
“Andra?” Priska yang tadinya tak sadarkan diri, tiba-tiba bangun dan memanggilku pelan.
“Loe udah sadar?” tanyaku.
“Aku nggak apa-apa kok.” jawabnya sambil tersenyum.
“Maafin gue ya. Selama ini gue cuek banget sama loe, bahkan loe sakit pun gue sampai nggak tahu. Gue lebih mentingin kehidupan gue sendiri.” kataku pada Priska.
Dia tersenyum mendengar ucapanku. Priska terlihat tak seperti biasa. Aku menangkap raut wajah kepasrahan. Hatiku mendadak luluh lantah. Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya. Tapi...
“Siapa kamu?” Tiba-tiba terdengar suara laki-laki paruh baya di belakangku.
Aku menoleh kearahnya.
“Papa.” ucap Priska pada lelaki tersebut.
Baru kali ini aku bertemu papanya. Yang kutahu Priska hanya tinggal dengan pembantunya di sebuah rumah elit yang kuduga pemberian dari mamanya.
“Saya Andra, Om.” jawabku.
“Papa ngapain kesini?” tanya Priska dengan nada sedikit kesal.
“Kok kamu ngomong gitu sih. Papa kesini buat jengukin kamu. Emang kamu pikir siapa yang biayain kamu di rumah sakit ini?!” ucap Papa Priska.
“Mama mana, Pa?” tanya Priska.
“Mana Papa tahu. Nanya Mama kamu jangan sama Papa.” Jawabnya ketus sambil memandang ke arahku.
Merasa sungkan dan tak enak, mungkin sebaiknya aku pamit dulu. Biar mereka merampungkan urusan keluarganya tersebut.
“Pris, aku pulang dulu ya. Besok kesini lagi.” pamitku pada Priska.
“Iya, nggak apa-apa. Kamu pulang aja.” jawabnya.
“Om, Andra pamit dulu.” kataku pada Papanya Priska.
Ia hanya mengangguk sambil mempersilahkan aku pergi.
Huft!
Aku nggak habis pikir dengan keluarga itu. Tapi aku janji mulai hari ini akan memberikan perhatian pada Priska.
“Mau kemana loe?” Tanya Fransiska yang tiba-tiba muncul kembali.
“Gue mau pulang. Papanya Priska udah datang.” jawabku.
“Bagus deh kalau dia udah datang. Yaudah gue mau masuk dulu.” katanya.
Kami berpisah meneruskan tujuan masing-masing.
Sampai rumah, papa dan mama telah siap mengintrogasiku lagi! Mereka duduk di kursi depan rumah sambil menatapku.
“Kemana semalam nggak pulang? Udah mulai berani jadi anak nakal kamu!” ucap Papa.
“Sorry, Pa. Andra semalam nungguin Priska di rumah sakit. Dia kena kanker.” kataku terus terang.
“Apa? Bukannya kamu udah putus sama dia?” tanya Mama.
“Kita balikan lagi, Ma. Dia nekat bunuh diri kalau Andra nggak nerima dia lagi.” kataku jujur.
__ADS_1
“Huft! Anak jaman sekarang udah pada buta karena cinta.” gerutu Papa.
“Maafin Andra. Andra saat ini cuma ingin membuat Priska senang dan semangat buat hidup kembali.” kataku.
“Terserah kamu. Asal itu nggak mengganggu kuliah dan diving kamu.” ucap Mama.
“Iya, Ma.” pungkasku.
Aku melihat raut wajah papa yang kurang senang mendengar aku dan Priska balikan.
Ah, bikin pusing!
***
Keesokan paginya!
Aku buru-buru berangkat dari rumah menuju rumah sakit. Ingin sekali rasanya melihat Priska secepat mungkin. Aku kangen dengan senyum centilnya. Mungkin hatiku telah terbuka untuknya.
Bingkisan buah dan kue telah kubeli untuk oleh-oleh. Seikat bunga mawar juga kubawa untuknya. Dengan begitu, aku yakin ia akan suka. Tiba disana, aku melihat beberapa teman Priska juga telah datang menjenguk. Andira yang pertama melihatku langsung mempersilahkan masuk.
“Sini Ndra. Udah ditungguin tuh sama Priska.” Ucapnya sambil memberikan kursi untukku.
Aku duduk di samping ranjangnya sambil memberikan sesuatu.
“Cieeee, dibawain bunga.” celetuk Andira.
“Apaan sih loe.” jawab Priska tersipu.
“Loe nggak kuliah hari ini?” tanya Andira padaku.
“Nggak ada jadwal kuliah. Tapi hari ini gue mau latihan diving buat festival nanti.” jawabku.
“Aku ikut ya.” pinta Priska.
“Jam berapa loe latihan diving?” tanya Andira.
“Bentar lagi mau berangkat.” kataku.
“Yaudah, Priska biar gue yang jagain.” katanya.
Baiklah. Dengan begitu aku bisa tenang meninggalkan ia di rumah sakit. Hari ini Fransiska juga latihan diving bersamaku. Kita udah janjian bertemu di pantai. Tak berapa lama Yossy menghubungiku.
“Hallo.” jawabku.
“Loe dimana? Gue udah sampai pantai.” ucapnya.
“Gue masih di rumah sakit. Bentar lagi kesana.” jawabku.
“Yaudah, gue tungguin. Fransiska juga udah datang sama cowoknya.” pungkasnya dan mengakhiri telpon.
“Pris, gue berangkat latihan dulu ya. Nanti kesini lagi.” pamitku.
“Iya. Kamu berangkat gih.” ucapnya.
“Tolong jagain dia bentar ya,” kataku pada Andira.
“Oke.” pungkasnya.
Aku segera cabut dan tancap gas menuju pantai. Jarak yang lumayan jauh membuatku harus mengeluarkan jurus seribu kecepatan.
__ADS_1
Mbreeemmmm!!!!
Motorku melaju secepat kilat.
Sampai disana aku langsung ganti kostum dan mencari keberadaan Yossy dan Fransiska. Karena banyaknya manusia di area tersebut membuatku sedikit kesulitan menemukan mereka. Apalagi kostum mereka hampir sama.
Plak!!!
Seseorang menepuk punggungku.
“Sialan! Kemana aja sih loe?” gerutuku kesal pada Yossy.
“Masa gue berdiri di ujung sana loe nggak tahu.” ucapnya.
“Mana gue tahu. Lagian disana juga banyak orang.” jawabku.
“Yaudah, yuk!” ajaknya.
“Cewek tomboy tuh mana?” tanyaku pada Yossy.
“Udah nyebur duluan sama pacarnya.” jawab Yossy.
“Yaudah, kita susul aja.” ajakku.
Sebelum mulai, kami juga harus mengetahui tingkat kedalaman air laut yang akan diselami. Mengenali diri dan lingkungan juga sangat diperlukan. Kali ini aku dan Yossy membuat kesepakatan untuk tidak melampaui batas yang telah ditentukan. Karena si Kampret itu kadang-kadang bikin onar di dalam laut.
Saat menyelam, kita harus berhati-hati dengan kaki katak yang kita pakai agar tidak sampai menyentuh trumbu karang yang akhirnya bisa merusak atau bahkan bisa mengusik biota laut lainnya.
Latihan kali ini kita akan menyelam di laut sedang yang memiliki kedalaman sepuluh hingga tiga puluh meter. Dilengkapi peralatan khusus, kami pun siap menceburkan diri!
Byurrr!!!!
Air asin itu terasa sangat segar saat menyentuh tubuh. Aku terus menyelam dan meyelam seperti tak ada beban. Sosok Fransiska yang katanya telah menyelam duluan juga tak kutemui batang maskernya.
Ya, mungkin ia berada di tempat lain.
Aku pernah berkeinginan untuk pergi ke Belitung yang konon katanya memiliki pantai yang sangat indah. Tapi karena masih sibuk dengan jadwal kuliah dan kegiatan lainnya, keinginan tersebut belum terwujud. Padahal Papa dan Mama sering pergi kesana untuk berbisnis.
Selama menyelam, aku digoda sosok bintang laut yang sangat cantik. Ingin kubawa pulang dan kuberikan pada Priska sebagai tanda cinta. Tapi mana mungkin! Benda itu tidak bisa dikatakan sebagai tanda cinta. Karena tanda cinta sesungguhnya hanya dengan ikatan pernikahan.
Oh My God!
“Ya Tuhan, aku mohon beri Priska kesembuhan agar bisa menimati keindahan laut yang Kau ciptakan. Ingin sekali aku mengajaknya diving bersama. Akan kujaga dia dari ganasnya ombak lautan. Akan kuajari dia bagaimana menjadi penyelam. Aku mohon.” do’a ku dalam hati.
Setelah keluar dari sini, aku akan berusaha mencintai Priska setulus hati. Keterpaksaan itu akan kubunuh sampai mati. Memupuk benih cinta hingga ia bersemi. Akan kukalahkan kerasnya hati ini.
“Kumohon jaga dia. Berikan umur panjang untuknya. Angkatlah penyakitnya, wahai Tuhanku Yang Maha Esa.” ucapku dalam hati.
Tubuhku seakan limbung diterpa badai. Yossy menarikku dan membawaku ke permukaan.
“Balik yuk.” ajaknya.
“Ha? Cepet banget.” Kataku tak menyadari bahwa latihan kali ini telah usai.
“Mikirin apa sih loe? Kayak nggak konsen gitu.” ucap Yossy.
“Priska lah. Masa Brigitta!” celetukku.
“Eh! Jangan bawa-bawa cewek gue ya,” ucapnya mulai panas.
__ADS_1
Aku mengangkat sebelah alis dan mengabaikan ucapannya.
“Tenang aja, gue udah mulai lupain Brigitta.” kataku dalam hati.