
Esuk ini sang mentari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Namun Amberlyn sudah siap dengan setelah baju kantor lengkap dengan blezernya. Kantung mata nampak tercetak jelas, akibat kurang tidur semalaman.
Bagaimana dia bisa tidur nyenyak, setelah drama orangtuanya dan juga Julian menginap di kontrakannya. Tempat tidur yang sempit menjadi kendala untuk mereka menempati kamar tidur di sana.
Hingga tengah malam mereka masih berebut kamar. Dan pada akhirnya diputuskan, mommy dan daddynya tidur di kamar sebelah. Sementara Julian harus rela merasakan sakit punggung karena tidur di atas sofa yang sempit.
"Kamu sudah bangun nak?" suara Marsha terdengar dari depan pintu dapur.
"Iya mom, pagi ini aku tak boleh terlambat. Dan aku sudah membuat sarapan untuk kita."
"Putriku sudah dewasa rupanya. Aku tidak tahu kamu bisa memasak sayang?"
"Ah iya mom, ini hanyalah nasi goreng saja. Bukankah mudah untuk membuatnya?"
Marsha tersenyum penuh arti melihat putrinya. Betapa dia tidak bahagia, anak gadisnya kini telah benar-benar dewasa. Dia sudah bisa mengubah kebiasaannya yang bangun kesiangan. Dan pagi ini, Berlyn pun memasakkan sarapan untuk mereka semua.
"Wah harum sekali baunya. Apa yang kau masak mom?" tanya Julian yang terbangun karena mencium bau sedap dari arah dapur.
"Bukan aku, tapi putriku yang memasaknya." jelas Marsha.
"Apa kau bercanda mom? Dia mana mungkin bisa." Julian terlihat tak percaya dengan ucapan mommynya.
"Kalau kau tak percaya tak apa." Berlyn dengan santainya menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Dia sama sekali tak menunggu kedua orangtuanya dan Julian untuk sarapan.
"Basuhlah mukamu lalu kita sarapan, aku akan membangunkan daddymu dulu!"
Marsha kemudian menuju ke kamarnya untuk membangunkan Thomas. Sementara Julian bergegas pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Dan tak lama kemudian semuanya telah berkumpul untuk menikmati sarapan bersama.
"Dad, aku harap kau tak akan keracunan setelah memakannya." Julian sedikit meledek masakan adiknya itu. Dia sedikit tak yakin akan rasa nasi goreng yang terlihat menggiurkan itu.
"Apakah benar kamu memasaknya nak?" tanya Thomas memastikan.
"Iya dad, apakah ini tak enak?"
"Tidak nak, bukan begitu. Ini benar-benar sangat lezat."
__ADS_1
Berlyn tersenyum senang, karena orang tuanya menyukai masakannya itu. Ini pertama kalinya dia memasak untuk keluarganya. Ada rasa puas tersendiri ketika usaha kita tak sia-sia untuk sekedar membahagiakan orang lain. Meskipun itu hanya sekedar lewat masakan saja.
"Sejak kapan kau bisa memasak nak, dan darimana kau belajar? Kenapa mommy tak tahu?"
"Aku selalu melihat bibi Ana memasak. Dan bibi Ana yang selalu mengajariku mom." jelas Berlyn.
"Cepat makanlah, kalau tidak aku yang akan menghabiskannya!" perintah Thomas pada Julian. Seketika saja Julian melahap makanannya. Dia bahkan sampai menambah kembali nasi goreng buatan adiknya itu.
Sarapan pagi ini dilewati dengan penuh rasa bahagia bagi Berlyn. Apalagi saat melihat Julian dan daddynya berebut telur setengah matang. Baginya itu adalah sesuatu hal yang langka.
Setelah memberesi piring-piring diatas meja, Berlyn lalu bersiap untuk berangkat bekerja. Tepat pukul setengah tujuh dia mengambil tas selempangnya dan berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Apakah tak apa, bila berangkat dengan berjalan kaki nak?" Marsha terlihat khawatir dengan putrinya itu.
"Tidak mom, lagian jarak kantor dari sini hanya sekitar 200 meter saja." terang Berlyn.
"Baiklah kalau begitu berhati-hatilah!"
Gadis itu langsung bergegas berjalan menuju ke perusahaan yang akan menjadi tempatnya bekerja. Pagi ini adalah awal baru untuknya menapaki dunia pekerjaan. Dia diterima menjadi salah satu desainer grafis di perusahaan Arabel Company. Perusahaan yang baru dirintis satu tahun oleh CEO muda yang mampu berkembang dengan pesat.
"Ini adalah ruanganmu. Kami harap kamu bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan ini." ucap HRD tersebut.
Berlyn terlihat menghirup nafas dalam-dalam sebelum memasuki ruang tersebut. Dilihatnya ada 3 orang partner kerjanya didalam sana. Dan sialnya ke-3 orang itu adalah laki-laki.
Dia akhirnya melangkah masuk ke ruangannya. Memperkenalkan diri pada ketiganya. Mereka pun memperkenalkan diri satu per satu. Dan mereka adalah Alan dan Steve juga Reyhan sebagai managernya.
Sebelum mengenal mereka, Berlyn beranggapan bahwa akan sulit berpartner dengan tiga laki-laki yang terlalu serius bekerja. Namun ternyata, ketiganya malah dengan telaten membimbing dan mengajari Berlyn.
"Hai ayo kita makan siang dulu!" ajak Steve.
"Iya Berlyn, ayo kita ke kantin dulu! Ini sudah waktunya makan siang." saut Alan.
"Baiklah kak, tunggu sebentar!" Berlyn lalu merapikan meja kerjanya dan beranjak dari tempat itu.
"Apa kamu juga akan makan siang kak?" tanya Berlyn pada Reyhan.
__ADS_1
"Kalian duluan saja, aku akan makan siang dengan kekasihku!"
Seketika ketiganya mengangguk tanda setuju. Mereka lalu bergegas turun menuju kantin kantor tersebut. Disana suasana terlihat sangat ramai. Menu makanan kantin juga sangat bervariatif. Setelah selesai menikmati makan siang Berlyn, Alan dan Steve kembali keruangannya.
"Siapa dia?" tanya Berlyn pada kedua lelaki di depannya saat melihat seorang wanita bersama dengan Reyhan.
"Dia adalah Monica kekasih Reyhan." jawab keduanya.
"Apakah dia juga bekerja disini?"
"Yah, wanita itu adalah sekretaris bos di perusahaan ini." jawab Alan.
"Tapi kenapa pakaiannya seperti itu? Seperti kekurangan bahan saja?" ujar Berlyn.
"Dia memang seperti wanita penggoda. Mungkin dengan berpakaian seperti itu, Monica ingin menggoda bos kita." kata Alan.
"Tapi kami jangan terlalu berharap bisa ketemu si bos ya, karena dia jarang berada di perusahaan ini!" kini giliran Steve yang bicara.
Berlyn lalu kembali berjalan mengikuti Alan dan Steve kembali. Banyak pasangan mata yang memandangnya. Terutama para karyawan laki-laki yang memiliki niatan untuk mendekatinya. Namun ada juga yang berbisik-bisik di hadapannya ketika dia lewat.
Entah apa yang mereka pikirkan tentang Berlyn. Tapi sepertinya dia tak ambil pusing. Dia memilih untuk bodo amat dan terus berjalan. Baginya omongan atau gosy dari para karyawan itu tak penting. Lebih penting untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Berlyn katanya kamu lulusan dari luar negeri ya?" tanya Steve saat telah sampai di ruangan mereka.
"Iya kak, aku lulusan UCL. Kebetulan aku mendapat beasiswa untuk kuliah disana."
"Wah keren, aku tak menyangka otakmu enter juga. Sehingga bisa dapat beasiswa kuliah disana."
"Tidak juga kak, aku hanya beruntung saja."
"Ya, tapi kami harap kamu bisa menunjukkan kinerjamu disini dengan baik. Karan bagaimanapun juga, kita semua satu tim." saut Reyhan yang juga baru saja masuk ke ruangan itu.
"Aku akan berusaha kak. Mohon bimbingannya teman-teman!"
Mereka pun kini sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sementara Berlyn yang masih anak baru hanya disuruh membantu beberapa pekerjaan ringan saja. Dia amat bersyukur memiliki partner kerja yang baik.
__ADS_1