Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
21. Mendapatkan Restu


__ADS_3

Pagi ini udara cukup dingin, namun Zyan tetap saja berkeringat. Jantungnya berdegup begitu kencang, seperti habis lari maraton. Suasana ruang keluarga begitu tegang. Zyan bagaikan terdakwa yang sedang diintrogasi oleh papa mamanya. Hening, sangat hening. Tak ada seorangpun yang membuka suara.


"Papa tanya sekali lagi, apakah kamu serius ingin bertunangan dengan model itu?" tanya Lukas memecahkan keheningan.


"Iya pa, aku sangat serius." jawabnya dengan tegas.


"Bagaimana denganmu ma?" tanya Lukas sambil melirik istrinya yang hanya diam. Dia tahu betul, Amanda masih tak bisa merelakan Zyan untuk bertunangan dengan wanita pilihan putranya.


"Terserah padamu saja pa." jawab Amanda. Lukas menghela nafas panjang, sepertinya akan terasa berat keputusan yang diambilnya.


"Nak, kami merestui pertunanganmu. Namun kami harap, apa yang menjadi pilihanmu ini benar-benar yang terbaik untukmu." ucap Lukas. Untuk beberapa saat, Zyan hanya diam dan kaget. Dia tak menyangka mamanya telah memberikannya ijin untuknya bertunangan dengan Yasmine.


"Terima kasih banyak mah pah, kalian memang yang terbaik." Seketika itu Zyan langsung berhambur memeluk mama dan papanya. Sedangkan Amanda hanya bisa diam, namun dia sedikit merasa lega karena putranya bahagia.


Setengah jam kemudian Lukas dan juga Zyan bergegas pergi ke perusahaan untuk bekerja. Disepanjang perjalanannya Zyan tak henti-hentinya bersenandung. Dia teramat sangat bahagia. Lelaki itu merasa tak sabar untuk menyampaikan berita ini pada kekasihnya.


Tiga puluh menit berlalu, Zyan telah sampai di kantornya. Namun semua karyawannya merasa heran dan bertanya-tanya. Pagi ini, Zyan tak sepeti biasanya yang selalu bersikap dingin. Lelaki itu malah menyunggingkan senyum sumringah di bibirnya.


"Dih kesambet loe ya, masih pagi udah cengar-cengir aja?" ledek Marvell yang merasa aneh pada Zyan pagi ini.


"Cerewet." balas Zyan sambil masuk ke dalam lift khusus untuknya.


"Ada apa sih, kok kaya happy banget?" tanya Marvell yang masih kepo karena belum mendapatkan jawaban dari Zyan.


"Nyokap udah kasih restu buat tunangan sama Yasmine." jawabnya.


"Oh ya, jangan lupa dengan tugasmu! Aku tak ingin, besok ada yang kurang sedikit pun!" tegasnya.


"Oke siap bos. Jangan lupa untuk bonusnya!" ucap Marvell mendahului keluar dari lift dan meninggalkan Zyan berjalan menuju ruangannya terlebih dahulu.


"Sialan loe ya! Dasar sekertaris laknut. Main ninggalin aja, orang belum selesai ngomong juga." umpat Zyan. Sedangkan Marvell hanya terkekeh mendengar makian dari bosnya itu.

__ADS_1


Bagi Zyan, hari ini terasa sangat cepat. Semua pekerjaannya pun telah terselesaikan. Mungkin karena sejak pagi, moodnya sangat bagus. Sehingga dia mampu mengerjakan pekerjaannya dengan cepat.


Waktu juga sudah hampir menunjukkan jam makan siang. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Ternyata kekasih hatinya datang untuk mengajaknya makan siang.


"Honey, kamu kemari?" ucapnya dengan sumringah karena melihat sang bidadari hati menghampirinya.


"Iya sayang, aku sangat merindukanmu." jawab Yasmine manja. Wanita cantik itu lalu mendudukkan tubuhnya diatas pangkuan Zyan.


"Kamu sungguh menyebalkan sayang. Semua pesanku saja sampai tak terbalaskan." keluh Yasmine.


"Maaf aku sayang, hari ini banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku tak sempat melihat pesanmu di ponselku."


"Oh ya sayang, ada yang ingin aku sampaikan." lanjutnya. Sedangkan Yasmine hanya diam menunggu Zyan melanjutkan kata-katanya.


"Kedua orang tuaku telah merestui hubungan kita." kata Zyan.


"Are you serious honey?" tanya Yasmine dengan mata berbinar.


"I love you more honey." ucap Yasmine yang kemudian mengec*p bibir Zyan. Namun sayangnya lelaki itu meminta lebih. Dengan gerakan cepat dia meraih dagu wanita itu dan ******* bibirnya dengan lembut. Hingga akhirnya mereka saling bertukar saliva.


"Astaga apa yang sedang kalian lakukan? Kalian telah menodai mata suciku ini" Ucap Marvell yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Zyan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seketika kedua pasangan itu terkejut dan buru-buru mengakhiri ciuman mereka.


"Shittt!" umpat Zyan.


"Bisa nggak sih, kalo masuk ketuk pintu dulu?" tanya Zyan yang merasa kesal.


"Aku telah mengetuknya, tapi kalian tak mendengarkannya karena tengah asyik dengan kegiatan kalian itu." terang Marvell. Zyan hanya cemberut karena aktivitasnya telah diganggu. Sementara Yasmine sudah pindah dudu di sofa.


"Ini ada berkas yang harus kamu tanda tangani! Dan pukul 2 nanti kita ada rapat untuk membahas tentang proyek terbaru." jelas Marvell.


"Baiklah." jawab Zyan. Kemudian dia pun menandatangani berkas itu.

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Lama-lama disini jiwa jombloku bisa meronta-ronta." ucapnya sambil berlari keluar.


"Apa kamu bilang?" teriak Zyan sambil melemparkan pulpennya ke arah Marvell. Namun sayangnya lemparan itu melesat. Karena sekretarisnya itu telah hilang di balik pintu.


"Sayang sebaiknya aku pulang dulu." kata Yasmine.


"Maafkan aku sayang, kali ini kita tak bisa makan siang bersama!"


"Tak apa sayang, aku mengerti. Bersibuklah, tapi jangan lewatkan makan siangmu!" kata Yasmine. Gadis itu kemudian mencium pipi Zyan dan meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Zyan kembali bersibuk dengan pekerjaannya.


****


Sore ini Berlyn memandangi butiran salju yang terlihat berkilau terkena cahaya lampu taman dari dalam jendela kamarnya. Semuanya terlihat indah, dan mengagumkan. Entah apa yang akan dia lakukan.


Siang ini, Keyla menelponnya. Dan wanita itu mengabarkan tentang pertunangan Zyan bersama Yasmine yang akan di lakukan besok. Sungguh hatinya hancur menjadi berkeping-keping.


"Apakah ini yang dinamakan mencintai dalam diam? Sakit sekali ternyata, merasakan cinta bertepuk sebelah tangan." ucapnya lirih. Dan tak berapa lama, sang mommy datang menghampirinya.


"Apa yang kamu pikirkan sayang? Apakah ada yang tengah mengganjal di hatimu nak?" tanya Marsha. Dia merasa khawatir dengan putrinya yang sedari tadi terlihat merenung.


"Ah mommy... A-ku tak memikirkan apa-apa " jawab Berlyn yang kaget oleh kedatangan mommynya tiba-tiba.


"Benarkah itu? Tapi mommy lihat kamu dari tadi merenung seperti orang yang sedang patah hati."


"Hahaha, mungkin hanya perasaan mommy saja." elaknya dengan tertawa riang menutupi kegalauannya.


"Ah apakah iya, seperti itu? Atau apakah kamu sedang jatuh cinta nak?" tanya mommynya.


"Mana mungkin aku berani jatuh cinta mom. Tau sendiri bagaimana protektifnya daddy dan kak Julian bila ada laki-laki yang mendekatiku." keluhnya. Seketika itu Marsha terkekeh geli mendengarnya. Memang benar kata Berlyn, daddynya dan Julian sangat protektif padanya. Sampai-sampai tak ada laki-laki yang berani untuk mendekatinya.


"Ya, seperti itulah mereka. Kamu adalah permata bagi kami sayang. Jadi daddymu dan Julian akan berusaha sekuat tenaga untuk menjagamu. Kami juga akan rela melakukan apapun yang kamu mau." ucap Marsha yang kemudian memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Terima kasih banyak mommy! Kalian memang yang terbaik untukku." kata Berlyn sambil membalas pelukan mommynya.


__ADS_2