
Bobby mendelikan matanya ke arah Nata dan Nata semakin malu dibuatnya.
"Hayo ngaku, kamu suka kan sama si Vio? kamu gak bakalan bisa berbohong sama aku," seru Bobby dengan tatapan tajamnya.
Nata menghembuskan napasnya, memang benar apa yang dikatakan Bobby, dia tidak akan bisa berbohong kepada Bobby karena Bobby sudah tahu bagaimana Nata.
"Oke, aku ngaku, aku memang mulai suka sama Vio."
"Jadi kamu ceritanya, bertahan di kontrakan ini hanya demi dia?"
"Bisa dikatakan seperti itu, tapi sekarang si Arga malah pindah ke sini, mau dia apa coba? apa jangan-jangan dia suka juga lagi sama Vio dan berharap akan merebut Vio dariku," kesal Nata.
Bobby hanya mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak tahu.
"Bob, Bobby, buruan kita akan makan siang!" seru Arga.
"Apaan sih, kamu itu Asisten aku ngapain dia pakai panggil-panggil kamu segala."
"Sorry Nat, aku gak bisa nolak saat Kak Arga memintaku buat menemaninya. Ya sudah, aku berangkat dulu, apa kamu mau nitip sesuatu?" tanya Bobby.
"Bawakan aku makan siang, aku juga lapar. Dan satu lagi, jangan biarkan si Arga dekat sama Vio, pokoknya aku gak mau tahu kamu harus mengawasi mereka, apalagi si Vio yang begitu kecentilan kalau melihat pria kaya."
Bobby hanya geleng-geleng kepala mendengar Nata yang begitu posesif.
"Belum jadian saja sudah posesif, apalagi kalau sudah jadian, pasti kamu bakalan kurung si Vio di kamar," ledek Bobby.
"Iyalah, pokoknya kalau si Vio sudah bisa menerima aku apa adanya, aku akan langsung menikahinya."
"Sepertinya akan susah, karena jiwa matre Vio sudah mendarah daging," goda Bobby.
"Sifat seseorang bisa berubah-rubah kan, walaupun dia matre, tapi aku akan tetap mempertahankannya."
"Okelah, aku hanya bisa mendukungmu saja. Kalau begitu aku pergi dulu."
Bobby pun keluar dari kontrakan Nata, dan tidak lama kemudian Pelangi dan Vio pun keluar. Nata hanya bisa mengintip dari balik jendela dan lagi-lagi Arga mengetahuinya.
"Pengecut," batin Arga dengan senyumannya.
Pelangi langsung duduk di depan bersama Bobby membuat Bobby merasa sangat kesal.
"Mas Arga, aku duduk di depan ya sama Mas Bobbyku sayang," seru Pelangi.
"Silakan."
"Hai, jangan banyak halu, jangan panggil-panggil aku sayang, memangnya aku pacarmu apa?" kesal Bobby.
"Kan, Mas Bobby calon pacar aku," sahut Pelangi dengan PDnya.
"Idih, jangan mimpi."
__ADS_1
Bobby mulai melajukan mobilnya meninggalkan kontrakan itu.
"Awas kamu Arga, kali ini aku gak bakalan membiarkan kamu merebut wanita yang aku sukai untuk kedua kalinya," geram Nata dengan mengepalkan tangannya.
Selama dalam perjalanan, Pelangi terus saja menggoda Bobby membuat Bobby merasa sangat kesal. Hingga tidak lama kemudian, Bobby pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang cukup mewah membuat Pelangi dan Vio menganga.
"Ayo masuk, ngapain malah diam?" seru Arga.
"Dasar kampungan," ledek Bobby.
"Kita memang kampungan Mas, soalnya kita belum pernah masuk ke restoran semewah ini," sahut Pelangi.
Mereka pun akhirnya masuk dan duduk di sebuah kursi yang berada di samping kaca.
"Kalian boleh pesan apa pun yang kalian mau, jangan khawatir aku yang akan membayarnya," seru Arga.
"Wah, serius Mas?" tanya Vio antusias.
"Serius, pesan saja yang kalian mau."
Arga pun melambaikan tangannya, dan seorang pelayan datang menghampiri.
"Silakan, kalian mau pesan apa?" seru pelayan dengan menyerahkan buku menu kepada Pelangi dan Vio.
"Ya Allah Pel, ini makanan apa? kok namanya aneh-aneh sih, mana susah sekali untuk disebutin," seru Vio dengan polosnya.
"Iya Vio, jadi bingung mana porsinya dikit banget, perut kita mana kenyang," sahut Pelangi.
"Mas Bobby, Mas Arga, bagaimana kalau kita pindah tempat makan saja," seru Pelangi.
"Memangnya kenapa? kalian tidak suka dengan makanannya?" tanya Arga.
"Bukanya gak suka Mas, makanan di sini mahal-mahal mana porsinya dikit banget, bagaimana kalau kita makan di warteg atau di rumah makan nasi Padang saja, sudah pasti kita bakalan kenyang, iya kan Vio?"
"Iya Pel, seratus ribu kita bisa beberapa kali nambah mana dapat air teh gratis lagi," sahut Vio dengan konyolnya.
Arga menggaruk keningnya yang tidak gatal, sedangkan Bobby beberapa kali mengusap wajahnya dan mengucapkan istighfar.
"Mba, kita pesan semua menu makanan yang ada di sini," seru Arga.
"Baik Mas, mohon menunggu."
Pelayan pun langsung pergi untuk membawakan pesanan mereka.
"Kalian benar-benar polos dan sama sekali tidak jaim, aku suka dengan wanita yang jujur dan polos seperti kalian," seru Arga.
"Kita memang kaya gini orangnya, apa adanya Mas," sahut Vio.
Beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan mereka pun sampai, satu meja sampai penuh dengan makanan dan minuman membuat Pelangi dan Vio tercengang.
__ADS_1
"Kak, makanan sebanyak ini memangnya bakalan habis?" seru Bobby.
"Tenang Mas Bobbyku sayang, perut aku sama Vio itu perut karet kalau kalian tidak mau menghabiskannya, biar kita yang habiskan, iya kan Vio?"
"Yoi."
"Stop memanggilku sayang, karena kita tidak ada hubungan apa-apa," geram Bobby.
Pelangi bukanya marah, dia justru kecentilan dan mengedipkan sebelah matanya kepada Bobby membuat Bobby terkejut.
"Sudah-sudah, ayo kita makan dulu soalnya aku sudah lapar," seru Arga.
Tanpa basa-basi, kedua wanita cantik itu langsung melahap makanan yang ada di atas meja dengan lahapnya.
Arga menyunggingkan senyumannya saat melihat keduanya makan dengan lahap.
"Vio, apa hubungan kamu dengan pria yang tadi?" tanya Arga.
"Maksudnya Mas Nata?"
"Iya."
"Kita gak ada hubungan apa-apa, cuma sebatas tetangga saja."
"Apa kamu tidak punya perasaan sedikit pun kepadanya? soalnya aku lihat, tadi dia cemburu loh, lihat kamu sama aku."
Uhuk..uhuk..uhuk..
Vio langsung tersedak, dan Pelangi dengan cepat memberikan minuman kepada Vio. Vio begitu sangat gugup bahkan wajahnya sudah sedikit memerah.
"Mana mungkin Mas Nata cemburu sama aku, lagipula Mas Nata bukan tipe aku," sahut Vio dengan menundukkan kepalanya.
Arga kembali menyunggingkan senyumannya, dia tahu kalau Vio juga sudah ada perasaan kepada Nata cuma dia masih gengsi untuk mengakuinya.
"Mas Arga, kenapa Mas Arga tidak menanyakan ku juga," keluh Pelangi.
"Nanya apa?"
"Hubungan aku sama Mas Bobby."
"Hai, kenapa selalu bawa-bawa aku!" sentak Bobby.
"Mas Bobby jangan galak-galak, nanti lama-lama jadi bucin loh sama aku kaya di novel-novel yang sering aku baca," ledek Pelangi.
Bobby sudah mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya, sungguh Bobby sangat gemas kepada wanita di hadapannya itu, wanita yang tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi.
*
*
__ADS_1
*