Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
1. Sebatas Mengagumi


__ADS_3

Angin menerpa dedaunan yang basah oleh embun dipagi hari. Kicauan burung bagai alunan musik yang merdu mengiringi sang fajar di ufuk timur. Seorang nona muda sedang menggeliat dari tidur indahnya. Mencoba mengumpulkan nyawanya untuk bangun dari mimpi manisnya.


Perlahan-lahan, dihempaskannya selimut yang membungkus tubuh mungilnya itu. Sembari bersandar di headboard. Lalu dia mencoba meraih gawainya diatas nakas.


"Ya Tuhan... Sudah jam 7 pagi?" teriaknya sambil loncat dari atas tempat tidur.


"Aduh mamp*s hari pertama ospek kesiangan," gumannya sambil menunju ke kamar mandi.


Tanpa berlama-lama, wanita itu kemudiaan menyelesaikan rutinitas paginya dan buru-buru mencari barang-barang yang dibutuhkan untuk dibawanya. Gadis cantik itu adalah putri bungsu dari 2 bersaudara keluarga Jackson. Ayahnya adalah seorang pebisnis kaya yang bergerak di bidang properti.


"Selamat pagi princess!" sapa kedua orang tuanya.


"Pagi Dad Mom!" balasnya.


"Hari pertama kuliah sudah telat," ledek sang kakak.


"Nggak usah berisik deh kak! Mending sekarang anterin aku ke kampus yuk!" katanya.


"Ogah banget." jawab kakaknya.


Sang kakak masih sedikit kesal dengan sikap adik kesayangannya itu. Bagaimana tidak, adiknya itu sempat memohon kepadanya untuk diturunkan sedikit jauh dari gerbang kampusnya agar tidak ada yang tau tentang identitasnya.


Sesampainya di kampus Berlyn buru-buru menuju ke halaman tempat ospek diadakan. Baru juga hari pertama, tapi dia sudah mendapatkan hukuman dari seniornya. Jelas saja hukuman itu dia dapatkan, alasannya karena dia telat dan karena beberapa atribut yang tidak dikenakannya.


"Keliling lapangan sepuluh kali putaran!" perintah sang senior.


Berlyn hanya bisa diam dan menjalankan hukuman tersebut. Dia tidak ingin diberikan hukuman semakin berat dari seniornya bila membantah perintahnya. Padahal sang ayah adalah salah satu donatur tetap kampus itu.


Namun sayangnya cuaca sangat tidak bersahabat. Dan terik matahari begitu menyengat dan membakar kulit. Baru saja dua kali putaran tapi wanita itu sudah ambruk pingsan.


Beberapa orang nampak panik karena adanya salah satu mahasiswa baru peserta ospek yang pingsan. Mereka pun segera membawa ke ruang perawatan. Dan seorang senior tampan berusaha mengoleskan minyak angin di hidung mancung Berlyn.


Tak berapa lama, gadis cantik itu terbangun. Dengan masih sedikit pusing, dia mencoba untuk bangun dari ranjang. Ditatapnya seorang laki-laki muda yang mengenakan jas almamater kampusnya itu.


"Anda siapa?" tanya Berlyn penasaran.


"Aku adalah Zyan..." jawabnya


"Tadi kamu pingsan, jadi aku bawa kemari," lanjutnya "Bila kamu sudah baik-baik saja, silakan untuk bergabung lagi dengan peserta yang lain!"


"Terima kasih banyak kak," kata Berlyn, sementara Zyan hanya tersenyum manis sambil berlalu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Zyan Kala Delwynn berparas tampan, berdarah Indonesia dan Filipina. Lelaki dengan tinggi 170 cm itu selalu membuat para wanita tergila-gila oleh ke tampannya. Mahasiswa semester 4 fakultas desain grafis itu selalu sukses membuat para kaum hawa mengejar-ngejar cintanya. Namun sayangnya lelaki itu selalu bersikap dingin sedingin es.


"Oh ya Tuhan... tampan sekali ciptaanmu." guman Berlyn.


Berlyn yang merasa sudah baik-baik saja akhirnya kembali berkumpul dengan peserta maba yang lain. Wanita itu kemudian mengikuti semua aktivitas yang sudah dijadwalkan hingga sore menjelang.


Namun pandangan wanita itu sedari tadi tak lepas dari sosok Zyan yang tampan. Dan menurut Berlyn, laki-laki itu bak pangeran dari kerajaan dongeng. Oh sungguh pemandangan yang sangat tidak boleh dilewatkan.


"Hay kamu kenapa? Perasaan dari tadi senyum-senyum sendiri," tanya Keyla Manohara sahabat Berlyn.


"Lihatin pangeran..." jawab Berlyn cengengesan.


Seketika Keyla memegangi jidat Berlyn yang tidak panas. "Perasaan nggak panas, tapi kok gila ya?" celetuknya.


"Aduh apaan sih Key? Aku lagi mandangin masa depan tau?" jawab Berlyn.


"Iya sih ya, buat kamu mungkin anugerah tapi buat cowok itu bakal jadi musibah." jawab Keyla tanpa dosa.


"Dih nyebelin deh, nggak bisa lihat temen seneng dikit." balas Berlyn.


Tanpa dipungkiri ternyata Zyan telah sukses membuat Berlyn terpesona pada pandangan pertama. Wanita itu juga tak mengelak bahwa dia mengagumi laki-laki itu.


"Duluan aja deh Key, aku mau nungguin kak Julian!" jawab Berlyn.


"Eh kalo gitu aku nebeng aja deh?" kata Keyla.


Berlyn hanya bisa mendegus sebal mendengar kata-kata Keyla. Bagaimana tidak, sedari dulu Keyla selalu berusaha mendekati kakaknya. Berbagai cara Keyla lakukan agar Julian mau menoleh kepadanya. Namun ternyata Julian sama sekali tak meresponnya.


"Pulang sendiri aja sana! Lagian sopir pribadimu juga sudah menunggumu sedari tadi." kata Berlyn.


"Dih pelit banget sama temen sendiri juga." kata Keyla yang kemudian pergi meninggalkan Berlyn dengan menggerutu sebal.


Berlyn pun hanya mampu tertawa puas setelah menolak permintaan sahabat baiknya itu. Sebenarnya dia mendukung sahabatnya bisa mendampingi kakaknya. Namun dia juga tidak mau kakaknya selalu merasa risih karena dikejar-kejar oleh Keyla.


"Hay kamu belum pulang?" tanya Zyan pada Berlyn dari dalam mobil. Sementara Berlyn hanya celingukan melihat siapa yang dipanggil oleh Zyan.


"Iya kamu..." tunjuk Zyan, "Siapa namamu?"


"Aku Berlyn kak.." jawabnya.


"Kenapa belum pulang, hari sudah mau gelap? Apakah butuh tumpangan?" tanya Zyan.

__ADS_1


"Tidak kak terima kasih." tolak Berlyn, "Saya sudah order ojek, mungkin sebentar lagi sampai."


"Baiklah kalau begitu aku duluan," ucap Zayn


Zyan pun kemudian pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Berlyn pun masih setia memandangi mobilnya yang semakin menghilang.


"Permisi nona, tukang ojek anda sudah datang!" kata Julian.


"Astaga kakak bikin kaget aja deh," jawab Berlyn yang terlihat kaget oleh suara kakaknya itu.


"Wah baru sehari masuk kampus udah dapat penggemar aja," ledek Julian.


"Siapa laki-laki itu?" imbuhnya.


"Apaan sih kakak, dia cuma senior aku aja," jawab Berlyn.


"Tapi kayaknya tuh cowok tajir juga," kata Julian yang masih berusaha menggoda adiknya.


"Aduh apaa sih kak, mending pulang aja yuk!" ajak Berlyn.


"Ih ogah banget, pulang sendiri aja sana! Tadi katanya udah order ojek," kata Julian yang bergegas menuju ke mobilnya.


"Kakak tungguin!" teriak Berlyn yang berlari menuju mobil sang kakak.


Diperjalanan pulang Berlyn berbincang dengan Julian. Gadis abg itu menceritakan semua aktifitasnya di kampus selama menjadi peserta maba. Namun dia tidak menceritakan saat kejadian pingsannya tadi. Karena bisa-bisa sang kakak akan merasa khawatir.


"Oh ya kak, besok aku ke kampus naik motor sendiri aja deh," kata Berlyn.


"Kenapa harus naik motor? Dirumah juga ada supir pribadi yang siap mengantarmu," kata Julian.


"Tidak kak, aku ingin mandiri," tolak Berlyn.


"Tapi aku tak yakin, Mom and Dad akan setuju," jawab Julian.


Berlyn hanya dapat cemberut. Sudah bisa dipastikan, kedua orang tuanya itu akan menolak keras akan permintaan Berlyn untuk memakai motor sendiri ke kampus. Fasilitas lebih dari itu bisa Berlyn dapatkan. Namun entah mengapa wanita itu lebih memilih untuk tampil dan terlihat sederhana.


"Sudahlah jangan cemberut, kami melakukan ini semua supaya kamu bisa nyaman dan aman!" hibur Julian.


"Nanti aku akan mencoba bicara pada Daddy," imbuhnya.


"Iya, terima kasih banyak kak," balas Berlyn.

__ADS_1


__ADS_2