
Saking kesalnya, Vio pun akhirnya memejamkan matanya begitu pun dengan Pelangi yang tertidur pula di depan tv.
"Makan dulu, pasti kamu belum makan kan," seru Bobby.
Nata membuka makanan yang dibawa Bobby dan mulai melahapnya.
"Apa Vio bakalan salah paham gak ya," batin Nata.
Tidak lama kemudian, Arga pun sampai dengan menggunakan taksi dan langsung masuk ke dalam kontrakannya.
"Cih, dasar manusia-manusia tidak tahu diri," gumam Nata.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya."
"Oke, terima kasih Bob."
"Sama-sama."
Bobby pun memutuskan untuk pulang, Nata yang sedang kesal sampai tidak sadar menghabiskan makanannya dengan sekejap.
"Ah, kenyang banget," gumam Nata dengan mengusap perutnya.
Nata duduk selonjoran di kontrakannya dengan mata yang mulai sayu karena ngantuk, hingga tidak lama kemudian Nata pun mulai terlelap dengan posisi terduduk.
Sementara itu, Vio terbangun dengan memegang perutnya.
"Astaga, kenapa perutku sakit sekali," gumam Vio.
Vio pun merasa perutnya sangat sakit bahkan terasa mual juga seperti ingin muntah, Vio dengan cepat berlari masuk ke dalam kamar mandi. Di sana, dia memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan.
Pelangi tersentak saat mendengar suara Vio yang tampak sedang muntah itu.
"Vio, kamu kenapa?" seru Pelangi dengan menggedor pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban sama sekali, hingga Pelangi pun hanya bisa mondar-mandir di depan pintu kamar mandi dengan perasaan cemas.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka dan terlihat wajah Vio sangat pucat.
"Ya ampun Vio, kamu kenapa?" tanya Pelangi cemas.
Pelangi memapah Vio untuk duduk di atas sofa.
"Perut aku sakit Pel, dan terasa mual juga," lirih Vio.
"Lah, kamu kenapa bisa sampai seperti itu?"
Baru saja Vio ingin membuka mulut, tiba-tiba rasa mual itu kembali terasa dan Vio dengan cepat berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi. Kali ini Pelangi pun ikut masuk dan membantu Vio mengusapkan minyak kayu putih ke tengkuk lehernya.
"Kita ke rumah sakit saja ya."
Vio menggelengkan kepalanya, kalau sampai ke rumah sakit, bagaimana dengan pembayarannya.
"Tapi Vio, sekarang wajah kamu sudah pucat banget, aku takut kamu kenapa-napa. Sebentar ya, aku mau minta bantuan sama Mas Nata," seru Pelangi.
Vio ingin menahannya tapi Pelangi keburu keluar.
"Mas Nata, Mas Nata!" teriak Pelangi dengan menggedor pintu kontrakan Nata.
Nata tersentak kaget, dia pun langsung terbangun dan membuka pintunya.
"Ya ampun Pel, ada apa teriak-teriak, kaya di hutan aja," kesal Nata.
"Vio Mas, Vio."
"Hah, kenapa dengan Vio?" tanya Nata cemas.
__ADS_1
"Vio------"
Nata segera berlari masuk ke dalam kontrakan mereka, dan ternyata Vio sudah terkulai lemas di lantai.
"Astaga Vio, kamu kenapa?"
"Vio muntah-muntah Mas," sahut Pelangi.
"Panggilkan taksi, kita bawa Vio ke rumah sakit."
"Baik Mas."
Pelangi pun segera berlari untuk memesan taksi online, dan tidak membutuhkan waktu lama, taksi online pun datang. Pelangi pun dengan cepat berlari ke dalam kontrakan.
"Mas, taksinya sudah datang."
Nata pun dengan cepat mengangkat tubuh Vio yang sudah sangat lemas, lalu memasukan Vio ke dalam taksi.
"Buruan Pak," seru Nata.
"Baik Mas."
Pelangi duduk di kursi depan, sedangkan Vio tertidur dengan paha Nata sebagai bantalnya.
"Tahan Vio, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," seru Nata panik.
Hingga tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Nata kembali mengangkat tubuh Vio dan berteriak memanggil dokter dan suster.
Vio segera di bawa ke ruangan pemeriksaan, selama Vio diperiksa Nata tidak diam saja, dia terus saja mondar-mandir di depan pintu ruangan pemeriksaan Vio.
"Mas, duduk dululah, aku pusing lihat kamu mondar-mandir seperti itu," keluh Pelangi.
"Aku sangat khawatir Pel, aku takut terjadi kenapa-napa sama Vio."
Tidak lama kemudian, dokter pun keluar dari dalam ruangan pemeriksaan dan Nata segera menghampiri dokter.
"Bagaimana Dok, dengan keadaan Vio?" tanya Nata khawatir.
"Pasien hanya terkena gangguan pencernaan saja, apa sebelumnya pasien sudah makan sesuatu?"
"Hmm...iya dok, Vio tadi siang makannya banyak banget mungkin kekenyangan juga," sahut Pelangi dengan menundukkan kepalanya.
"Mungkin dari faktor itu juga, lain kali makan sewajarnya karena apa pun yang berlebihan itu tidak akan baik," seru dokter.
"Baik dokter, terima kasih."
"Untuk sementara, pasien biar dirawat dulu di sini."
"Baik dokter."
"Kalau begitu saya pamit dulu."
Dokter pun segera meninggalkan ruangan pemeriksaan, Vio langsung dipindahkan ke ruangan rawat inap.
"Sebenarnya tadi kalian makan sebanyak apa? sampai-sampai kamu jatuh sakit seperti ini?" kesal Nata.
"Maaf Mas Nata, soalnya tadi makanannya enak-enak jadi kita kalap dan menghabiskan semua makanan yang ada di sana, iya kan Vio?" seru Pelangi.
Vio menganggukkan kepalanya dan nyengir ke arah Nata.
"Ga usah nyengir seperti itu, kalian ya benar-benar. Makan itu secukupnya jangan berlebihan seperti itu, masih mending kamu hanya gangguan pencernaan, kalau sampai terjadi yang lebih dari itu bagaimana?" sentak Nata dengan kesalnya.
"Maaf Mas," lirih Vio.
"Maaf-maaf, kalau kamu ingin makanan enak, bilang sama aku, aku bisa membelikan semua makanan yang kamu mau."
__ADS_1
"Itu makanan mahal Mas, kalau Mas beli makanan itu, bisa-bisa gaji Mas Nata habis," lirih Vio.
"Kalau itu bisa membuatmu bahagia dan bisa membelikan apa yang kamu mau, uang tidak masalah buatku."
Seketika Vio menatap Nata begitu pun sebaliknya.
"Kenapa Mas Nata begitu sangat baik kepadaku?" tanya Vio lemah.
Sejenak Nata menatap Vio. "Karena aku peduli kepadamu."
"Jangan terlalu dekat denganku, nanti pacar Mas Nata marah."
"Pacar yang mana? aku tidak punya pacar."
"Wanita yang memeluk Mas Nata tadi, itu bukanya pacarnya Mas Nata ya?"
"Bukan, dia hanya wanita gila," sahut Nata santai.
"Gila? masa iya, wanita gila cantik seperti itu, mana pakai mobil pula. Pasti wanita itu, anak orang kaya tapi kok bisa ya, dia suka sama Mas Nata yang hanya seorang OB."
"Kan aku sudah bilang, aku ini tampan jadi banyak yang mengejar-ngejar aku," seru Nata dengan bangganya.
"Cih, percaya diri sekali anda."
Pelangi yang mendengar obrolan keduanya tampak menyunggingkan senyumannya.
"Aku yakin, kalau kamu sampai tahu siapa Mas Nata sebenarnya, kamu bakalan kena serangan jantung mendadak, Vio," batin Pelangi dengan senyumannya.
"Aku beli kopi dulu ya, Mas Nata mau nitip?" seru Pelangi.
"Belikan aku satu, Mocaccino latte."
Pelangi mengulurkan tangannya, membuat Nata mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Uangnya mana?" seru Pelangi dengan sengirannya.
"Astaga, kirain nawarin kopi mau dibeliin."
Nata pun mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkan satu lembaran seratus ribu.
"Asyik, kalau ada sisanya aku belikan cemilan ya Mas."
"Terserah."
Pelangi pun langsung keluar dari ruangan rawat Vio untuk membeli kopi.
"Mas, bilangin sama dokter nanti sore aku mau pulang saja," seru Vio.
"Kenapa? kamu gak dengar apa yang dikatakan dokter tadi, kalau kamu harus istirahat dulu di sini."
"Tapi aku gak punya uang buat bayarnya Mas, BPJS aku sudah lama gak ke bayar, jadi aku harus bayar pakai apa?"
Nata mengusap wajahnya kasar. "Memangnya kamu gak bisa lihat apa, di sampingmu ada pria tampan yang siap membayar biaya rumah sakit mu," seru Nata.
"Tapi kan, pasti biayanya mahal, nanti hutang aku makin banyak dong."
"Sudahlah kamu diam saja jangan banyak bicara lagi, aku pusing dengarnya," kesal Nata.
Nata pun sibuk mengotak-ngatik ponselnya, Vio memperhatikan Nata dan melihat ponsel yang digunakan Nata.
"Kok aku baru sadar kalau Mas Nata memakai ponsel keluaran terbaru, dan aku tahu itu harganya selangit. Sebenarnya siapa Mas Nata?" batin Vio.
__ADS_1