
Tepat pukul 17.30 wib Berlyn telah pulang dari kantor. Dia berjalan menyusuri gang kecil. Meskipun lelah yang dirasakannya, namun dia tetap menjalankannya dengan ikhlas. Karena inilah kehidupan yang harus dijalaninya kini.
"Kenapa rumah sangat terang sekali? Bukannya semuanya sudah pulang?" Guman Berlyn saat mendapati semua lampu di rumah kontrakannya bersinar terang.
Gadis itu perlahan membuka pagar rumahnya. Kemudian buru-buru menuju ke dalam. Diraihnya handle pintu yang ternyata tak terkunci. Lalu dibukalah pintu itu secara perlahan.
"Bear, kamu baru pulang?" Berlyn terlonjak kaget mendengar suara mommynya yang tengah asik duduk diatas sofa untuk menonton tv sambil menikmati camilannya.
"Astaga mom, kau mengagetkanku saja!" Teriaknya sambil masuk kedalam rumah tersebut.
"Aku pikir mommy sudah pulang tadi. Dan aku kira rumah ini kemasukan maling karena lampunya menyala begitu terang," jelas Berlyn yang kemudian mengambil air putih diatas meja milik mommy. Gadis itu terlihat sangat lelah dengan beberapa keringat yang bercucuran akibat berjalan kaki dari kantornya.
"Lekas bersihkan dirimu nak, lalu kita makan malam! Mommy menyukai suasana tempat ini. Mungkin mommy untuk sementara akan tinggal disini."
"Sampai kapan mom?"
"Sampai mommy merasa bosan," jawab Marsha yang disambut dengan wajah cemberut putrinya. Marsha malah tertawa renyah melihatnya.
"Aku masuk ke kamar dulu mom," dengan sedikit kesal Berlyn menuju ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju.
"Huhhh... Kenapa mommy malah keasyikan disini sih?" Gerutunya sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Berlyn telah selesai membersihkan diri. Dia kemudian keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Tempat mommy kini tengah bersantai. Berlyn tersenyum sumringah, melihat sang mommy tertawa bahagia menikmati waktu luangny dengan menonton stand up comedy.
"Mom, apakah kita akan memasak untuk makan malam kali ini?"
"Tidak sayang, tadi mommy sudah memesan makanan. Mungkin sebentar lagi juga sampai."
Sambil menunggu pesanan makanannya datang, mereka mengobrol bersama. Berlyn sangat antusias menceritakan semua yang dilakukannya saat dikantor tadi. Mommy sangat tak menyangka, hal sesederhana ini sudah membuat putrinya sangat bahagia.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Secepat kilat Berlyn mengambilnya dan memindahkan makan-makan itu ke dalam piring. Marsha dan Berlyn akhirnya menikmati makan malam berdua di kontrakan tersebut.
Tok... Tok... Tok...
"Mom, apakah masih memesan makanan lagi?"
"Tidak sayang, mommy hanya memesan ini saja."
__ADS_1
"Emm.. coba aku lihat dulu kedepan," gadis itu lalu berjalan menuju ke pintu depan. Dia sedikit penasaran, siapa yang bertamu ke rumahnya.
"Kejutan!!!!!" Seru Julian pada adiknya yang tengah berdiri di depan pintu. Lelaki itu nampak menenteng beberapa kantong belanjaan. Dia pun lalu bergegas menerobos masuk ke dalam rumah.
"Julian, kenapa kamu kemari?" Tanya Marsha yang kaget melihat putranya tiba-tiba berada dihadapannya.
"Kenapa mom? Apakah aku tak boleh kemari?" Tanya Julian sambil mengeluarkan beberapa makanan yang dibelinya. Lelaki itu ternyata membeli beberapa potong burger, french fries dan pizza untuk makan malam.
"Bukan seperti itu sayang, hanya saja apakah kamu juga akan menginap disini?" Tanya Marsha kembali.
"Dan apa ini, kenapa kamu membeli makanan banyak sekali? Siapa yang akan menghabiskannya?"
" Tenanglah mom, ini pasti akan habis! Apalagi putrimu itu tiap malam akan mengedep-endap ke dapur mencari makanan tiap terbangun karena lapar."
Julian kemudian melap sepotong pizza sambil membuka gawainya. Dia dengan santainya duduk dan menikmati makan malamnya. Sementara Marsha hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan putra.
"Kak, kamu tak akan menginapkan?"
"Ya, sepertinya kakak akan menginap disini untuk malam ini."
"Tidak bisakah kamu pulang saja kak?"
"Haiss, sungguh menyebalkan." Berlyn terlihat kesal dengan jawaban Julian. Dia sungguh bingung dengan tingkah mommy dan kakaknya.
Waktu makan malam telah usai. Berlyn lalu membereskan piring-piring diatas meja. Dengan lincah semua piring kotor itu telah dicucinya. Sementara mommynya hanya melihatnya saja.
Sedangkan Julian yang tadi merasa gerah, kini tengah membersihkan diri di dalam kamar mandi. Lelaki itu sedikit kekuasaan menggunakan kamar mandi yang sempit di kontrakan Berlyn itu. Dan tak berapa lama kemudian, Julian telah keluar dengan mengenakan pakaian santai.
"Bear beristirahatlah, kamu pasti sangat capek!"
" Iya mom sebentar lagi."
Namun sebelum dia sempat beranjak menuju ke tempat tidur, pintu rumahnya kembali di ketuk. Rupanya daddynya datang dengan ditemani beberapa bodyguard berada tepat di depan pintu.
"Daddy!!!" Berlyn langsung memeluk erat ayahnya. Dia sungguh tak menyangka. Daddynya datang kembali ke kontraknya.
"Hai girl, bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?"
__ADS_1
"Not bad, tapi lumayan nyaman."
"Syukurlah kalau begitu!"
"Hari ini daddy kemari karena ingin menjemput mommymu!" Ucapnya.
"Kenapa menjemputku? Aku masih ingin menginap disini," ucap Marsha sedikit kesal.
"Ayo kita pulang! Bukankah kemarin kita sudah membicarakannya? Nanti aku akan mengirimkan bibi Ana kemari untuk tinggal sementara waktu dengan Berlyn!"
Akhirnya dengan terpaksa Marsha ikut pulang suaminya. Sementara Julian masih berada disana. Dan bisa dipastikan malam ini Julian akan tidur tidur di kamar sempit sebelah kamar Berlyn.
Marsha telah pulang bersama dengan suaminya. Di sepanjang perjalanan bisa dipastikan Marsha Kalana akan merajuk. Niatnya menetap di kontrakan Berlyn gagal akibat ulah sang suami. Padahal dia sangat tidak tenang bila memikirkan Berlyn tinggal sendiri.
Sedangkan Julian sendiri kini tengah berkutat dengan laptop dipangkuannya. Lelaki itu nampak serius dengan pekerjaannya. Dia bahkan terlihat sangat spaneng.
"Kak, minumlah teh jahe ini supaya badanmu hagat!" Ucap Berlyn sambil menyodorkan secangkir teh jahe yang dibuatnya.
"Terima kasih banyak!"
"Apakah ada yang bisa aku bantu kak?"
"Tidak, aku hampir selesai. Duduklah disini!" Julian menepuk sofa disebelahnya. Berlyn lalu mendudukkan dirinya di sebelah kakaknya itu.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja Bear?" Tanya Julian sambil menutup laptopnya sebagai tanda pekerjaannya telah selesai.
Sementara Berlyn masih terdiam, belum ada jawaban sama sekali dari wanita itu. Dia agak bingung untuk menceritakan tentang partner kerja di kantornya. Bisa-bisa Julian mengamuk mendengar hal tersebut.
"Aku suka kak, teman kerja baik dan banyak permainan."
"Benarkah seperti itu? Lalu apa saja yang sudah kamu pelajari. Ceritakan ulang!"
"Aku sangat lelah kak, bolehkah aku beristirahat terlebih dahulu"
"Baiklah kalau begitu beristirahatlah!"
Berlyn pun akhirnya menuju ke dalam kamarnya. Didalam kamar dia mendudukkan dirinya diatas ranjang kasur yang agak keras. Diotak-atiknya kabel yang dibuat untuk mencharge baterai ponselnya.
__ADS_1
Berlyn memijat kedua kakinya yang terasa sangat lelah. Apalagi setelah berjalan beberapa meter dari rumah. Tapi dengan berjalan sambil memakai sepatu high heels membuat kakinya sedikit lecet.
Kaki mulus itu pun kini telah terdapat beberapa memar warna biru. Dia juga seorang yang tidak mudah mengeluh. Lalu dia mengoleskan minya urut ke semua kakinya.