
Selama dalam perjalanan, Vio tidak bicara sama sekali bahkan dia membuang pandangannya ke luar jendela.
"Tumben kamu jadi pendiam, biasanya juga kamu petakilan," seru Nata.
"Aku gugup dan takut, Mas."
"Takut kenapa?"
"Takut orangtua Mas Nata tidak menyukaiku dan nanti aku malah diusir lagi."
"Kamu itu terlalu banyak nonton sinetron jadinya seperti itu, orangtuaku baik kok jadi kamu gak usah takut."
"Yakin?"
"Yakinlah."
Vio kembali meremas kedua tangannya, malam ini tangannya begitu sangat dingin saking gugupnya. Nata yang tahu akan kegelisahan Vio, perlahan menggenggam tangannya.
"Jangan takut, walaupun nantinya kedua orangtuaku tidak menyukaimu, aku tidak akan meninggalkanmu tapi sepertinya pemikiranmu itu tidak akan terjadi, aku bisa jamin itu," seru Nata dengan senyumannya.
Vio mulai menyunggingkan senyumannya, ada perasaan lega mendengar ucapan Nata itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Nata pun masuk ke halaman rumahnya. Jantung Vio mulai tidak normal lagi, bahkan kaki Vio sudah lemas saat melihat rumah Nata yang super megah dan mewah itu.
"Ayo keluar."
"Kaki aku lemas Mas."
"Mau aku gendong?"
"Jangan-jangan, aku bisa jalan sendiri."
Vio pun segera keluar dari dalam mobil Nata, dia berdiri di samping mobil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Ayo buruan, semuanya sudah menunggu kita di dalam."
"Takut Mas."
Nata menatap Vio, dia tahu kalau saat ini Vio benar-benar nervous dan tegang karena semuanya bisa dilihat dari raut wajah Vio yang mulai memucat.
Nata menggenggam tangan Vio. "Jangan takut, orangtuaku baik jika mereka macam-macam, aku janji tidak akan membiarkan kamu sendirian," seru Nata dengan senyumannya.
Vio pun menganggukkan kepalanya, dan Vio melangkahkan kakinya dengan digandeng oleh Nata.
"Malam semuanya!" seru Nata.
Semua orang menoleh ke arah pintu masuk, dan Vio mulai gugup dia hanya bisa menundukkan kepalanya.
Mommy Anita bangkit dari duduknya dan menghampiri Nata dan Vio.
"Ya ampun Nata, apa ini calon menantu Mommy?" seru Mommy Anita.
"Iya Mom."
"Ya Allah, cantik sekali. Siapa namumu, sayang?"
"Vi-violet, Tante."
__ADS_1
"Namanya unik, ayo bergabung bersama kami."
Mommy Anita pun merangkul Vio dan membawa Vio bergabung dengan semuanya. Vio hanya bisa tersenyum canggung, karena baru kali ini Vio bisa berkumpul dengan orang-orang dari kalangan atas.
Sabrina menyentuh tangan Vio membuat Vio kaget.
"Kamu cantik banget, ternyata Nata gak salah milih calon istri," goda Sabrina.
"Ya iyalah," sahut Nata dengan bangganya.
"Kamu bekerja di mana?" tanya Mama Sabrina.
"Aku--aku...."
"Dia bekerja di perusahaan Nata, Tante. Nata sebenarnya sudah melarang dia untuk bekerja tapi dia keukeuh ingin bekerja hingga akhirnya dengan terpaksa Nata mempekerjakan Vio di kantor Nata," sahut Nata dengan menggenggam tangan Vio.
"Ya ampun, so sweet banget kamu Nata," seru Sabrina.
Nata hanya menyunggingkan senyumannya...
"Ngobrolnya dilanjut nanti saja, sekarang kita makan saja dulu," seru Daddy Kara.
Semuanya pun mulai melahap makanan yang sudah tersedia di atas meja makan. Vio hanya bisa terdiam dengan garpu dan pisau berada di tangannya.
Nata yang tahu akan kebingungan Vio, memutuskan untuk memotong-motong daging steaknya dan memberikannya kepada Vio.
"Kita tukaran makanan," bisik Nata.
Nata pun memberikan steak yang sudah dipotong-potong, Vio sangat bahagia karena Nata terlihat tahu dan peka akan kesusahan Vio.
Beberapa saat kemudian, semuanya pun selesai makan malam bersama dan berkumpul di halaman belakang.
Uhuk..uhuk..uhuk..
Tiba-tiba Vio tersedak salivanya sendiri membuat Nata seketika mengusap punggung Vio.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nata.
"Ti-tidak, Mas."
"Bagaimana Vio, kamu setuju kan, kalau pernikahan kamu dan Nata akan diselenggarakan sebulan setelah pernikahan Arga dan Sabrina?" tanya Mommy Anita.
Vio tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa tersenyum canggung. Waktu sudah semakin malam, dan Nata pun pamit untuk mengantarkan Vio pulang ke kontrakannya.
Selama dalam perjalanan, Vio tampak terdiam membuat Nata mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa? malam ini kamu terlihat pendiam sekali, tidak seperti biasanya yang selalu bersikap konyol?"
"Yaelah Mas, masa iya aku mau bersikap konyol di hadapan kedua orangtua Mas Nata, bisa-bisa aku diusir," sahut Vio.
"Bagaimana, orangtua aku baik kan?"
"Baik banget malah."
"Terus, menurut kamu bagaimana dengan pernikahan kita? apa kamu siap menikah denganku dalam waktu dua bulan lagi?"
"Mas, menurut aku itu terlalu terburu-buru, belum orangtua aku di kampung, mereka mana ada uang buat acara pernikahan aku," keluh Vio.
__ADS_1
"Kamu sudah mulai amnesia ya? kamu tidak tahu siapa calon suamimu ini? aku tidak menyuruh kamu atau pun orangtua kamu untuk menyiapkan acara pernikahan kita, semuanya biar aku yang urus jadi, kamu dan orangtua kamu tinggal diam dan duduk manis saja gak usah memikirkan apa pun."
"Serius Mas?"
"Kapan aku bohong sama kamu."
Saking senangnya Vio sampai memeluk Nata membuat Nata yang sedang mengemudikan mobilnya kaget dan oleng untung jalanan sepi jadi tidak berbahaya.
"Astaga Vio, untung jalanan sepi kalau tidak, bisa celaka kita," seru Nata.
"Maaf Mas, saking bahagianya," sahut Vio dengan masih nemplok di badan Nata.
Gunung kembar Vio yang lumayan berisi dan kenyal itu tampak menempel di lengan Nata membuat jantung Nata dag dig dug tak karuan.
"Vi-vio, bisa kamu lepaskan pelukanmu?" seru Nata gugup.
"Memangnya kenapa? aku kan sudah wangi sekarang gak bau lagi, Mas sudah belikan aku parfum mahal yang wanginya tahan sampai dua hari," seru Vio dengan polosnya.
"Bu-bukan masalah itu Vio."
"Terus, kenapa?"
Nata menggerakkan tangannya secara perlahan membuat Vio sadar dan langsung menjauh dari Nata, Vio menutup dadanya dengan kedua tangannya.
Wajah Vio dan Nata sama-sama memerah, seketika keduanya jadi canggung. Hingga tidak membutuhkan waktu lama, mobil Nata pun sampai di depan kontrakan.
"Terima kasih Mas, aku masuk dulu," seru Vio gugup.
Vio pun hendak turun, tapi Nata menahan lengan Vio.
"Tidak adakah tanda perpisahan?"
"Hah, maksud Mas apa?"
Vio memang tidak peka karena pada dasarnya Vio memang tidak pernah pacaran, dan baru kali ini dia pacaran.
Nata mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Vio membuat Vio semakin gugup, perlahan tapi pasti wajahnya semakin dekat dan akhirnya Vio pun memejamkan matanya.
Hingga tinggal beberapa senti lagi bibir keduanya hendak menempel, tiba-tiba....
Hacciiiwwww...
Nata memejamkan matanya karena hujan lokal dari Vio menyembur di wajahnya, sedangkan Vio menutup mulutnya dengan mata yang melotot.
"Ma-maaf Mas, a-aku gak sengaja," seru Vio merasa menyesal.
Nata mengusap wajahnya kasar, dan dia pun membenarkan kembali posisi duduknya. Vio benar-benar merasa bersalah, apalagi sekarang raut wajah Nata berubah seperti yang kesal.
"Sekali lagi, aku minta maaf Mas."
"Tidak apa-apa, kamu masuklah dan tidur, aku pulang dulu," seru Nata dengan menahan kesal.
Perlahan Nata pun melajukan mobilnya meninggalkan kontrakan Nata, sedangkan Vio memukul bibirnya sendiri dengan pelan.
"Dasar, tidak tahu diri kenapa mesti bersin segala sih, sungguh memalukan," geram Vio.
Akhirnya Vio pun menundukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam kontrakannya.
__ADS_1