
"Bibi,mommy dan kakak pergi kemana? Kenapa sepagi ini mereka sudah tak ada dirumah?" tanya Berlyn pada bi Ana yang tak mendapati ibu dan kakaknya dirumah ketika dia bangun.
"Entahlah nona, saya tidak tahu. Tua muda dan nyonya besar pergi pagi-pagi sekali." jawab bi Ana.
"Benarkah seperti itu? Aku juga sudah mencoba menghubungi mereka tapi tak ada satupun panggilan yang dijawab." keluh Berlyn kesal.
"Sabarlah nona, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali!" kata bi Ana mencoba menenangkan Berlyn.
"Oh iya, apakah mau saya siapkan sarapan sekarang?" tanya bi Ana.
"Nanti saja bi, aku belum lapar." jawabnya, lalu gadis itu kembali menuju ke kamarnya. Dia sangat cemas dengan mommy dan kakaknya yang pergi pagi-pagi sekali tanpa pamit. Berlyn takut terjadi sesuatu pada mereka.
Sementara di bandara London Heathrow, Julian bersama mommynya nampak tenang menunggu seseorang. Mereka memang sengaja pergi tanpa membangunkan Berlyn. Karena ingin membuat kejutan untuknya.
"Ah anak ini, pasti sedang panik mencari kita mom." ucap Julian sambil menggenggam gawainya yang berdering sedari tadi. Tapi agaknya dia memang sengaja tidak mau mengangkat panggilan itu.
"Biarkan sajalah, atau matikan saja ponselnya biar tak berisik! Aku sungguh terganggu mendengarnya berdering terus sedari tadi." perintah Marsha pada putranya. Memang kali ini mereka berdua telah kompak bersekongkol untuk mengerjai Berlyn.
Dari kejauhan nampak berjalan seorang laki-laki dengan beberapa bodyguard dibelakangnya. Dia adalah Thomas Stevano Jackson yang baru saja turun dari pesawat jetnya. Senyum mengembang di bibir Marsha, akhirnya suaminya datang juga. Setelah dua jam menunggu ke datangannya dari Swiss.
"Sayang, akhirnya kau sampai juga." ucap Marsha pada suaminya. Dipeluknya lelaki itu dengan erat, tampak kerinduan yang mendalam diantara mereka.
"Tidak bisakah kalian jangan bermesraan disini? Ada jomblo yang berdiri disini." ucap Julian menyindir kedua orang tuanya. Marsha dan Thomas tertawa mendengar sindiran putranya itu. Thomas pun melepaskan pelukannya pada Marsha. Dia lalu memeluk putranya itu.
"Ayo kita pulang!" ajak Thomas pada istri dan anaknya. Mereka pun kini meninggalkan bandara tersebut. Dengan pengawalan ketat, mereka kembali ke mansion.
"Ah sepertinya ada yang kurang? Mengapa tak ada Berlyn?" tanya Thomas yang tak melihat putri kesayangannya itu.
"Kami meninggalkannya di mansion. Biarkan ini menjadi surprise bagi putrimu! Karena kami tak memberi tahu kedatanganmu padanya." jawab Marsha menjelaskan.
"Ah baiklah kalau begitu." ucap Thomas.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mansion, Berlyn terus saja menggerutu. Karena kakaknya tak menjawab panggilan darinya. Bahkan telponnya kini dimatikan. Sementara ponsel mommy sama sekali tak aktif sejak tadi.
"Kemana sebenarnya mereka? Kenapa ponsel mereka tak aktif?" guman Berlyn.
"Saatnya sarapan nona!" ucap bi Ana yang datang dari dapur dengan membawakan beberapa potong sandwich dan susu untuk Berlyn. Diapun menyajikannya diatas meja makan.
"Terima kasih banyak bi." ucapnya. Wanita cantik itu kemudian melahap sarapannya sendirian.
"Hai girl... Kenapa bengong?" tanya Julian sambil berjalan masuk keruang makan.
"Astaga kak, kamu mengagetkanku saja!" kata Berlyn yang tersedak. Dia pun kemudian meraih segelas susu dan meminumnya. Sedangkan Julian malah menertawakan adiknya itu.
"Kak dari mana saja kamu? Kenapa handphonemu tak aktif? Dimana mommy?" cerca Berlyn.
"Astaga Bear tak bisakah bertanya satu-satu?" ucap Julian yang kemudian mengambil sepotong sandwich dan melahapnya.
"Kakak, aku sedang bertanya serius. Kenapa kamu malah melahap sandwichku?" teriak Berlyn kesal pada Julian.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut?" seketika saja Berlyn menoleh ke sumber suara. Dan ternyata daddynya tengah berjalan mendekatinya bersama mommynya.
"Oh my princess, apakah kamu merindukan daddy?" tanya Thomas sambil melepaskan pelukannya pada putri tercinta.
"Yes dad, aku sangat merindukanmu." jawabnya.
"Selamat datang tuan!" ucap bi Ana yang sudah ada di ruangan itu. Dia kembali menyiapkan beberapa hidangan untuk tuannya.
"Ayo, kita sarapan terlebih dahulu! Sudah lama kita tak bisa berkumpul seperti ini." kata Marsha. Memang setelah Berlyn ke London, mereka jarang untuk bisa makan bersama. Bila Julian dan Thomas sibuk mengurusi perusahaan. Maka Marsha akan bersibuk mengurusi butiknya.
Mereka pun kini tengah menikmati sarapan pagi bersama. Sesekali diselingi dengan gurauan dan canda tawa. Menambah rasa hangat dalam keluarga Jackson.
Selesai sarapan, Thomas yang merasa lelah lebih memilih untuk beristirahat di kamar utama. Sementara Julian bersibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Berlyn dan Marsha tengah asyik menikmati treatment di mansion tersebut.
__ADS_1
Malam hari telah tiba, keluarga Jackson tengah berkumpul di ruang keluarga. Tentu setelah mereka melakukan makan malam. Berlyn sangat bahagia dan bersyukur. Bisa memilih keluar yang sangat mencintainya.
"Bear bagi kuliahmu?" tanya Thomas pada putrinya.
"Lancar dad." jawabnya.
"Oh syukurlah. Tapi daddy rasa, kamu harus belajar mengurus perusahaan mulai sekarang." ujar Thomas. Berlyn terdiam sejenak, dia nampak tengah berfikir atas usulan daddynya itu.
"Tapi dad, aku rasa aku belum sanggup." tolak Berlyn. Bukannya dia tidak mau mengelola perusahaan keluarganya. Namun Berlyn ingin belajar mandiri dengan mencoba magang di perusahaan orang lain. Dan tidak selalu bergantung pada daddy dan kakaknya.
"Aku rasa kamu bisa mencobanya dulu Bear." kata Julian yang juga mencoba meyakinkan adiknya itu.
"Tapi bolehkah aku menolaknya? Kalo daddy mengijinkan aku ingin magang di perusahaan orang lain setelah lulus kuliah nanti." ucap Berlyn menyampaikan keinginannya.
"Not bad tapi daddy harap kamu tetap menutupi identitasmu sebagai nona muda keluarga Jackson! Dan batas waktunya hanya 2 tahun, selebihnya kamu harus mau mengelola perusahaan daddy!" Diluar dugaan Berlyn, ternyata Thomas mengijinkan keinginannya dengan memakai syarat.
"Baiklah dad. Terima kasih banyak dad!" ucap Berlyn dengan senyum merekah di bibirnya. Dia bahagia karena daddynya mengijinkan pilihannya untuk bekerja di perusahaan orang lain selepas dia lulus nanti.
"Aku tak setuju dad. Bagaimana nanti kalo terjadi apa-apa dengan Berlyn?" ucap Julian.
"Iya sayang, bukankah mengelola perusahaanmu juga sudah cukup." kata Marsha. Berlyn sedikit cemberut karena kakak dan mommy menentang keinginannya.
"Kalian tak usah khawatir, meskipun dia bekerja di perusahaan orang bagiku tak masalah. Asalkan setelah batas waktu yang sudah disepakati habis, Berlyn harus kembali." ucap Thomas dengan tegas.
"Sudahlah, biarkan dia belajar mandiri!" imbuh Thomas.
"Ya baiklah, kalo daddy sudah berkata seperti itu siapa yang berani menentangnya." saut Julian.
"Ah terima kasih dad!" Berlyn tersenyum bahagia. Daddynya sangat mengerti dirinya. Dia pun lalu memeluk daddy dan mommynya.
"Udah nggak usah pelukan terus, kaya teletubbies aja." ejek Julian.
__ADS_1
"Dih sirik aja sih kak." ucap Berlyn sambil melemparkan gulungan tisue ke arah Julian.
"Dasar adik durhaka, berani-beraninya." ucap Julian. Seketika Berlyn berlari ke kamarnya untuk menghindari amukan sang kakak. Secara otomatis Julian langsung mengejar adiknya itu. Thomas dan Marsha hanya menggelengka kepala mereka. Keributan seperti inilah yang terkadang dirindukan mereka berdua dari kedua anaknya.