Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
8. Permintaan Berlyn


__ADS_3

"Aku mohon kak!" pinta Berlyn.


Julian masih terdiam sambil memijit pelipisnya. Dia nampak bingung dengan permintaan Berlyn. Namun Berlyn adalah orang yang sangat keras kepala. Semakin Julian menolaknya, semakin Berlyn akan nekat.


Biasanya semua permintaan Berlyn akan dipenuhi oleh Julian. Apapun itu, pasti Julian akan berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Tapi untuk permintaan adik tercintanya itu, kali ini sepertinya akan sangat sulit Julian kabulkan.


"Apakah kamu tidak bisa meminta yang lain selain itu?" tanya Julian meyakinkan.


"Tidak kak, keputusanku sudah bulat!" jawab Berlyn.


"Ayolah manis, aku akan melakukan apapun! Tapi tidak akan aku ijinkan kalau kamu meminta jauh dariku." ucap Julian.


"Kak aku mohon padamu! Sekali ini bantu aku meminta ijin pada daddy dan mommy." pinta Berlyn lagi.


"Baik aku akan mencobanya, tapi aku tidak bisa berjanji mom and dad menyetujuinya." balas Julian.


Terlihat Julian pergi dari kamar Berlyn dan menuju ke ruang kerjanya. Sementara Berlyn masih setia menatap keluar jendela, ada rasa bimbang sebenarnya di hatinya. Apakah ini adalah pilihan yang benar. Atau justru akan mempersulit masalah.


Entah mengapa Berlyn ingin sekali pindah ke London. Setelah apa yang terjadi dengan dirinya. Tentang hatinya yang patah akibat cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan.


Sebenarnya didalam hatinya, Berlyn bertanya-tanya. Apakah kepergiannya ini hanya untuk kabur dari masalahnya?. Ataukah untuk melupakan cinta pertamanya?. Dia sungguh belum tahu. Tetapi harapannya agar benar-benar bisa melupakan cinta pertamanya.


Tring... Trring... Tring...


Dering telepon memecah lamunan. Berlyn yang baru saja terjaga oleh lamunannya kini berusaha mengambil gawainya diatas nakas. Rupanya panggilan itu dari sang mommy. Dia tau, pasti Julian sudah menghubungi kedua orang tuanya.


"Hallo mom!" sapa Berlyn.


"Sayang apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ingin pindah ke London? Apakah ada yang membuat tidak senang? Ataukah Julian nakal padamu nak?" cerocos Marsha.


"Mom, please listen to me?" ucap Berlyn, " Aku hanya bosan disini. Aku ingin mencari pengalaman dan hidup mandiri."


"Apakah benar seperti itu?" tanya Marsha meyakinkan.


"Yes mom." jawab Berlyn.


"Ok kalau begitu tunggu mom and dad pulang! Seminggu lagi kami akan bersiap pulang ke tanah air." ucap mommy.


"Baiklah mom." jawab Berlyn.

__ADS_1


Sambutan telpon itu pun kemudian terputus. Ada sedikit rasa lega di hati Berlyn. Setidaknya kedua orang tuanya sudah memberikan lampu hijau untuknya pindah ke London.


Berlyn pun kini bergegas turun ke bawah. Dengan perlahan menuju ke dapur. Ada niat dihatinya untuk membuat secangkir hot capuccino untuk Julian. Tentunya sebagai ucapan terima kasih karena kakaknya itu sudah membantunya meminta ijin pada daddy dan mommynya.


"Apa yang anda lakukan nona?" tanya Bi Ana.


"Aku ingin membuat kopi Bi." jawab Berlyn.


"Biar saya saja yang membuatkannya nona!" pinta Bi Ana.


"Tidak bi, biarkan aku yang melakukannya sendiri. Bibi bisa menungguku disini!" ucap Berlyn.


Sementara bi Ana hanya menurut saja. Dia tak berani membantah ucap sang majikan. Namun selama ini, Berlyn selalu menganggap bi Ana seperti ibunya. Karena selama ini bi Ana lah yang mengasuh Berlyn. Dan dalam keluarga Jackson, selalu diajarkan untuk menghargai sesama dan tidak membeda-bedakan. Bagaimanapun kedudukan dan jabatannya.


Bi Ana sendiri juga sangat menyayangi Berlyn. Dimana bi Ana, Berlyn adalah nona muda yang ramah dan tidak sombong. Dia juga sangat mandiri. Meskipun sering terlihat bar-bar dan jail.


"Bi aku sudah selesai, aku mau keruang kak Julian. Bibi bisa melanjutkan aktivitas yang lain." ucap Berlyn.


"Baik nona." jawab Bi Ana.


Dengan hati yang sedang bahagia, Berlyn berjalan menuju keruang kerja Julian. Meskipun weekend, Julian tetap bekerja dirumah. Bagi lelaki tampan itu, tak ada hari libur di kalendernya.


"Beristirahatlah dulu kak!" ucap Berlyn dari balik pintu.


"Secangkir kopi manis untuk kakakku tersayang." balasnya.


"Kemarilah, duduklah disebelahku?" kata Julian sambil menepuk sofa yang didudukinya.


Berlyn mulai mendekati sofa itu. Kini dia mendudukkan dirinya di samping Julian. Disodorkannya pula cangkir kopi yang dibawanya. Lalu dengan perlahan Julian mulai menyeruput kopi itu.


"Lumayan manis, tapi masih lebih manis senyumanku." ucap Julian mencandai Berlyn.


"Dih mulai deh narsisnya." balas Berlyn.


Berlyn memeluk Julian erat dari samping. Disandarkannya kepalanya di bahu Julian. Senyum mengembang di bibirnya. Tanda gadis ayu itu kini tengah bahagia.


"Kak terima kasih banyak sudah membuat mom and dad mengijinkan aku pindah ke London." ucapannya.


"Asalkan kamu bahagia, kakak akan memenuhi semua permintaanmu." jawab Julian.

__ADS_1


"Tapi jangan bahagia dulu, karena tiap bulan aku akan mengunjungimu disana." lanjutnya.


"Astaga kak, ayolah jangan terlalu berlebih-lebihan!" balas Berlyn.


"Maaf Bear, tapi aku tidak perlu persetujuanmu." jawab Julian.


Yah, begitulah Julian. Dia bisa membuat peraturan seenaknya sendiri kalau sudah menyangkut adik kesayangannya. Makanya tak jarang banyak lelaki yang takut untuk mengejar cinta Berlyn. Karena adanya Julian yang overprotektif.


"Kak aku rasa kini saatnya kamu mencarikanku kakak ipar deh!" pinta Berlyn.


"Sudah saatnya kamu memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Jangan sampai kamu nggak laku! Atau malah kamu mau benar-benar menjadi Keyla istrimu?" imbuhnya.


"Idih ogah banget married sama Keyla, bisa memperburuk keturunan." jawab Julian.


"Sembarangan kalo ngomong." ucap Berlyn.


"Emang iya, tuh bocah kan sama-sama sealiran sama kamu. Sesat dan bar-bar." ejek Julian.


Tanpa menjawab perkataan Julian, Berlyn mencubit pinggang Julian hingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan. Dan setelahnya kedua kakak beradik itu tertawa terbahak-bahak.


"Hari ini kamu mau kemana?" tanya Julian.


"Sepertinya aku hanya ingin dirumah saja, menghabiskan waktunya dengan rebahan seharian." jawab Berlyn.


"Ntar tumbuh kesamping baru tau rasa." ledek Julian.


"Iih biarin, ketimbang cuma kerja Mulu kaya kakak." balas Berlyn.


"Eh gimana kalo kita main keluar aja yuk! Udah lama nggak pernah jalan bareng." kata Julian.


"Ide bagus tuh. Gimana kalo main ke pantai aja yuk kak, sambil lihat sunset gitu?" tanya Berlyn.


"Boleh juga, kalo gitu buruan siap-siap sana! Dua jam lagi kita berangkat ke pantai" perintah Julian.


"Siap bosque." jawab Berlyn.


Berlyn akhirnya meninggal ruang kerja Julian. Gadis cantik itu berjalan kembali menuju ke dalam kamarnya. Dia mulai mempersiapkan apa saja yang akan dibawanya. Dia sangat berantusias. Mungkin karena ini adalah liburan terakhir sebelum dia pergi ke London bersama Julian.


Sementara dilain sisi, Julian terlihat memandangi bingkai foto keluarganya di meja kerjanya. Dimana didalamnya terdapat fotonya dan Berly kecil. Lelaki itu tersenyum dan mengusap figura tersebut.

__ADS_1


"Waktu terasa sangat cepat, kita telah sama-sama tumbuh dewasa. Apakah aku sudah tidak akan menjadi penjagamu lagi?" ucap Julian.


"Bear, akan aku pasti kamu mendapatkan lelaki yang terbaik." gumannya kembali.


__ADS_2