
"Sudahlah kita teruskan mengobrolnya nanti! Mommy sangat lapar, ayo kita makan diluar! Apalagi ini sudah waktunya makan siang!" ajak Marsha yang sudah menahan lapar sedari tadi.
"Baiklah ayo kita cari makan!" ajak Julian sambil beranjak dari sofa yang didudukinya.
"Oh jangan lupa juga, mulai hari ini kamu harus tinggal di mansion!" imbuh mommynya.
"Apa? Tapikan aku belum berkemas moms." tolak Berlyn.
"Tenanglah, biarkan para maid yang mengambilnya nanti! Atau kamu juga bisa membelinya nanti!" ucap Marsha dengan entengnya. Dia pun kemudian berjalan keluar dari apartemen Berlyn. Sementara Berlyn masih diam mematung mendengar perintah mommynya yang tak bisa dibantah.
"Huhh, baiklah!" guman Berlyn sambil berjalan menyusul Julian dan Mommynya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Perlahan mobil Hummer itu pun melaju membelah jalanan kota London yang dipadati salju yang mulai mencair. Sesekali mereka nampak berbincang hangat. Seolah melepaskan kerinduan selama enam bulan tak saling bertemu. Meskipun saling bertegur sapa melalui gawai masing-masing.
"Moms, kita mau makan dimana?" tanya Julian sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Bagaimana kalau kita menyantap fettuccini saja!" usul Marsha.
"Boleh juga moms. Bagaimana kalau kita ke restoran Rosmery saja, yang menyajikan beberapa hidangan Italia yang sangat lezat disini?" usul Berlyn yang kemudian disetujui oleh Julian.
Tak berapa lama mereka telah sampai di restoran yang dituju. Restoran dengan gaya dekorasi Italian yang sangat mewah. Setelah masuk dan mendapatkan meja, mereka pun memesan beberapa hidangan yang menggiurkan lidah.
"Oh ya nak, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Marsha membuka pembicaraan setelah mereka sama-sama diam dan memainkan gawai masing-masing.
"Lancar moms, aku sangat menyukai teman-teman baruku disini. Mereka sangat baik padaku. Aku juga sangat suka tinggal disini" jawab Berlyn denga sangat antusias.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Setidaknya mommy merasa lebih lega sekarang."
"Tapi jangan lupa dan terlalu senang, karena kami juga masih tetap mengawasimu!" imbuh Marsha yang disambut tawa oleh Julian.
__ADS_1
Seketika raut wajah Berlyn kembali masam. Dia juga kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu. Dimana dia hampir saja dilecehkan oleh beberapa preman yang menghadangnya. Ketika dia hendak berjalan pulang dari kampusnya. Namun untungnya, beberapa bodyguard yang diperintahkan mengikutinya secara diam-diam datang menolongnya tepat waktu. Berlyn amat bersyukur, daddynya masih memberikan pengamanan padanya meskipun dari jarak jauh.
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang pelayan yang menyajikan hidangan yang mereka pesan. Karena merasa sangat lapar, Berlyn langsung menyantap makanannya.
"Sudah sampai London, makan saja masih bar-bar." ledek Julian yang tak dihiraukan oleh Berlyn. Lalu mereka pun kini makan dengan tenang. Dan juga tampak menikmati hidangan-hidangan yang tersaji diatas meja itu.
"Baiklah saatnya kita pulang sepulang sebelum cuaca semakin dingin dan terjadi badai salju!" Marsha yang lebih dulu selesai menyantap makanannya pun langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah moms." jawab Julian dan Berlyn yang juga langsung menyelesaikan makan mereka. Tak lama kemudian mereka bertiga langsung menuju ke mobil untuk pulang.
Sesampainya di mansion, mereka disambut oleh para maid yang sudah berjejer rapi di depan pintu. Bibi Ana pun langsung tersenyum ketika melihat nona muda mereka yang ikut pulang ke mansion.
"Bibi Ana...!!" Berlyn yang baru saja sampai di depan pintu langsung berhambur memeluk bi Ana yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
"Ah nona....!" bi Ana pun tak kuasa meneteskan air mata kerinduan pada Berlyn yang telah dirawatnya sejak bayi.
"Ah bibi, kenapa kau cerewet sekali hari ini?" ucap Berlyn mencandai bi Ana yang disambut gelak tawa semua orang.
"Aku baik-baik bi. Aku juga sangat merindukanmu bi. Aku sungguh tak mengira bibi bisa ikut kemari?" kata Berlyn kembali.
"Ah ini sebenarnya adalah ide nyonya besar." jawab bi Ana.
"Baiklah, sebaiknya kita masuk ke dalam dulu baru melanjutkan kangen-kangenannya!" kata Marsha.
Mereka pun kini masuk ke dalam mansion. Dan para maid pun membubarkan diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Sementara bi Ana menuju ke dapur untuk membuatkan coklat hangat kesukaan nona mudanya itu.
Berlyn yang merasa bosan, kini tengah merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia iseng untuk membuka instagram miliknya. Berselancar mengikuti berita gosip tanah air di akun media sosialnya.
Deg...
__ADS_1
Hatinya seolah tertusuk beribu duri tak kala membaca salah satu postingan berita akun gosip tersebut.
Akun itu memberikan tentang hubungan Zyan dan Yasmine yang makin romantis dan serasi. Bahkan mereka sebentar lagi akan bertunangan.
"Kenapa sesakit ini melihat berita tentang mereka?" lirih Berlyn.
Tak cukup dengan melihat berita dari akun gosip itu. Gadis itu mencoba mengorek informasi lebih tetang kabar pertunangan Zyan dan Yasmine. Berlyn yang begitu kepo langsung menstalking akun instagram milik Zyan. Banyak sekali foto mesra Zyan dan Yasmine yang diunggah disana. Bahkan foto-foto itu hampir mirip seperti foto prewedding.
"Huhh... Kenapa begitu susah melupakan perasaanku padamu Zyan? Aku memang sungguh bodoh, mencintai orang yang sama sekali tak melihat padaku." gumannya.
Tak berapa lama, bi Ana datang membawakan secangkir coklat hangat dan juga beberapa potong cheese cake untuknya. Bi Ana melihat nona mudanya tengah termenung sambil memegang gawainya. Perlahan dia pun berjalan mendekat.
"Apa yang sedang kau pikirkan nona? Sepertinya ada yang tengah mengganggu pikiranmu?" tanya bi Ana sambil meletakkan nampan yang dibawanya ke atas nakas.
"Ah... Tak ada bi, aku hanya sedang merasa lelah saja." jawab Berlyn yang mencoba menyembunyikan isi hatinya.
"Akulah yang merawatmu sejak kecil. Aku tahu betul, kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya bi Ana kembali. Berlyn pun kemudian menyandarkan kepalanya di atas pundak bi Ana. Gadis itu lalu menunjukkan apa yang tengah dilihatnya dari gawainya.
"Lelaki ini adalah Zyan bi, orang yang aku cintai. Namun sayangnya dia telah memiliki kekasih. Dan gadis ini bernama Yasmine." Berlyn kini mulai bercerita pada bi Ana.
"Awalnya aku berharap masih bisa mendekati Zyan. Namun ternyata kesempatan itu tak akan pernah bisa datang untukku. Cintanya pada Yasmine sangatlah besar." lanjutnya.
"Itulah alasan mengapa aku kemudian memiliki pergi ke London bi. Aku ingin melupakan cintaku pada lelaki itu." terangnya.
"Nona jodoh, hidup dan mati semua telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan menemukan cinta sejatimu." kata bi Ana sambil mengusap-usap kepala Berlyn.
"Dan cinta memang tak harus saling memiliki. Memang benar kata orang, sangat mudah untuk mencintai seseorang. Namun akan membutuhkan waktu yang lama untuk melupakannya dan mengobati hati yang patah." ucap bi Ana.
"Nona, percayalah suatu hari nanti kamu akan menemukan jodohmu. Lelaki yang pantas menyandingmu di pelaminan. Lupakan dia, meskipun beribu rasa sakit akan menghantam hatimu. Tetapi berusahalah, karena aku yakin kau pasti bisa!" bi Ana memeluk Berlyn yang kini tengah menangis.
__ADS_1