Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
20. Meminta Restu Untuk Bertunangan


__ADS_3

Tepat saat makan malam tiba sampai, Zyan sampai dirumahnya. Setelah turun dari mobil, dia langsung masuk untuk membersihkan diri. Dan terlihat kedua orang tuannya, Marion Lukas Delwynn dan Amanda tengah berbincang di ruang keluarga.


"Apa yang sedang kalian bicarakan pa, ma?" tanya Zyan yang sedikit penasaran dengan perbincangan kedua orang tuanya yang terlihat seru.


"Kau sudah pulang nak?" tanya Amanda.


"Ya, baru saja."


"Tahukah nak, Diana putri paman Joe akan menikah sebentar lagi?" ucap Amanda.


"Oh ya, benarkah itu ma?"


"Iya, kita harus bertolak ke Filipina untuk menghadiri pernikahannya tiga bulan lagi." kata Amanda.


"Ma, sebaiknya kita lanjutkan membahas ini nanti! Biarkan putramu membersikan dirinya dulu! Lihatlah dia nampak lelah!" ujar Lukas yang tak ingin istrinya semakin banyak bicara.


"Ah ya baiklah. Nak cepat bersihkan dirimu dan segera turun kembali untuk makan malam!"


"Ya baiklah ma. Aku pergi ke kamar dulu ya pa, ma." Zyan yang sudah merasa gerah pun langsung bergegas ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaian.


Zyan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Lelaki itu akhirnya menyegerakan mandi. Dan tak berapa lama ia telah keluar dengan berpakaian santai. Wajahnya yang tampan terlihat segar dan sangat ceria. Tanpa membuang-buang waktu, Zyan kemudian menuju ke ruang makan untuk makan bersama dengan keluarganya.


Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai makan malam, keluarga Delwynn lalu berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar mengobrol atau membahas tentang perusahaan.


"Bagaimana perkembangan perusahaanmu nak?" tanya Lukas sembari menyesap kopi hitam kesukaannya.


"Masih stabil pa. Dan aku rasa kita bisa membuat beberapa cabang di Manila di tahun depan." jawab Zyan sambil mengecek pesan di ponselnya.


"Kenapa harus Manila nak?" tanya Amanda yang sedikit penasaran.


"Karna leluhurku berada disana." ucapnya. Amanda pun begitu senang, karena putranya berniat membuka beberapa cabang perusahaan mereka di Manila tempat asal usulnya.

__ADS_1


"Tapi ada bagusnya juga membuka cabang perusahaan kita di Manila, karena kami juga berniat menghabiskan masa tua disana." kata Lukas.


"Oh ya nak, jangan terlalu sibuk bekerja! Ingat juga untuk mengambil cuti 3 bulan lagi!" ucap Amanda.


"Iya ma, aku tahu akan hal itu." jawab Zyan.


"Pa, ma ada yang ini aku sampaikan." Lelaki itu nampak menarik nafas dalam-dalam sebelum menyampaikan isi hatinya.


"Lusa depan aku ingin bertunangan dengan kekasihku, Yasmine. Aku mohon papa dan mama bisa memberikan restu untuk kami." Lukas dan Amanda hanya terdiam.


"Aku sangat mencintai Yasmine, restuilah kami!" pintanya.


"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu nak? Kenapa terburu-buru?" tanya Lukas.


"Aku sangat yakin pa. Dan aku percaya dialah yang terbaik untukku." Zyan kembali meyakinkan kedua orang tuanya. Dia tidak ingin semua yang sudah direncanakannya menjadi sia-sia.


"Tidak nak, aku tidak merestui pertunangan ini. Jauhi wanita itu!" Amanda sangat marah dengan keinginan putranya itu. Dia sangat tidak menyukai Yasmine. Apalagi setelah acara malam itu. Dimana Yasmine mempermalukannya karena berani membully nona muda dari keluarga Jackson. Ditambah lagi, Yasmine selalu diterpa gosip tak sedap. Amanda khawatir, suatu saat nanti Yasmine akan mencemari nama baik keluarga Delwynn.


Setelah menolak keinginan Zyan, Amanda akhir pergi ke kamarnya. Agaknya dia tidak ingin berdebat dengan putranya itu. Zyan sudah sangat tergila-gila pada Yasmine. Apapun yang dikatakan orang tentang Yasmine, Zyan tak pernah mempercayainya. Kecuali Zyan melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Nak, biarkan mamamu menenangkan dirinya dulu! Lebih baik kita bicarakan lagi besok!" Lukas mencoba menenangkan putranya. Dia pun kemudian menuju ke kamarnya untuk melihat keadaan istrinya.


Zyan masih termenung diruang tamu. Bagaimana pun juga, lelaki itu akan tetap mencoba merayu mamanya agar memberikan restu padanya. Dia bisa saja bertunangan dengan Yasmine tanpa restu kedua orang tuanya. Namun Zyan amat sangat mencintai mamanya.


Sementara di dalam kamar. Amanda duduk termenung di sofa kamarnya. Pandangannya nampak kosong, namun wanita itu tengah berfikir. Dia mencoba mencari cara agar putranya mau membatalkan acara pertunangan tersebut.


"Sudahlah ma, jangan terlalu dipikirkan! Ingatlah kesehatanmu!" ucap Lukas sambil memeluk istrinya dari samping.


"Aku tak habis pikir, kenapa putra kita sangat mencintai wanita itu? Apa yang sebenarnya diberikan model itu pada putra kita pa?" tutur Amanda dengan bibir bergetar menahan amarahnya.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu sayang, tapi putra kita telah dewasa. Dia sudah bisa memilih dan mengambil keputusannya sendiri." kata Lukas dengan bijak.

__ADS_1


"Tidak pa, aku tetap tidak setuju." tolak Amanda. "Dia layak mendapatkan wanita yang lebih baik dari model itu." Untuk sejenak kedua ini terdiam tanpa saling bicara. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.


"Sayang, ayo beristirahatlah!" ucap Lukas memecahkan keheningan.


"Beristirahatlah terlebih dahulu pa, aku masih belum bisa tidur!" jawab Amanda sambil membuang muka.


"Aku tahu tentang perasaanmu sayang. Aku tahu kau sungguh tak menyukai wanita itu sayang. Aku berjanji besok akan menyuruh orang untuk menyelidiki tentang wanita itu." bujuk Lukas.


"Apakah benar pa? Sungguh kau akan menyuruh orang untuk menyelidikinya?" tanya Amanda penuh antusias.


"Iya. Tapi aku memiliki syarat?"


"Syarat apa?" tanya Amanda ketus.


"Berjanjilah untuk merestui hubungan mereka dulu. Biarkan mereka bertunangan. Bila wanita itu terbukti mempunyai niat yang tidak baik, akulah yang akan menyingkirkannya sendiri." jelas Lukas. Amanda terdiam untuk sesaat. Dia tengah memikirkan kata-kata suaminya itu.


"Baiklah pa. Aku percaya padamu," jawabnya kemudian.


"Aku tak akan pernah mengecewakanmu sayang. Ayo kita beristirahat dulu!" ajak Lukas yang kemudian menuntun istri keatas ranjang untuk beristirahat.


"Setidaknya aku masih punya banyak waktu untuk mencari tahu tentang identitas yang sebenarnya model itu." batin Lukas.


Sedangkan di dalam kamarnya, Zyan hanya bisa berguling-guling diatas kasurnya saja. Laki-laki itu masih memikirkan cara agar ibunya menyukai Yasmine. Dia sungguh dilema bila harus memilih antara mamanya atau wanitanya. Karena bagi Zyan, kedua wanita itu sangat berharga dihatinya.


Untuk menghilangkan suntuknya, Zyan pun kemudian bangun dari ranjangnya. Dan lalu pergi ke gazebo belakang rumahnya. Dia termenung sendiri disana.


"Apakah kau tak bisa tidur?" ucap Lukas sambil menyodorkan secangkir kopi pada putranya.


"Seperti yang kau lihat pa?" jawabnya lesu. Lukas kemudian mendudukkan dirinya di sebelah putranya itu. Diapun menyesap kopi yang di pegangannya.


"27 tahun yang lalu aku memiliki seorang bayi kecil yang selalu ku timang di gazebo ini ketika dia tak bisa tidur," ucap Lukas mengenakan Zyan ketika bayi.

__ADS_1


"Tapi kini dia telah dewasa. Bahkan telah mampu memilih pasangan hidupnya sendiri," lanjutnya. Sementara Zyan masih setia menyimaknya.


"Aku tak akan mengekangmu dan akan membebaskanmu untuk memilih pasangan hidupmu sendiri. Namun aku harap kamu sudah mencari tahu siapa dia yang sebenarnya!" ucap Lukas yang kemudian meninggalkan Zyan sendiri. Zyan hanya mampu terdiam dan mencerna ucapan papanya itu.


__ADS_2