Cinta Sang Milyarder

Cinta Sang Milyarder
Bab 25 Kekhawatiran Vio


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Arga pun sampai di depan kontrakan. Nata yang sedang mengotak-ngatik ponselnya sembari rebahan, langsung bangun saat mendengar suara mobil berhenti di depan kontrakannya.


"Mobil siapa?" gumam Nata.


Nata mengintip dari balik kaca, dan betapa terkejutnya Nata saat melihat Vio keluar dari dalam mobil Arga.


"Kurang ajar, ngapain si Arga nganterin Vio segala," geram Nata.


"Pak Arga, terima kasih ya sudah mau mengantarkan aku pulang, maaf tidak bisa ngajak mampir soalnya sudah malam gak enak."


"Gak apa-apa, oh iya jangan panggil Pak dong, aku kan bukan bos kamu."


"Ah iya, aku panggil Mas saja ya."


"Hmm...itu lebih baik. Kalau begitu, aku permisi dulu."


"Iya Mas, hati-hati di jalan."


Arga tampak memperhatikan kontrakan itu sebelum dia pergi, terlihat di salah satu kontrakan ada yang mengintip dan itu membuat Arga menyunggingkan senyumannya.


"Itu pasti Nata, dasar anak itu," batin Arga.


Arga pun akhirnya pergi dan meninggalkan kontrakan, Vio masuk ke dalam kontrakannya dengan perasaan yang sangat bahagia tapi berbeda dengan Nata yang terlihat sangat marah.


"Mau apa lagi dia? awas saja kalau merebut wanita yang aku sukai lagi," geram Nata.


Tanpa sadar, Nata menyebut kalau Vio adalah wanita yang dia sukai, Nata dengan kesalnya menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dia berguling ke sana ke mari, dengan perasaan kesalnya. "Ah, menyebalkan," kesal Nata dengan mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


***


Keesokan harinya....


Nata memanaskan motornya, dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Tidak lama kemudian, sebuah mobil pun datang, dan hati Nata semakin panas dibuatnya saat melihat Arga kembali datang ke kontrakan.


"Astaga, mau ngapain lagi tuh orang?" batin Nata dengan kesalnya.


"Hebat sekali sekarang kamu sampai rela hidup susah demi seorang wanita," sindir Arga dengan senyumannya.


Nata tidak mendengarkan ocehan Kakaknya itu, tidak lama kemudian Vio dan Pelangi pun keluar dari kontrakannya.


"Mas Arga, ada apa kok tumben pagi-pagi sudah di sini?" tanya Vio antusias.


"Ah tidak apa-apa, aku mau berangkat ke kantor dan tidak sengaja lewat kontrakan ini jadi aku mampir dulu kali aja kamu belum berangkat."


"Maksudnya Mas Arga mau jemput aku gitu?"

__ADS_1


"Iya, itu juga kalau kamu mau."


"Jelas maulah."


Pelangi melirik ke arah Nata, dia tahu kalau saat ini Nata terlihat sedang marah.


"Pel, Mas Nata, aku duluan ya."


Vio pun langsung masuk ke dalam mobil Arga, Arga sedikit menyunggingkan senyumannya sebelum dia masuk mobil. Arga pun mulai melajukan mobilnya, Vio tampak melambaikan tangan kepada Nata dan Pelangi.


Dada Nata bergemuruh, entah kenapa kali ini jauh lebih sakit melihat wanita yang dia sukai lagi-lagi dekat dengan Kakaknya.


"Brengsek."


Nata menendang ban motornya membuat Pelangi kaget, Pelangi menepuk pundak Nata. "Yang sabar Mas, pokoknya Mas harus terus semangat," seru Pelangi.


Napas Nata tersengal karena menahan emosi melihat Vio berangkat kerja bersama Arga.


"Kalau begitu, aku berangkat duluan ya Mas."


Pelangi pun segera melajukan motornya meninggalkan Nata, begitu pun dengan Nata yang segera memakai helm dan pergi menuju kantornya.


Nata benar-benar sangat emosi, dia melajukan motornya dengan sangat kencang, hingga akhirnya ada seseorang yang ingin menyebrang membuat Nata terkejut dan membuat Nata menarik remnya dengan sangat kencang.


Cekkiiiiiiiiiiiitttt....


Motor Nata terjatuh bersamaan dengannya, semua orang langsung berkerumun namun untungnya hanya luka di bagian kaki saja karena celananya sobek dan lututnya berdarah.


"Ah, tidak apa-apa aku masih bisa bawa motor."


Dengan terpincang-pincang, Nata pun naik ke atas motornya dan melakukannya menuju kantornya. Tidak membutuhkan waktu lama, Nata pun sampai di kantor.


"Astaga, Bos kenapa?" tanya Sekuriti panik.


"Urus motorku."


Nata berjalan terpincang-pincang dengan darah yang terus mengalir dari lututnya, Violet yang baru saja keluar dari pantry membuat kopi tampak melotot melihat keadaan Nata.


"Ya Allah, Mas Nata kenapa?" tanya Vio dengan menyentuh lengan Nata.


Nata menghempaskan tangan Vio, dan melanjutkan langkahnya dengan terpincang-pincang.


Vio terkejut, dan langsung menyusul Nata.


"Sini Mas, biar aku bantu," seru Vio hendak mengalungkan tangan Nata ke lehernya.


"Apa-apaan sih, sudah sana pergi jangan sok perhatian deh!" sentak Nata.

__ADS_1


"Kok Mas Nata marah-marah sih? aku kan cuma mau nolongin saja."


"Sudah sana pergi!" bentak Nata.


Vio sampai tersentak mendengar bentakan Nata, mata Vio sudah mulai berkaca-kaca. Vio tidak tahu kenapa Nata marah kepadanya, hingga akhirnya Vio pun berlari meninggalkan Nata.


Nata segera menghubungi Bobby, dan tidak lama kemudian Bobby pun datang.


"Astaga, kamu kenapa Nata?" seru Bobby khawatir.


"Sudahlah gak usah banyak tanya, gendong aku ke ruangan ku."


Bobby pun langsung berjongkok, lalu Nata dengan cepat naik ke atas punggung Booby. Bobby membawa Nata ke ruangannya, dan dengan cepat mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Nata.


"Pelan-pelan Bobby, sakit tahu!" sentak Nata.


"Diam jangan banyak bicara," seru Bobby.


Nata tidak bisa diam, akhirnya dengan gemasnya Bobby mengguyur luka Nata dengan cairan alkohol membuat Nata menendang lutut Bobby sampai Bobby terjungkal ke belakang.


"Aaaaaa....kurang ajar kamu Bobby, astaga perih banget!" teriak Nata.


"Sial, mana aku sudah ngobatin luka kamu, tapi malah aku yang kena semprot, brengsek kamu!" sentak Bobby.


"Kalau sampai aku gak bisa jalan, kamu orang pertama yang akan aku tuntut."


"Lebay."


Bobby merapikan kotak P3K, dan menyimpannya di tempat semula lalu duduk di samping Nata.


"Kamu kenapa? sampai terluka seperti itu?" tanya Bobby.


"Jatuh dari motor."


"Iya, maksudnya, kenapa bisa sampai jatuh dari motor, Bambang?" tanya Bobby dengan gemasnya.


"Gak ada apa-apa."


Nata pun merebahkan tubuhnya, di atas sofa tatapannya lurus ke langit-langit ruangannya. Nata terbayang akan wajah Vio yang tadi dia bentak, bahkan matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Nata merasa kasihan, tapi Nata juga sangat kesal kepada Vio yang sudah mau diajak berangkat bareng oleh Arga.


Waktu istirahat pun tiba....


Vio tampak celingukan mencari keberadaan Nata, tapi Vio tidak bisa menemukan Nata.


"Mas Nata ke mana? kok gak ada sih? biasanya dia sudah duduk manis di sini?" batin Vio.


Vio duduk sendirian dan mulai melahap makan siangnya dengan perasaan yang khawatir.

__ADS_1


"Apa Mas Nata baik-baik saja ya? bagaimana dengan lukanya?" batin Vio.


Sungguh tidak bisa dipungkiri kalau saat ini Vio merasa sangat khawatir dengan keadaan Nata.


__ADS_2