
Berlin telah bersiap. Dia terlihat cantik dengan gaun pantai yang dikenakannya. Tidak lupa dengan topi yang melingkar di kepalanya. Wanita dengan tinggi 165 cm itu, kini berjalan menuruni tangga. Dan ternyata Julian sudah menunggunya di sana.
"Apakah kamu sudah siap princess?" tanya Julian.
"Seperti yang kamu lihat kak." jawab Berlyn.
"Ok,let's go!" ajak Julian.
Julian dan Berlyn kini mulai melakukan perjalanan menuju ke pantai. Tempat favorit dimana Berlyn dapat melupakan kesedihannya. Butuh waktu BB perjalanan selama dua setengah jam untuk sampai ke tempat yang mereka tuju.
Sepanjang perjalanan, Berlyn terlihat sangat senang. Bahkan sesekali menyanyikan lagu My Everything, salah satu single milik Ariana Grande. Julian tersenyum lega, melihat adiknya bahagia.
"Hanya main kepantai saja kamu sudah sebahagia ini." ucapa Julian.
"Pastilah! Lagian selama ini kita juga jarang main bareng." cebik Berlyn.
"Kerjaan lebih penting dari adik sendiri." lanjut sindirnya.
"Hemm iya maafkan aku yang terlalu sibuk bekerja!" pinta Julian.
Kedua adik kakak itu kemudian melanjutkan obrolan mereka. Sesekali mereka membahas tentang masa kecil mereka. Mengenang moment-moment kejahilan dan keusilan masing-masing.
Berlyn pun teringat dengan keusilannya pada kakaknya itu. Meskipun dia berakhir dengan menagis. Tapi tak jarang Julian akan membelanya ketika mommynya memarahi Berlyn. Dan terkadang Julian sering mengakui kesalahan yang Berlyn perbuat sebagai kesalahannya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan jalan yang berkelok-kelok. Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Mereka memilih untuk menginap di resort pribadi keluarga Jackson. Julian berniat untuk mengambil cuti selama seminggu untuk menemani adik kesayangannya liburan.
"Beristirahatlah dulu! Nanti aku akan mengajakmu menikmati sunset" ujar Julian.
"Baiklah kak. Selamat beristirahat kak!" balas Berlyn.
Berlyn menuju ke kamarnya. Sementara semua koper mereka sudah terlebih dahulu di bawa masuk oleh para pelayan resort tersebut. Karena merasa lelah dia pun merebahkan tubuhnya dan tak lama kemudian terlelap ke alam mimpi.
Sementara Berlyn dan Julian tengah beristirahat, ditempat yang sama Zyan dan Yasmine sedang berlibur bersama. Liburan Yasmine kali ini bebarengan dengan adanya pekerjaan atau beberapa jadwal pemotretan disana.
"Ah sayang aku sungguh lelah." keluh Yasmine.
"Beristirahatlah! Malam ini aku akan memberikan dinner yang spesial untukmu." kata Zyan.
"Benarkah?" tanya Yasmine meyakinkan.
"Ya, tentu saja." balas Zyan.
"Ayo aku antar ke kamarmu!" lanjutnya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kita harus tidur berbeda kamar? Tidak bisakah aku tidur dikamarmu?" rengek Yasmine.
"Tidak sayang, belum saatnya." tolak Zyan.
Kedua sejoli itu pun kini berjalan menuju kamar hotel tempat mereka menginap. Dengan bibir yang cemberut Yasmine mengikuti langkah Zyan di depannya. Kamar Zyan dan Yasmine juga hanya bersebelahan saja.
"Beristirahatlah!" ucap Zyan sembari mengecup kening Yasmine.
Wanita itu hanya diam lalu melangkah masuk menuju ke kamarnya. Sementara Zyan masih menatap pintu kamar Yasmine. Dan tak lama kemudian, lelaki itu juga masuk ke dalam kamarnya.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Berlyn telah bangun sekitar 40 menit yang lalu. Wanita cantik itu telah nampak cantik dan terlihat lebih segar setelah mandi. Dengan mengenakan celana hotpant dan kaos oblong, Berlyn berdiri didepan jendela kamarnya yang langsung menghadap ke pantai.
"Berlyn apakah kamu sudah siap?" tanya Julian dari balik pintu. Wanita ayu itu langsung menuju ke depan pintu dan membukanya dengan perlahan.
"Ayo kita berangkat!" ajak Berlyn.
"Kami yakin mau mengenakan pakaian seperti ini?" tanya Julian dengan tatapan tajam pada adiknya.
"Kak berpakaian seperti ini di pantai itu bukanlah sesuatu yang aneh. Lagian aku juga merasa lebih santai." jawabnya.
"Baiklah, ayo!" ajak Julian sambil menggandeng tangan Berlyn.
"Nikmatilah liburanmu kak dan lupakanlah sejenak pekerjaanmu itu!" ucap Berlyn.
"Ya, aku akan menikmati liburan ini." jawab Julian.
Mereka bermain kejar-kejaran ditepi pantai. Seperti anak kecil yang sedang berlarian kesana-kemari. Julian dan Berlyn sangat tidak memperdulikan pandangan orang sekeliling. Keduanya sangat bahagia menghabiskan waktu sembari menunggu matahari terbenam.
"Berlyn kau kah itu?" sapa seorang lelaki dari kejauhan.
Lelaki itu pun mulai mendekati mereka. Dan tanpa sadar langsung memeluk erat gadis ayu itu. Namun sayangnya laki-laki itu tak menyadari tatapan tajam dari Julian.
"Evandra..." ucap Berlyn.
"Astaga sudah lama kita tidak bertemu, kamu tambah cantik aja." ucap Evan sambil melepaskan pelukannya pada Berlyn.
"Apa kabarmu Van?" tanya Berlyn.
"Aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu?" jawab Evandra.
"Aku juga baik." jawab Berlyn.
__ADS_1
Julian yang sudah merasa panas dengan pemandangan didepannya mencoba berdehem sangat keras. Agaknya dia sangat tidak rela melihat adiknya digoda oleh pria lain.
"Siapakah dia?" tanya Evandra sambil menunjuk ke arah Julian.
Belum sempat Berlyn menjawabnya, Julian telah membuka suaranya terlebih dahulu "Aku Julian tunangan Berlyn."
Sontak saja jawaban Julian membuat Berlyn melongo dibuatnya. Dia baru sadar kalau kakaknya itu sungguh menyebalkan dan overprotektif. Setiap laki-laki yang mendekatinya pasti akan dibuat kabur olehnya. Apalagi selama ini teman-temannya tidak pernah ada yang tahu wajah kakak dari Berlyn.
"Oh maafkan aku sudah mengganggu liburan kalian!" ucap Evandra tulus.
"Tidak apa-apa, kalau begitu kami pergi dulu." kata Julian sambil menyeret Berlyn pergi dari tempat itu.
Berlyn pun merasa sangat kesal dengan tingkat kakaknya. Menurutnya, Julian sungguh sangat berlebihan. Pantas saja setiap lelaki yang mendekatinya akan kabur ketakutan.
"Kak, kamu sungguh sangat menyebalkan." gerutu Berlyn.
"Lebih menyebalkan temanmu itu. Ingin rasanya aku memukul tangannya yang berani memelukmu secara tiba-tiba." balas Julian yang tampak masih kesal.
"Tapi bisakah kamu tidak berbuat seperti itu! Bagaimana mungkin semua laki-laki tidak menjauhiku kalau kakak bersikap begitu galak?" kata Berlyn.
"Aku rasa aku sudah biasa saja. Dimananya yang salah?" tanya Julian.
"Kakak terlalu overprotektif. Bisa-bisa aku menjadi perawan tua akibat ulah kakak." keluh Berlyn.
"Kalo kamu jadi perawan tua, ntar aku bukain ajang pencarian jodoh deh." ujar Julian.
"Hiiih kakak nyebelin." kata Berlyn kesal.
Dengan muka ditekuk Berlyn pergi meninggalkan kakaknya. Dia sangat kesal, kakaknya sama sekali tidak merasa bersalah. Malah dengan bangganya akan mencarikannya jodoh bila dia benar-benar menjadi perawan tua.
"Bear tunggu aku!" pinta Julian.
Julian terpaksa mengejar adiknya yang sedang ngambek itu. Bisa dipastikan dia akan sangat susah untuk merayu sang adik yang sudah kelewat kesal. Namun sayangnya, Julian juga masih tidak mau menyadari kesalahannya. Dia bersikeras, semua yang dilakukannya demi kebaikan Berlyn.
"Baiklah, aku minta maaf!" ucap Julian setelah bisa mengejar Berlyn.
"Aku janji tak akan mengulanginya." lanjutnya.
Sudah berbagai macam cara digunakan Julian untuk membujuk Berlyn. Tetapi adiknya itu memang sangat keras kepala. Dan akhirnya dengan terpaksa, Berlyn mau memaafkan kakaknya.
Setelah beberapa saat, mereka pun menuju ke sebuah restoran mewah didekat pantai. Julian sengaja memilih meja diluar ruangan. Jelas agar Berlyn dapat melihat sunset.
"Berlyn kamu kenapa?" tanya Julian yang melihat adiknya bengong.
__ADS_1
"Ahh, tak apa kak." jawabnya.