
Waktu berjalan dengan sangat cepat, hari ini adalah hari pernikahan Nata dan Vio. Akad dan resepsi diadakan di hotel bintang lima yang mewah, pokoknya pernikahan Nata dan Vio adalah pernikahan termegah di tahun ini.
Semua rekan bisnis Nata dari dalam negeri dan luar negeri, semuanya diundang dan pernikahan mereka menjadi pernikahan fenomenal mengalahkan pernikahan seorang pejabat.
Nata saat ini sudah duduk di depan penghulu, kakinya tidak bisa diam karena merasakan gugup yang teramat sangat bahkan keringat sudah bercucuran dari keningnya.
"Tenang Nat, jangan gugup. Coba kamu tarik napas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan," seru Bobby.
Nata mengikuti perintah Bobby dan melakukannya berulang-ulang. Hingga tidak lama kemudian, Vio pun muncul dengan dipapah oleh Pelangi.
Nata tampak menganga melihat penampilan Vio yang memakai kebaya dan sangat cantik, Vio menyunggingkan senyumannya kepada Nata.
"Fokus Nat, jangan tergoda dengan pemandangan yang memabukkan," bisik Bobby.
Seketika Nata tersentak dan membenarkan posisi duduknya, Vio pun duduk di samping Nata dengan menundukkan kepalanya.
Ayah Vio mulai menjabat tangan Nata, Nata pun mengucapkan ijab kabul dengan sangat lancar membuat semua orang serempak mengucapkan Hamdallah.
Vio mencium punggung tangan Nata dan Nata mencium kening Vio dengan sangat lama.
"Ya ampun, so sweet banget. Kamu kapan Mas, mau melamar aku?" seru Pelangi.
"Apaan, percaya diri sekali kamu. Memangnya siapa juga yang mau melamar kamu?" ketus Bobby.
"Yakin, Mas Bobby gak mau melamar aku? Mas Bobby itu sudah tua loh, mumpung masih ada wanita yang mau sama Mas Bobby, kalau nanti sudah gak ada wanita yang mau sama Mas Bobby, baru tahu rasa," seru Pelangi.
"Kamu nyumpahin aku?" kesal Bobby.
"Bukan nyumpahin Mas, tapi itu seumpamanya."
"Aku itu tampan, semua wanita ngantri sama aku."
"Iyakah? kalau banyak wanita yang ngantri sama Mas Bobby, kenapa sampai sekarang Mas Bobby belum menikah? apa jangan-jangan, Mas Bobby kaum pisang makan pisang ya."
"Astagfirullah, aku masih normal ya, apa kamu mau coba."
"Coba apaan? coba makan pisang? aku sudah sering makan pisang," sahut Pelangi.
"Apa? astaga, pantas saja kamu agresif banget ternyata kamu memang wanita------"
__ADS_1
Bobby tidak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih pergi meninggalkan Pelangi. Bobby berpikir Pelangi wanita yang tidak baik, sedangkan Pelangi malah bingung dengan sikap Bobby padahal Pelangi memang menjawab dengan jujur kalau dia suka makan buah pisang dan Bobby salah paham.
Setelah selesai ijab kabul, malamnya sepasang pengantin baru yang sedang berbahagia itu langsung melaksanakan resepsi pernikahannya. Senyuman Vio tidak pernah luntur dari wajah cantiknya, sedangkan Nata tampak cemberut.
"Jangan cemberut Mas, ini kan malam bahagia kita," seru Vio dengan bergelayut manja di lengan Nata.
"Jangan pegang-pegang," kesal Nata dengan menghempaskan tangan Vio.
Vio memilih tidak memperdulikan Nata dan tetap tersenyum melayani semua tamu undangan yang sangat banyak itu.
Bukan tanpa alasan Nata bersikap seperti itu, setelah ijab kabul Nata dan Vio kembali ke kamar hotel namun sayang, ternyata Vio datang bulan dan itu membuat Nata kesal, marah, dan cemberut.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam, dan acara resepsi pun sudah selesai. Nata masuk ke dalam kamar pengantin dengan masih memperlihatkan wajah yang cemberut.
Nata menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Mas, ganti dulu bajunya baru tidur," seru Vio.
Nata tidak mendengarkan ucapan Vio, Vio pun segera membuka gaunnya dan mengganti dengan menggunakan baju tidur. Sebenarnya Vio merasa bersalah kepada Nata, tapi apalah daya memang itu jadwalnya Vio datang bulan.
Vio duduk di samping Nata dan mengusap wajah Nata.
Nata perlahan membuka matanya, dan menatap Vio. Mata Vio sudah mulai berkaca-kaca dan itu membuat Nata bersalah.
Nata pun bangun dan duduk di hadapan Vio. "Kamu tidak usah minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah marah sama kamu."
Nata menarik tubuh Vio ke dalam dekapannya.
"Maaf ya Mas, cuma seminggu kok, bisa kan, Mas tahan."
"Bisa, asalkan kamu jangan mancing-mancing."
Vio pun tersenyum, Nata melepaskan pelukannya.
"Aku ganti baju dulu, ya."
Nata pun mengganti bajunya dengan baju santai, lalu kembali duduk di atas tempat tidur bersama Vio.
"Aku gak bisa tidur, enaknya kita ngapain ya?" seru Nata.
__ADS_1
"Sama, aku juga belum ngantuk."
Vio tampak terdiam sejenak, hingga akhirnya Vio teringat sesuatu dan segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Mas, aku punya mainan ini, bagaimana kalau kita main ular tangga? yang kalah keningnya di jitak," seru Vio.
"Boleh, kayanya seru."
Akhirnya, malam pertama mereka diisi dengan main ular tangga bersama. Sementara itu, di depan kamar Vio dan Nata, semua orang berkumpul karena mereka berencana ingin mengintip malam pertama Nata dan Vio.
"Jangan berisik, nanti ketahuan," seru Arga.
"Mommy penasaran sama Nata, apa dia bakalan agresif gak ya? soalnya selama ini dia dingin banget sama wanita," sahut Mommy Anita.
"Daddy jago dalam urusan ranjang, jadi pastilah akan nurun sama Arga dan Nata," seru Daddy Karra.
"Kalau Arga sudah jelas Dad, soalnya Sabrina aja kewalahan kalau Nata, Arga kurang yakin karena dia gaulnya sama si Bobby terus," sahut Arga.
"Enak saja, walaupun kita jarang gaul sama wanita tapi kita juga jago ranjang Kak, jangan ngeremehin kita," kesal Bobby.
"Sssttt...sudah diam, nanti kita ketahuan."
Semuanya menempelkan telinganya ke pintu kamar yang ditempati Nata dan Vio.
"Aw, sakit Mas, bisa tidak Mas pelan-pelan," seru Vio.
"Gak bisa, kamu diam saja dan terima apa yang aku lakukan kepadamu."
"Astaga, si Nata ganas juga," seru Arga.
"Mas, seharusnya Mas itu di bawah dan aku yang di atas," seru Vio.
Mommy Anita dan Daddy Karra saling pandang satu sama lain.
"Wow, Vio hebat dia mengambil alih permainan," seru Bobby.
"Sudah ku duga, pasti Vio yang lebih dominan," sahut Arga.
Mereka tidak tahu saja, padahal kenyataannya Vio dan Nata sedang main ular tangga. Mereka mengira kalau Vio dan Nata sedang melakukan malam pertama, sungguh keluarga yang konyol.
__ADS_1
Satu jam pun berlalu, Vio dan Nata tampak kelelahan dan akhirnya mereka pun langsung tertidur dengan lelapnya.