Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
28. Berlyn Pulang


__ADS_3

2 tahun kemudian...


Seorang gadis ayu baru saja turun dari penerbangan dari London. Ditariknya koper yang lumayan besar itu sendirian. Sementara diterminal kedatangan penumpang pesawat, Julian tengah menunggu selama 1 jam lebih. Dia sampai rela meninggalkan meeting penting kali ini hanya demi menjemput adik kesayangannya.


"Astaga lama sekali, kenapa dia harus naik pesawat komersial sih? Sungguh menyebalkan?" gerutu Julian.


"Hallo kak..." sapa Berlyn yang tiba-tiba muncul didepannya.


"Astaga Bear, kenapa lama sekali? Aku sampai ubanan nungguin kamu disini." kata Julian kesal.


"Astaga kak, maaf tadi jalannya macet." canda gadis itu.


"Dipikir jalan darat kali ya, pakai acara macet segala. Dasar ngeselin." Berlyn terkekeh geli melihat kakaknya yang semakin kesal. Sementara Julian mulai berjalan menjauh.


"Kak tunggu aku..." teriaknya sambil berlari mengejar Julian.


Mereka berdua kemudian menaiki mobil dan menuju ke kediaman Jackson di Jakarta. Disepenjang perjalanan Berlyn terdiam dan menatap keluar jendela. Entah apa yang tengah dipikirkannya.


"Bear ada apa? Kenapa kau sangat murung?" tanya Julian yang melihatnya cemberut.


"Ah tak apa kak, aku hanya sedikit lelah saja. Ingin cepat- cepat sampai rumah untuk tidur." jelasnya.


"Kalau begitu tidurlah, aku akan membangunkanmu ketika kita telah sampai di rumah!" perintah Julian.


"Tapi sebelum kita pulang, apakah kita bisa mampir ke warung bakso langganan aku kak? Aku sungguh merindukan rasa makanan itu." rengekannya.


"Baiklah, sesuai keinginanmu tuan putri." Julian akhirnya melajukan mobilnya menuju ke tempat yang diinginkan Berlyn.


Berlyn terlelap didalam mobil. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian mukanya. Tubuhnya sedikit miring ke kiri, dan nampak tak nyaman. Julian yang ingin membangunkannya saat telah sampai di depan warung bakso pun merasa tak tega.


"Kakak apakah kita sudah sampai?" tanya Berlyn sambil mengucek matanya. Gadis cantik itu kemudian membenarkan posisi duduknya, lalu mencepol rambut indahnya.


"Sudah sekitar 25 menit yang lalu." jawab Julian sambil memainkan gawainya.

__ADS_1


"Apa? Kenapa tak membangunkanku?" protesnya.


"Aku tak tega melihatmu tidur. Ayo kita keluar!" aja Julian lalu berjalan lebih dulu menuju tempat itu. Berlyn pun menyusulnya. Mereka kemudian memesan bakso. Dan tanpa menunggu lama, hidangan itu telah tersaji di atas meja.


"Sudah lama aku tak kesini, tapi tempatnya tak berubah. Rasanya juga sama, tetap nikmat." ucap Berlyn sambil menyuapkan bakso itu ke dalam mulutnya.


"Itu karena mereka tidak ingin mengecewakan para pelanggannya dengan cara tetap mempertahankan citarasanya." terang Julian.


Mereka berdua menikmati baksonya dengan sangat tenang. Sesekali terdengar canda tawa dari keduanya. Berlyn pun akhirnya menghabiskan dua porsi bakso kuah.


"Ayo kita pulang! Mom and Dad pasti sudah menunggu kita." ajak Julian. Keduanya lalu bergegas menuju ke dalam mobil. Julian kini melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Berlyn kembali mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan tidur.


Setelah cukup lama terjebak di dalam kemacetan, mobil yang dikendarai Julian akhirnya sampai di kediaman keluarga Jackson. Julian nampak menggendong Berlyn dari dalam mobil. Dia tak ingin mengganggu adiknya yang sedang terpulas. Sementara beberapa penjaga membawa masuk barang-barang milik Berlyn.


Sesampainya di dalam kamar, Julian meletakkan adiknya secara perlahan. Dikecupnya kening sang adik penuh sayang. Lalu diselimutinya tubuh mungil itu. Julian berdiri disamping ranjang Berlyn. Dia menatap wajah cantik Berlyn yang tengah tertidur dengan lelap.


"Apakah dia tidur?" tanya mommynya.


"Iya mom, sepertinya dia sangat lelah." ucap Julian.


Tepat pukul 7 malam, semua keluarga Jackson sudah berkumpul di ruang makan. Mereka masih menunggu sang putri tercinta untuk makan malam bersama. Namun yang ditunggu tak kunjung turun ke bawah.


"Mommy akan naik ke atas untuk melihat Berlyn." ucap Marsha yang kemudian berjalan menaiki tangga dan menuju ke kamar Berlyn.


Dia kemudian membuka kamar putrinya itu, namun ternyata masih gelap. Samar-samar dilihat dari pantulan cahaya bulan purnama, anak gadisnya itu masih meringkuk dibalik selimutnya. Marsha kemudian menyalakan lampu dan mendekat ke arah anaknya.


"Bear bangun, saatnya kita makan malam!" kata Marsha membangunkan putri kesayangannya.


"Ah mommy maafkan aku sampai tidur selama ini." ucapnya sambil bersandar disandaran tempat tidur. Dia sangat terlihat kusut.


"Mandilah Bear, lalu turunlah ke bawah untuk makan malam! Daddy dan kakakmu sudah menunggu." perintah Marsha.


"Baiklah mom, tunggu sebentar. 20 menit lagi aku akan ke bawah." jawabnya. Marsha kemudian pergi dari kamar putrinya itu. Sementara Berlyn lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selanjutnya dia turun ke bawah untuk makan makan bersama keluarganya.

__ADS_1


Keluarga Jackson menikmati hidangan makan malam bersama dengan sangat tenang. Berbagai hidangan yang menggoda lidah tersaji di atas meja. Beberapa makan kesukaan Berlyn juga dihidangkan.


Setelah selesai menyantap makan malam, keluarga Jackson pun berkumpul di ruang keluarga. Mereka menikmati waktu luang untuk mengobrol bersama sambil meminum black tea.


"Bear apa rencanamu setelah ini?" tanya Thomas sambil menikmati tehnya.


"Aku akan bekerja dad. Sesuai yang pernah kita bahas, aku akan bekerja di perusahaan orang lain." tegasnya.


"Kamu mau bekerja dimana?" tanya Julian.


"Pekan lalu aku sudah mengajukan lamaran di Global company via email. Aku sudah mendapatkan email balasan. Mereka menerimaku. Dan pekan depan aku sudah bisa bekerja disana." jawab Berlyn sambil memotong apel lalu melahapnya.


"Bukankah itu perusahaan baru berkembang?" ucap Julian yang sedikit penasaran.


"Iya, tapi mereka dapat maju dengan pesat. Banyak proyek dan tander besar yang bisa mereka dapatkan beberapa pekan ini." jelas Thomas.


"Tapi dad, aku harap kau mengijinkanku untuktinggal di rumah kontrakan atau kost-kostan." pinta Berlyn.


"Kenapa begitu sayang? Mommy tidak setuju." tolak Marsha yang tak rela putri pindah ke tempat yang lebih kecil. Bahkan tak nyaman di tinggali menurut.


"Aku mohon mom, ijinkan aku! Aku tak bisa tinggal disini. Bisa-bisa rekan kerjaku curiga." rengekannya.


"Menurutku tak masalah, asalkan dia bisa bertahan hidup sendiri tanpa ada yang membantunya atau memberikan dia uang sedikitpun!" ucap Thomas.


"Tapi dad..." ucapan Marsha terpotong oleh kata-kata Thomas terlebih dahulu.


"Percayalah mom, putri kita bisa melakukannya. Lagi pula ini juga melatihnya hidup mandiri." tegas Thomas.


"Terserah apa katamu saja." akhirnya Marsha mengalah pada suaminya. Sedangkan Berlyn tampak bahagia diberikan lampu hijau oleh orang tuanya.


"Bear kalo kamu bisa mendapatkan beberapa proyek besar dan menanganinya di perusahaan itu, aku akan memberikannyamu hadiah!" ucap Julian tiba-tiba.


"Ide yang bagus, aku setuju kak." jawabnya.

__ADS_1


"Dan jangan lupa, aku sendiri yang akan memilih hadiahnya untukku nanti. Jadi bersiaplah uangmu aku kuras habis!" imbuh Berlyn dan semua orang yang berada di ruang keluarga tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2