari kalian yang sering bercerita.” jawabnya.
Temanku yang lain asyik menikmati jamuan yang mama siapkan.
Entah kenapa hatiku jadi sedih. Yossy yang sering kali marah bahkan cemburu denganku sampai saat ini tetap menjadi teman baikku. Padahal di dalam lubuk hatiku paling dalam, aku mencintai wanita yang kini telah menjadi pacarnya.
“Woi! Nglamun aja lo.” suara Yossy mengagetkan.
“Apaan sih loe.” sahutku.
“Gue saranin, mending loe balikan sama Priska. Sebenernya dia baik kok, nggak kayak yang loe pikirin. Cuman dia mudah dibohongi.” kata Yossy.
“Ngapain loe nyuruh gue balikan sama dia? Ogah gue!” jawabku.
“Gue tahu kalau dia masih sayang sama loe.” ucapnya lagi.
“Alah, semua orang juga sayang sama gue.” jawabku.
Aku tidak menemukan perubahan dari diri Priska semenjak kita putus. Dia tetap menjadi wanita yang centil.
“Udahlah, jangan bahas dia lagi. Males gue. Udah malem nih, mending kalian pulang deh.” Kataku pada teman-temanku.
“Wah, loe ngusir nih?” tanya Panji.
“Iya lah. Orang udah malem. Kalian juga udah makan kan?” kataku sambil bercanda.
“Bener-bener nih anak. Pengen gue timpuk pake sendal.” ucap Rebecca.
__ADS_1
“Yaudah, kita pulang yuk. Besok ngampus pagi jangan sampai telat.” kata Keisha mengingatkan.
Tak berapa lama, akhirnya mereka pulang.
Keadaan berubah menjadi sepi.
“Hooooaammm.” aku menguap panjang.
Ngantuk!
Oh iya, aku lupa!
Tadi mereka ngasih kado nggak sih? wkwkwkwk. Harusnya mereka nggak boleh pulang sebelum ngasih aku kado.
Aku pun masuk kamar dan langsung tidur. Selimut tebal telah melindungi tubuhku dari angin malam. Hari ini usiaku genap 22 tahun. Masih sangat muda untuk berumah tangga dan masih sangat panjang untuk berpetualang mencari pasangan.
Andai Brigitta masih memiliki kembaran, aku berdo’a agar bisa memilikinya. Tenang saja Yossy, aku nggak akan merebut Brigita dari dekapanmu. Tapi ijinkan aku untuk mengaguminya setiap waktu. Selama aku belum menemukan sosok lain seperti kekasihmu.
Ah! Aku nggak boleh mikirin soal wanita. Ia terlalu sempurna untuk dipikirkan dan dikagumi. Mungkin alahkah baiknya aku fokus latihan diving untuk mengikuti festival yang sebentar lagi akan digelar. Aku tidak boleh mengecewakan papa dan mama. Kali ini apapun yang mereka katakan akan kuturuti. Menjadi anak satu-satunya harus bisa membuat bangga orang tua.
Tok! Tok! Tok!
“Andra!” panggil Mama sambil mengetuk pintu.
Mataku yang belum sepenuhnya terpejam mendadak terbuka lebar. Aku bangkit dari ranjang dan membukakan pintu.
“Ada apa, Ma?” tanyaku.
“Ada yang nyari kamu. Udah sana temuin.” ucap Mama.
“Bukannya teman-temanku sudah pulang? Malam-malam kayak gini siapa lagi sih yang datang!” gerutuku dalam hati.
“Cepat sana temuin. Mama mau tidur.” ucapnya.
Aku segera menemui tamu yang tak diundang itu. Sesampainya di ruang tamu, aku melihat gadis dengan balutan gaun panjang.
“Priska? Ngapain kamu kesini malam-malam kayak gini?” tanyaku.
“Happy Birthday, Ndra. Sorry gue telat. Gue kesini cuma mau ngasih kado ini buat kamu. Terima ya.” Katanya sambil menyerahkan kado tersebut.
Menghargai kedatangan dan niat baiknya, aku menerima hadiah darinya.
“Makasih.” ucapku.
“Yaudah, kalau gitu gue pulang dulu ya.” pamitnya.
“Iya.” sahutku.
Aku mengantar dia sampai teras rumah. Kuharap sopir taxi yang mengantarnya pulang bisa diandalkan. Setelah mereka hilang dari pandangan, aku kembali ke dalam dan membuka kado tersebut.
Aku mendapat harmonika yang terukir namaku disana. Terdengar merdu suaranya ketika aku mulai meniupnya. Ternyata dia masih ingat kalau dari kecil aku suka harmonika.
Sewaktu kita masih pacaran dulu, aku dan Priska sering mengunjungi toko alat musik tersebut. Kita pernah bersantai di pantai sambil meniup harmonika di bawah pohon yang rindang.
Hmmmm, dia telah berhasil mengingatkan kenangan indah itu melalui harmonika ini.
__ADS_1