Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
30. Pindah Rumah


__ADS_3

Hari ini waktunya Berlyn untuk pindah ke rumah kontrakan yang akan menjadi tempat tinggalnya selama bekerja di Arabel Company. Tak banyak yang dibawanya. Dia hanya membawa dua koper untuk membawa baju, beberapa pasangan sepatu dan beberapa tas untuknya pergi kerja.


"Apa kau sudah benar-benar yakin hanya akan membawa ini?" tanya Julian menyakinkan adiknya itu.


"Tenanglah kak, bila nanti ada yang kurang aku akan mengambil barang-barangku lagi!" jawab Berlyn enteng lalu mendahului kakaknya menuju ke mobil.


Setelah merasa tak ada yang tertinggal, mereka lalu berangkat ketempat tujuan. Memakan waktu 45 menit untuk menuju ke kontrak Berlyn. Sesampainya di depan gang mereka turun dan berjalan menyusuri lorong sempit.


"Oh astaga Bear, yang benar saja kamu mau tinggal di tempat seperti ini?" ucap Julian tak kala merasa kesal harus melewati gang sempit yang agak becek karena guyuran hujan.


"Jangan banyak bicara kak, ayo jalan dan kamu akan menemukan hunian nyaman yang akan aku tempati!" kata Berlyn sambil terus berjalan memandu di depan.


"Aku akan mengadukannya pada mommy, dia pasti akan mengajakmu pulang sambil menjewer kupingmu sepanjang jalan." Julian masih tak habis pikir, adiknya mencari tempat yang sangat terpencil untuk tinggal.


"Coba saja kalau kau berani!" jawab gadis itu.


Kemudian tak berapa lama mereka sampai di rumah kontrakan tersebut. Ada sedikit rasa lega dihati Julian, karena setidaknya Berlyn tinggal dilingkungan yang bersih dan asri. Keduanya pun lalu memasuki pagar kayu rumah itu.


"Kenapa bisa ada tempat seperti ini disini? Aku saja tak tahu." Julian nampak terheran-heran. Pasalnya lingkungan sekitar kontrakan itu sungguh bersih dan asri, meskipun dikelilingi oleh gedung-gedung menjulang tinggi dan jalan masuknya harus melalui gang sempit. Banyak tanaman hias dan pohon buah yang ditanam sekeliling komplek itu.


"Apa yang kamu tahu kak, selain bekerja dan bekerja?" ledek Berlyn.


"Ayo kita masuk kak!" ajaknya setelah berhasil membuka pintu.


Berlyn dan Julian kemudian memasuki rumah tersebut. Julian yang penasaran dengan rumah tersebut langsung berkeliling melihat-lihat. Dia sangat terkagum-kagum dengan desain interior rumah minimalis bergaya modern itu.


Sementara Berlyn terlihat sedang menata barang-barangnya di kamar yang akan ditempatinya. Dia mulai menyusun pakaiannya ke dalam almari kecil di sudut ruangan itu. Gadis itu terdengar sedang bersenandung kecil dan terlihat bahagia.


"Apa kamu yakin akan tinggal disini sendiri?" Itulah pertanyaan yang berulang kali Julian tanyakan pada Berlyn ketika masuk kerumah tersebut.


"Aku sangat yakin kak. Aku merasa nyaman disini."


"Tapi aku sangat tak tenang. Atau aku sewakan apartemen saja di dekat kantormu itu?" tawar Julian.

__ADS_1


"Tidak kak, aku takut banyak orang yang curiga dengan statusku. Bisa-bisa mereka berfikir aku adalah sugar baby seorang lelaki tua yang kaya." tolak Berlyn.


"Mungkin itu lebih baik." ucap Julian terkekeh geli. Seketika Berlyn cemberut mendengar jawaban kakaknya itu.


Mereka berdua pun akhirnya membereskan rumah itu hingga menjelang sore. Berlyn terlihat sangat lelah. Namun senyum terus mengembang di bibirnya. Menandakan wanita itu sangat bahagia.


Malam ini dia ingin sekali beristirahat cukup. Apalagi besok adalah hari pertamanya bekerja. Ada rasa deg-degan didalam hatinya. Dia sudah membayangkan memiliki atasan yang galak dan super killer.


"Aku sangat lapar, bagaimana kalau kita memesan makanan saja?" kata Julian yang kini tengah duduk di sofa sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.


"Bagaimana kalau kita makan diluar saja kak? Aku juga harus membeli beberapa keperluan dapur." ajak Berlyn yang kemudian disetujui oleh Julian.


Kakak beradik itu pun kini keluar untuk berbelanja ke supermarket terdekat. Mereka memilih beberapa kebutuhan dapur yang cukup untuk mengisi kulkas hingga seminggu kedepan. Setelahnya kedua orang itu bergegas menuju ke restoran untuk mengisi perut.


"Ah aku sungguh lapar, kita makan di restoran cepat saji saja!" ajak Julian yang kemudian berjalan duluan. Berlyn hanya mengekor di belakangnya saja. Keduanya kini telah memesan burger, french fries dan soft drink. Julian makan dengan sangat lahap. Bahkan sudah menghabiskan 2 burger sekaligus.


"Kak, kamu makan kaya orang kesurupan saja. Laki-laki tampan tapi makanya banyak juga." ledek Berlyn.


Setelah menyelesaikan makan, mereka kemudian kembali pulang. Berlyn kembali bersenandung di sepanjang jalan. Dan Julian hanya bisa menikmati suara merdu adiknya itu.


"Bear, bagaimana denganmu bila harus menggunakan alat transportasi umum nanti? Aku rasa akan sangat tidak aman." ucap Julian tiba-tiba.


"Kak, sudah berapa kali aku bilang. Percayalah padaku!" ucap Berlyn menyakinkan.


Berlyn tau, Julian saget tidak mendukung dengan semua yang dilakukannya kali ini. Apalagi dengan keadaannya yang berbalik seratus delapan puluh derajat. Dia yang seorang nona muda memilih tinggal di rumah sederhana. Dengan tanpa menggunakan kendaraan pribadi.


Setelah menyusuri jalanan ibu kota yang selalu padat merayap, keduanya telah kembali sampai di kontrakan Berlyn. Berlyn lalu menyusun belanjaannya di kulkas. Kemudian gadis itu membuat secangkir kopi untuk kakaknya.


"Minumlah dulu kak!" ucap Berlyn sambil menyodorkan secangkir hot capuccino untuk Julian.


"Terima kasih banyak."


Mereka kemudian mengobrol bersama menikmati suasana senja yang mulai merapat. Berlyn pun mengupas buah apel sebagai camilan. Sesekali disiapkannya potongan buah itu ke kakaknya yang asyik memainkan gamenya.

__ADS_1


"Aku sangat gerah."


"Kalau begitu mandilah kak!" Berlyn lalu menyodorkan paperbag berupa baju ganti milik Julian yang kebetulan dibeli saat tadi pergi berbelanja.Tak lama kemudian lelaki itu sudah keluar dari kamar mandi. Dia terlihat lebih segar dengan rambut basah dikepalanya.


"Kak apakah kau sudah mau pulang?"


"Tidak, aku rasa malam ini akan menginap disini saja."


"Tapi kak, aku rasa kakak lebih baik pulang saja!"


"Isss, kau mengusirku? Sungguh terlalu."


"Baiklah terserah padamu saja."


Berlyn pun lalu menuju ke kamarnya. Dia juga merasa sangat gerah. Kemudian berlalu menuju ke dalam kamar mandi. Setelah cukup lama membersihkan diri, wanita itu akhirnya keluar juga. Tentunya denga pakaian yang telah lengkap ditubuhnya.


Berlyn kembali berjalan keluar menuju keruangan dimana Julian berada. Dilihatnya, sang kakak yang sedang sibuk menerima telpon diluar rumah. Karena merasa haus, gadis itu lalu pergi menuju ke dapur.


Sesaat kemudian, dia tak kunjung menemukan Julian kembali. Ada sedikit rasa khawatir. Tapi akhirnya ditepisnya perasaan itu. Namun tak berapa pintu rumahnya diketuk.


"Surprise!!!" teriak Marsha dan Thomas di depan pintu.


Betapa kagetnya Berlyn mendapati kedua orang tuanya mendatanginya. Ada sedikit rasa takut, mommynya akan mengomel. Setelah melihat rumah yang ditempatinya kini.


"Kenapa daddy dan mommy kesini?"


"Oh jadi apakah kami tak boleh kemari?" tanya mommynya dengan mimik dibuat sesedih mungkin.


"Tidak, bukan begitu maksudku mom. Aku hanya kaget saja melihat mommy dan daddy kemari."


"Oh ayolah sayang jangan seperti itu! Kami akan menginap disini malam ini."


"What??"

__ADS_1


__ADS_2