Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 22


__ADS_3

“Masih belum sadar juga nih anak.” ucapku.


Tak berapa lama dosen datang dan memberi peringatan pada kami untuk tidak melakukan hal macam-macam selama di perpus.


“Bapak beri peringatan ya, jangan sekali-kali kalian melakukan hal aneh di ruangan itu.” ucap beliau.


Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil balsem dan kuoleskan pada hidung Yossy. Biar ****** sekalian tuh anak! Kesal sekali rasanya.


“Gila loe. Bisa kepanasan tuh hidung Yossy.” celetuk Reno.


“Biarin aja! Biar dia sadar.” kataku.


Dan benar, tak lama kemudian ia pun sadar dan membuka matanya. Ia melihat beberapa orang sedang mengerumuni dirinya di sebuah ruangan.


“Gue kenapa?” tanyanya.


“Loe baru aja pingsan.” jawab Panji.


“Nih minum.” Kataku sambil memberikan segelas air putih untuknya.


Setelah ia pulih, aku mengajaknya ke kelas untuk mengikuti mata kuliah hari ini.


“Loe tadi lihat apa bisa sampai pingsan kayak gitu?” tanyaku.


“Tadi...tadi gue ketemu sosok itu.  Wanita berambut panjang. Dengan wajah yang sangat menyeramkan, ia menghampiri dan ingin mencekikku. Matanya melotot dan berlumuran darah.” terang Yossy.


“Makanya loe nggak usah aneh-aneh.” ucapku.


“Udah, diem! Dosen datang tuh!” pungkasnya saat melihat dosen masuk kelas.


***


Keseringan latihan ngeband sampai lupa kalau hari ini ada jadwal latihan diving. Kali ini mama dan papa ikut menemani. Usai kuliah, kami langsung berangkat ke pantai untuk menikmati pesona bawah laut. Mama yang suka berenang dan papa yang suka bermain di atas banana boat membuat keluarga ini sangat kompak jika berlibur di


pantai.


“Mama ngajak Silvia loh.” ucapnya.


Silvia? Anak siapa lagi tuh yang dibawa mama. Ngapain juga harus ada orang lain diantara kami bertiga? Bukankah dengan begitu bisa merusak privasi keluarga?


“Silvia karyawan baru di kantor Mama. Hobinya juga sama dengan kamu.” Ucap Mama padaku sambil memperkenalkan wanita berkulit sawo matang itu.


Aku hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah kata pun. Sepertinya akan lebih baik jika aku mengekor di belakang papa. Kubiarkan wanita bernama Silvia itu berenang bersama mama.


Byur!!!


Aku mulai menyelam bersama papa. Entah kenapa hari ini papa ingin diving bersamaku. Biasanya kalau ke pantai, ia lebih suka bermain banana boat.


Tubuhku mulai menari-nari menyisir dalamnya lautan. Berjumpa dengan sosok ikan yang menyerupai paus tapi postur tubuhnya sangat kecil. Wah, aku jadi teringat Yossy!


Satu jam kemudian, aku kembali ke permukaan. Rasanya diving kali ini ada yang kurang tanpa kehadiran Yossy. Kemana ya dia? Tumben nggak datang. Padahal kan dia juga akan ikut festival!


“Pa, gimana rasanya diving bersama Andra?” tanyaku pada Papa.


 “Huft! Tenaga papa sudah tak sekuat dulu. Apalagi musuhnya anak muda seperti kamu.” ucap Papa.


“Kita istirahat dulu yuk, Pa. Andra capek.” ucapku.


“Nanti malam kamu ada acara kemana?” tanya Papa.


“Latihan ngeband, Pa.” Jawabku sambil menyeka tubuh dengan handuk.


“Yaudah, kamu pulang dulu sana. Istirahat. Jaga kesehatan.” nasehat Papa.


“Mama gimana, Pa?” tanyaku.


“Mama biar sama Papa. Kita juga masih ada kerjaan setelah ini.” pungkasnya.


“Yaudah, Andra pulang dulu.” Kataku sambil meninggalkan Papa yang masih duduk santai sambil menunggu Mama dan karyawan barunya itu.

__ADS_1


Sampai rumah, aku mandi dan tidur sebentar. Badanku rasanya pegal-pegal. Apalagi nanti harus menabuh drum dan symbal! Hmmmmm, terasa capek tapi menyenangkan.


Oh iya, aku belum ngasih kabar Priska. Kayaknya hari ini dia sibuk ngerjain tugas kuliahnya.


“Hallo sayang,” kataku melalui telpon.


“Hai, gimana latihan diving nya? Seru kan?” tanyanya.


“Seru banget. Apalagi ditemenin sama Papa.” kataku.


“Oh iya sayang, aku udah selesai ngerjain tugas kok.” ucapnya.


“Cepet banget. Yakin udah?” tanyaku.


“Udah, beneran.” jawabnya.


“Yaudah, nanti aku jemput.” Pungkasku dan mengakhiri telpon.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba terdengar ada seseorang mengetuk pintu rumah.


“Siapa?” tanyaku.


Ia tak menjawab.


Yaudah, aku juga nggak mau membukakan pintu untuknya. Aku kembali ke ruang tamu sambil membuka aplikasi pengeditan video. Disana aku mulai berkreasi menggabungkan video yang telah kurekam dan memberinya sentuhan lagu agar menarik untuk dilihat dan didengar. Rekaman yang berisi beberapa video ikan dan keindahan laut beserta isinya akan kupajang di media sosial.


Tok! Tok! Tok!


Pintu rumah kembali diketuk.


“Siapa sih!” gerutuku.


Akhirnya kubuka pintu tersebut. Kulihat Silvia berdiri sendiri di depan pintu. Ngapain ia kemari?


“Oh kamu. Ada apa?” tanyaku.


Ngapain juga mama nyuruh dia!


“Tapi, sorry sebelumnya. Ntar gue mau jemput Priska.” jawabku.


"Cewek loe?" tanyanya.


"Iya.' jawabku


“Terus gue gimana?” tanyanya bingung.


“Yaudah, gue anterin loe pulang aja sekarang.” kataku.


Kubonceng gadis itu menuju rumahnya sebelum menjemput Priska. Dia duduk di belakang sambil menunjukkan arah dimana ia tinggal. Sampai dipertengahan jalan hp ku berdering. Terpaksa kuhentikan laju motorku.


Priska!


“Hallo sayang,” jawabku.


“Kamu lagi dimana?” tanyanya.


“Di jalan mau jemput kamu." jawabku.


“Sama siapa?” tanyanya.


“Sendiri lah!” jawabku.


“Bukannya kamu boncengin cewek!” katanya ketus.


******!


Darimana dia tahu kalau aku sedang bersama Silvia?

__ADS_1


“Iya. Aku sama Silvia. Karyawan baru Mama.” akhirnya aku mengakui.


“Kamu nggak perlu jemput aku. Aku nggak di rumah. Anter aja tuh cewek!” jawabnya kesal.


“Emang kamu dimana?” tanyaku.


“Di rumah kamu.” jawabnya dan langsung menutup telpon.


Aduh, dasar cewek! Bener-bener bikin pusing. Trus gue harus gimana ini?


“Pacar kamu telpon?” tanya Silvia.


“Iya." jawabku.


“Yaudah aku turun disini aja. Aku bisa pulang sendiri kok. Kamu temui cewek kamu aja.” Ucapnya dan turun dari motorku.


“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku.


“Nggak apa-apa.” jawabnya.


“Yaudah. Bye....” pungkasku.


Sebelum aku pergi, kupastikan Silvia sudah menemukan taxi. Selanjutnya aku kembali pulang untuk menemui Priska. Tapi setelah sampai rumah, aku tak menemukan sosoknya. Aku mencoba menghubungi ponselnya namun nggak aktif.


Tuling!


Tiba-tiba hp ku berbunyi.


“Buruan ke studio! Udah jam berapa nih!” pesan dari Yossy.


Kampret! Aku telat.


Tanpa menunggu lama aku kembali menyisir jalan raya yang sepertinya sudah bosan kulewati. Bolak-balik kesana kemari. Sungguh, bikin pusing sendiri.


Oh Tuhan, semoga Priska sudah ada di studio bersama teman-temanku yang lain.


Sampai sana, aku langsung menemui personil Sunrise Band.


“Lama banget sih loe! Priska mana?” tanya Panji.


“Lhoh, dia belum datang?” tanyaku balik.


“Kok loe malah nanya gue. Bukannya loe mau jemput dia?” tanya Panji lagi.


“Loe tuh gimana sih, Ndra!” timpal Yossy.


“Gara-gara nyokap gue sih! Mama nyuruh Silvia nemenin gue ngeband. Trus gue bilang sama cewek itu kalau gue mau jemput Priska. Akhirnya cewek itu gue anterin pulang. Sampai di tengah jalan Priska tau kalau gue sama cewek lain.” jelasku.


Tak berapa lama Reno datang sambil membonceng seorang cewek.


“Reno sama siapa tuh?” Tanya Yossy sambil mengintip dari jendela kaca studio.


“Pacar barunya kali!” jawab Panji.


“Bukannya itu Priska?” ucap Yossy memastikan.


“Masa sih?!” kataku sambil ikutan mengintip.


Benar. Reno datang bersama pacarku. Aku tahu mungkin ia bertemu di jalan dan sekalian berangkat kesini. Aku langsung menemui mereka berdua.


“Ternyata loe udah sampai, Ndra?” celetuk Reno.


“Gue baru sampai.” jawabku.


“Loe tuh gimana sih bisa-bisanya biarin Priska jalan sendirian?” protesnya.


“Bukannya gitu.” jawabku.


“Ternyata loe bisa selingkuh juga ya!” timpal Priska yang mulai angkat bicara.

__ADS_1


“Apa? Loe selingkuh Ndra? Brengsek juga loe ternyata!” ucap Panji kesal.


__ADS_2