
"Ah melelahkan sekali." ucap Berlyn sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Tampaknya hari ini kamu sangat bahagia ya, sampai lupa waktu ?" ejek Julian sambil menunjuk beberapa peperbag yang ditentengnya tadi.
"Ah, kau memang yang terbaik kak. Terima kasih!" ucap Berlyn.
"Baiklah. Cepat bersihkan tubuhmu yang bau itu, lalu pergilah tidur!"
"Okelah kak."
Setelah puas jalan-jalan dan membeli oleh-oleh, akhirnya mereka kembali ke resort. Banyak sekali barang yang dibeli oleh Berlyn. Dan sudah jelas, Julian lah yang harus menenteng semua paper bag belanjaan adiknya itu.
Di sepanjang jalan Julian nampak menggerutu namun Berlyn tidak memperdulikan sama sekali. Kini keduanya merasa kelelahan. Dan setelah mandi, mereka pun akhirnya tidur dengan pulas di kamar masing-masing.
*****
Di pagi buta Julian sudah harus berkutat dengan laptopnya di atas meja makan. Dia terlihat sibuk membuka dan membalas beberapa email. Meskipun cuti, lelaki itu tak melupakan tugasnya sebagai seorang CEO JJ company.
"Ayolah kak, kita keluar sebentar?" rengek Berlyn. Namun Julian tak menanggapinya, dia masih fokus dengan beberapa laporan perusahaannya. Berlyn yang merasa bosan akhirnya bergegas pergi menuju pantai.
Angin di esok ini, berhembus begitu kencang. Dengan malu-malu, mentari mulai bangun perlahan dari ufuk timur. Berlyn yang tadi sedang merasa kesal, kini tengah duduk tenang diatas hamparan pasir putih.
Dihirupnya dalam-dalam udara pagi ini. Ketenangan yang menyejukkan jiwa, dan membuat hati damai sungguh membuat wanita itu terbuai. Waktu dua hari yang dilaluinya untuk liburan ini, benar-benar membuat jiwanya tenang.
Namun ketenangannya tak berlangsung lama. Dari arah kejauhan terlihat sepasang muda-mudi yang berjalan menyusuri pantai. Dan betapa tidak beruntungnya Berlyn di pagi ini, harus bertemu dengan Zyan dan Yasmine.
"Astaga kenapa bisa ada mereka disini?" guman Berlyn saat melihat kedua sejoli itu dari kejauhan.
"Ah bodo amatlah, pura-pura nggak kenal aja."
Berlyn pun akhirnya bersikap cuek dan berpura-pura tidak melihat Zyan dan Yasmine. Namun nahas, Yasmine yang menyadari adanya Berlyn malah memancin Zyan untuk mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa sih ada penguntit disini?" Yasmine menatap Berlyn tajam tepat dihadapannya. Namun Berlyn diam dan masih asyik memainkan ponselnya. Karena merasa kesal pada Berlyn yang tak terpancing emosi olehnya, Yasmine akhirnya membisikkan sesuatu pada Zyan.
"Bisakah kita bicara!" tanya Zyan sambil menyeret Berlyn bangun dan pergi dari tempat itu.
"Apa masalahmu sebenarnya?" tanya Berlyn sambil menghempaskan tangan Zyan.
"Lantas apa masalahmu, kenapa kamu membututiku sampai tempat ini?" ucap Zyan, "Aku sangat muak melihat wajahmu itu."
Berlyn hanya diam. Bukan dia tak mampu menyanggah semua kata-kata Zyan. Namun dia hanya merasa malas dan bosan dengan sikap Zyan yang sudah seperti boneka bagi Yasmine.
"Aku sudah memperingatkanmu bukan, untuk menjauh dari kehidupanku?" ujar Zyan.
"Apa jangan-jangan kamu selalu mengawasiku?" tuduhnya.
Berlyn masih diam. Gadis itu ingin sekali buru-buru kabur dari situasi yang membuatnya sebal. Sungguh disayangkan, orang yang dicintainya memperlakukannya dengan semena-mena. Sementara Yasmine hanya tersenyum puas melihat mereka berdebat.
"Ada apa ini?" teriak Julian belari menghampiri Berlyn dan Zyan.
"Apakah seperti ini, cara seorang tuan muda Delwynn memperlakukan seorang wanita?" cibir Zyan. Yasmine yang melihat kedatangan Julian terlihat emosi.
"Sepertinya ini bukanlah urusan anda tuan muda Jackson?" ucap Zyan.
"Oh benarkah seperti itu?" Julian yang sudah merasa geram kemudian merangkul bahu Berlyn dan membawanya pergi.
"Aku harap anda bisa lebih bijak tuan Zyan! Dan jangan karena cinta, anda tidak tau apa-apa tentang siapa pasangan anda sebenarnya!" ucap Julian memperingatkan Zyan.
"Ayo kita pergi!" ajak Julian pada Berlyn. Mereka berdua pun kemudian meninggalkan tempat tersebut. Julian yang sangat kesal masih mengumpati Zyan. Sementara Berlyn hanya terkekeh saja melihatnya.
Berlyn dan Julian akhirnya memutuskan untuk kembali ke resort. Sebenarnya tadi Julian berniat mencari Berlyn untuk mengajaknya sarapan bersama. Namun secara tak terduga dia melihat Zyan tengah berdebat dengan adiknya itu.
"Duduklah kak, aku sudah sangat lapar!" kata Berlyn di depan meja makan. Dengan telaten Berlyn mengambilkan roti sandwich ke atas piring Julian.
__ADS_1
"Kenapa sih tadi kamu cuma diam aja? Tanganku tadi rasanya untuk gatel pengen mukul tuh bocah." gerutu Julian.
"Makanlah dulu kak!" dengan lahap Berlyn menyuapkan salad ke dalam mulutnya. Dia bahkan seperti tak memperdulikan ocehan sang kakak.
"Dasar adek durjana! Aku udah ngomong sampai berbusa malah nggak ditanggapi." Julian pun kini mulai memakan sarapannya. Sejenak terdapat ketenangan di meja makan itu.
"Kak aku sudah selesai, aku mau mandi dulu ya." nampak Berlyn sudah akan berangkat menuju kamarnya.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin kakak sampaikan!"
Dengan menghela nafas, Berlyn kemudian kembali duduk di sebelah kanan Zyan. Dia hanya diam, dan bersiap mendengarkan kakaknya berbicara.
"Apa tidak sebaiknya semua orang tahu kalo kamu adalah bagian dari keluarga Jackson? Menurutku saat ini adalah waktu yang tepat." ucap Julian.
Bukan tanpa alasan Julian berkata seperti itu. Memang benar selama ini identitas Berlyn dirahasiakan dari umum. Karena demi keselamatan Berlyn sendiri.
Tapi kini Julian ingin semua orang tahu identitas adiknya itu. Dia hanya ingin semua orang bisa menghormati Berlyn sebagai nona muda dari keluarga terpandang.
Kesederhanaan yang selalu ditunjukkan Berlyn malah terkadang membuat orang-orang menganggapnya sebagai orang miskin. Hanya Keyla satu-satunya orang yang tahu tentang identitas Berlyn. Karena ayah Keyla dulu adalah kaki tangan Thomas Stevano Jackson, ayah Berlyn.
"Sudahlah kak, aku rasa tak perlu! Biarkan semua ini berjalan seperti air yang mengalir." tolak Berlyn.
Gadis cantik ini sebenarnya merasa lebih nyaman bila dikenal menjadi orang yang biasa. Selama ini dia tidak ingin, mempunyai teman yang hanya menemaninya karena dia nona muda Jackson. Maka dari itulah dia memilih tetap menjadi dirinya sendiri yang sederhana dan apa adanya.
"Aku lebih suka orang menilaiku miskin. Dari pada berteman denganku hanya karena aku adik dari Julian Romeo Jackson." kata Berlyn.
"Baiklah, apa katamu saja? Asalkan kamu tetap merasa nyaman." ucap Julian. Lelaki tampan ini sangat tahu. Pasti akan sangat susah membujuk adik kesayangannya itu. Namun dia juga bersyukur, Berlyn bukanlah orang yang sombong.
"Baiklah kak, aku ingin mandi dulu." Berlyn pamit undur diri. Dia sedari tadi sudah merasa sangat gerah dan badannya juga terasa lengket.
Wanita cantik itu lalu melangkah menuju ke kamarnya. Dia pun buru-buru mengisi air ke dalam bathtub dan menambahkan sedikit cairan aromatherapy. Setelahnya Berlyn berendam sejenak untuk merilekskan pikirannya.
__ADS_1
"Kenapa hari ini sial banget sih? Pakai acara ketemu cewek gila itu sama kak Zyan pula." gumannya, " Ingin banget rasanya aku hilang ingatan aja."