Cinta Sang Milyarder

Cinta Sang Milyarder
Bab 23 Kemarahan Nata


__ADS_3

Bobby sampai di kantor dengan perasaan yang sangat kesal, untuk masih jam kerja jadi tidak banyak orang yang mengetahui kedatangan Bobby.


Cepat-cepat, Bobby langsung menuju ruangan Nata.


Ceklek...


Nata menoleh ke arah pintu, Bobby langsung masuk dan menjatuhkan diri di sofa.


"Astaga, kenapa penampilan kamu acak-acakan seperti ini? sebenarnya kamu pergi ke bengkel atau ganti oli sendiri sih? jas kamu belepotan kaya gitu?" seru Nata.


"Ini gara-gara wanita konyol itu, aku kaya gini," kesal Bobby.


"Wanita konyol?"


"Iya, aku pergi ganti oli ke bengkel langganan kita dan di sana ada karyawan baru seorang wanita, ya ampun kelakuannya bikin aku darah tinggi."


Nata tampak berpikir. "Ah iya, aku baru ingat itu kan tempat kerjanya si Pelangi."


"Nah iya, nama wanita itu Pelangi. Tapi sayang, kelakuannya tidak seindah namanya."


"Pelangi itu 11-12 sama Vio, mereka itu wanita-wanita unik yang ajaib dan satu lagi, sangat langka," sahut Nata.


"Kok kamu kenal sama Pelangi?"


"Pelangi sama Violet itu tetanggaku di kontrakan, dan mereka berdua selalu saja membuatku jengkel.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa setengah jam lagi waktu menunjukan jam makan siang.


"Astaga, aku terlalu sibuk bekerja sampai-sampai aku lupa kalau sebentar lagi masuk jam makan siang," gumam Nata.


Nata pun segera membereskan barang-barangnya dan segera pergi ke kantin untuk menunggu Violet.


Beberapa saat kemudian, semua karyawan pun berbondong-bondong masuk kantin termasuk Violet.


Violet mengantri untuk mendapatkan makanan, setelah mendapatkan makanan, Vio tampak celingukan mencari tempat duduk. Nata melambaikan tangannya ke arah Violet dan Violet pun dengan cepat duduk di hadapan Nata.


"Mas Nata kok sudah ada di sini? dari tadi ke mana saja? aku cariin Mas Nata."


"Ngapain nyariin aku? kamu rindu ya sama aku?" goda Nata dengan menunjuk wajah Vio.


"Ngaco."


Vio langsung melahap makanannya karena dia sudah sangat lapar.


"Makannya pelan-pelan, aku gak bakalan minta kok," ledek Nata.


"Aku lapar banget Mas, tadi tidak sarapan dulu," sahut Vio dengan mulut penuh makanan.


Tidak lama kemudian, suasana kantin terdengar riuh membuat Vio dan Nata celingukan.

__ADS_1


"Ada apa, kok rame banget?" tanya Vio.


Nata hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu dan tidak mau tahu. Tidak lama kemudian, Bobby datang dengan seorang pria dewasa tampan sehingga para karyawan wanita pun histeris melihat kedatangannya.


"Bukanya itu Arga Anggasta ya, putra sulung Tuan Kata Anggasta.


"Wah, dilihat aslinya ternyata lebih tampan dibandingkan di tv."


"Tidak kalah tampan ya dengan adiknya."


Begitulah celetukan-celetukan yang Nata dan Vio dengar.


"Brengsek, ngapain dia ke sini?" batin Nata kesal.


Berbeda dengan Vio yang tampak menganga melihat Arga. Nata yang kesal langsung mengusap wajah Vio dengan gemasnya.


"Istighfar."


"Apaan sih Mas, gak bisa lihat aku senang aja. Gak tahu apa kalau aku lagi melihat keindahan dari ciptaan Tuhan," keluh Vio.


Vio terus saja melihat ke arah Arga sehingga membuat Nata sangat jengkel dan menarik paksa wajah Vio.


"Di hadapanmu ini pria tampan, ngapain kamu lihat-lihat dia. Toh, aku juga gak kalah tampan sama dia," kesal Nata.


Arga menoleh dan melihat ke arah Nata dan Vio, lalu Arga menyunggingkan senyumannya. Arga menghampiri Nata, wajah Bobby sudah terlihat pucat karena takut Arga membocorkan rahasia Nata dan otomatis Bobby akan menjadi sasaran kemarahan Nata.


"Halo, boleh aku duduk di sini?" seru Arga.


"Bo-boleh," sahut Vio terbata-bata.


"Ngapain anda duduk di sini? masih banyak kursi," ketus Nata.


Vio sampai membelalakkan matanya mendengar ucapan Nata, dengan cepat Vio menginjak kaki Nata.


"AW, sakit Vio!" sentak Nata.


"Kamu ya, benar-benar. Beliau ini Kakak pemilik perusahaan ini, kenapa bisa-bisanya kamu berkata tidak sopan seperti itu," kesal Vio.


"Memangnya kenapa? aku hanya akan berkata sopan kepada pemilik perusahaan ini saja," sahut Nata dengan kesalnya.


"Astaga, maafkan teman saya ya Pak, dia memang menyebalkan," seru Vio.


"Tidak apa-apa," sahut Arga.


Nata menatap tajam ke arah Bobby, tapi Bobby dengan cepat memalingkan wajahnya dan pura-pura tidak melihat apa-apa.


"Nama kamu siapa?" tanya Arga.


"Vi-violet Pak, panggil saja Vio."

__ADS_1


"Namanya unik, sesuai orangnya unik dan lucu."


Wajah Vio langsung memerah, bahkan saat ini Vio terlihat salah tingkah. Berbeda dengan Nata yang semakin kesal dengan Arga.


Nata pun bangkit dari duduknya, lalu menarik tangan Vio membuat Vio kaget.


"Eh, apa-apaan ini?"


"Ayo pergi, sebentar lagi jam masuk."


"Ih, masih ada sepuluh menit lagi, kalau kamu mau pergi, pergi saja duluan," tolak Vio.


"Oke, tapi sekarang juga bayar hutang-hutangmu," ancam Nata.


Vio tampak menundukkan kepalanya karena malu, hingga akhirnya dengan lemas Vio pun harus pergi.


"Selamat tinggal Pak, senang bertemu denganmu," seru Vio lemas.


Arga hanya tersenyum kecut, Nata pun pergi dari kantin itu dengan Vio yang mengikutinya dari belakang.


"Apa, wanita itu pacarnya Nata?" tanya Arga.


"Bukan Kak, itu tetangga Nata di kontrakan," sahut Bobby.


"Apa Nata rela menyamar jadi orang miskin, karena wanita itu?" batin Arga.


Nata hendak melangkahkan kakinya menuju pantry.


"Kamu memang menyebalkan Mas, padahal ini kesempatan aku untuk berbincang dengan orang kaya, kali aja dia bakalan jadi jodoh aku," gerutu Vio.


Nata menghentikan langkahnya, dan menatap tajam ke arah Vio.


"Oke, sana kamu deketin pria itu tapi jangan pernah nebeng-nebeng lagi sama aku, dan satu lagi bayar dulu hutang-hutangmu baru kamu deketin pria itu," ancam Nata.


"Ishh..ishh..ishh...kamu memang menyebalkan Mas."


Vio pun dengan kesalnya langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan menghentak-hentakan kaki, sedangkan Nata tampak menyunggingkan senyumannya.


Setelah semuanya masuk, Nata dengan cepat pergi ke ruangannya dan di sana sudah ada Arga dan Bobby.


"Ngapain kamu ke sini? apa kamu sengaja mau tebar pesona kepada semua karyawan ku!" bentak Nata.


"Santai Nat, aku tidak ada niat seperti itu, jangan salahkan aku kalau mereka terpesona denganku," sahut Arga dengan santainya.


"Kurang ajar, sebenarnya mau kamu apa?" bentak Nata dengan mencengkram kemeja Arga.


"Aku tidak mau apa-apa, kamu sendiri yang memulai semuanya," sahut Arga masih dengan santainya.


"Kenapa kamu kembali?"

__ADS_1


"Kenapa aku kembali? ya, karena aku ingin pulang dan aku pun saat ini sedang membangun perusahaan di sini," sahut Arga.


Nata semakin emosi, dia menghempaskan Arga dan pergi meninggalkan ruangannya. Nata benar-benar emosi, kenapa dua orang yang tidak ingin dia jumpai datang dalam waktu yang bersamaan.


__ADS_2