Cinta Sang Milyarder

Cinta Sang Milyarder
Bab 14 Violet Yang Menyebalkan


__ADS_3

Nata berjalan menuju pantry, semua karyawan tampak menundukkan kepalanya karena bagaimana pun Nata adalah Bos mereka.


"Rudi tolong ambilkan gelas itu!" seru Wahyu tanpa melihat ke belakang.


Nata yang baru saja sampai di pintu Pantry langsung menyerahkan sebuah gelas kepada Wahyu.


"Astaga Rudi, gelasnya bukan yang ini tapi gelas yang khusus buat si Bos kalau yang ini bisa-bisa si Bos melemparnya. Kamu juga kan tahu, bagaimana sifat si Bos, bisa-bisa gaji aku dipotong," seru Wahyu dengan masih sibuk membuat kopi untuk beberapa atasan.


Nata tampak mengangkat satu alisnya, kemudian Nata melihat-lihat gelas yang tersusun rapi di sana dan dia melihat satu gelas yang disimpan terpisah yang memang khusus untuk dirinya.


Lagi-lagi tanpa bicara, Nata pun menyerahkan gelas itu dan Wahyu menerimanya. Tiba-tiba, OB yang bernama Rudi itu datang dengan bersiul bahagia. Tapi di saat dia masuk pantry, betapa terkejutnya dia ternyata sang Bos sudah berada di sana dengan gagahnya.


"Bbbbbbb-bos," seru Rudi gelagapan.


"Hah, Bos."


Seketika Wahyu membalikan tubuhnya, Wahyu tak kalah terkejutnya dengan Rudi bahkan sampai menganga dan melotot saking terkejutnya.


"Allahuakbar, B-bos a-pa a-da yang bi-sa sa-ya ban-tu?" tanya Wahyu terbata-bata.


Rudi dan Wahyu langsung berdiri di hadapan Nata sembari menundukkan kepalanya.


"Apa kalian kenal dengan karyawan marketing yang bernama Violet?" tanya Nata.


"Kenal Bos, dia adalah karyawan yang paling sopan dan tidak menyusahkan kita," sahut Wahyu.


"Paling sopan? maksudnya?" tanya Nata bingung.


"Iya, soalnya dia tidak pernah menyuruh kita kalau mau kopi, dia suka buat sendiri," sahut Rudi.


"Bukanya dia sopan atau pun tidak mau menyusahkan kalian, tapi memang dia lagi ngirit gak punya uang jadi kalau dia mau nyuruh kalian, dia gak punya uang tips buat kalian," seru Nata.


"Iyakah, pantas saja dia memilih untuk membuat kopi sendiri," seru Wahyu.


"Pokoknya, kalau di depan dia kalian jangan panggil aku Bos atau pun Pak, mengerti."


"Mengerti Bos."


Tidak lama kemudian, ada suara langkah sepatu mendekat.


"OMG, Mas Nata ngapain Mas Nata ada di sini?" tanya Violet dengan membalikan tubuh Nata.


"Ya kerja dong, memangnya lagi ngapain lagi," ketus Nata.

__ADS_1


"Astaga, Mas Nata ngikutin aku ya? jangan-jangan Mas Nata tidak bisa jauh-jauh dari aku, makanya Mas Nata ngikutin aku kerja disini?" seru Violet dengan menunjuk wajah Nata.


Nata menepis tangan Vio. "Jangan asal ngomong? Cih, memangnya kamu punya kelebihan apa sampai-sampai aku harus ngikutin kamu? aku ngikutin kamu, karena kamu punya banyak hutang sama aku," seru Nata.


Seketika Violet menutup mulut Nata dengan tangannya, kemudian tersenyum kepada Rudi dan Wisnu.


"Mas Nata, jangan buka aib aku di sini, malu," bisik Vio.


Nata menepis tangan Vio. "Astaga, tangan kamu bau terasi tahu."


"Hah, iyakah?"


Vio mengendus-ngendus tangannya. "Ah iya, aku lupa tadi aku sarapan nasi kuning makannya pakai tangan."


"Ya iyalah pakai tangan, memangnya makan pakai kaki," seru Nata menoyor kepala Violet dengan gemasnya.


"Maksudnya pakai tangan langsung, gak pakai sendok."


Rudi dan Wisnu saling pandang dengan menahan tawanya, mereka saat ini dalam posisi serba salah. Mau ketawa, takut dimarahi Nata tapi kalau gak ketawa mereka tampak lucu.


"Tolong kamu buatkan kopi untukku," seru Vio dengan senyumannya.


"Apaan, bikin aja sendiri."


"Lah, kamu kan OB jadi kamu yang bikinlah."


Vio menarik baju Nata sehingga Nata membungkukkan tubuhnya ke arah Violet.


"Kalau sama mereka, aku harus ngasih tips kalau sama Mas Nata kan, bisa ngutang dulu," bisik Vio dengan cengirannya.


"Ogah," seru Nata di depan wajah Violet.


Nata pun langsung pergi dari pantry itu, Violet melihat Rudi dan Wisnu.


"Kenapa kalian diam saja? aku lihat, kalian seperti takut sama Mas Nata?" tanya Violet.


"Ah tidak Mba, oh iya Mba mau dibuatkan kopi?" seru Rudi.


"Tidak usah, biar aku buat sendiri," tolak Violet.


Violet pun segera membuat kopi sendiri, begitu pun Rudi dan Wisnu yang membuat kopi untuk semua staff.


"Mba Vio kenal di mana sama si Bos?" tanya Wisnu keceplosan.

__ADS_1


"Hah Bos?"


"Ah, maksud aku Mas Nata yang barusan," sahut Wisnu gugup.


"Oh, dia itu ngontrak di samping di kontrakan aku, awalnya dia itu driver ojeg online tapi gak tahu kenapa dia melamar pekerjaan di sini juga. Sini-sini, aku bisikin sesuatu sama kalian," seru Violet dengan melambaikan tangannya.


Rudi dan Wisnu pun menghampiri Violet. "Aku kasih tahu ya, Mas Nata itu suka sama aku makanya dia ngikutin aku kerja di sini karena dia gak mau jauh-jauh dari aku," bisik Violet dengan percaya dirinya.


"Hah?"


Rudi dan Wisnu saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya keduanya tertawa bersama membuat Violet mengerutkan keningnya.


"Kok kalian malah ketawa sih?" tanya Violet bingung.


"Mba, setahu Rudi si Bos itu dingin dan cuek sama wanita jadi rasanya tidak mungkin kalau si Bos ngejar-ngejar Mba," seru Rudi dengan tawanya yang renyah.


Wisnu melotot, hingga Wisnu pun menoyor kepala Rudi karena lagi-lagi Rudi keceplosan menyebut Nata dengan sebutan Bos.


"Kamu barusan nyebut Bos," bisik Wisnu.


"Astagfirullah."


Rudi langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


"Kenapa kalian dari tadi menyebut Mas Nata dengan sebutan Bos?" tanya Violet.


"Maaf Mba, kita reflek aja soalnya biasa berhadapan dengan si Bos jadi kita panggil Mas Nata dengan sebutan Bos juga," sahut Wisnu gugup.


"Oh iya, ngomong-ngomong soal Bos, Bos kita itu yang mana sih? setahu aku, Pak Bobby adalah asisten Bos tapi aku belum pernah melihat si Bos," seru Violet.


Wisnu baru saja mau jawab, tiba-tiba Nata kembali lagi ke pantry membuat Wisnu langsung bungkam.


"Ya ampun, kamu masih di sini? ini sudah jam berapa? sana kerja!" sentak Nata.


"Idih, siapa kamu nyuruh-nyuruh aku kaya gitu? kamu itu hanya OB baru di sini, jangan songong deh," ketus Violet.


"Aku laporin loh sama si Bobby, eh maksud aku Pak Bobby kalau kamu kerjaannya hanya ngeghibah di pantry, biar kamu dikeluarin dari kantor ini," sentak Nata dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Wah, OB baru sudah songong, bisa kacau kalau aku sampai keluar dari kantor ini," kesal Violet.


Violet pun membawa kopinya dan segera pergi dari pantry itu.


"Kamu, buatkan aku kopi," seru Nata.

__ADS_1


"Baik Bos."


Wahyu dengan cepat membuatkan kopi untuk Nata, sedangkan Rudi segera pergi sembari membawa nampan berisi beberapa kopi untuk para staff.


__ADS_2