
Matahari menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Warna merah di langit pun penanda waktu matahari telah terbenam. Sang gadis ayu dengan perasaan campur aduk memandanginya dengan penuh kekaguman atas ciptaan Yang Maha Kuasa.
Indah adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Dengan kamera smartphone canggihnya, Julian mengabadikan pemandangan indah disampingnya. Dia nampak mengambil foto candid Berlyn dari arah samping. Wanita itu sangat cantik dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Apakah kau puas?" tanya Julian.
"Yah sangat puas." Berlyn memalingkan pandangannya ke arah Julian. "Terima kasih banyak kak!"
"Your welcome princess!"
Sore telah tergantikan oleh gelapnya malam. Dan kini Julian serta Berlyn tengah menikmati makan malam di tepi pantai. Di terangi cahaya bulan purnama juga ditemani hembusan angin, menambah kesyahduan malam itu.
"Wah, suasana malam ini tampak indah sekali bukan?" tanya Julian meminta persetujuan dari Berlyn.
"Indah sih kak, tapi....?"
"Tapi kenapa?" Raut muka Julian berubah panik, takut Berlyn tidak menyukai tempat yang telah diaturnya untuk dinner malam ini.
"Tapi makan malamnya jadi nggak romantis, soalnya ditemani jomblo abadi kaya kakak." jawab Berlyn sambil tertawa puas sudah meledek kakaknya.
"Huu..... sialan loe!" cebik Julian.
"Mana ada jomblo seganteng dan sekeren kakak? Lagian banyak cewek yang ngejar-ngejar kakakmu ini." belanya.
Berlyn semakin tertawa terbahak-bahak mendengar kepedean kakaknya yang level dewa itu. Ingin sekali dia menoyor kepala Julian yang terkadang agak bloon kalau menyangkut masalah hati dan juga wanita.
"Mana ada cowok ganteng yang nggak laku-laku? Lagian ya kak, sampai sekarang juga kamu nggak ada tuh kencan sama para gadis yang menjadi pengagummu?" balas Berlyn.
"Eh sorry ya, kakak bukannya nggak ada yang bisa diajak ngedate. Cuma emang lebih selektif aja pilihnya." kelak Julian.
"Widihhh lagaknya sok ganteng amat. Pakai acara selektif pilih pasangan..."
__ADS_1
"Ya iyalah, ketimbang kenalan ngerasain nyaman terus jadian. Eh habis itu putus ditengah jalan. Kan sayang banget, cuma jagain jodoh orang. Nyesek nggak tuh?" jawab Julian.
"Wah kayaknya pengalaman pribadi ya bro? Hafal banget sama alurnya." ledek Berlyn kembali.
"Sialan loe!" jawab Julian sambil melempar tisue ke muka Berlyn. Namun wanita itu malah semakin tertawa terbahak-bahak hingga membuat perutnya sakit.
Menurut Berlyn, hal yang paling menyenangkan selama ini adalah saat melihat kakaknya kesal. Dan salah satu yang bisa membuatnya kesal adalah saat membahas tentang masalah jodoh dan mengatainya sebagai jomblo abadi.
Mereka berdua kini kembali menikmati hidangan makan malam yang telah tersaji di atas meja makan dengan tenang. Berbagai olahan seafood kesukaan Berlyn tertata rapi didepannya. Semuanya nampak lezat dan nikmat.
"Pelan-pelan makanya, tidak ada yang akan merebutnya darimu!" ucap Julian.
"Aku sangat lapar kak." jawab Berlyn yang kembali melanjutkan makannya. Tidak ada image jaim saat melahap makanan di depannya. Dia terlihat sangat lahap.
"Laper kagak, doyan sih iya." ledek Julian. "Emang dasar cewek bar-bar, makan kagak ada manis-manisnya. Rakus banget sih?"
"Sewot aja sih kak? Kalo nggak buruan makan, ntar aku habisin semua baru tau rasa!" ancam Berlyn. Sementara Julian hanya dapat tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kerakusan Berlyn saat menyantap makanan favoritnya.
Berlyn serta Julian hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk menghabiskan semua hidangan penuh di atas meja. Dan sudah bisa dipastikan, yang terbanyak melahap hidangan itu adalah Berlyn. Julian hanya menghabiskan satu porsi steak dan segelas orange jus saja.
"Jangan lama-lama ya! Aku tunggu di sini." jawab Julian yang kemudian fokus mengecek beberapa email yang masuk di hpnya.
Berlyn pun akhirnya menuju ke toilet. Namun tanpa sengaja dia berpapasan dengan Zyan. Betapa kagetnya dia saat melihat sang senior pujaan hatinya. Namun mereka tidak saling menyapa dan seolah seperti orang asing. Gadis itu kemudian mempercepat langkahnya. Dia seperti nampak enggan untuk berlama-lama disana.
Setelah sampai di toilet, dia membasuh mukanya. Kemudian dipandanginya pantulan dirinya lewat cermin. Pikirannya mulai melayang, mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Hatinya semakin mantap untuk pergi. Karena keinginannya agar bisa melupakan lelaki yang telah menolaknya.
"Aku harap Mom and Dad bisa cepat pulang, agar aku bisa cepat pergi dari sini!" gumannya.
Setelah puas berkaca, Amberlyn kemudian menancapkan sedikit bedak ke pipinya. Tak lupa dipoleskan lipstik ke bibirnya. Dia kini telah terlihat segar kembali. Dan Merasa sudah cukup, ia kemudian kembali menuju meja yang tadi di dudukinya.
"Lama banget sih?" gerutu Julian saat adiknya kembali duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Baru sepuluh menit udah dibilang lama." elak Berlyn.
"Habis ini kita mau lanjut kemana kak?" tanyanya sambil meminum jus alpukat miliknya sampai tandas.
"Gimana kalo kita main ke pedestarian sekitar sini aja? Katanya sepanjang jalannya cukup indah kalo malam." ucap Julian.
"Ide bagus tuh kak. Cabut sekarang aja yuk!" Berlyn yang sudah merasa tak sabar, sudah terlebih dahulu beranjak meninggalkan Julian disana.
"Ya elah, main ditinggal aja. Dasar adek kagak ada akhlak." umpat Julian kesal. Mau tidak mau dia kemudian berlari mengejar Berlyn yang sudah sampai diluar.
Sepanjang perjalanan menuju ke destinasi selanjutnya, Berlyn hanya diam. Gadis itu lebih suka memandang ke luar jendela mobil. Tidak ada keceriaan seperti tadi saat dipantai.
Sebenarnya dia bukannya ingin cepat-cepat pergi ke tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Namun dia sangat enggan bila nanti bertemu lagi dengan Zyan.
"Kamu kenapa cemberut, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Julian membuka percakapan
"Ah tidak kak, aku hanya lelah saja." elak Berlyn.
"Kalo kamu lelah mending balik aja yuk ke resort!" ajak Julian sambil melirik ke arah Berlyn. Ada rasa khawatir di hati Julian. Pria dengan balutan kaos berwarna putih itu takut adiknya kembali sedih karena mengingat tuan muda Delwynn.
"Nggak perlu kak, lagi kita juga udah setengah perjalanan. Paling sebentar lagi juga sampaikan?" Berlyn mencoba meyakinkan Julian agar tidak membatalkan tujuan mereka.
"Baiklah kalau begitu." jawab Julian.
Dan akhirnya, tak lama kemudian mereka sampai ke pedestarian tersebut. Setelah turun dari dalam mobil, Berlyn terlihat kembali bahagia. Julian pun mengandeng adiknya dan mengajaknya jalan.
"Astaga kak, aku bukan anak kecil. Kenapa kamu ngegandengnya kenceng amat sih?" keluh Berlyn yang tak terima atas sikap kakaknya.
"Huss, diem bisa nggak sih?" jawab Julian.
"Ntar kalo kamu ilang, aku nggak punya adek bar-bar kaya kamu gini dong?" lanjutnya.
__ADS_1
Sementara Berlyn hanya mampu geleng-geleng kepala aja. Berlyn cukup paham dengan sikap overprotektif yang dimiliki kakaknya. Dia tahu betul, kakaknya takut ada yang mengganggunya bila berjalan sendiri-sendiri.
Berlyn dan Julian kini tengah menikmati berjalan-jalan di tempat wisata itu. Mereka juga mampir ke toko souvernir di sekeliling, untuk membelikan oleh-oleh. Sesekali mereka juga berfoto disana.