
Sejak peristiwa semalam, aku sudah tak menghubungi Priska lagi. Percuma! Di kampus pun, ia jaga jarak denganku. Kemungkinan, papanya melarang dia untuk tidak berhubungan denganku lagi. Laki-laki yang saat ini tengah bersamanya mungkin merupakan cowok yang dikirim papanya untuk mengisi hati Priska saat ini.
Aku tak begitu memikirkan hal tersebut. Kalau emang itu yang terbaik untuk dia, ya...nggak apa-apa.
Sambil menunggu dosen datang, aku menyibukkan diri membaca materi hari ini.
Plak!
Dengan sengaja, Fransiska menepuk punggungku.
“Ngapain sih loe!” ucapku.
“Loe lagi berantem ya sama Priska?” tanyanya.
“Enggak.” jawabku.
“Masa sih? Gue perhatiin gaya pacaran kalian itu kayak anak kecil!” ucapnya.
“Bodo amat!” jawabku cuek.
“Gue denger sih, dia sering keluar malam sama cowok. Pacar loe kayak gitu loe nggak marah?” tanyanya.
Ia terlihat seperti sedang memprovokasi.
“Jangan sok tahu loe!” pungkasku.
“Gue agak heran juga sih. Kenapa tiba-tiba Priska jadi berubah kayak gitu.” timpalnya lagi.
Malas mendengar ocehannya yang semakin menggila, aku pun keluar ruangan. Mencari hawa segar di teras. Tak sengaja mataku tertuju pada sosok wanita berambut panjang. Sekelibatan bayangannya menuju arah perpus.
Sial!
Jangan sampai aku terlena olehnya.
Aku langsung kembali ke kelas. Tak berapa lama, dosen pun juga telah datang.
“Yossy mana?” tanya Fransiska.
“Mana gue tahu!” jawabku.
Tumben anak teladan itu belum datang! Kemana perginya?
***
Malamnya!
“Ndra, loe dimana sekarang? Loe bisa nggak kesini?” tanya Brigitta padaku melalui telpon.
“Emang ada apa?” tanyaku.
“Yossy! Yossy kecelakaan.” jawabnya.
“Apa? Kalian dimana sekarang?” tanyaku panik.
Setelah ia share lokasi, aku segera meluncur kesana bersama Panji dan Reno. Lokasi yang cukup sulit ditempuh karena terhalang oleh kemacetan!
Usai menerobos ratusan pengendara dijalan, akhirnya kami melihat Brigitta di pinggir jalan.
Aku dan kedua kawanku berlari menghampiri perempuan itu.
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Mobil Yossy bertabrakan dengan truk bermuatan kayu.” jawabnya sambil terisak.
“Gimana keadaannya?” tanya Reno.
“Barusan di bawa ke rumah sakit. Mobil ambulan itu datang agak terlambat.” ucapnya lagi.
“Yasudah, kita langsung ke rumah sakit aja.” kataku.
“Nggak bisa! Harus ada orang disini buat dimintai keterangan. Mobil Yossy juga udah diamanin polisi.” kata Brigitta.
“Tadi dia berdua sama loe?” tanyaku.
__ADS_1
“Enggak. Dia sendiri mau jemput gue. Kita mau pergi ke butik baru Mama.” jawabnya.
“Terus?” tanya Panji.
“Gue nunggu dia udah lama. Berkali-kali kutelpon nggak diangkat. Akhirnya dia telpon balik. Setelah gue angkat terdengar suara bapak-bapak. Dia ngasih tahu kalau Yossy kecelakaan.” terang Brigitta.
“Yaudah, kalian ke rumah sakit dulu aja. Biar gue yang disini. Ntar gue nanya ke warga sekitar barang kali banyak yang tahu kronologi kejadian tadi.” ucap Panji.
“Permisi, Mas. Apa kalian saudara laki-laki yang mengalami kecelakaan barusan?” tanya seorang warga.
“Kami sahabatnya, Pak.” jawabku.
“Tadi saya melihat mobil sahabat Mas melaju sangat kencang. Dipertigaan situ ada truk bermuatan kayu sedang melintas. Dengan gesit kedua kendaraan itu saling menyambar. Pembatas jalan sampai bengkok seperti itu.” Ucap salah satu warga sambil menunjukkan tempat kejadian.
“Apa Bapak yang menelpon saya tadi?” tanya Brigitta.
“Iya, Mbak.” jawabnya.
“Bapak lihat nggak keadaannya gimana?” tanyaku.
“Sepertinya kepala teman Mas terbentur. Tapi, kurang tahu juga ya. Soalnya banyak darah dimana-mana.” jawabnya.
“Astaga!” ucap kami lirih.
“Kalian ke rumah sakit dulu aja. Ntar gue nyusul.” perintah Panji.
Akhirnya aku, Reno dan Brigitta menuju rumah sakit untuk menemani Yossy. Kuharap ia bisa tertolong.
Melihat keadaan mobil yang hancur tak berbentuk, sudah bisa dipastikan bahwa hantaman dari truk tadi sangatlah parah. Mobil aja bisa ringsek seperti itu, apalagi manusia.
Sampai di rumah sakit, kami mendapat informasi bahwa Yossy sedang dalam perawatan. Keadaannya belum bisa dipastikan. Harus menunggu keputusan dokter.
“Loe tahu nggak, kenapa tadi pagi Yossy nggak kuliah?” tanyaku pada Brigitta.
“Katanya lagi benerin mobil di bengkel.” jawabnya.
Wah, bisa jadi mobil itu masih bermasalah. Nggak biasanya teman laki-lakiku itu mengendarai mobil kebut-kebutan. Anak teladan seperti dia sangat mematuhi peraturan lalu lintas.
Satu jam kemudian, Panji datang dan memberi tahu kami bahwa mobil milik Yossy bermasalah. Ia tak bisa mengendalikan laju kendaraannya. Di dalam mobil, terdapat rangkaian bunga yang ditujukan untuk Mamanya Brigitta sebagai ucapan selamat atas dibukanya butik baru itu. Ada kado juga yang berisi jam tangan ber merk. Akan tetapi, semua itu telah hancur akibat ringseknya mobil Yossy.
“Ya harus donk! Nanti kalau ada apa-apa kita juga yang kena!” jawab Reno.
“Yaudah, tugas loe tuh Ndra!” ucap Panji.
“Kok gue sih?” kataku.
Bisa-bisa aku dimarahin juga sama orang tuanya. Yang mereka tahu, anaknya sering main denganku. Jangan sampai karena kecelakaan itu, mereka naik pitam.
“Buruan! Ntar dokter juga nanya orang tuanya dimana!” timpal Brigitta.
Akhirnya kuturuti perintah mereka. Dengan hati yang bergetar, aku pun menghubungi papanya.
Beliau yang tengah disibukkan dengan berbagai macam bisnis, terpaksa harus meninggalkan Yossy di rumah bersama seorang pembantu.
Setalah menunggu telpon tersambung, kudengar ada jawaban disana. Suara papanya!
“Hallo, dengan siapa ya?” tanya Papa Yossy.
“Hallo, Om. Ini Andra. Om apa kabar?” tanyaku basa-basi.
“Oh, kamu Ndra. Kabar Om baik. Gimana kuliah kamu? Yossy juga baik-baik aja kan?” tanyanya.
******!
Mau tak mau aku harus mengatakan sejujurnya.
“Begini, Om. Andra mau ngasih tahu kalau Yossy baru saja mengalami kecelakaan.” ucapku.
“Apa? Kapan? Sekarang gimana keadaannya?” tanya beliau panik.
“Barusan, Om. Keadaannya masih menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.” jawabku.
“Kok bisa sampai kecelakaan gimana ceritanya? Dia sama kamu?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Enggak, Om. Yossy sendiri. Kata warga yang melihat kejadian tersebut, mobil Yossy melaju kencang hingga bersrempetan dengan truk bermuatan kayu. Mobilnya rusak parah, Om.” jelasku.
“Astaga, anak itu!” ucapnya.
Suasana mendadak hening, hanya terdengar hembusan nafas.
Beberapa menit kemudian.
“Andra, apa kamu masih mendengar suara Om?” tanya beliau lagi.
“Iya, Om. Masih.” jawabku.
“Saat ini Om masih ada kerjaan. Nanti Om transfer uang untuk biaya perawatan Yossy. Tolong kamu temenin Yossy sampai sembuh ya. Kalau kerjaan Om sudah selesai pasti segera kesana.” ucapnya.
“Baik, Om.” jawabku.
Sambungan telpon pun terputus.
Papanya Yossy memberi tugas yang cukup berat untukku. Bukan hal yang mudah menjaga orang sakit sambil kuliah. Aku harus bolak balik ke kampus dan ke rumah sakit dengan jalur yang berbeda. Tapi tak apa, aku akan menjalankan amanat itu.
“Gimana, Ndra?” tanya Brigitta.
“Papanya belum bisa kesini. Katanya nanti akan transfer uang untuk biaya perawatan Yossy. Gue disuruh nungguin dia sampai sembuh.” ucapku.
Panji dan Reno yang juga ikut mendengarkan, hanya bisa pasrah. Beruntungnya, jadwal kuliahku dan Brigitta nggak sama. Jadi kita bisa gantian berjaga.
Tak lama, dokter pun keluar dari ruangan diaman Yossy dirawat.
“Gimana Dok keadaan Yossy?” tanya Panji.
“Anda keluarganya?” tanya Pak Dokter.
“Saya sepupunya, Dok.” ucapku.
“Begini, saudara Yossy kehilangan darah cukup banyak. Kami membutuhkan darah sesuai dengan golongan darah sepupu anda.” ucap Dokter.
“Golongan darahnya apa, Dok?” tanyaku.
“Golongan darahnya O.” jawab beliau.
Kami berempat saling memandang.
“Gue A.” ucap Brigitta.
“Gue sama Panji juga A.” kata Reno.
“Duh gimana nih. Gue juga A.” kataku.
“Lebih baik kalian segera menemukan seseorang dengan golongan darah O. Dengan begitu nyawa Yossy bisa segera terselamatkan. “ ucap Dokter.
Satu-satunya orang yang bisa kita temukan yaitu orang tuanya sendiri.
Akhirnya aku menelpon orang tua Yossy lagi.
Kali ini telponku langsung diangkat.
“Hallo, Andra. Gimana?” tanya Papa Yossy.
“Om, Yossy membutuhkan darah. Golongan darah Om apa?” tanyaku.
“Golongan darah saya O. Tapi kalaupun Om kesana sekarang juga nggak mungkin, Ndra. Perjalanan Om cukup jauh. Coba kamu tanya ke teman-teman dan orang dekat situ.” ucap beliau.
“Baik Om.” pungkasku.
Aku dan ketiga kawanku langsung menyebar status di media sosial bahwa kami sedang mencari donatur dengan golongan darah O. Media sosial adalah cara paling jitu untuk menemukan orang-orang yang kita cari. Termasuk bantuan semacam itu.
Selain itu aku juga menghubungi Priska barang kali memiliki golongan darah yang sama. Tapi lagi-lagi ia mengabaikanku. Ya sudahlah! Aku cari yang lain saja!
Tak sampai menunggu lama, Rebecca datang sambil membawa makanan.
“Ndra, nggak perlu nyari jauh-jauh. Golongan darah gue O.” ucapnya.
“Alhamdulillah, akhirnya loe datang sebagai dewa penyelamat lagi.” kataku.
__ADS_1
Lantas, kuantarkan ia menemui suster untuk diambil darahnya. Kuharap Yossy tidak sampai kehabisan darah.
Sebelum Rebecca memberikan darahnya, ia harus diperiksa terlebih dahulu apakah layak untuk didonorkan atau tidak. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya ia dinyatakan lolos.