Cinta Sang Milyarder

Cinta Sang Milyarder
Bab 8 Frustasi


__ADS_3

Nata pun menghentikan motornya di depan bengkel tempat Pelangi bekerja.


"Terima kasih, Mas Nata tampan. Aku janji, habis gajian aku langsung bayar hutang-hutangku," seru Pelangi dengan sengirannya.


"Bodo amat."


Nata langsung merebut helmnya dan segera menancapkan gasnya meninggalkan bengkel itu.


"Dia ngambek."


Pelangi pun masuk ke dalam bengkel dan segera mengganti bajunya dengan baju bengkel.


Tidak lama kemudian, Bobby pun datang dengan membawa mobil sport milik Nata.


"Selamat pagi, Tuan Bobby. Ada yang bisa kami bantu?" seru Manager bengkel itu.


"Servis mobil ini."


"Baik, silakan Tuan menunggu."


Bobby adalah langganan tetap di bengkel itu, maka dari itu semua pekerja bengkel sudah mengenal Bobby.


"Pelangi! Pelangi!"


"Iya Pak Edo."


"Tolong kamu servis mobil ini, kamu tahu kan kalau mobil sport seperti ini jangan sembarangan kasih oli. Kasih oli yang khusus untuk mobil sport, cek semua mesin jangan sampai ada yang terlewatkan, karena saya tidak mau Pak Bobby sampai kecewa," seru Pak Edo.


"Baik Pak."


Pak Edo pun pergi meninggalkan Pelangi, Pelangi memperhatikan mobil sport itu.


"Wuidih, mobilnya keren banget sudah pasti yang punyanya orang kaya. Tipe aku banget ini," gumam Pelangi dengan senyumannya.


Pelangi pun langsung mengganti oli, tiba-tiba rekan kerjanya Adi menghampiri Pelangi.


"Butuh bantuanku?" seru Adi.


"Boleh, tolong kamu cek semua mesinnya ada kerusakan atau tidak," sahut Pelangi.


"Siap."


"Di, kamu tahu tidak siapa pemilik mobil ini?" tanya Pelangi disela-sela pekerjaannya.


"Tahu, ini mobil milik Pak Bobby, dia langganan di bengkel ini."


"Doi sudah nikah belum?"


"Belum kayanya, soalnya aku belum pernah melihat Pak Bobby bawa wanita."

__ADS_1


"Orangnya sudah tua belum?"


"Tua apaan, noh orangnya," tunjuk Adi ke arah ruangan tunggu.


Pelangi mengikuti arah tunjuk Adi, lalu Pelangi tampak melotot.


"OMG, ganteng banget. Fix, ini mah tipe aku banget," seru Pelangi.


Adi menoyor kepala Pelangi membuat Pelangi cemberut.


"Sadar woi, masih pagi jangan mimpi. Mana mungkin Pak Bobby suka sama cewek bengkel kaya kamu."


"Ishh..ishh..ishh...kali aja aku tipenya dia, kan gak ada yang gak mungkin di dunia ini."


"Terserah, tapi aku ingetin ya, jangan terlalu tinggi berkhayal takutnya kamu bakalan ditampar kenyataan."


"Idih sirik aja jadi orang," kesal Pelangi.


1 jam kemudian....


Pelangi dan Adi pun sudah selesai menservis mobil milik Nata, Pelangi pun menghampiri Pak Edo yang sedang menemani Bobby mengobrol.


"Maaf Pak, mobilnya sudah selesai di servis."


Bobby pun mengangkat kepalanya dan menatap Pelangi dengan menahan senyumannya karena melihat wajah Pelangi yang cemong. Sedangkan Pelangi justru malah salah sangka, dia mengira kalau Bobby tersenyum kepadanya dan membuat Pelangi salah tingkah.


"Ini karyawan baru ya, Pak Edo?" tanya Bobby.


"Halo, perkenalkan nama saya Pelangi."


Pelangi mengulurkan tangannya kepada Bobby, tentu saja Bobby tidak mau karena tangan Pelangi terlihat kotor.


"Ah iya. Baiklah Pak Edo, kalau begitu saya permisi dulu," seru Bobby.


Bobby pun segera masuk ke dalam mobil sport milik Nata itu tanpa memperdulikan Pelangi.


"Aku dicuekin," gumam Pelangi.


Sore pun tiba....


Violet baru saja bangun tidur, hari ini dia tidak pergi ke mana-mana karena tidak ada panggilan kerja.


"Ya ampun, perutku lapar banget," gumamnya.


Violet pergi ke dapur, dan ternyata tidak ada apa-apa di dapur.


"Astaga, menyedihkan sekali nasibku. Sudah uang gak punya, makanan pun gak ada," gumam Violet lagi.


Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti, Violet dengan cepat mengintip dari balik jendela dan ternyata itu Nata yang baru saja pulang.

__ADS_1


"AHA, aku punya ide, bagaimana kalau aku minjam uang dulu sama Mas Nata, pasti bekal dia masih banyak," seru Violet.


Violet pun dengan cepat membuka pintu dan tersenyum ke arah Nata.


"Sore Mas Nata!" sapa Violet dengan senyumannya.


Nata yang baru saja melepas helmnya tampak mengerutkan keningnya.


"Pasti si keong racun ada maunya nih, sudah senyam-senyum kaya gitu," batin Nata.


Nata pun dengan cepat berlari ingin masuk ke dalam kontrakannya tapi Violet pun tak kalah cepatnya sehingga di saat Nata ingin menutup pintu, kaki Violet sudah menahannya.


"Minggir, mau ngapain kamu?" seru Nata.


"Mas Nata, sebentar saja aku ingin bicara sama Mas Nata, penting."


"Ogah, sudah sana pergi."


"Gak mau, pokoknya aku harus bicara sama Mas Nata."


Akhirnya Nata pun melepaskan pintunya dan otomatis Violet tersungkur ke lantai dengan posisi tengkurap.


"Allahuakbar, hidungku makin mancung ke dalam kalau kaya gini," keluh Violet.


Nata tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutnya saking lucunya melihat Violet.


"Syukurin."


Violet pun bangkit sembari memegang hidungnya yang terasa ngilu.


"Mas Nata, tega banget sama aku."


Nata melipat kedua tangannya di dada sembari memicingkan matanya ke arah Violet penuh curiga.


"Apa yang mau kamu bicarakan kepadaku?"


"Mas Nata, aku lapar di kontrakan ku gak ada makanan, ditambah uang simpanan aku dan Pelangi sudah semakin menipis, bisakah Mas Nata meminjamkan uang kepadaku? aku janji, kalau aku sudah bekerja aku akan bayar semua hutangku," seru Violet memelas.


Nata menghampiri Violet dan menunjuk-nunjuk kening Vio dengan jari telunjuknya.


"Wanita zaman sekarang sungguh tidak tahu malu, meminjam uang kepada pria. Bilang saja kamu meminta uang, jangan pakai alasan meminjam segala. Memangnya kamu pikir, aku akan tertipu lagi oleh kalian? kamu dan temanmu si Pelangi memang sama-sama wanita penipu, bisanya cuma menipu orang dengan wajah polos kalian," seru Nata.


Violet langsung menatap tajam ke arah Nata dengan mata yang sudah berkaca-kaca, bahkan Violet menepis tangan Nata yang dari tadi menunjuk-nunjuk keningnya.


"Aku sama Pelangi memang sering ngutang sama kamu, tapi itu bukan berarti kita adalah penipu. Kita akan membayarnya kok, cuma kita belum ada uang jadi kita akan membayarnya kalau kita sudah bekerja dan gajihan. Kalau kita niat menipu, sudah saja kita menipu para pengusaha bukanya kamu yang sama-sama hidup ngontrak di sini," seru Violet dengan meninggalkan kamar kontrakan Nata.


"Idih, malah ngambek lagi, dasar wanita aneh," ledek Nata.


Violet dengan kesalnya masuk ke dalam kontrakannya dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


"Dia benar-benar keterlaluan sudah menyebutku sebagai penipu," gerutu Violet.


Violet kembali memegang perutnya yang terasa sangat lapar, hingga akhirnya dengan sangat terpaksa, dia pun mengambil uang simpanannya untuk membeli semangkok bakso.


__ADS_2