Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
23. Salah Menilai


__ADS_3

Sepekan berlalu, kini Zyan tengah mengantarkan Yasmine ke bandara. Hari ini model itu akan terbang ke Amerika untuk melakukan beberapa pemotretan dan fashion show. Dan selama 6 bulan ke depan, mereka harus berpisah. Mungkin cukup berat untuk mereka berpacaran jarak jauh. Atau lebih sering disebut LDR (Long Distance Relationship).


"Jaga dirimu baik-baik sayang, dan ingat jangan nakal!" ucap Zyan memperingati Yasmine.


"Tentu sayang, aku akan segera pulang." jawab Yasmine sambil bergelayut manja di lengan tunangannya itu.


"Sebulan sekali aku akan menemanimu disana." kata Zyan.


"Aku akan menunggumu sayang." balas Yasmine.


Tak berapa lama, penerbangan yang akan ditumpangi Yasmine akan lepas landas. Mau tak mau Zyan harus melepaskan Yasmine dari pelukannya. Seolah tak rela ditinggalkan, lelaki itu pun menc*um bibir wanitanya dengan mesra.


"Pergilah dan berhati-hatilah!" ucap Zyan sambil melepaskan pelukannya pada Yasmine.


"Aku pamit dulu sayang." ucap Yasmine.


"Jangan lupa untuk mengabari aku setelah sampai disana!" pinta Zyan.


"Baiklah. Sampai jumpa sayang!" Yasmine pun pergi sambil melambaikan tangannya pada Zyan. Sementara lelaki itu masih menatapi punggung kekasihnya yang berjalan menjauh dan mulai tak terlihat.


Setelah mengantar kepergian Yasmine, Zyan pun kembali menuju kantornya. Hari ini ada beberapa rapat penting yang harus dia ikuti. Dengan kecepatan 90km/jam, dia mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota. Dan setelah 35 menit kemudian, Zyan telah sampai di kantornya.


"Lama sekali sih, meeting sudah mau mulai?" gerutu Marvell.


"Yang penting aku udah datangkan." jawab Zyan santai. Dan pada akhirnya mereka pun kemudian mengikuti meeting dengan tenang.


Selama dua jam Zyan duduk diruang meeting untuk membahas beberapa proyek perusahaannya. Dia dengan seksama mendengarkan beberapa penjelasan dari rekan bisnisnya. Setelah perjanjian disepakati, akhirnya Zyan pun kembali ke dalam ruangannya. Tentu saja Marvell juga ikut membututinya.


"Woii, ngapain sih rebahan disitu? Ini kantor bukan hotel." ucap Zyan kesal karena melihat kelakuanku Marvell. Sahabatnya itu dengan santainya merebahkan tubuhnya diatas sofa ruangan Zyan.

__ADS_1


"Bodo, capek tau." keluh Marvell. Zyan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kemudian membuka laptopnya untuk mengecek beberapa laporan perusahaannya.


"Oh God cantik banget." teriak Marvell. Sontak saja Zyan terlonjak kaget mendengar teriakan temannya itu.


"Berisik banget tau nggak, diem ngapa!" katanya yang merasa terganggu.


"Dih galak amat sih bos. Mending sini deh, ada yang harus kamu lihat!" ujar Marvell. Karena dipenuhi rasa penasaran, akhirnya Zyan pun beranjak mendekatinya.


"Ada apa sih? Awas aja kalo nggak penting!" ancamnya ketika berada di depan temannya itu.


"Aku jamin kamu akan terpesona dengan yang satu ini. Nih lihat aja sendiri!" ucap Marvell sambil menyodorkan gawainya dan seketika saja Zyan terdiam.


"Berlyn..." guman Zyan.


"Gimana, terpanakan loe? Aku aja nggak nyangka cewek yang dulu deketin kamu bisa secantik ini sekarang."


"Untung aku bisa nemuin akun sosial medianya. Kalau nggak, kayanya bakal nggak bisa kepoin kehidupannya tuh bocah." ujar Marvell kembali. Zyan menatapnya heran, seolah meminta penjelasan dari kata-kata Marvell.


Marvell memang menyukai Berlyn. Pertemuannya dengan Berlyn bermula saat melerai pertengkarannya bersama Yasmine disuatu acara kala itu. Marvell yang terpesona pada pandangan pertama lantas mencari tau informasi tentang Berlyn. Namun sayangnya dia tak menemukan identitas Berlyn secara lengkap.


"Benarkah, kenapa aku tak tahu?" tanya Zyan yang mulai penasaran.


"Ceritanya panjang, tapi siapapun akan sulit mendekatinya. Yang aku dengar, wanita ini dekat dengan Julian Jackson." jelas Marvell.


"Wow, cukup menarik. Apakah benar wanita ini gila harta, sampai berani mendekati tuan muda Jackson?" cibir Zyan.


"Sepertinya kau salah menilainya bung. Gadis ini sangat baik dan sederhana. Itulah mengapa aku terpesona padanya." kata Marvell.


"Apalagi yang aku dengar, dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di London. Tepatnya di UCL." terangnya.

__ADS_1


"Oh mungkin saja seperti itu, tapi kita tak tahu bagaimana kehidupannya. Bisa jadi dia menjadi penghangat ranjang beberapa eksekutif muda disana untuk menghidupi dirinya sendiri." ucap Zyan.


"Lagian, wanita ini seperti rubah yang licik. Berwajah cantik tapi sayang hatinya cukup busuk." imbuhnya.


"Aku tak tahu ada dendam apa antara kamu pada Berlyn? Tapi aku sarankan untuk jangan terlalu membencinya, karena bisa jadi suatu hari nanti kamu bisa tergila-gila padanya." kata Marvell yang kemudian melangkah pergi dari ruangan Zyan.


Jedorrr...


Dibantingnya pintu ruangan Zyan keras-keras. Pria dengan tinggi 170 cm itu agaknya sangat kesal dengan bosnya yang gampang menilai buruk seseorang. Menurutnya, Zyan terlalu terpengaruh oleh Yasmine. Sedangkan Marvell sendiri tidak terlalu menyukai sifat Yasmine yang sok memerintah.


"Dasar orang yang aneh. Gara-gara terlalu bucin sama model sok cantik itu, otaknya jadi tak waras. Dia juga tak tahu mana yang baik dan buruk. Tunggu saja, kalo sampai aku tahu Yasmine itu tidak beres akan aku bongkar di depan matanya!" gerutu Marvell sambil terus melangkah pergi meninggalkan ruangan Zyan. Lelaki itu terus mengumpati bosnya sampai dia merasa kesalahannya hilang.


Sementara didalam ruangannya Zyan nampak mengerutkan keningnya. Memijat pelipisnya yang berdenyut pusing. Dia tak habis fikir, hanya karena masalah seorang wanita saja Marvell beradu argumentasi dengannya. Apalagi dengan watak Marvell yang pemilih. Dia tak biasanya membahas tentang perempuan.


Zyan meraih gawainya, kemudian membuka sosial medianya. Dicarilah akun Berlyn yang tadi sempat dilihatnya di gawai Marvell. Pria tampan itu kemudian menatapi satu persatu foto wanita yang sekarang dibencinya.


"Sebenarnya apa yang kamu miliki sehingga membuat para laki-laki mengagumimu?" ucapnya. Zyan pun kemudian meletakkan gawainya dan fokus pada pekerjaannya.


Sedangkan di London, Berlyn tengah terbangun dari tidur lelapnya. Liburannya ini hanya diisi dengan bermalas-malasan dan rebahan diatas kasurnya saja.


Sebenarnya dia sangat bosan. Tapi dia juga tak bisa pergi kemana-mana karena kakak dan mommy selalu mengawasinya. Sejak kejadian dia akan dilecehkan oleh beberapa preman, pengawasan untuk dirinya pun semakin di perketat.


"Nona bangunlah, nyonya besar dan tuan muda sudah menunggu anda untuk sarapan!" kata bibi Ana sambil membuka tirai kamar Berlyn.


"Sebentar lagi bi, aku masih ngantuk." jawabnya sambil menutupi seluruh tubuhnya kembali dengan selimut.


"Tidak nona, kau harus cepat bangun sebelum nyonya besar datang kemari dan menyeretmu ke kamar mandi." kata bi Ana lagi.


"Iya bi baiklah, aku akan bangun sekarang juga." katanya.

__ADS_1


"Ahh, sungguh menyebalkan." gerutunya. Dan dengan rasa malas, akhirnya mau tak mau Berlyn bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Dia sangat tahu watak mommynya. Sudah pasti akan ada hujan buatan diatas kasurnya. Jelas itu akibat ulah mommynya yang mengguyurnya menggunakan air bila dia tak lekas bangun dari ranjangnya itu.


__ADS_2