Cinta Sang Milyarder

Cinta Sang Milyarder
Bab 33 Pasangan Konyol


__ADS_3

Akhirnya hubungan Kakak beradik itu kembali rukun, ternyata selama ini Nata sudah salah sangka dan menuduh Arga sudah merebut pacarnya padahal kenyataannya, Argalah yang sudah menyelamatkan Nata.


Setelah berbincang-bincang, Arga pun pamit pulang. Nata kembali duduk di samping Vio, keduanya tampak malu-malu seperti ABG yang baru saja jadian.


"Aku gak nyangka, akhirnya mimpiku terwujud kalau aku ingin mempunyai kekasih orang kaya," seru Vio.


"Aku yakin, mimpi kamu hanya sebatas ingin mempunyai kekasih orang kaya tapi hati kamu sebenarnya bukan wanita matre."


Ceklek...


Pintu ruangan rawat Pelangi pun terbuka...


"Ini sarapannya, Nat."


"Terima kasih, Bob."


"Vio, bagaimana keadaannya?"


"Alhamdulillah baik Pak Bobby, oh iya Pak, hari ini aku gak masuk kerja dan gak ngasih keterangan juga, tapi Pak Bobby jangan pecat aku ya," celetuk Vio dengan polosnya.


"Astaga, mana mungkin aku pecat wanitanya Nata, bisa-bisa bukan kamu yang dipecat tapi aku," sahut Bobby.


Nata terkekeh, begitu pun Vio yang wajahnya mulai memerah karena merasa malu. Vio mulai mengendus-ngendus, dan melirik ke arah Nata yang sedang lahap memakan sandwich roti gandum isi beef.


"Mas Nata, itu apa? sepertinya itu enak, aku mau dong."


"Kamu kan masih sakit, kamu itu harusnya makan bubur dulu."


"Bilang aja kalau Mas Nata pelit gak mau berbagi sama aku," ketus Vio.


"Astaga, aku bukanya pelit makanya kalau kamu mau apa pun, kamu harus sembuh dulu nanti kalau sudah sembuh, aku bakalan beliin semua yang kamu mau."


Tidak lama kemudian, suster pun datang dengan membawakan bubur untuk sarapan Vio.


"Mba Vio, ini sarapan untuk Mba, mohon dihabiskan ya."


"Baik suster," sahut Nata.


Nata yang membantu menjawab karena Vio tampak merajuk dan memperlihatkan wajah yang cemberut.


Suster itu tampak salah tingkah saat melihat Nata dan Bobby, apalagi suster itu mencuri-curi pandang ke arah Nata membuat Vio semakin kesal.


"Permisi Mas, saya pamit dulu."


Nata dan Bobby terlihat cuek-cuek saja tidak menghiraukan suster itu.


"Buburnya sudah datang, sekarang kamu makan dulu ya? biar aku suapin kamu," seru Nata.

__ADS_1


"Gak usah, aku bisa makan sendiri. Memangnya aku ini stroke apa, mesti disuapin segala," ketus Vio.


Vio pun mengambil nampan yang berisi bubur dan lauk pauknya, lalu Vio melahapnya dengan sedikit emosi membuat Nata geleng-geleng kepalanya.


Bobby terlihat membuka laptopnya dan Nata memutuskan untuk menghampiri Bobby.


"Bagaimana keadaan perusahaan sekarang? apa selama aku tinggalkan, semuanya baik-baik saja?" tanya Nata.


"Aman, semuanya terkendali kok, jangan khawatir. Oh iya, apa kamu akan pulang ke rumahmu?" tanya Bobby.


"Entahlah, mungkin habis Vio sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit, aku akan pulang dan meminta izin sama Mommy dan Daddy untuk menikahi Vio," sahut Nata.


Uhuk..uhuk..uhuk..


Vio langsung tersedak mendengar kalau Nata akan menikahinya, Nata segera menghampiri Vio dan memberikan air minum kepada Vio.


"Makannya pelan-pelan."


"Kamu barusan ngomong apaan Mas? mau nikahin aku kaya gimana?"


"Ya mau nikahin kamu, soalnya aku sudah gak mood pacaran lagi, aku pengennya cepat-cepat menikahinya."


"Buru-buru amat Nat, si amat juga gak buru-buru," celetuk Bobby.


"Gak lucu, aku ingin cepat-cepat menikah biar pacarannya setelah menikah saja, kan enak kalau pacaran setelah halal, mau aku bawa Vio ke gorong-gorong pun gak bakalan ada yang marahin aku."


"Hah, kok Pak Bobby tahu kalau anak punk pacarannya di gorong-gorong dan semak-semak? jangan-jangan Pak Bobby suka ngintip ya, awas loh Pak, nanti matanya bintitan kalau ngintip orang pacaran," celetuk Vio.


"Enak saja, gak ada kerjaan banget ngintip orang pacaran. Ya, aku tahu aja karena kan di berita juga sering kena razia tuh sama polisi."


Bobby melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Nat, aku kembali ke kantor dulu, nanti sore aku ke sini lagi," seru Bobby.


"Oke."


"Vio, semoga kamu lekas sembuh ya."


"Terima kasih, Pak."


Bobby pun memutuskan untuk pulang...


"Nanti sore kalau Pelangi ke sini, aku izin pulang dulu ya, mau bicara sama Mommy dan Daddy."


"Jangan Mas, kita pacaran sembunyi-sembunyi aja kaya ABG SMP, soalnya aku tahu pasti orangtua Mas tidak akan merestui hubungan kita," seru Vio.


"Belum juga bilang sudah menyerah aja, aku yakin kedua orangtuaku gak bakalan melarang hubungan kita."

__ADS_1


"Yakin Mas?"


"Yakin banget."


***


Sore pun tiba....


"Sore, kesayangan-kesayangan aku!" teriak Pelangi.


"Kebiasaan kalau teriak-teriak kaya gitu, ini rumah sakit bukan hutan," kesal Nata.


"Yaelah, biasa aja kali Mas."


"Pel, kamu datang ke sini gak bawa apa-apa?" seru Vio.


"Enggak, akhir bulan Vio belum gajian."


"Perasaan nunggu sebulan lama banget ya Pel, aku sudah gak sabar ingin menerima gaji pertamaku," seru Vio.


"Heem."


"Jangan lupa, kalian punya hutang sama aku jadi pas gajihan kalian harus langsung membayarnya," seru Nata dengan menahan tawanya.


"Allahuakbar Mas, Mas itu orang kaya masih aja mikirin hutang kita yang gak seberapa itu," keluh Pelangi.


"Hutang tetap hutang, dan yang namanya hutang itu harus dibayar. Lagipula kalian sudah janji akan membayarnya kalau kalian sudah gajihan," sahut Nata.


"Kejam banget kamu Mas. Eh tunggu, tadi kan Mas bilang kalau aku menerima Mas jadi pacar aku, Mas akan memberikan apa yang aku mau jadi, sekarang yang aku mau hanyalah bebaskan aku dari hutang-hutangku," seru Vio.


"Kalian sudah pacaran? kapan kalian jadian?" tanya Pelangi kaget.


"Tadi pagi," sahut Vio dengan senyumannya.


"Huawaaa...selamat ya Vio dan Mas Nata, berarti ada dong jatprem buat merayakan hari jadi kalian," seru Pelangi heboh.


"Memangnya kamu mau makan di mana, tinggal bilang saja," seru Nata.


"Jangan makan-makan Mas," sahut Pelangi.


"Terus? mau apa?"


"Sama kaya Vio, jatpremnya bebaskan saja hutang-hutangku," seru Pelangi dengan sengirannya.


Nata menepuk jidatnya sendiri. "Dasar duo racun, kompak banget."


Vio dan Pelangi sama-sama nyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih.

__ADS_1



__ADS_2