
"Mas, sudah stop. Kita makan mie ayamnya di sini," seru Violet.
Nata pun menghentikan motornya di pinggir jalan karena penjual mie ayamnya berada di pinggir jalan.
"Bang Dodo, buatin mie ayam 2."
"Siap Neng Vio."
"Loh, kok si Abangnya tahu nama kamu?" tanya Nata.
"Ini mie ayam langganan aku sama Pelangi dari zaman kuliah dulu."
"Oh begitu."
Violet dan Nata pun duduk di kursi plastik yang sudah disediakan.
"Neng Vio, Mas ini pacarnya Neng Vio ya?" tanya Bang Dodo.
"Bukan Bang, kan sudah aku bilang kalau aku itu akan cari pengusaha bukan driver ojeg online," sahut Violet.
"Dasar matre."
Tidak membutuhkan waktu lama mie ayam yang mereka pesan pun datang.
Nata mulai mencoba mie ayamnya dan ternyata rasanya sangat enak.
"Wow, rasanya enak banget," seru Nata.
Violet tersenyum dan mulai melahap mie ayamnya juga, Nata yang tidak mau berhenti mengunyah, akhirnya dalam waktu sekejap mie ayamnya sudah habis.
"Bang, aku pesan satu lagi."
"Siap Mas."
Uhuk..uhuk..uhuk..
"Mas Nata, kalau Mas nambah lagi bobol dong uang aku," keluh Violet.
"Kamu tenang saja, nanti yang ini biar aku yang bayar."
Violet sedikit lega mendengar jawaban Nata seperti itu, setidaknya dia tidak akan rugi. Setelah mie ayamnya datang, lagi-lagi Nata langsung melahapnya dengan sangat cepat membuat Vio membelalakkan matanya melihat cara makan Nata yang seperti kesurupan itu.
"Bang, satu lagi."
"Astaga, istighfar Mas. Mas kesurupan ya? aku aja yang satu mangkuk belum habis, kamu sudah 3 mangkuk."
"Habisnya enak sih," sahut Nata dengan mulut penuh mie ayam.
Hingga beberapa saat kemudian, mulut Vio sampai menganga karena ini adalah mangkuk kelima yang Nata pesan.
Euuuuuuuuu.....
Nata bersendawa saking kenyangnya, dia mengusap perutnya yang terasa sangat penuh.
"Kenyangnya."
"Ya iyalah, mau gak kenyang bagaimana? kamu menghabiskan 5 mangkuk mie ayam," seru Violet.
__ADS_1
Nata sudah tidak bisa berkata-kata lagi, perutnya sudah sangat kenyang.
"Aku bayar dua mangkuk aja ya, soalnya aku gak punya uang lagi," seru Violet.
Vio pun mulai merogoh dompetnya dan ternyata isinya hanya tinggal 20 ribu karena dia tadi memang membawa uang pas.
"Ya ampun, aku lupa kalau aku tadi cuma bawa uang pas. Bagaimana ini? masa iya, aku harus ngutang dulu sama Bang Dodo.
Nata mengerutkan keningnya saat melihat raut wajah Vio. Vio menoleh ke arah Nata dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
"Senyumannya sangat mencurigakan," seru Nata.
"Mas Nata yang tampan, tadi aku lupa membawa uang. Ini hanya ada 20 ribu, bisakah aku ngutang dulu nanti sampai di kontrakan aku ganti," seru Violet.
"Sudah ku duga."
Nata pun mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang kepada Bang Dodo, Violet hanya bisa tersenyum malu.
"Ujung-ujungnya aku juga yang traktir kamu," kesal Nata.
"Hehehe...maaf."
"Jangan nyengir, gak lucu."
Seketika Violet terdiam dan memanyunkan bibirnya. "Tapi kali ini aku janji, habis sampai di kontrakan aku ganti uangnya soalnya aku sudah janji mau traktir kamu."
"Gak usah diganti, buruan naik mataku sudah berat rasanya ingin tidur siang."
Vio pun memakai helmnya dan segera naik ke atas motor Nata, Nata pun perlahan mulai melajukan motornya.
"Enggak, malas."
"Jangan malas-malas Mas, orang kecil seperti kita itu harusnya semangat dan rajin bekerja biar jadi orang sukses."
"Kamu tidak tahu saja siapa aku," batin Nata.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di kontrakan.
"Mas, terima kasih ya."
"Bagaimana kamu gak terima kasih, sudah makan ditraktir, pulang pun dianterin," seru Nata.
"Iya maaf, pokoknya kalau aku gajian nanti, aku bakalan traktir Mas, aku janji gak bakalan bohong lagi."
"Terserah kamu sajalah."
Nata pun langsung masuk ke dalam kontrakannya, begitu pun dengan Violet.
***
1 Minggu pun berlalu....
Tadi malam jam 22.00, Bobby menjemput Nata ke kontrakannya karena mereka malam itu harus pergi ke Singapura ada urusan bisnis.
Pagi-paginya seperti biasa, hari ini giliran Pelangi yang memakai motor dan Violet pun sudah siap.
"Kok, aku belum mendengar Mas Nata mengeluarkan motornya ya?"
__ADS_1
Violet pun keluar dan mengetuk pintu kontrakan Nata, tapi tidak ada yang membukanya. Violet pun tidak bisa mengintip dari jendela karena gordennya masih tertutup.
"Mas Nata ke mana? masa iya dia masih tidur? tapi kalau masih tidur, masa aku teriak-teriak gak kedengaran sih," gumam Violet.
Violet melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Astagfirullah sudah siang, aku harus mencari ojeg ini supaya cepat sampai."
Violet pun dengan cepat menghentikan ojeg dan segera berangkat ke kantor. Selama bekerja, Violet terus saja memikirkan Nata.
"Dia pergi ke mana ya?"
Waktu pulang pun tiba....
Vio pun segera menghentikan angkot, dan tidak membutuhkan waktu lama, Vio pun sampai di kontrakan bersamaan dengan Pelangi yang baru pulang juga.
"Kontrakan Mas Nata kok sepi ya?" seru Pelangi.
"Iya Pel, apa Mas Nata pindah ya?" sahut Violet.
"Gak mungkin Vio, kalau dia pindah pasti dia bakalan bilang sama kita."
"Lah, memangnya kita siapanya dia? sampai harus bilang dulu sama kita."
Vio dan Pelangi pun masuk ke dalam kontrakannya, Vio terus saja mengintip dari balik jendelanya berharap dia akan bertemu dengan Nata, tapi nyatanya Nata pun tak muncul-muncul.
"Kamu ngapain sih, dari tadi jagain jendela? jangan bilang, kamu lagi nungguin Mas Nata?" goda Pelangi.
"Apaan sih, aku hanya khawatir saja."
"Khawatir atau rindu?" goda Pelangi.
Seketika wajah Violet memerah. "Apaan sih, memangnya kenapa aku harus rindu sama dia? dia itu bukan tipeku," sentak Violet sembari masuk ke dalam kamar.
Pelangi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu, sedangkan Violet tampak melamun.
"Gak mungkin aku sampai suka sama si driver ojeg online itu. Sadar Vio sadar, pokoknya kamu harus dapatkan seorang pengusaha biar nasibmu berubah," gumam Violet dengan memukul-mukul pelan kepalanya.
Sedangkan, di Negara yang nan jauh di sana Nata dan Bobby sedang berada di sebuah restoran. Mereka baru saja bertemu dengan rekan bisnis Nata yang akan bekerja sama dengannya dalam pembangunan perusahaan cabang milik Nata.
"Berapa hari kita di sini?" tanya Nata.
"3 hari Nat, soalnya besok kita harus meninjau perusahaan cabang kita dulu sebelum kembali lagi ke Indonesia."
"Oh...."
"Kenapa? apa kamu mau liburan dulu di sini?"
"Enggak, aku mau cepat-cepat pulang."
"Tumben."
"Memangnya kenapa? aku gak betah di sini," sentak Nata.
"Ya sudah, tapi gak usah ngegas juga kali."
Nata mendelikan matanya ke arah Bobby, ada perasaan yang sulit diungkapkan entah perasaan apa itu.
__ADS_1