
Waktu pulang pun tiba....
Bobby menyuruh Nata untuk pulang ke rumahnya dulu, tapi Nata menolaknya dia ingin pulang ke kontrakan saja soalnya kalau pulang ke rumah sudah pasti Mommy Anita akan heboh.
"Nat, mau aku antarkan kamu pulang?" tanya Bobby.
"Tidak usah, aku naik motor saja kalau aku diantarkan sama kamu, bisa-bisa satu kontrakan heboh," sahut Nata.
"Ya sudah, kamu hati-hati dan kalau ada apa-apa cepat hubungi aku."
"Oke."
Bobby pun segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Nata, sementara itu Nata tampak kesusahan karena luka di lututnya sangat sakit dan membuat lututnya kaku.
"Astaga, bagaimana ini? lututku sakit banget," gumam Nata.
Hingga tidak lama kemudian, Violet pun datang dan menghampiri Nata.
"Biar aku yang bawakan motornya."
"Tidak usah, aku bisa sendiri," ketus Nata.
"Jangan ngeyel deh, aku tidak tahu kenapa Mas Nata marah kepadaku tapi aku juga tidak bisa membiarkan Mas Nata kesusahan seperti ini, bagaimana pun Mas Nata sudah banyak membantuku," seru Violet.
Vio pun dengan cepat naik ke atas motor Nata membuat Nata bengong.
"Ayo naik."
"Tidak, aku tidak biasa dibonceng wanita."
"Buruan jangan banyak cingcong."
Nata pun mau tidak mau harus naik dan dibonceng oleh Vio karena kakinya memang sangat sakit.
Setelah dirasa Nata naik ke atas motor, Vio pun langsung melajukan motornya.
"Pelan-pelan Vio, jangan ngebut!" teriak Nata.
"Astaga, bawel banget sih kaya Nenek-nenek. Sudah diam saja jangan banyak ngomong."
Vio semakin mempercepat laju motornya, dan itu membuat Nata ketakutan dan tanpa sadar Nata berpegangan erat ke perut Vio.
Deg..deg..deg..
Jantung Vio berdetak tak karuan, baru pertama kali ini ada yang memeluknya dan itu membuatnya gugup tapi Vio berusaha bersikap biasa-biasa.
Hingga tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan kontrakan.
"Yuhuuu....romantis banget kalian," goda Pelangi.
Nata yang sadar langsung melepaskan pelukannya, begitu pun dengan Vio yang diam saja saking kaget dan gugupnya.
Lutut Nata tampak kaku sampai-sampai tidak bisa ditekuk, membuat Nata kesusahan turun dari motor.
__ADS_1
Bruugg...
Nata jatuh ke tanah...
"Astagfirullah, Mas Nata gak apa-apa?" tanya Vio yang langsung turun dari motor.
Begitu pun Pelangi yang ikut menghampiri Nata, kedua wanita itu membantu Nata berdiri dan memapahnya masuk ke dalam kontrakan.
"Kaki Mas Nata kenapa?" tanya Pelangi.
"Jatuh dari motor."
"Ya ampun, motornya gak apa-apa kan?" seru Pelangi dengan polosnya.
Nata yang kesal melempar bantal ke arah wajah Pelangi.
"Yang ditanya itu orangnya bukan motornya," kesal Nata.
"Yaelah, nyantai Mas Bro, sensi amat. Ah, aku tahu, pasti Mas Nata jatuh dari motor karena cemburu kan, melihat si Vio tadi dijemput sama pria tampan dan kaya," celetuk Pelangi.
Wajah Nata seketika memerah, dia ingin sekali memasukan cabe ke dalam mulut si Pelangi biar diam.
"Astaga, mulutmu lemes banget sih, bisa diam tidak?" geram Nata.
"Hah, jadi Mas Nata marah gara-gara aku tadi dijemput Mas Arga ya? bukanya Mas Nata seharusnya senang, kalau aku gak nebeng sama Mas Nata?" seru Vio dengan senyumannya.
"Jangan PD jadi orang, siapa juga yang cemburu sama kamu," ketus Nata.
"Idih, aku gak ngomong Mas Nata cemburu, ah jangan-jangan memang Mas Nata cemburu ya sama Mas Arga, hayo ngaku," goda Vio dengan mendekatkan wajahnya ke arah Nata.
"Pergi kalian berdua, aku mau istirahat!" sentak Nata.
"Jangan gengsi-gengsi Mas, kalau Mas Nata memang suka sama aku bilang saja, soalnya pria yang ngejar-ngejar aku itu banyak," seru Vio dengan bangganya.
"Maksudnya yang ngejar-ngejar itu bukan karena cinta, tapi karena nagih hutang," ledek Pelangi dengan tawanya.
"Ih, kamu ya bukanya mendukung malah menjatuhkan, menyebalkan sekali," kesal Vio.
"Sudah sana kalian keluar, berisik tahu."
"Ayo Vio kita keluar, nanti Mas Nata makin marah dan kita gak bakalan dikasih ngutang lagi sama dia," ajak Pelangi.
"Ya sudah, Mas Nata kalau butuh sesuatu teriak saja, oke," seru Vio dengan mengedipkan sebelah matanya.
Lagi-lagi jantung Nata berdebar tak karuan, Vio memang gadis unik dan ajaib yang berhasil memporak-porandakan hatinya.
Malam pun tiba....
Vio dan Pelangi baru saja selesai makan malam, mereka berdua duduk selonjoran di depan tv.
"Vio, bagaimana kalau Mas Nata menyukaimu?" tanya Pelangi.
"Gak apa-apa, itu hak dia."
__ADS_1
"Tapi kamu suka gak sama Mas Nata?"
Vio tampak terdiam, dia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Mau mengelak tapi entah kenapa Vio gak bisa.
"Kamu diam, berarti kamu ada rasa kan sama Mas Nata?" goda Pelangi.
"Apaan sih Pel, ngomongin yang lain saja," sahut Vio dengan wajah yang memerah.
Pelangi menahan senyumannya, dia tahu kalau Vio juga sebenarnya sudah menyukai Nata tapi gengsinya saja yang gede-gedean.
"Kamu sendiri, gimana Pel?" tanya Vio.
"Aku lagi suka sama seseorang, dia pelanggan di bengkel ku."
Seketika tawa Vio pecah membuat Pelangi kesal dan mendorong tubuh Vio.
"Ih, kok kamu malah ketawa sih?" kesal Pelangi.
"Sumpah kamu lucu banget, aku gak nyangka seorang Pelangi bisa menyukai pria. Kamu kan wanita paling cuek di dunia ini."
"Walaupun cuek, bukan berarti aku gak normal. Aku juga suka kali sama cowok."
"Cowok yang mana, yang berhasil mencuri hati sahabatku ini?" seru Vio dengan merangkul pundak Pelangi.
"Pokoknya dia itu orangnya tampan, dan kaya no tipu-tipu."
"Huawaaaa....beruntung sekali kamu Pel, terus cowok itu menerima kamu apa adanya?"
"Boro-boro menerima aku apa adanya, kenal juga belum."
"Astaga, jadi kamu masih halu gitu belum nyata?"
"Hehehe....iya, tapi tenang aja aku minta bantuan temannya kok, aku yakin bakalan berhasil."
"Yakin?"
"Yakinlah, soalnya teman aku itu Bosnya dia."
"Hah, kamu punya teman seorang Bos? kok gak cerita sama aku? dia jomblo gak? kenalin dong sama aku," seru Vio antusias.
"Kamu sudah kenal kok."
"Sudah kenal? siapa?"
"Nanti juga kamu tahu."
Pelangi pun masuk ke dalam kamarnya membuat Vio berpikir keras.
"Aku mengenalnya? si Pelangi ngaco deh, mana ada aku kenal Bos, yang aku kenal cuma dia, Mas Nata, dan juga Mas Arga," gumam Vio.
Tiba-tiba Vio membelalakkan matanya. "Jangan-jangan Bos yang dia maksud adalah Mas Arga? tapi gak mungkin Pelangi kenal sama Mas Arga, soalnya aku tahu siapa saja teman Pelangi," gumam Vio.
Vio mengacak-ngacak rambutnya. "Tahu ah, mendingan aku tidur saja."
__ADS_1
Vio pun menyusul Pelangi masuk ke dalam kamar untuk tidur.