Cinta Rasa Kare

Cinta Rasa Kare
17. Kedatangan Mommy Dan Julian


__ADS_3

Enam bulan pun telah berlalu. Berlyn yang tengah terpulas diatas tempat tidurnya terbangun, karena merasa dingin akibat angin yang menerobos masuk melewati jendela kamarnya. Bulan Desember penghujung tahun ini, London tengah dipenuhi oleh hamparan salju. Liburan musim dingin kali ini, Berlyn ingin menikmati hidupnya dengan bermalas-malasan. Seperti halnya hari ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang waktu setempat. Namun gadis itu masih enggan bangun dari kasurnya.


Drettt ... Drettt....


Gawainya bergetar dan berbunyi nyaring. Menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dengan sangat enggan, wanita cantik itu pun langsung meraih ponselnya yang sudah berisik sedari tadi.


"Bratandari Jemimah Amberlyn Jackson cepat buka pintu, sebelum aku mendobraknya terlebih dahulu!" mendengar teriakan sang mommy dari telpon, seketika saja Berlyn langsung loncat dari tempat tidurnya. Dia tak mengira mommynya akan datang menemuinya di apartemen yang kini tengah ditempatinya.


"Oh shittt!" umpatnya.


"Bakal kiamat ini, kalo mommy tau aku baru aja bangun." Dengan tergesa-gesa, wanita cantik itu berlari menuju pintu apartemennya. Jangankan membasuh muka, bahkan dia juga tak sempat merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Setelah sampai didepan pintu, gadis itu nampak menarik nafas dalam-dalam. Dia juga harus menyiapkan mental, menghadapi omelan sang mommy yang akan membuat telinganya panas. Perlahan-lahan, Berlyn meraih handel pintu dan membukanya.


"Morning moms!" sapanya ketika melihat mommynya dan Julian di depan pintu. Namun Marsha malah tampak semakin garang melihat putrinya itu masih mengenakan piyama dengan rambut yang acak-acakan.


"Ya Tuhan dosa apa yang sudah aku lakukan, sehingga mempunyai anak pemalas sepertimu?" Dan akhirnya, omelan sang mommy pun dimulai.


Kemudian setelah hampir setengah jam, Marsha pun berlalu meninggalkan Berlyn yang masih duduk di sofa ruang tamu untuk mengambil air minum. Nampaknya wanita tua itu merasa dahaga, setelah meluapkan kekesalannya dengan putrinya yang menurutnya pemalas itu.


"Aku sangat haus, sebagai seorang tua rumah apakah tak bisa memberikanku air minum?" ucap Julian yang malah sedang asyik bermain game di hpnya.


"Males banget, ambil sendiri sana!" Berlyn pun kemudian beranjak dari sofa dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Dasar adik durhaka!" ucap Julian sambil pergi ke dapur.


Sedangkan di dalam kamarnya, Berlyn menggerutu terus menerus. Menurutnya ini adalah hari paling sial baginya. Bukannya bisa asyik rebahan seharian, tapi malah dapat ceramah dari sang mommy.

__ADS_1


Sungguh dia tak menyangka, mommy dan kakaknya akan datang menemui dirinya secara tiba-tiba seperti hari ini. Gadis cantik itu bahkan tak tahu kapan mereka tiba di London. Karena mommy sama sekali tak memberi tahu kalau dia akan datang ke London.


"Lebih baik aku mandi aja dulu deh dari pada ntar dapat omel lagi." katanya pada dirinya sendiri.


Berlyn pun kemudian meraih handuk kimononya dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah empat puluh menit kemudian, dia keluar dan mengenakan pakaian. Setelah menyisir dan mengikat rambutnya, dia pun keluar dari kamar.


Dipandanginya ruang tamu yang terlihat sepi. Rupanya Julian tengah terpulas diatas sofa. Dia pun kemudian pergi ke dapur. Dan nampak mommy tengan memasak.


"Hemmm harus sekali moms. Apa yang sedang mommy masak?" ucap Berlyn sambil mengambil segelas air putih lalu duduk di kursi makan.


"Ini makanlah sarapanmun yang sudah terlambat! Mommy hanya membuatkanmu omelette, karena tidak ada bahan makanan lain di dalam kulkas." kata Marsha sambil menyodorkan piring berisi omelette sosis dengan taburan keju kesukaan Berlyn.


"Terima kasih banyak moms, maaf aku belum sempat berbelanja kemarin!" katanya sambil mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


"Makanlah dan habiskan makanan itu! Mommy akan menunggumu di depan!" Marsha meninggalkan Berlyn sendiri dan menuju ke ruang tamu. Dia tidak ingin mengganggu sarapan putrinya.


"Moms, kenapa datang nggak bilang-bilang dulu sih?" ucap Berlyn kepada Marsha.


"Kalo ngomong-ngomong, ntar kamu nggak bisa kegap kalo belum bangun." jawab Julian sambil meledek adiknya itu.


"Ah nggak asyik banget tau." Berlyn pun kemudian cemberut.


"Tapi Bear, mommy nggak habis pikir. Kenapa sih, dimanapun kamu tinggal nggak bisa hilangin kebiasaanmu bangun kesiangan." tanya Marsha.


"Namanya juga kebo moms." celetuk Julian. Berlyn seketika saja memelototi kakaknya itu. Sementara mommynya menjewer telinga Julian.


"Berlyn sayang, tidakkah kamu mau tinggal di mansion kita saja nak?" bujuk Marsha, "Tempat ini sangat kecil, mommy takut kamu tak nyaman tinggal disini."

__ADS_1


"Jangan khawatir moms, aku sangat nyaman tinggal disini. Bahkan aku suka tempat ini." elak Berlyn. Menurutnya, dari pada harus tinggal di mansion yang dijaga 24 jam oleh para bodyguard dan para maid yang selalu standby. Dia lebih menyukai tinggal di apartemen kecil dengan satu kamar sendiri. Ditambah lagi, Berlyn bisa melakukan apapun yang dia mau.


"Tapi nak..." sebelum Marsha menyelesaikan perkataannya, Berlyn sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Percayalah moms, aku baik-baik saja!" ucapnya meyakinkan.


"Ya baiklah bila itu yang menjadi kemauanmu nak." jawab Marsha mengalah meskipun dengan agak berat. Sungguh dia tak rela melihat anaknya itu memilih hidup sederhana. Dan sama sekali tak memilih semua fasilitas mewah yang telah mommy dan daddynya siapkan.


Meskipun apartemen yang ditempati Berlyn cukup kecil. Namun sungguh bersih dan rapi. Setiap tiga hari sekali akan ada seorang bibi yang datang untuk membersihkan apartemen Berlyn tersebut. Itu juga sudah menjadi pengaturan dari mommynya.


"Oh iya, dimana daddy moms? Kenapa dia tak ikut kemari?" tanya Berlyn yang sudah sangat merindukan daddynya.


"Dia sedang mengurus beberapa bisnisnya di Australia. Mungkin beberapa hari lagi daddymu akan terbang kemari." jelas Marsha.


"Lalu kenapa kamu disini kak?" tanya Berlyn sambil menatap kakaknya yang tengah sibuk mengecek email lewat gawainya.


"Aku mengambil cuti. Dan aku mungkin akan tinggal disini." jawab Julian sambil tersenyum manis "Selama sebulan pastinya." Berlyn terdiam dan sedikit kaget dengan jawaban kakaknya.


"Kenapa lama sekali kak? Apakah perusahaanmu tidak membutuhkanmu lagi?" Berlyn berharap kakak agar segera kembali pulang. Bila tidak, bisa di pastikan dia akan diawasi terus.


"Kenapa ekspresimu seperti itu? Apakah kamu tak suka aku berada disini?" selidik Julian yang melihat gelagat tak suka adiknya. Dia tahu betul, adiknya tidak menginginkannya juga tinggal di London. Karena Berlyn akan tak bisa lepas dari pengawasannya.


"Ah tidak kak, buka begitu. Hanya saja perusahaan juga membutuhkanmu." jawab Berlyn.


"Aku rasa tak akan ada masalah besar. Karena aku menyuruh Davian menghandle semua pekerjaanku selama aku disini." jawab Julian.


"Pantas saja, sekretaris kakak yang selalu menempel bak parasit itu tak ikut kemarin." ledek Berlyn.

__ADS_1


"Ya, biarkan saja dia tetap tinggal disana. Lagi pula aku juga disini ingin mengurus beberapa hal dan membuat perusahaan baru disini." kata Julian yang membuat Berlyn langsung terbengong.


__ADS_2